
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Sudah dua minggu berlalu sejak ucapan Jim-in waktu itu, Rania benar-benar menurutinya. Tidak mendatangi Gyeong yang mungkin bisa saja membutuhkan kehadirannya. Seperti hari-hari kemarin ia selalu menjadi istri yang patuh. Apapun yang dikatakan suaminya, ia menuruti. Meskipun tersemat luka yang setiap saat tergores dalam hatinya.
Bagaimana tidak. Sosok Jim-in sudah jauh dari kata hangat. Kata-kata dan tindakannya semakin mengukung Rania untuk tetap bertahan dalam sangkar emas. Kebebasannya direnggut paksa tak tersisa. Bahkan sekedar untuk berbelanja pun ia disuruh untuk pesan online saja.
Namun, hari ini tidak ada kata larangan lagi seperti kemarin. Jika biasanya sebelum berangkat Jim-in mengatakan, 'jangan pergi dari apartemen dan menemui wanita itu atau ke mana pun.' Tetapi, sekarang tidak terdengar lagi. Hal itu tentu saja dimanfaatkan Rania untuk mengunjungi mansion keluarga Park.
Keadaan terasa hening kala kedua kakinya menginjak halaman depan. Kerutan demi kerutan kening hadir menggambarkan keheranan. Rania yang baru datang dengan menenteng buah tangan pun dibuat bingung. Pasalnya mansioan tidak sehening seperti ini.
"Aneh, apa semua orang pergi?" bisiknya.
"Assalamu'alaikum. Paman, bibi apa kalian ada di dalam?" panggilnya setelah masuk.
Kepala berhijabnya menoleh ke segala arah mencari keberadaan semua orang. Hening, sepi ia rasakan. Rania pun membawa dirinya ke tempat makan. Biasanya semua pelayan akan berada di sana dijam-jam seperti ini.
Dan benar saja apa yang dipikirkannya, mereka ada di ruangan yang sama.
"Paman Sang Oh, kenapa kalian berkumpul di sini? Kenapa kalian tidak membantu nyonya?" herannya menatap mereka satu persatu.
"No...nona Muda. Nyonya dari tadi tidak ingin diganggu. Beliau mengusir siapa saja yang ingin masuk ke dalam kamarnya." Jelas si kepala pelayan tersebut.
Heran, Rania pun langsung melenggang pergi menuju lantai atas seraya membawa nampan yang berisi sarapan.
Langkah demi langkah membawanya ke ruangan yang berada di ujung lorong. Keadaan terasa sepi seolah tidak ada penghuni satu pun yang tinggal di sana. Hingga kedua kaki itu membawanya tepat di depan pintu sang mertua. Dengan perasaan was-was bercampur khawatir tangan mungil Rania terulur menggapai gagang pintu lalu membukanya.
Cahaya hangat dari sang surya adalah hal pertama yang dilihatnya. Hembusan aroma mint yang menguar menandakan jika ruangan tersebut baru saja dibersihkan. Kepala berhijab moccanya menyembul melihat keadaan sekitar.
Tidak ada siapa pun yang ia lihat. Kosong. Keheningan menyapa kedatangannya.
"Nyonya." Panggilnya seraya masuk ke dalam.
Lama tidak ada sahutan apapun yang menjawab keberadaannya. Hingga Rania pun berjalan lebih dalam menuju balkon kamar tersebut. Gorden berwarna hijau lumut bergoyang tertiup angin, menandakan jika jendela besar itu dibuka seseorang. Penasaran, Rania mendekatinya.
Seketika netranya melebar melihat ibu mertuanya ada di sana.
"Assalamu'alaikum nyonya, saya datang. Nyonya, sedang apa Anda di sini?" sapanya lalu berjongkok di hadapannya.
Rania tahu pasti berat bagi Gyeong menghadapi musibah tanpa ada sang anak di sisinya. Kembali tangan mungilnya terulur menggenggam tangan lemah mertuanya.
"Nyonya, maafkan saya karena baru bisa datang sekarang. Maaf, tidak menemani nyonya terapi." Sesalnya kemudian.
"Tidak usah bicara seperti itu saya tahu apa yang terjadi. Jim-in memintamu untuk tidak datang, kan? Bahkan sekarang dia mengambil alih perusahaan tanpa sepengetahuan saya. Itu karenamu, kan?!" ada nada ragu, tapi mengintimidasi di sana.
