VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 6



Masa-masa kelam telah terlewati, banyak sekali kisah tertulis dalam sejarah kehidupan.


Air mata, lagi-lagi hanya air mata menjadi saksi bisu betapa pedih nan perih ujian datang melanda.


Namun, setelahnya ada pelangi melengkung indah mencapai sanubari terdalam. Karena tidak ada yang bertahan selamanya jika waktu masih berputar.


Kadang kala membutuhkan pengorbanan lebih untuk mendapatkan kebahagiaan. Meskipun di jalaninya tidak mudah, tetapi pasti ada kebaikan di dalamnya.


Itulah yang tengah Rania rasakan, diusianya kedua puluh sembilan tahun telah mendapatkan balasan dari kesabaran.


Buah dari keikhlasan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia mendapatkan suami yang dulu menyakitinya tanpa ampun, sekarang berbanding terbalik.


Jim-in telah mencintainya dengan tulus dan memberikan kehidupan sangat layak untuknya. Termasuk pendidikan yang sempat kandas.


Sudah hampir empat tahun Rania menempuh pendidikan di universitas favorite di negara sang suami. ia terus berjuang guna mencapai cita-cita menjadi perawat.


Segala usaha dikerahkan untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Memang tidak mudah, disamping menjadi seorang pelajar, Rania juga harus menjalankan tugas sebagai seorang ibu dan istri.


Berkat dukungan baik secara moril dan materil dari sang suami, Rania bisa menjalankannya sampai di titik sekarang.


"APA? Ja-jadi suamimu seorang pengusaha terbesar di negara ini? Lalu kenapa kamu masih mau berjuang menjadi perawat? Bukankah kamu seharusnya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah? Terlebih kekayaan keluarga Park tidak akan habis tujuh turunan," cerocos sahabatnya yang sama-sama sebagai mahasiswa kembali.


Rania terkekeh pelan lalu menoleh ke samping di mana wanita berhijab putih itu masih meracau.


Saat ini mereka tengah berjalan di lorong hendak menuju ruang dosen yang berada di ujung. Selama masuk menjadi mahasiswa baru lagi, wanita itulah menjadi teman satu-satunya yang seiman dengan Rania.


Ia juga merasa nyaman bisa mendapatkan teman yang satu kepercayaan.


"Aku hanya tidak ingin merepotkannya saja, Zahra," balas Rania.


Zahra Fazulna, wanita blesteran Eropa-Indonesia ini memiliki kepribadian yang hangat. Tidak sulit baginya untuk berteman dengan Rania.


Selain seiman, mereka pun memiliki hobi yang sama yaitu berkuda. Semenjak menjadi teman saat masa orientasi mahasiswa baru, baik Rania maupun Zahra mengikuti unit kegiatan mahasiswa yang sama yaitu berkuda.


Sejak saat itulah baik Rania maupun Zahra selalu terlibat momen-momen bersama dan menjadi sahabat karib.


"Terus, kenapa selama ini kamu menyembunyikannya? Kita hampir lulus Rania," ocehnya lagi melipat tangan di depan dada sembari bibir ranum itu mengerucut perlahan.


Melihat hal tersebut Rania tidak kuasa menahan tawa hingga suaranya terdengar nyaring. Keduanya pun berhenti melangkah dan saling berhadapan.


"AKu tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya saja ... tidak ada yang perlu aku ceritakan. Inilah aku apa adanya, maaf tidak jujur padamu," ujar Rania mengusap lengan kanannya pelan.


Zahra seketika luluh mendengar kata maaf dari sahabatnya. Ia tidak bisa mengabaikan siapa pun yang sudah mengakui kesalahannya.


Karena bagi Zahra ketika seseorang meminta maaf itu pasti dari hati, sebab ditegaskan dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Baiklah, aku maafkan. Lain kali kenalkan aku pada anak-anakmu." Zahra menghela napas berat, "kenapa aku harus tahu dari orang lain," lanjutnya merajuk.


"Maaf-maaf aku salah tidak memberitahumu langsung. Baiklah, kapan-kapan aku akan mengajakmu makan malam di rumah kami," ungkapnya.


"Benarkah?" tanya Zahra antusias, Rania pun hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Yyyeee! Kalau begitu ayo kita cepat bertemu dosen tambun itu," ajaknya seraya menggandeng lengan Rania.


