VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 104



Selalu saja ada kejadian yang bisa membuat seseorang dewasa. Takdir tidak bisa dihindari, semuanya terjadi dalam hitungan detik. Seperti bom atom, kejadian bisa meledak kapan saja dan di mana saja.


Park Jim-in kaget ketika mendapat kabar bahwa Jung Jae Hwa berada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan maut. Jim-in adalah orang pertama yang diberitahu oleh manajer Kang.


Sang pengusaha tak menyangka kecelakaan bisa menimpa Jae Hwa, karena selama ini ia tahu bahwa Jae Hwa selalu berhati-hati dalam mengendarai mobil balapnya. Jim-in berspekulasi bahwa ini mungkin dicurigai sebagai ancaman dari orang dalam.


"Manager Kang, apa maksudmu harus membatalkan sponsor? Bukankah aku sudah memberikan uang lebih?" tanya Jim-in bangkit dari duduk, menatap pria berkacamata dan berlandang di dagunya dengan tidak percaya.


Kang Yohan menengadah, memberikan tatapan menyesal pada Jim-in. Jim-in berkacak pinggang dengan napas memburu hebat.


"Aku benar-benar menyesal, Tuan. Tapi dengan adanya kecelakaan ini, aku takut Jung Jae Hwa tidak bisa mengikuti turnamen, yang mana hal itu bisa menyebabkan sponsor dari Anda berpikir ulang," jelasnya lesu.


Jim-in menghela napas kasar dan melonggarkan dasi yang melilit lehernya, seraya menjatuhkan dirinya lagi ke sofa.


"Apa itu yang kamu khawatirkan?" tanya Jim-in, mencengangkan Yohan.


"Mwo?"


"Apa kamu khawatir tidak bisa mengembalikan uang sponsor dariku? Karena takut Jae Hwa tidak bisa mengikuti turnamen itu? Astaghfirullah, dari mana datangnya pikiran dangkalmu itu, Yohan?" tanya Jim-in, tidak percaya, sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


"Eh? A-ah, itu-"


"Tenang saja, aku tidak akan meminta kalian mengembalikan uang sponsor, meskipun Jae Hwa tidak bisa mengikuti turnamen atau apa pun. Karena sekarang kesembuhannya jauh lebih baik," jelas Jim-in, menenangkan perasaannya yang kesal.


Yohan tersenyum haru, tidak percaya mendengar keputusan besar sang tuannya atas kejadian yang menimpa anak asuhnya.


"Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih banyak," katanya terus berterima kasih.


"Iya, tidak usah terlalu formal. Kamu pikir kita sudah berapa tahun saling mengenal? Sekarang antar aku ke rumah sakit untuk menjenguknya," kata Jim-in, bangkit dari duduk dan menyambar jasnya yang tergantung di gantungan.


Yohan mengangguk dan bersama-sama mereka menuju rumah sakit tempat Jung Jae Hwa dirawat intensif.


...***...


Setelah Jung Jae Sun pergi, suasana di ruang rawat mengisyaratkan kecanggungan. Rania mengeluarkan suara kecil untuk melonggarkan tenggorokannya yang sedikit kering.


Ia kemudian meletakkan map di atas nakas dan memasang kembali selang infus yang terlepas.


“Biarkanlah saya yang memasangkannya," ujarnya sambil memasangkan jarum infus ke tangan kanan sang pasien.


Jae Hwa menyimpan diam seribu bahasa, membiarkan perawat yang menanganinya. Hening menyelimuti dan memberi atmosfer kurang nyaman.


Sesekali Rania melirik pembalap yang kini menjadi pembicaraan hangat di masyarakat luas. Ia penasaran pada apa yang menimpanya.


“Apa orang tadi adalah keluargamu? Kenapa dia kasar sekali?" tanya Rania, menarik diri setelah menyelesaikan tugasnya pada Jae Hwa.


“Em." Jae Hwa hanya menyampaikan jawaban yang singkat dan tidak tertarik membicarakan kakak se-ayahnya.


Dalam diam, Rania memperhatikannya terus-menerus. Ada kesedihan dan luka non-fisik yang terlihat bersembunyi di balik mata cokelatnya yang indah.


Ia menghela napas pelan dan kembali memeriksa kondisi pasiennya. Detik demi detik terus berlalu, keberadaan Rania memberikan warna dalam kekosongan hatinya.


Tanpa disadari, Jae Hwa terus memperhatikannya.


Wajah ayu dengan kedua mata besar yang terbungkus bulu mata lentik, pipi putih sedikit berisi, alis alami berbentuk melengkung, serta bibir ranumnya, begitu menarik perhatian. Jae Hwa tidak menyadari bahwa ia sudah tertarik begitu dalam pada pesona perawat yang tengah menanganinya.


