
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Masih dengan melangkahkan kakinya ke belakang, Rania berusaha mengambil jarak sejauh yang dirinya bisa. Dalam penglihatannya saat ini Jim-in bukan seperti suaminya. Sosok di depannya terasa lebih dingin dari awal mereka bertemu. Di mana pria yang selalu tersenyum hangat itu? Rania bertanya-tanya dalam diam.
"Ke....kenapa oppa bisa seperti ini lagi? Kembalilah, aku tidak mau oppa yang seperti sekarang." Cicitnya takut-takut.
Melihat itu Jim-in pun berjalan mendekatinya dengan seriangan tercipta diwajah tampannya. Rania semakin gencar untuk terus mundur menghindar, hingga punggung kecilnya membentur tembok. Ia mendongak melihat wajah sang suami yang tengah menatapnya lekat.
Tappp!! Tangan kekarnya mendarat tepat di samping kanan sang istri.
Rania menunduk lalu menoleh melihat tangan itu mengukungnya secara posesif. Sedetik kemudian ia kembali membalas tatapan tajam di hadapannya. Ketakutan menguasai kala sorot mata yang biasa menatapnya hangat itu terasa menekan dan mengintimidasi.
"Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Sudah cukup perbuatan wanita itu tidak bisa dimaafkan. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, istriku. Untuk itu aku tidak terima jika wanitaku menangis kesakitan. Siapa pun orangnya yang sudah melukaimu aku tidak bisa memaafkannya."
Deggg!!
Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang. Rania tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi antara ibu dan anak ini. Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali seraya menatap sayu tidak setuju dengan ucapan sang suami.
"Ta...tapi beliau ibumu. Wanita yang sudah melahirkanmu. Aku tidak ingin merusak hubungan ibu dan anak. Aku sudah baik-baik saja oppa, sungguh."
Tangan kiri Jim-in terangkat memegang dagu istrinya lembut. "Aku tidak menerima penolakan, sayang. Dan aku tidak peduli dengan ucapanmu. Apa dia wanita yang sudah melahirkanku atau bukan. Saranghae, camkan itu dalam hatimu. Aku tahu di dalam sini pasti masih terasa sakit." Ucap Jim-in seraya telunjuknya berpindah ke dada sebelah kiri istrinya lalu kembali kedagunya. "Karena kamu hanya milikku. Untukku dan akan selamanya seperti itu. Tidak akan ku biarkan siapa pun menyakitimu lagi, sayang."
Namun, bukan kebahagiaan yang dirasakan Rania saat mendengar kata-kata manis penuh penekanan dari suaminya. Malah Varsha yang datang. Cairan bening itu meluncur cepat dipipi mulusnya.
Senyum yang masih terukur diwajah tampan Jim-in mengandung makna berbeda. Rania bisa merasakan jika saat ini hanya ada obsesi yang tengah membelenggung suaminya. Cinta? Entah ada atau tidak, tapi yang jelas ia tidak bisa merasakannya.
'Ya Allah kembalikan suamiku yang dulu.' Benaknya tanpa berkata sepatah kata pun lagi.
...🌦️🌦️🌦️...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jim-in sudah menghilang dalam apartemen. Rania tahu pasti pria itu pergi ke perusahaan keluarganya. Bosan, tidak melakukan apapun akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke mansion.
Beberapa saat berlalu, Rania sudah tiba di depan bangunan megah tersebut. Semua pelayan yang melihat sosoknya langsung menyambutnya dengan hangat. Senyum manis pun diberikan Rania untuk membalas kebaikan mereka. Tanpa menunggu waktu ia melenggang pergi menuju kamar sang mertua berada.
Sang Oh yang melihat kedatangan nona mudanya menyunggingkan senyum merekah. Seolah tengah melihat secercah harapan. "Semoga keluarga ini kembali baik. Keberadaan nona muda mudah-mudahan bisa meringankan masalah yang tercipta. Oh tunggu, apa nona tahu tentang Yuu....na?" gumamnya melihat punggung kecil itu semakin menghilang di balik pintu.
"Nyonya, saya datang. Bagaimana keadaan nyonya hari ini?" sapanya sesaat ia menyembul menampakan diri.
Gyeong yang tengah duduk termenung di atas tempat tidur mengalihkan eksistensinya. Wajah dingin yang beberapa bulan lalu menempatinya kembali lagi. Rania pun sempat mengerutkan dahi, heran. Bukankah kemarin mertuanya terlihat baik-baik saja? Ada hal apa yang mengubahnya? Sekelebat pertanyaan menghujami kepala berhijab itu.
