VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 65



"Kamu siapa?"


Pertanyaan yang meluncur sekejap mata membuat Rania terpaku. Tubuhnya membeku seolah waktu berhenti detik itu juga.


Darahnya berdesir hebat membuat degup jantung bertalu tak karuan. Keringat dingin membasahi menerima kenyataan mendera.


Ia tidak menduga mendapatkan kejadian mencengangkan di saat sang suami bangun dari komanya.


Baru saja ia sembuh dari sebuah kecelakaan yang merenggut ingatan, dan sekarang keadaan itu menampar keras, kali ini sebaliknya sang suami mengalami hal sama.


Rania tidak bisa berbuat apa-apa selain terpaku memandang penuh sendu ke arah pasangan hidup.


Keadaan itu terus berlangsung, detik demi detik jam dinding di ruangan mengambil alih atensi. Sesekali suara mesin kendaraan roda empat maupun dua mengenyahkan keheningan.


Pandangan mereka masih menatap satu sama lain membiarkan fakta bermain dalam bayang.


Rasanya sakit menerima kenyataan yang saat ini sedang menghadang. Rania mengepal kedua tangan menahan air mata yang mencoba merengsek di balik kelopaknya.


"Tahan Rania, kamu bisa... kamu pasti bisa. Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Ini... hanya kecelakaan kecil, suatu saat suamimu akan kembali. Aku harus bersabar, tidak boleh mengeluh ataupun menyerah. Bukankah Jim-in Oppa juga melakukan hal sama padaku? Jangan sedih, jangan-" ucapannya dalam hati harus terputus kala menyaksikan bibir pucat sang pasangan hidup melengkung sempurna.


Perlahan alis tegas Rania saling bertautan, tidak mengerti atas ekspresi yang diberikan Jim-in. Sampai sedetik kemudian senyuman tadi berubah menjadi kekehan pelan.


Rania semakin tidak memahami kondisi suaminya. Rasa khawatir terus memuncak seiring berjalannya waktu, ia takut keadaan Jim-in seperti itu akibat kecelakaan yang menimpanya.


"Aku panggilkan dokter," katanya bergegas meninggalkan ruangan.


Namun, sebelum kedua kakinya melangkah pergelangan tangan Rania lebih dulu dicekal oleh Jim-in. Sang empunya pun kembali menoleh memandang lekat tangan tegap melingkar di sana.


Bola mata kelerengnya bergulir ke atas hingga mereka kembali saling berpandangan.


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku-" Entah kekuatan dari mana Jim-in menarik sang istri kencang hingga tubuh ramping Rania jatuh di atas badan kekarnya.


Jim-in melingkarkan kedua tangan di pinggang kekasih hatinya erat seraya menyembunyikan wajah di bahu Rania.


"Aku sangat merindukanmu," jelasnya lirih.


Kejadian singkat tersebut sangat mengejutkan Rania. Ia lagi-lagi terdiam dengan jantung bertalu kencang, sikap yang dilayangkan suaminya benar-benar membuat ia tidak mengerti.


"Aku merindukanmu, Sayang," kata Jim-in lagi.


Sedetik kemudian Rania pun sadar, dahi lebarnya mengerut dalam, ada yang salah, pikirnya.


Ia mendorong dada lemah Jim-in dan memandangi bola mata karamel di depannya.


"A-apa yang sebenarnya terjadi?" gugup Rania berhati-hati.


"Apa kamu mempermainkan ku?" lanjutnya.


Lengkungan bulan sabit hadir menambah ketampanan sang tuan muda. Sebelah tangannya terangkat mengusap lembut pipi Rania.


Perlakuan itu lagi-lagi membuat pujaan hatinya dirundung sembilu. Rania benar-benar tidak mengerti apa yang sudah menimpa Park Jim-in.


"Apa kamu tidak merindukanku, Sayang? Aku sangat merindukanmu," kata Jim-in lagi.


Otak pintar Rania merespon semua perkataan serta kelakukan Jim-in sekarang. "Bukankah tadi ia mengatakan siapa aku? dan sekarang dia mengatakan merindukanku? Permainan apa yang sebenarnya sedang Tuan muda ini lakukan? Oh apa jangan-jangan? Benar dia sedang mempermainkan ku," racaunya lagi dalam benak.


Rania mundur, sedikit menjauhi sang suami dan duduk melipat kedua kaki di atas ranjang tepat berhadap-hadapan.


