
Dasar mereka, tidak bisa membiarkan kami sebentar saja? Zahra dan Seok Jin oppa semakin mirip, senang sekali menggodaku dan Jim-in oppa. Apa mereka-"
"Rania!"
Celotehan Rania terhenti seketika saat seseorang memanggilnya dari belakang. Layaknya dejavu, ia yang sedang berjalan di lorong selepas menikmati makan siang bersama ketiga orang terdekatnya membalikkan badan.
Ia menelusuri lorong setelah berpisah bersama sang suami dan juga kedua sahabatnya sehabis melaksanakan kewajiban. Rania dikejutkan dengan salah satu perawat yang baru bekerja sama, sepertinya datang memanggil.
Ia berlarian mendekat, memberikan tanda tanya besar pada Rania.
"Untunglah ada kamu, kami membutuhkan beberapa perawat untuk membantu pasien kecelakaan, ayo cepat."
Tanpa memberi kesempatan Rania menjawab, teman seperjuangannya menarik pergelangan wanita berhijab itu begitu saja.
Rania yang tidak bisa meredakan rasa terkejut hanya mengikuti ke mana Nara membawanya.
Tidak lama berselang keduanya tiba di ruang operasi, membantu beberapa dokter guna memberikan penanganan serius kepada pasien kecelakaan.
Rania sangat tercengang kala menghadapi permasalahan yang mirip menimpa suaminya beberapa bulan lalu. Kejadian mengerikan itu membuatnya merasa bersalah karena keegoisannya, sehingga Park Jim-in mengalami kecelakaan.
Ia terus terbawa arus saat menyaksikan luka demi luka yang mengeluarkan darah dari tubuh sang pasien tanpa melakukan pergerakan berarti.
"Jangan bengong terus, ayo cepat kita harus mengambil tindakan," ucap Han Bada, perawat senior, menyadarinya.
Rania mengangguk gagu dan mulai menjalankan tugas memandangi tenaga medis bergantian.
Setiap detik yang terlewat menyuguhkan ketegangan luar biasa. Ini pertama kali Rania ikut membantu para dokter menangani seorang pasien melakukan operasi besar.
Darah terus mengalir, denyut nadi pasien terlihat lemah dalam layar, semua orang di ruangan itu sama-sama bekerja keras untuk menyelamatkannya.
Jam demi jam berlalu, ketegangan yang mereka rasakan berangsur-angsur tenang, hingga beberapa saat kemudian operasi selesai dilakukan.
Para tenaga medis bernapas lega dan memandangi satu sama lain seraya mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka.
Rania masih tidak percaya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dokter profesional menangani keadaan krisis seperti tadi.
Pasien yang mereka tangani pun mulai dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VIP oleh beberapa perawat pria.
Rania serta Nara berjalan lunglai keluar ruangan. Bau anyir darah masih segar menempel di tubuh mereka, tetapi keduanya bersyukur pasien bisa diselamatkan.
Sungguh perjuangan tidak mudah di hari pertama mereka bertugas sebagai perawat sesungguhnya. Pekerjaan mereka menuntut keduanya untuk tenang dalam situasi pelik seperti tadi.
Salah sedikit saja, nyawa pasien bisa melayang. Berkat perjuangan mereka, akhirnya membuahkan hasil luar biasa.
"Kamu tahu Rania? Pasien pria tadi adalah seorang pembalap profesional, dia mengalami kecelakaan di lapangan latihan. Wah... ini benar-benar tidak terduga. Bagaimana bisa dia kecelakaan bahkan ketika tidak sedang balapan? Aku sangat tidak mengerti," celoteh Nara, melipat tangan di depan dada, seraya terus berjalan berdampingan dengan rekan kerjanya di koridor.
Rania menoleh singkat, ikut memikirkan hal yang sama. Ia sadar jika pasien operasi tadi adalah seorang pria, berparas tampan nan rupawan. Namun, ia tidak habis pikir jika pria itu adalah seorang pembalap profesional. Selama ini, Rania tidak pernah tahu apa-apa mengenai dunia tersebut.
"Bagaimana kamu tahu? Apa pria tadi sekenal itu?" tanyanya, mengejutkan Nara.
Ia menghentikan langkah dan langsung mendorong kedua bahu Rania hingga punggung rampingnya terantuk tembok.
"Mwo? Jangan bilang kamu tidak kenal siapa itu Jung Jae Hwa?"
Mendengar nama asing disebutkan, seketika Rania menautkan kedua alis dalam. Netra jelaganya memandang lekat iris cokelat terang milik Nara. Wanita itu terlihat sangat antusias kala membicarakan Jung Jae Hwa. Bibir merah muda berkilau nya terus berceloteh dengan riang. Rania tidak mengerti dan tidak tahu siapa yang tengah Nara ceritakan.
