VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 75



Di salah satu restoran ikonik di ibu kota, keempat orang yang tadi pergi bersama menikmati makan malam di sana.


Selepas melaksanakan kewajibannya di masjid terdekat mereka beruntung bisa mendapatkan tempat makanan halal di sekitar sana.


Rania, Jim-in, Seok Jin, serta Arin duduk melingkar di sebuah meja bundar. Di atasnya terdapat hidangan dari bahan-bahan berkualitas yang semakin menambah selera makan.


Di tengah-tengah banyaknya pengunjung yang hadir, keempat orang itu memulai pembicaraan inti, tujuannya datang ke sana.


"Eomma ingin menanyakan sesuatu pada kamu, Rania. Ini... menyangkut Zahra," kata sang nyonya.


Rania mengerutkan dahi lebar, tidak mengerti. Ia meletakkan sendok dan garpu di atas piring lalu mengusap area bibir menggunakan serbet.


Setelah itu ia meneguk air putih sekilas dan memberikan perhatian sepenuhnya pada Arin.


"Maksud Eomma? Menyangkut Zahra, soal apa?" tanya Raina masih tidak mengerti.


Bola kelereng beningnya bergulir pada Seok Jin yang juga sedang memandanginya penuh arti. Seakan mengerti dari sorot matanya saja Rania tercengang seketika.


"Ah, apa Eomma tahu, jika-"


"Iya Eomma tahu kalau Seok Jin sedang jatuh cinta pada, Zahra," tegas Arin membuat Rania dan Jim-in sama-sama melebarkan pandangan.


Mereka tidak menduga jika secepat itu perihal perasaan Kim Seok Jin sampai kepada orang tuanya. Pasangan suami istri tersebut pun kembali pada sang dokter yang hanya memberikan anggukan kepala.


"Lalu bagaimana dengan perjodohan Seok Jin Hyung dan Song Ailee?" tanya Jim-in mengetahui mengenai perjodohan sang kakak.


"M-mwo? Perjodohan Kim Seok Jin-ssi dan Song Ailee-ssi?" Rania tidak percaya mendengar berita mengejutkan itu.


Arin pun mengiyakan dan menceritakan kembali awal mula kenapa putra semata wayangnya dijodohkan dengan putri pertama dari keluarga Song.


Rania kembali terkesiap mendengar semua penuturan wanita paruh baya tepat di depannya ini.


"Pasti ada yang ingin kamu katakan, bukan pada Eomma? Tentang Song Ailee?" Arin berpaling pada Seok Jin yang tengah duduk di sebelah.


Seok Jin pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sebelah tangannya merogoh ke dalam saku jaket bagian dalam kemudian mengeluarkan benda pintar miliknya.


Ia membuka galeri dan memperlihatkan salah satu video kepada sang ibu.


Berkali-kali Arin terkejut, tidak percaya melihat adegan demi adegan terjadi di dalam layar berbentuk segitiga tersebut.


Ia menutup mulut menganga nya kuat dan memandangi ketiga orang lebih muda darinya bergantian.


"Be-benarkah di-dia Song Ailee? Astaghfirullah, Eomma tidak percaya menjodohkan mu dengan wanita mengerikan seperti ini. Lebih baik kita segera membatalkan perjodohan kalian," ujarnya langsung mengambil keputusan.


"Kenapa kamu tidak cepat mengatakannya pada Eomma?" Arin melayangkan pukulan pelan di lengan kekar buah hatinya.


"Aku tidak ingin membuat Eomma kecewa," ungkap Seok Jin membuat Arin terpaku.


"Seok Jin Hyung memikirkan Eomma dari segala hal. Itu sebabnya dia... tidak berani langsung mengatakannya setelah kejadian itu menimpa kami. Juga, Seok Jin Hyung memilih diam mengenai perasaannya pada Zahra, sebab... Hyung tidak ingin membuat Eomma kecewa. Karena mengabaikan pilihan kalian," ungkap Jim-in mengatakan perasaan sebenarnya dari sang kakak.


Seok Jin melirik padanya sekilas dan mendengus pelan. Arin yang mendengar itu kembali tidak menduga jika selama ini putra satu-satunya selalu memikirkan orang tuanya.


Ia dan sang suami tidak pernah sekalipun mendengar atau menanyakan keinginan buah hati mereka.


Keduanya pikir jika Seok Jin menutup hati selepas pengkhianatan Lee Bo Mi. Itu sebabnya Arin dan Ye Jun menjodohkan mereka berdua.