"Yak! Awas beliau bisa mendengar mu."


Zahra hanya tertawa perlahan dan menyeret Rania pelan menuju ruang dosen yang hanya beberapa langkah lagi.


Kesibukan sebagai mahasiswa sudah mengambil alih waktu Rania hampir seharian. Ia yang saat ini sudah berusia tiga puluh dua tahun tidak menyangka mendapatkan pencapaian luar biasa.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan dosen, ia baru tiba di rumah pada pukul setengah lima sore.


Ia bergegas masuk ke dalam kala terdengar pertengkaran antara kedua buah hatinya.


Baru saja ia membuka pintu pemandangan menyesakan tertangkap pandangan. Banyak sekali mainan tersebar di lantai, bantal sofa tumbang di sana sini, cemilan manis maupun asin berceceran, dan berbagai macam kekacauan lainnya.


Rania menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kedua tangan saling mengepal satu sama lain sebelum menghadapi putra dan putri kecilnya.


"Hei, kalian berdua," ucapnya teredam.


Akila dan Juhar yang tidak menyadari kedatangan sang ibu pun seketika menoleh ke belakang. Mereka terkejut mendapati aura Rania begitu kelam.


Keduanya pun langsung memeluk satu sama lain, takut jika ibunya sudah dalam mode seperti itu.


"Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kalian bertengkar sampai suaranya terdengar keluar? Lagi, apa ini? Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" Rania menahan segala bentuk emosi membuat wajah putihnya merah padam.


Anak-anaknya saling merangkul satu sama lain tidak sanggup bertatap dengan sang ibu. Mereka berusaha menghindarinya berharap Rania bisa memberikan kelonggaran.


"Kenapa? Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan Eomma? Apa kalian sudah menjadi anak pembangkang sekarang, hah?" ucapnya lagi.


"Ka-kami minta maaf, Eomma. Aku dan Jauhar tidak sengaja membuat rumah jadi berantakan, ka-kami hanya bermain," bela putri pertamanya dan dengan polos Jauhar mengangguk mengiyakan.


"Lalu, apa yang kalian ributkan tadi?" tanya Rania lagi.


"Ka-kami-"


Belum sempat Akila menjawab ucapan sang ibu seorang pelayan datang membantu kedua tuan kecilnya.


"Saya minta maaf Nona tidak bisa mencegah tuan dan nona kecil bermain tadi. Mereka hanya sedang merebutkan ponsel untuk menghubungi Anda," jelasnya kemudian.


Manik jelaga Rania melebar cepat lalu menyuruh asisten rumah tangganya untuk kembali ke belakang.


Baru saja bibir ranumnya terbuka hendak kembali melayangkan kata-kata, kedatangan sang kepala keluarga mencela.


Akila dan Jauhar bergegas mendekati ayahnya berusaha mendapatkan perhatian.


"Appa," teriak mereka menyambar kaki jenjang Jim-in.


"Eh? Ada apa ini? Kenapa anak-anak Appa murung seperti ini, hm?" tanyanya.


Perhatian Jim-in pun beralih ke depan di mana sang istri tengah memandanginya lekat. Dahi tegasnya mengerut dan menggulirkan bola mata ke belakang Rania, ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kalian habis dimarahi Eomma? Apa kalian tahu apa kesalahannya? Kenapa Eomma bisa marah?" tanya Jim-in beruntun memandangi putra dan putri kecilnya.


"A-aku hanya ingin menghubungi Eomma untuk segera pulang. Aku ingin makan bersama Eomma... apa Eomma sudah tidak menyayangi kita lagi? Aku tidak mau melihat Eomma lagi." Akila melarikan diri dengan linangan air mata.


Sedetik kemudian Jauhar pun menangis kencang. Rania yang melihat kedua buah hatinya seperti itu membelalakan mata lebar.


Ia tidak menyangka akan mendapatkan hari di mana putri dan putranya merajuk. Ia memijit pelipis pelan, merasa pusing pada situasi tidak terduga ini.


"Sayang, jangan dipikirkan mungkin anak-anak sedang lelah saja," kata Jim-in mengusap punggung istrinya pelan.


Rania hanya bisa mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata. Pikirannya melalang buana memikirkan reaksi putrinya barusan.