VARSHA

VARSHA
Bagian 62




...Kala membentang membentuk simfoni kehidupan seirama. Nyanyian klasik menelisik merdu mengalun menemani setiap langkah episode kehidupan. Varsha setiap kali datang mengiringi kisah dalam balutan hitam tinta pena. Semerbak aroma masa lalu mengantarkan masa depan yang lebih baik. Tidak ada yang tahu di balik varsha menyimpan sejuta harsha dalam bentuk asha....


...***...


Sudah lima tahun berlalu sejak Rania memutuskan kembali bersama suaminya. Selama itu pula banyak kenangan manis yang sudah mereka lewati. Di tambah dengan kehadiran Asha mengantarkan harapan kebahagiaan bagi orang tuanya.


Musim semi tengah berlangsung. Aroma bunga menguar menemani kisah indah rumah tangga Park Rania dan Park Jim-in. Kepahitan, kepiluan, dan air mata kesedihan hilang terhapus oleh Varsha kebahagiaan. Manis, pahit kehidupan sudah biasa. Allah menguji setiap hamba-Nya untuk memberikan kebaikan setelahnya.


Allah Maha Baik, melebihi apa yang kita pikirkan.


Allah selalu memberikan kejutan tak terduga diwaktu yang tepat. Rania percaya itu dan sekarang buktinya. Ia sudah kembali mengecap manisnya buah dari kesabaran.


Ruangan bernuansa putih bersih itu menjadi tumpuannya pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan selepas menjalankan kewajibannya, Rania akan berkutat dengan bumbu dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


Sesekali bulan sabit bertengger diwajah cantiknya. Lega sudah, perasaannya tidak lagi tentang varsha. Biarkanlah nama itu terus tersemat dalam dirinya. Karena ia percaya dengan itu mengantarkannya pada kebahagiaan.


Di tengah-tengah kesibukannya memotong sayuran, sepasang lengan kekar tiba-tiba saja merengsek memeluk perutnya posesif. Namun, sikap itu tidak seperti hari-hari lalu. Rania tersenyum mengetahui siapa pemilik lengan tersebut.


"Oppa..." panggilnya.


"Hmm." Timpal sang suami yang tengah memejamkan matanya menikmati harum istri tercinta.


Dagunya yang lancip ia daratkan dibahu kiri Rania membuatnya sedikit kepayahan. "Bisa oppa menyingkir sebentar? Aku tidak tahan dengan baumu." Seketika itu juga Rania langsung melepaskan pagutan lengan sang suami lalu berlari ke wastafel yang tidak jauh dari keberadaannya.


Melihat istrinya tengah memuntahkan sesuatu Jim-in mematung di tempat. Wajahnya berubah menjadi gelap dengan bibir sedikit maju. Ia pun mengendus tubuhnya sendiri seraya mengerutkan kening, heran.


"Apa aku bau badan? Aku baru saja mandi." Cicitnya pelan. Namun, suara Rania yang tengah berusaha mengeluarkan sesuatu dalam perutanya kembali mengundang perhatian. "Ye....yeobo. A...apa aku sebau itu sampai kamu muntah seperti ini?" tanyanya lalu berjalan mendekat.


Rania yang masih sibuk dengan kegiatannya menggeleng pelan. Entah itu jawaban iya atau tidak, tapi membuat Jim-in mematung tidak karuan.


"Eomma, appa." Suara cempreng gadis berusia lima tahun mengalihkan perhatian Jim-in. Pria berkepala tiga itu berbalik melihat putrinya berjalan ke arahnya. Dengan sigap ayah muda tersebut berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya.


Akila tersenyum senang dan berlari kecil menyambut pelukan sang ayah. "Eomma kenapa?" tanyanya polos.


"Sayang, eomma bilang tidak suka bau appa. Apa appa sebau itu?" tanya balik Jim-in seraya merengek melebihi anaknya sendiri.


Secara naluriah Akila mengendus ceruk lehernya perlahan. Kerutan didahinya terlihat kentara. "Ani. Oppa, wangi. Emm, aroma appa mengingatkan Akila pada sesuatu. Entah masih dalam perut eomma atau di mana, tapi bau appa ini Akila selalu merindukannya." Mendengar penuturan sang putri membuat Jim-in terharu. Kedua manik kecilnya berkaca-kaca. Begitu pula dengan Rania yang sudah selesai dengan urusannya. Tersenyum haru menatap kedekatan ayah dan anak tersebut.