"Aku sama sekali tidak tahu, siapa itu Jung Jae Hwa?" Ia pun melepaskan kedua tangan yang bertengger di bahunya begitu saja dan kembali melanjutkan langkah kaki.
Rania terus melangkahkan kaki acuh tak acuh atas perkataan Nara yang tidak berhenti membicarakan sang atlet.
...***...
Di ruang VIP, Jung Jae Hwa tampak damai dalam tidur. Wajah tampannya terlihat pucat seolah tidak ada aliran darah mengalir ke sana.
Suara detak jantung mengalun mengenyahkan keheningan. Selang sepuluh menit kemudian, pintu ruang inap digeser seseorang. Pria berkacamata dan berlandang di dagu datang menghampiri. Pakaian jas formal melekat di tubuh idealnya memperlihatkan aura kharismatik begitu kuat.
Helaan napas pun terdengar memilukan, ia mengusap dahi Jae Hwa pelan seraya terus memandanginya lekat.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Apa kamu benar-benar sudah memprovokasi Jung Jae Sun? Seharusnya... kamu mengalah saja dengan kakak tiri mu itu. Kenapa harus membuat keadaan menjadi lebih runyam?" gumamnya mengingat kejadian sebelum kecelakaan Jung Jae Hwa terjadi.
"Aku harap, kamu cepat sembuh," lanjut pria itu dan setelahnya pergi begitu saja.
Baru saja ia berbalik selepas menutup pintu, pergerakannya terhenti ketika beradu pandang dengan seorang perawat yang tengah memeluk map.
Kedua mata mereka melebar terkejut mendapati keberadaan satu sama lain.
"Ah, Anda keluarga pasien?" tanya suara lembut di hadapannya.
"Ne," jawabnya singkat lalu menganggukkan kepala sekilas dan kembali melangkahkan kaki jenjangnya.
Ia melewati Rania begitu saja, meninggalkan aroma maskulin yang membuat jantungnya bertalu-talu.
Ia berbalik melihat pria tadi mulai menjauh. "Parfumnya sama seperti milik Jim-in oppa," benaknya.
"Tunggu!" Teriaknya memperhatikan langkah pria tersebut.
Rania berlari mendekat sampai mereka berhadapan kembali. Pria berkacamata tersebut mengerutkan dahinya melihat wanita berhijab mendongak memandanginya. Bola matanya bergulir melihat name tag yang tersemat di baju bagian dada sebelah kiri sang perawat.
"Rania?" Benaknya berkata dalam diam.
"Maaf menghentikan Anda, saya hanya ingin bertanya... Apa pasien-"
"Saya harap tenaga medis di sini dapat membantunya sembuh secepat mungkin. Karena satu bulan lagi dia harus mengikuti turnamen," jelasnya memotong perkataan Rania cepat.
Sebelum Rania sempat mengajukan pertanyaan lainnya, pria asing itu kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkannya dengan berjuta kebimbangan.
Dia lagi-lagi membalikkan badannya untuk melihat punggung pria itu yang terus menjauh dan akhirnya menghilang.
"Bagaimana mungkin pasien kecelakaan bisa langsung sembuh begitu saja? Kami bukan Tuhan, tuan," gumamnya sedikit kesal dan bergegas menuju ruangan VIP tempat sang pembalap berada.
"Bisa-bisanya pria itu... Apa dia pikir-"
Rania menghentikan ucapannya ketika melihat pasien sudah membuka matanya. Jung Jae Hwa akhirnya sadar dari obat anestesi dan kini tengah memandang lurus ke depan.
Langit-langit ruangan seolah menarik perhatiannya, tidak mengindahkan keberadaan Rania. Ia lalu berjalan cepat mendekati Jae Hwa, ikut senang melihatnya sadar.
"Tuan, Anda sudah sadar? Bagaimana perasaan Anda? Apa Anda merasa baik-baik saja? Apa lukanya masih sakit?" Rania terus memberondongnya dengan pertanyaan.
Merasa ketenangannya terusik, Jae Hwa menggulirkan bola matanya ke samping dan menatap perawat itu dalam diam. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia tetap memandangi Rania yang tengah tersenyum lebar.
"Siapa wanita ini? Apakah ada perawat seperti ini di rumah sakit? Kenapa selama ini aku tidak tahu? Dan, di mana Manager Kang pergi? Setelah menjawab dengan berkata tidak masuk akal, dia pergi begitu saja? Benar-benar menyebalkan!" Monolognya terdengar dalam senyap.
Rania terus memanggil-manggil namanya, tetapi tidak ada satu pun tanggapan darinya. Sang pembalap itu kembali menutup matanya dan mengabaikan keberadaan orang lain di sana.