
Terjerat dalam sebuah kisah yang terus terajut menghantarkan pada sebuah proses pendewasaan.
Terkadang akan ada saja seseorang tidak suka atas apa yang dilakukan orang lain.
Terkadang yang datang menghadirkan sebuah pembelajaran teramat berharga. Perjalanan tidak mudah jika terus mengeluh tiada akhir.
Terima dan berterima kasihlah kepada mereka yang sudah membentuk dalam proses pendewasaan ini.
Biarkan takdir membawanya ke mana hingga menemukan titik kebaikan selepas perginya kesukaran.
Tidak baik terus larut dan tercebur pada suatu permasalahan, berubah lah agar bisa mencapai kebaikan.
Tidak salah membentuk kepribadian lain, jika itu masih berada dalam sisi positif.
Lakukan apa yang menurutmu baik dan diam jika itu bisa menyakiti orang lain, tetapi jangan pernah diam kalau melihat orang lain disakiti.
Ujian datang untuk menyadarkan agar lebih bersabar dalam setiap keadaan.
Cobaan yang datang pada diri sendiri maupun orang lain sama pentingnya bagi kehidupan.
Agar lebih waspada dan menerima semua keadaan yang datang menghadang.
Beberapa hari berlalu, setelah mereka setuju melakukan guna menuntaskan kepelikkan di negara tersebut.
Selama itu pula banyak berita berdatangan menyudutkan sang Ketua Jung. Artikel demi artikel terus muncul dengan penulis anonim.
Semua artikel tersebut membongkar rahasia yang selama ini ditutup-tutupi oleh pria tua tersebut. Banyak argumen hadir guna mengusut lebih jauh mengenai pemberitaan yang kian marak.
Artikel tersebut menyebutkan mengenai keberadaan Jung Jae Hwa yang berhubungan dengan Ketua Jung. Di sana tertulis jika pembalap multitalenta itu adalah anak kandung dari Jung Jae Won.
Tidak hanya itu saja, bahkan ada artikel yang memuat dana gelap dikumpulkan oleh perusahaan Jung.
Banyak uang yang digelontorkan ke sana untuk kepuasan kantong pribadi Jae Won.
Sang penguasa itu pun banyak terlibat dengan beberapa politikus yang kini mulai tersiar nama-nama mereka.
Dengan adanya pemberitaan itu keberadaan Jung Jae Won tidak lagi aman. Ia benar-benar merasa terancam mendapatkan peringatan dari para netizen.
Bahkan setelah berita itu diluncurkan selama tiga hari belakangan kantor miliknya didatangi para demonstran. Mereka mengeluh dan minta agar pria baya tersebut bertanggungjawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Karena sudah merugikan banyak pihak terutama, kalangan menengah ke bawah.
Banyak keluarga yang kelaparan bahkan harus berhari-hari menahan diri untuk bisa bertahan hidup. Karena sulitnya ekonomi ditambah tidak mudah mendapatkan pekerjaan akibat ulah Ketua Jung, mereka hidup dalam garis kemiskinan.
"Bagaimana ini, Tuan? Masyarakat terus berdatangan," ungkap sang sekertaris Min.
Jung Jae Won duduk di sofa tunggal di ruang kerjanya. Hiruk pikuk di bawah bangunan berlantai empat puluh lima itu masih terdengar jelas.
"Entahlah," jawab Jae Won pasrah.
Kegaduhan makin menjadi-jadi saat matahari beranjak naik dan bertahta di singgasananya dengan nyaman.
Wajah tua Jung Jae Won semakin suram dan suram. Rahasia yang selama ini berhasil dirinya sembunyikan mencuat ke permukaan.
Banyak bukti yang turut mendukung pemberitaan itu sampai terdengar oleh orang nomor satu di negara tersebut.
Lee Hwang memerintahkan pihak keamanan untuk mengusut tuntas Jung Jae Won bersama orang-orang terlibat dengannya.
Tidak lama setelah itu pemilik perusahaan Jung ditangkap di kantornya sendiri tanpa perlawanan sedikitpun.
Berita itu tersiar sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di rumah sakit.
Banyak acara televisi yang memberitakan peristiwa mencengangkan itu.
Di tengah keriuhan tercipta di luaran sana, Rania masih bertugas sebagai perawat dengan baik di rumah sakit.
"Masih bisa menunjukkan senyum manis itu setelah apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa setenang ini?" tanya Zahra menjulurkan se-cup kopi hangat padanya.
Rania yang baru selesai menangani pasien terakhir menerima minuman itu dan berjalan berdampingan dengan Zahra menuju taman belakang.