Rania pun perlahan mendekat lalu merengkuh dua harta paling berharga dalam hidupnya. Bulir embun merembes dalam matanya. Setetes cairan bening sarat akan kebahagiaan mengalir dipipinya. Senyum haru pun nampak mengiringi kebersamaan mereka.


Lega sudah, perjalanan yang ditempuh dengan banyaknya varsha menghadirkan sebuah asha membentuk harsha. Tiga kata, Varsha, Ahsa dan Harsha akan selalu ada mengiringi setiap langkah yang Rania ambil. Ia percaya Allah memang penulis skenario terbaik. Allah tahu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.


"Terima kasih juga sudah masuk dalam kehidupanku. Appa, menyayangi kalian." Jawab Jim-in sembari melakukan hal yang sama seperti Rania. Menghadiahkan ciuman hangat di dahi kedua wanita yang dicintainya.


"Saranghae~" lengkingan suara sang buah hati menambah kebahagiaan orang tuanya.


Keharmonisan keluaraga kecil Park pun semakin hangat. Rania bersyukur atas apa yang sudah dimilikinya sekarang. Biarkanlah kepedihan yang pernah ia kecap dihari itu sebagai kenangan penuh pembelajaran.


"Assalamu'alaikum, omo...... harmonis sekali keluarga kesayangan eomma." Ucapannya seketika mengalihkan perhatian ketiganya.


"Halmeoni~" teriak Akila seraya turun dari gendongan sang ayah. Wanita berumur tersebut pun menyambutnya dengan pelukan hangat.


Pasangan suami istri itu menoleh ke arah yang sama. Senyum mengembang kala keadaan sekarang sudah banyak yang berubah.


"Eomma." Panggil Jim-in lalu mendekat ke arah sang ibu diikuti Rania. Mereka pun saling bersalaman melepaskan kerinduan.


Setelah itu keempatnya menuju ruang keluarga. Di sana mereka saling berbincang ringan. Sudah lama rasanya Rania tidak merasakan hangatnya kebersamaan. Kini Allah menghadirkan orang-orang yang disebut sebagai keluarga. Mereka ada dalam satu atap dan berkumpul.


"Woek!!" di tengah-tengah obrolan itu tiba-tiba saja Rania kembali merasa mual. Gyeong menatap pada putranya menuntut jawaban.


"Rania kenapa? Sayang, kamu sudah ke rumah sakit?" tanya Gyeong khawatir lalu berpindah duduk ke samping sang menantu.


Rania menggeleng lemah. "Belum eomma. Dari tadi pagi aku merasa tidak enak badan, pusing dan mual-mual." Adunya. Mendengar itu kedua sudut Gyeong pun melebar lalu menggenggam tangan Rania erat. "Sayang, apa mungkin kamu hamil lagi?"


"Mwo?" kini giliran Jim-in yang menyahut.


Rania tidak langsung menjawab dan memikirkan perkataan mertuanya. "Benar juga, sudah lama aku tidak mendapatkan datang bulan." Bisiknya.


"Jim-in, bawa istrimu ke rumah sakit sekarang. Biar eomma yang menjaga Akila." Titahnya. Jim-in mengangguk dan langsung membawa istrinya.


...***...


Saat ini Rania tengah berada dalam pemeriksaan. Jim-in yang menunggunya sedari tadi harap-harap cemas menunggu hasilnya. Beberapa menit kemudian ketegangan nampak jelas diwajah tampan pria bermarga Park ini. Dokter yang menangani istrinya sudah duduk berhadapan dengannya seraya mengeluarkan isi dalam amplop.


Rania yang berada di sampingnya pun merasakan kegugupan sang suami. Ia juga sama penasarannya. Tidak lama berselang senyum terukur diwajah cantik sang dokter kala melihat deretan tulisan Hangeul yang tertuang dalam kertas tersebut.


"Selamat yah Tuan, istri Anda tengah mengandung. Dan usia kehamilannya sudah memasuki 3 minggu."


Kebahagiaan tidak bisa dibendung. Jim-in langsung merengkuh sang istri ke dalam pelukan hangat. Begitu pula dengan Rania, ia menangis dalam diam merasakan betapa berlimpahnya Allah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.


Benar, selepas kepedihan maka kebahagiaan akan menyambutnya. Sudah hilang air mata kesakitan kini senyum keceriaan menyambutnya.


Lima tahun waktu berharga yang pernah mereka lewati bersama. Lima tahun sudah banyak kenangan terukir dalam kehidupan keduanya. Canda dan tawa, perjuangan dan air mata menjadi pengiring rumah tangga mereka. Bersama buah hati yang Allah datangkan menambah kesempurnaan ikatan suci pernikahan tersebut.