VARSHA

VARSHA
Bagian 54



...


...


...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Salju perlahan datang mendinginkan perasaan yang gelisah. Benda putih turun dari langit membawa ketenangan pada penikmatnya. Angin dingin berhembus mengantarkan kerinduan. Kehangatan sang surya menghilang bersama kenangan.


Masih dalam posisi memeluk kedua kaki sosok tersebut, Jim-in menangis mencoba menyalurkan kepedihan. Melihat keadaannya yang terlihat lemah wanita itu pun mengulurkan tangan membantunya berdiri.


Iris keduanya pun bertemu. Kini telapak tangan lembut itu menangkup pipinya yang basah. Perlahan kedua ibu jarinya mengusap jejak air mata. Di perlakukan hangat seperti itu membuat Jim-in tidak kuasa membendung keharuan. Sudah lama rasanya ia tidak mendapatkan kasih sayang dari orang yang tengah berdiri tepat di hadapannya.


"Eomma~" panggilnya lirih seraya menubrukan diri pada sang ibu.


Yah, wanita yang datang ke mansion adalah Nyonya Besar Park Gyeong. Sudah 2 bulan lamanya Gyeong pergi. Dirinya merantau di negara orang mencari kebenaran dan ketenangan. Kini sang nyonya kembali membawa perubahan besar.


Hijab panjang menjuntai menutupi jejak keburukannya di masa lalu. Semua pelayan yang melihatnya ikut bahagia atas perubahan dirinya.


"Eomma, mianhaeo. Aku sudah bertindak terlalu kasar. Sekarang aku sudah mendapatkan balasannya. Aku benar-benar minta maaf." Ujar Jim-in sembari sesengukan.


Gyeong membalas pelukannya lalu mengusap punggung rapuh sang anak pelan. "Sudahlah. Eomma sudah melupakannya. Eomma pulang karena mengkhawatirkanmu. Sang Oh mengatakan jika Rania pergi. Bagaimana bisa?"


Seketika itu juga Jim-in melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya kasar. Ia tidak sanggup menatap manik wanita yang sudah melahirkanya ini. Jim-in terdiam seribu bahasa. Lidahnya kelu tidak bisa mengatakan satu patah kata pun. Melihat gelagat sang anak Gyeong pun menepuk pundaknya pelan.


"Apa kamu masih berhubungan dengan Yuuna?" mendengar nama tunangannya disebut Jim-in mendongak sekilas lalu mengangguk.


"Hah~" terdengar helaan napas berat keluar dari mulut sang ibu. "Dengar Jim, hubungan adanya orang ketiga itu tidak benar. Eomma sudah sadar sekarang jika keberadaannya menambah masalah. Maaf, eomma memaksamu bertunangan dengan Yuuna. Jujur, eomma sempat terhasut olehnya." Jelas Gyeong membuat Jim-in menatapnya. Dahinya mengerut bingung tidak mengerti.


"Saya mendengar nona Yuuna mengatakan sesuatu pada Nyonya Besar." Timpal Sang Oh masuk ke dalam pembicaraan mereka.


Jim-in pun menoleh ke samping kanan di mana pria berumur tersebut berdiri di sana. Ia siap mendengarkan apa yang hendak disampaikannya.


"Nona Yuuna mengatakan, 'Eomma bagaimana jika melakukan sesuatu yang bisa membuat Rania meninggalkan Jim-in oppa? Yah seperti melenyapkan sesuatu yang berharga, misalnya.' Itulah yang saya dengar sebelum nyonya membakar rumah Nona Rania." Jelas Sang Oh lagi. Jim-in menoleh pada sang ibu. Gyeong pun mengangguk membenarkan.


"Tidak hanya itu saja bahkan Yuuna sering menyuruh eomma melakukan sesuatu yang buruk untuk Rania. Dulu, eomma terlalu bodoh termakan hasutannya. Sekarang eomma sadar siapa orang yang pantas untuk mendampingmu. Rania, dia wanita yang sangat baik. Menantu dan istri idaman. Bagaimana pun juga eomma bersalah sudah melakukan tindakan yang menyakitinya." Perkatan Gyeong seketika menghantam ulu hati Jim-in.


Ia kembali menunduk dalam merasakan sakit luar biasa. Kedua tangannya mengepal erat dengan emosi membuncah hebat. Kilatan matanya berubah seperti mengalirkan listrik siap menyetrum siapa pun yang menatapnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi Jim-in melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Sang Oh dan Gyeong pun saling pandang. Mereka mengerti dengan tindakan yang hendak dilakukan pria itu.


"Saya sempat terkejut tadi dengan perubahan nyonya sekarang. Penutup kepala itu pantas nyonya kenakan." Tunjuk Sang Oh.