Mereka duduk di salah satu bangku dan mulai menikmati minumannya.
"Memang aku harus bagaimana? Was-was? Toh, bukan aku yang melakukan semua ini," kata Rania kembali meneguk kopi miliknya
Zahra terkesiap, membulatkan manik jelaganya masih dengan memperhatikan sang sahabat.
Ia tahu jika saat ini Rania bekerjasama dengan pembalap itu guna menangkap kebusukan Jung Jae Won, tetapi Zahra tidak menyangka sahabatnya bisa setenang ini.
"Apa kamu tidak lihat berita yang terus marak saat ini? Semua orang membicarakan Tuan Jung Jae Won. Bukankah... bukankah kamu yang melakukan semua ini?" tanya Zahra penasaran.
Rania mengembangkan senyum penuh makna. Ia kembali meneguk kopinya hingga tandas dan beralih pada sahabatnya lagi.
"Aku tahu... aku sangat tahu, bahkan sedari tadi berita tentang beliau terus berkeliaran di sana sini. Mana mungkin aku tidak tahu?"
"Seperti yang aku bilang tadi... bukan aku yang melakukannya," jelas Rania lagi.
Zahra cengo, tidak habis pikir atas perkataan sahabatnya. Ia menghela napas berat dan memalingkan wajah ke arah sembarangan.
"Apa maksudmu?" tanya Zahra kemudian.
Rasa penasarannya belum dituntaskan dan menjadi teramat dalam saat menyaksikan sorot mata serius dengan senyum mengembang di wajah ayunya.
"Seperti yang aku katakan tadi, jika semua ini bukanlah... perbuatan ku. Melainkan Jung Jae Hwa sendiri. Aku dan Hana hanya membantunya saja. Kami... bekerja di belakangnya," jelas Rania mengejutkan Zahra.
Wanita berhijab putih itu kembali membulatkan mata sempurna. Ia diam beberapa saat, rasa terkejut dibiarkan mengambil alih segalanya.
Rania yang mendapati sahabatnya seperti itu kembali membentuk kurva di kedua sudut bibir. Ia menggenggam cup bekas kopi tadi erat membiarkan angin berhembus menyapa mereka.
"Beliau yang mengusulkan ingin melakukannya sendiri. Awalnya, kami sepakat untuk membantu dalam mengungkap siapa Jung Jae Won sebenarnya, tetapi beliau memilih cara seperti itu. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain, membantunya dari belakang," jelas Rania.
Zahra mengangguk beberapa kali mengerti yang disampaikan sang sahabat.
"Aku pikir kamu yang melakukan semuanya. Mengingat, kamu begitu semangat dalam mengusut tuntas masalah ini," kata Zahra lagi.
Rania mendengus pelan sembari terkekeh singkat. Kepala berhijabnya mendongak ke atas menyaksikan langit cerah siang ini.
Beberapa hari kemarin begitu banyak hal yang ia dapatkan. Kejadian demi kejadian yang menimpa sang pembalap memberikan banyak pelajaran, jika harus lebih awas terhadap apa pun yang menimpa.
Jangan bersikap egois untuk orang lain yang hanya menimbulkan rasa sakit pada diri sendiri.
Pentingkan lah perasaan, sebab yang tahu bagaimana hancurnya kita hanya diri sendiri.
"Jung Jae Won ini sosok yang luar biasa. Beliau bisa terlihat baik-baik saja di kala perasaannya hancur lebur. Bahkan ia masih bisa menghibur orang lain di saat sedang terpuruk."
"Situasinya selama ini... sudah membentuk karakternya untuk lebih mementingkan orang lain. Tidak ada yang beliau harapkan selain kebahagiaan orang lain. Beliau sungguh luar biasa."
Kagum Rania betapa luar biasa kelapangan hati seorang Jung Jae Hwa.
Zahra yang memperhatikannya sedari tadi, ikut mengembangkan senyum. Ia ikut senang, setidaknya kebenaran siapa sang pembalap dan ketua Jung bisa terungkap juga.
"Terima kasih, atas pujiannya Rania. Aku benar-benar tersanjung."
Suara seseorang mengejutkan, Rania dan Zahra menoleh ke belakang mendapati pria menawan tersebut datang.
Jung Jae Hwa duduk di kursi roda dan didorong oleh Kang Yohan. Disusul oleh Park Jim-in dan Kim Seok Jin datang ke taman menemui kedua wanita tersebut.
Rania dan Zahra terbelalak lalu sedetik kemudian saling pandang, melemparkan senyum senang sekaligus lega.