"Untuk apa kamu datang ke sini?" bukan hanya raut mukanya saja yang dingin, bahkan suaranya pun ikut mendingin.
"Tidak usah so peduli pada saya. Sana pergi, di sini sudah banyak pelayan jadi saya tidak membutuhkan bantuanmu lagi."
Masih dengan lengkungan bulan sabit dibibir ranumnya, Rania menatap lekat wanita paruh baya tersebut. "Meskipun nyonya menolak, tapi saya berkewajiban untuk membantu." Lanjutnya lagi.
"Apa kamu menginginkan harta saya? Jika iya saya akan memberikannya, sebutkan berapa nominal yang kau inginkan." Ucapnya sarkas.
Rania menggeleng seraya sedikit terkejut mendengar penuturan yang meluncur bebas dari balik bibir pucat sang mertua. "Saya ikhlas membantu Anda, Nyonya. Anggap saja ini balas budi saya, karena Anda sudah banyak membantu keluarga saya terutama eomma."
"Cih......" Gyeong hanya berdecih.
Melihat tidak ada penolakan lagi Rania segera membantunya seperti biasa. Mulai dari memijit kedua kakinya, menyuapkan makanan dan membantunya meminum obat. Semua itu Rania lakukan tanpa pamrih.
...🌦️🌦️🌦️...
Hal seperti itu terus berulang Rania kerjakan. Terkadang banyak caci maki yang terdengar dari mulut pucat Gyeong, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu kesembuhan sang mertua. Jujur, dirinya senang bisa membantu ibu dari suaminya ini. Bagaimana pun wanita itu sudah menjadi ibunya juga.
Gyeong menatap ke depan di mana sosok menantu yang tidak dianggap keberadaannya baru saja menyelesaikan kewajibannya. Tanpa ekpresi apapun diwajah tuanya, tapi wanita itu tengah memikirkan banyak hal yang tersembur dalam sorot matanya.
Rania yang masih duduk di atas sejadah tersenyum saat menoleh ke samping kanan melihat ibu mertuanya tengah memandanginya.
"Nyonya, mau salat?" tanyanya kemudian.
Sekilas iris kecoklatan itu melebar. Gyeong kembali mempertahankan sikap gigih di hadapannya. "Bukan urusanmu."
"Memang.... tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk mengingatkan. Bukankah perintah Allah tidak boleh dilanggar? Apalagi dilupakan. Ketika kita menggantungkan semuanya pada yang Di Atas, apapun yang terjadi akan terasa lebih ringan. Allah tidak pernah salah memberi cobaan pada hamba-Nya. Karena Allah tahu kita mampu menjalaninya. Dan Allah akan memberikan hal terbaik terlepas dari cobaan itu." Ungkapnya panjang lebar diakhiri dengan senyum manis terpatri diwajah ayunya.
Sesaat Gyeong merasa tertampar dengan nasihat sang menantu. Dirinya diam tidak berkutik untuk beberapa saat. Bola matanya bergulir pada figura besar di depannya. Di sana ada suami dan juga anaknya, Park Jim-in yang masih berusia 7 tahun. Hari-hari dulu yang pernah dikecapnya berputar dalam ingatan.
Dulu, suaminya sering menasehatinya tentang kebaikan. Dirinya yang sejak lahir sudah beragama Islam masih sering mengabaikan perintah Tuhan. Sampai Gyeong bertemu suaminya yang mualaf. Pria itu membimbingnya pada jalan kebenaran. Namun, setelah pria yang dicintainya meninggal Gyeong berubah kembali menjadi dirinya sendiri yang seenaknya. Gila kerja, mengejar harta duniawi dan terus terpesona dengan kehidupan yang bersifat sementara.
Hingga sekarang Gyeong kembali disadarkan oleh ucapan menantunya. Kata-kata Rania bagaikan mantra yang pernah keluar dari mulut sang suami.
'Apapun yang kita kejar jika tidak berlandaskan kepada Tuhan, maka akan sia-sia. Bukankah semua yang ada di dunia ini milik-Nya. Maka lakukanlah perintah-Nya dengan baik.' Perkataan itu kembali berdengung dalam pendengaran.
"Nyo...nyona." Panggil Rania saat tidak mendapati jawaban apapun. Ia takut jika dirinya sudah lancang.
"Ma...maafkan saya nyonya. Karena sudah lancang."
"Yah, kamu memang lancang, sampai-sampai mengingatkan mendiang suami saya. Kau sudah bertindak terlalu jauh." Ujarnya penuh penekanan.
Rania tidak lagi bersuara, dirinya tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia juga jadi teringat tentang Jim-in yang telah berubah.
...🌦️PERUBAHAN🌦️...