Mendengar itu kedua bola mata bulannya membulat sempurna. Rania tidak percaya mendengar penuturan tersebut. "Saya sama sekali tidak pernah mengatakan apapun kepada Tuan Muda. Bahkan saya sering membujuknya untuk menemui, nyonya. Jujur, akhir-akhir ini Tuan Muda memang sedikit berubah." Kesedihan nampak diwajah ayunya. Rania berusaha tegar menghadapi keadaan yang tiba-tiba saja terbalik dalam hitungan detik.
Gyeong melihat menantunya menundukan kepala merasa sedikit simpati. Namun, ego masih menghalanginya untuk menunjukan rasa itu. Hanya kesepian yang menemai kedua wanita berbeda usia tersebut. Satu yang mereka sama-sama rasakan, yaitu kehampaan.
"Bawa saya masuk." Suruhnya setelah sekian lama bungkam. Rania pun tersadar lalu beranjak menuju ke belakang Gyeong dan mendorong kursi rodanya ke dalam.
Hening kembali melanda sesaat wanita itu sudah beralih ke tempat tidurnya. Rania masih membungkam mulutnya seraya menunduk dalam. Entahlah apa yang tengah dipikirkannya, tapi hal tersebut begitu mengganggu Gyeong.
"Jangan dipikirkan, Jim-in memiliki watak yang keras. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya." Mendengar penuturan itu membuat Rania tersentak. Dengan perlahan ia mendongak menatap tidak percaya pada sang mertua.
"Sa...saya hanya merasa tidak terbiasa bah_"
"Kenapa kamu masih mau membantu saya? Padahal jelas-jelas saya sudah menyakitimu berulang kali." Potong Gyeong cepat.
Rania terkesiap seketika. "Karena nyonya sudah saya anggap seperti ibu kandung sendiri. Sudah hampir satu tahun mamah meninggalkan saya. Jadi, untuk melanjutkan berbakti kepada orang tua saya memfokuskan diri untuk nyonya." Jujur tanpa ada kebohongan yang terdengar. Kini giliran Gyeong dibuat terkejut mendengar penuturannya.
Wanita paruh baya itu terdiam mencerna kata-kata yang keluar dari mulut ranum di sampingnya. Sudah banyak kesalahan yang dilakukan Gyeong kepada menantu tak dianggapnya ini. Namun, seberapa fatal kesalahan yang telah diperbuat Rania masih membantunya tanpa pamrih. Bahkan sudah mengganggapnya seperti orang tuanya sendiri.
Terbuat dari apa hatinya itu sampai tidak menyadari kebaikan Rania. Tidak hanya sekarang bahkan sejak awal mereka bertemu dan mempersatukannya dalam ikatan suci pernikahan sang putra. Keegoisan dan gengsi yang besar sudah menutup mata hatinya.
...🌦️🌦️🌦️...
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu. Saya takut Tuan Muda mengetahui saya di sini. Saya akan menyempatkan diri untuk datang lagi." Ucap Rania setelah beberapa jam menemani wanita tua itu.
Baru saja kakinya melangkah suara Gyeong menghentikannya seketika. "Jika memungkinkan bawa Jim-in ke sini. Saya ingin berbicara dengannya."
Rania mengangguk tanpa melihatnya sedikit pun. Gyeong tahu apa yang tengah dirasakannya. Perubahan sikap Jim-in membuatnya tidak bisa berbuat apapun. Sejak kepulangannya dari rumah sakit Gyeong menyuruh anak buahnya untuk mengawasi sang anak. Tidak di sangka ternyata banyak masalah yang ditimbulkan akibat perbuatannya sendiri.
"Mianhae." Lirihnya saat pintu kayu jati tersebut ditutup secara perlahan.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 5 sore setelah kepulangannya dari mansion keluarga Park. Saat ini Rania tengah berdiam diri di hadapan jendela besar yang menampilkan pemandangan Kota Seoul. Dari ketinggian lantai 6 ia bisa melihat dengan jelas cantiknya gedung-gedung pencakar langit yang tersembur oleh cahaya senja.
Namun, indahnya cakrawala saat ini tidak bisa menghentikan datangnya Varsha dikedua matanya. Hujan membasahi pipi putihnya yang lembab. Tanpa isak yang keluar cairan bening tersebut menggambarkan kepedihan.
Varsha mengandung banyak arti dalam episode kehidupan yang dilewatinya. Nama yang tersemat dalam dirinya meninggalkan jejak kenangan dalam tetesan lewat air matanya.
...🌦️KEEGOISAN🌦️...