"Kamu... mempermainkan ku, bukan? Sebenarnya kamu ingat aku siapa, kan? Kenapa tadi bertanya seolah tidak mengingatku? Apa yang sedang kamu lakukan, hah? Kamu tahu? Aku hampir mati mendengar pertanyaan mu tadi. Bagaimana bisa... bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini? Aku takut benar-benar takut." Rania terus meracau menumpahkan semua kekesalan yang sedari tadi ditumpuknya.


"Kamu benar-benar kejam. Aku sakit saat melihatmu kecelakaan dan tiba-tiba saja bangun tidak mengingatku. Apa kamu tahu bagaimana takutnya aku? Kenapa-"


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, sudah bermain-main denganmu tadi, Sayang. Aku tidak tahu jika kamu ketakutan seperti ini."


"Aku minta maaf. Aku menyesal... aku janji tidak akan melakukannya lagi," sesal Jim-in terus menumpahkan kata maaf berulang kali.


Rania tercengang, tangannya pun terangkat membalas pelukan Jim-in kuat. Ia tidak bisa menahan gejolak dalam dada dan menangis begitu saja.


Isakkan nya mengejutkan Jim-in yang sudah bermain-main dengan sang istri.


"Jangan menangis, Sayang. Aku menyesal... aku benar-benar menyesal sudah membuatmu takut," kata Jim-in lagi.


Namun, Rania sama sekali tidak merespon sepatah kata. Ia terus menangis dan menangis, meraung, melampiaskan rasa takut.


Ia tidak menyangka Jim-in bisa bercanda berlebihan seperti tadi. Ia merasa layaknya ditusuk sembilu sampai ke relung hati terdalam.


Rasa sakit akan kehilangan dan perih sebab tidak dikenali terus memberikan racun empedu yang menyebar di tenggorokan.


Rasa pahit itu membuatnya benar-benar ketakutan, tetapi setelah mendapati jika hal tadi bohong hatinya benar-benar lega.


Kurang lebih tiga puluh menit Rania menangis menumpahkan semua gelenyar pelik di dalam dada, kini ia berhasil menghentikannya.


Jim-in menarik tubuhnya pelan membuat mereka saling berpandangan lagi.


"Aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya aku ingin melihat reaksi mu saja, dan mengkonfirmasi sesuatu," ungkap Jim-in menghapus jejak air mata di pipi putih itu.


"Konfirmasi apa?" tanya Rania dengan suara serak.


"Mengkonfirmasi apa benar kamu sudah mengingatku atau belum, dan ternyata... kamu sudah benar-benar mengingatku. Terima kasih, Sayang." Jim-in menarik wajah Rania pelan dan menjatuhkan kecupan hangat nan dalam di dahi lebarnya.


Perlakuan hangat nan manis itu membuat Rania terharu. Kristal bening kembali menitik membasahi lengan sang suami.


Jim-in pun sadar dan menjauhkannya lagi serta mengusapnya kembali.


"Sebenarnya, aku sudah sadar dari dua hari lalu-"


"MWO? A-apa yang Oppa katakan?" Rania terkejut bukan main.


"Itu benar, Sayang. Aku sengaja berpura-pura belum sadar saat kamu menjengukku. Karena aku ingin mendengar pengakuan mu, dan benar saja... di saat aku menutup mata kamu mengakui semuanya."


"Ingatanmu sudah kembali, kan?" tanya balik Jim-in.


Rania memberikan pukulan pelan di dada sebelah kirinya membuat sang empunya mengaduh.


"Sama sekali tidak lucu! Bagaimana bisa Oppa setega itu pada istrinya sendiri? Tidak tahukan Oppa jika aku sangat takut kamu tidak bangun lagi? Kamu-"


Kalimat Rania pun kembali dihentikan Jim-in yang kali ini langsung menyambar benda kenyal di hadapannya.


Manik jelaga Rania melebar sempurna, jantungnya seperti berhenti berdetak beberapa saat mendapatkan serangan mendadak dari suaminya.


Namun, perlahan-lahan kedua matanya pun menutup menikmati setiap alur yang diberikan.


Hampir tiga minggu ditambah ingatannya yang hilang, Rania tidak merasakan sentuhan sesungguhnya sang suami.


Ia benar-benar terlena dan jatuh semakin dalam ke permainan yang diberikan Jim-in. Semua itu bagaikan mimpi yang memberikan illusi.


Namun, ia sadar semuanya nyata dan kehidupan penuh lika-liku menghilang. Ia tahu kehidupan tidak luput dari cobaan serta ujian.


Ia akan bersabar dan menghadapinya dengan lapang dada. Karena Rania menyadari, semua itu tidak lepas dari rencana Allah. Semua pasti akan baik-baik saja jika sudah Allah yang mengambil alih.