Namun, mereka salah, sang putra hanya tidak ingin membuat orang tuanya kecewa dan menerima begitu saja perjodohan tersebut, tanpa tahu seperti apa warna asli Song Ailee.


"Begitukah? Eomma benar-benar minta maaf, sudah memaksamu menerima perjodohan konyol itu." Arin benar-benar terpukul dan merasa bersalah telah memberikan wanita tidak baik pada putranya.


"Eomma, tidak usah berkata seperti itu. Semua hanya kecelakaan, dan sekarang kita jadi tahu seperti apa Song Ailee sebenarnya. Aku senang Eomma akan membatalkan perjodohan kami," kata Seok Jin menggenggam tangan ibunya hangat. Arin tersenyum haru dan mengangguk pelan.


Selepas drama singkat antara ibu dan anak itu terjadi, Arin kembali berpaling pada Rania. Bibir semerah cherry nya melengkung sempurna dengan sorot mata penasaran.


"Jadi, Rania. Bisakah kamu menceritakan seperti apa Zahra? Dia wanita bagaimana?" tanya Arin membahas ke pembicaraan awal.


Rania ikut tersenyum senang dan menyamankan duduk untuk bercerita.


Ia melirik sekilas pada Seok Jin seolah meminta persetujuan dan dokter tampan itu mengangguk mempersilakan.


Rania pun melakukan gesture sama sekilas dan kembali sepenuhnya pada Arin.


"Sejauh yang aku tahu... Zahra adalah wanita yang sangat baik. Awal perkuliahan dia mendatangiku pertama kali untuk menjadi temannya."


"Dia wanita yang sangat ceria, kepribadiannya hangat, dan mudah berbaur dengan siapa saja. Namun, ada satu yang membuat ia merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Dia-"


"Apa itu? Apa itu Rania?" potong Arin tidak sabar.


"Orang tuanya sudah berpisah dan menikah kembali dengan pasangan baru mereka. Serta ayah dan ibu Zahra telah bahagia bersama keluarga masing-masing."


"Selama ini di balik keceriaannya, Zahra menyimpan luka teramat besar. Bertahun-tahun dia hidup tanpa kehadiran orang tua dan harus banting tulang membesarkan ketiga adiknya. Aku sangat kagum pada Zahra yang tidak pernah menyerah pada situasi apa pun."


"Zahra... benar-benar wanita yang sangat baik Eomma. Dia tidak pernah meninggalkan salat wajib maupun sunnah, akhlaknya benar-benar sangat baik. Itulah yang aku tahu tentang Zahra, dan... aku juga sangat mengaguminya," ungkap Rania.


Ia menahan haru yang entah kenapa tiba-tiba saja membuat perasaannya tak menentu. Ia memikirkan seberat apa perjuangan sang sahabat sampai berada di titik sekarang.


Saat melihat dan mendengar Zahra menceritakan sepenggal kisah masa lalunya, Rania pun tidak kuasa menahan tangis.


Pasti berat dan tidak mudah perjuangan yang harus dilalui sang sahabat. Namun, wanita itu tidak gampang menyerah dan selalu percaya jika Allah akan membantunya.


Zahra juga seiring mengingatkan Rania agar tidak meninggalkan salat. Berteman dengan wanita itu membuat ia pun menjadi lebih dekat lagi kepada sang pencipta.


Hening melanda, selepas Rania menjelaskan siapa Zahra Fazulna sebenarnya, Arin bungkam. Mulut merahnya mengatup rapat dengan pandangan jatuh ke bawah.


Baik Rania, Jim-in maupun Seok Jin harap-harap cemas apa yang sedang dipikirkan sang nyonya.


Seok Jin takut jika ibunya tidak akan pernah menyetujuinya untuk bisa bersama Zahra. Ia tahu keluarganya begitu menjunjung tinggi harkat dan martabat.


Itu sebabnya juga ayah dan ibu menjodohkan ia dengan Ailee yang berasal dari kalangan atas. Apa semuanya berakhir, bahkan sebelum dimulai? Pikir Seok Jin gamang.


"Eo-Eomma?" Panggilnya cemas. "Eomma-"


"Kalau begitu kamu harus segera melamar, Zahra. Secepatnya!"


"EH!"


Seok Jin, Rania, dan Jim-in terkejut bukan main mendengar ucapan Arin selepas diam beberapa saat.


Dokter tampan itu sampai terbelalak lebar dengan jantung bertalu kencang. Ia tidak percaya mendengar suruhan itu dari sang ibu.