"Ini namanya hijab, Sang Oh. Sama seperti yang dikenakan Rania. Yah, dalam perjalanan di Inggris aku sadar dan Alhamdulillah mendapatkan hidayah untuk mengenakannya. MasyaAllah ternyata senyaman ini. Dan semuanya tidak luput dari perkataan Rania. Aku juga tersadarkan olehnya." Jelas Sang Nyonya. Sang Oh manggut-manggut mengerti.


...🌦️🌦️🌦️...


Dan di sinilah ia berada. Tengah duduk di samping ranjang sang ayah seraya menyuapinya semangkuk bubur. Senyum mengembang kala mengetahui kabar jika ayahnya sudah sadar dari semalam. Pagi-pagi sekali wanita itu pun datang untuk menemuinya.


"Aku senang sekali akhirnya appa sadar juga." Ucapnya lalu menyuapkan sesendok bubur pada ayahnya.


Pria paruh baya itu pun menerimanya dengan tersenyum lemah. "Bagaimana hubunganmu dengan Jim-in?"


"Kami baik-baik saja. Secepatnya aku ingin menikah dengan dia. Tenang saja appa tidak usah khawatir. Sudah tidak ada yang menghalangi cinta kami. Karena wanita itu sudah pergi. Aku berhasil menghilangkannya." Entah sadar atau tidak Yuuna membuat pengakuannya sendiri.


"Ap_"


Brakk!!


Seketika pintu kamar rawat itu dibuka paksa oleh seseorang. "Ohh jadi benar apa yang aku dengar. Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura baik? Bukti video, foto dan perkataanmu waktu itu semuanya bohongkan?! Kamu hanya memanipulasi semuanya, KAN?! Aku tidak menyangka kamu bisa selicik ini Yuuna." Ucapan tegas sarat akan kekecewaan terdengar jelas.


"Ji....jim-in oppa." Cicitnya seraya beranjak dari duduk.


"Nak, Jim-in." Lanjut pria Kim itu.


"Apa maksud oppa aku tidak mengerti."


"Sudah tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Sekarang aku tahu semuanya. Kamu wanita ular yang bisa menghasut mangsanya. Sampai sang mangsa pun percaya dengan omongan dustamu itu. Kamu juga kan yang menyuruh seseorang untuk mengawasi keluargaku? Lihat ini." Jim-in pun menyodorkan ponsel pintarnya tepat di depan wajah Yuuna. Di sana terlihat pria berjas hitam tengah berdiri tidak jauh dari mansion keluarga Park. "Beruntungnya aku mempunyai sekertaris pengertian. Dia tahu jika ada yang tidak beres denganmu. Dia bertindak sendiri dan dalam perjalanan ke mari Nam Joon hyung mengatakan semuanya. Meskipun semuanya terlambat." Jelasnya panjang lebar.


Yuuna terdiam tidak berkutik sedikit pun. Sang ayah yang duduk bersandar di tempat tidurnya pun mengerutkan kening. Tatapannya menatap curiga pada putri semata wayangnya.


"Mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Aku membatalkan pertunangan KITA." Tegas dan jelas Jim-in memutuskan hubungan itu. Sedetik kemudian ia pun pergi dari sana.


"O...oppa tunggu. Ini tidak seperti yang oppa pikirkan." Yuuna berusaha mencegah kepergiannya. Namun, Jim-in menghempaskan tangannya lalu pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.


Yuuna menahan tangisannya, tidak menyangka semuanya hancur tidak seperti yang diharapkan. "Appa tidak pernah mengajarkan keburukan padamu, Yuuna. Dari mana datangnya kejahatan itu?" Perkataan sang ayah pun kembali menambah luka dalam dirinya.


...🌦️🌦️🌦️...


Dengan napas yang memburu hebat Jim-in berjalan di lorong rumah sakit hendak kembali ke kediamannya. Ia pun tidak menyadari jika bahu kanannya menubruk seseorang. Pria berjas putih itu sedikit terhuyung mendapatkan dorongan tersebut. Keduanya pun berhenti merasakan sedikit ngilu dibahu masing-masing.


"Jim-in?" panggilnya.


Pria itu pun menoleh mendapati mantan dokter pribadinya di sana. Tanpa ada niatan untuk berbicara Jim-in hendak kembali melangkahkan kakinya. Namun, sebelum itu terjadi Seok Jin lebih dulu mencengkram lengannya kuat.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Ini mengenai Rania."


Mendengar nama sang istri Jim-in kembali menoleh. senyum yang entah apa artinya itu pun mengembang diwajah tampan Kim Seok Jin.


Ternyata perpisahan itu menyakitkan. Cinta butuh pengorbanan untuk bisa bersama. Kata maaf tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Kasih sayang yang begitu besar tidak mudah membawanya kembali. Kenapa luka terus membayang?


...🌦️LUKA MEMBAYANG🌦️...