Pertanyaan tersebut membuat Rania terkesiap. Kepalanya terselip dalam hijab terangkat, dan kembali menatap pembalap seperti model di hadapannya.


“Iya, saya baru bekerja beberapa hari di sini," jawab Rania, berdiri di samping ranjang.


Jae Hwa menatapnya dan perlahan-lahan memindainya dengan cermat. Rania berbeda dari wanita-wanita yang pernah dijumpainya sebelumnya.


Sang tuan muda mulai merasa tertarik. Jae Hwa tidak pernah tahu ada wanita sepertinya yang tidak mengumbar ketentuan pada dirinya.


“Apa... kamu tahu siapa aku?" tanyanya sekali lagi.


Rania membungkam mulutnya beberapa saat, tidak langsung menjawab pertanyaan tadi. Matanya memancarkan kehangatan, seperti bayangan berita demi berita yang terus mengalir di televisi maupun media massa terulang di benaknya.


Ia menarik tatapan dan beralih ke jendela besar di depannya. Pemandangan ibu kota terpampang jelas di baliknya. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, hendak menggapai awan putih yang tengah berarak. Kebisingan jalanan ibu kota tidak pernah sepi dari kendaraan.


Kesibukan yang makin ramai saat hari mulai siang. Di tengah kecerahannya, cakrawala peristiwa yang menggetarkan hati harus terjadi. Jung Jae Hwa mengalami kecelakaan besar yang membuat kakinya patah, kepalanya bocor, serta beberapa luka lain yang menghiasi tubuh atletisnya.


"Iya... aku tahu siapa kamu." Rania menjatuhkan pandangannya lagi ke arahnya, dengan serius dan melepaskan kesan formalnya.


"Kamu... Jung Jae Hwa, seorang pembalap yang mengalami kecelakaan maut pada saat latihan, kan? Tapi, aku rasa semua ini tidak murni kecelakaan?"


Pertanyaan terakhir yang diajukan Rania menimbulkan tanda tanya besar. Jae Hwa menegakkan tubuh dan perlahan-lahan kedua matanya melebar sempurna. Jantungnya berdebar tak karuan dan tangannya meremas erat seprai ranjang rumah sakit dengan perasaan bercampur aduk.


"Si-siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu tahu tentang kecelakaanku?" Jae Hwa bertanya, mencoba mencari tahu siapa sosok wanita di sebelahnya.


"Aku... tentu saja hanya seorang perawat di rumah sakit ini, Rania," balasnya semi-senyum, mengembangkan senyum penuh makna.


Namun, jawaban tersebut tidak membuat Jae Hwa merasa lega. Kepala bersurai hitam legamnya menggeleng perlahan, masih memberikan sorot mata penuh tanya.


"Ani... kamu tidak hanya perawat di rumah sakit ini, tetapi... aku yakin, kamu tahu sesuatu, kan?" tanya Jae Hwa lagi.


Sudut bibir Rania tetap membentuk kurva sempurna tanpa niat untuk memudarkannya. Sorot mata tegas nan dalam memandang pembalap mobil tersebut.


Ada getaran dalam jiwa yang membuat Rania tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kecelakaan Jung Jae Hwa.


Setelah operasi sang pembalap itu terjadi, Rania menghubungi Hana dan mereka sama-sama mencari tahu siapa keluarga Jung. Keduanya berhasil mendapatkan informasi yang akurat mengenai seluk-beluk keluarga mereka.


Ia juga merasa iba dan kasihan atas apa yang menimpa putra bungsu keluarga Jung tersebut.


"Kamu yakin ingin mengungkap kebenaran ini? Masalah ini... bukan menjadi tanggung jawabmu, Rania," kata Hana saat mereka berada di markasnya.


Rania yang tengah memandangi laptop mengangguk singkat dan menatap sahabatnya dengan serius.


"Jika bukan aku, siapa lagi? Apa kamu mau membiarkan kejahatan itu terus merajalela di negara ini? Aku melakukan ini bukan hanya untuk putra bungsu Jung Jae Won, tetapi untuk menegakkan keadilan," balas Rania.


"Kamu membuatku semangat, Rania. Menghubungi kamu waktu itu adalah anugerah," jawab Hana.


"Bertemu denganmu juga sebuah berkah bagiku. Baiklah, kita sepakat untuk melakukan ini bersama-sama, benar?" Hana mengulurkan tangannya dan Rania langsung membalasnya.


"Tentu saja, senang bertemu denganmu, Hana. Kamu adalah keluargaku yang terbaik," ungkap Rania, membuat Hana terkejut.


Ia pun tersenyum lebar sambil mengangguk singkat. Kedua wanita itu kembali mencari tahu tentang keluarga Jung.


Rania menyelami ingatan hari itu masih dengan memberikan tatapan penuh makna pada Jung Jae Hwa, sementara sang pasien hanya terdiam dipenuhi rasa penasaran.