
Hari demi hari berlalu, waktu terus bergulir memberikan kenangan yang tertinggal kemarin. Masa terus berubah sebagaimana mestinya.
Kesakitan dan kesenangan akan berganti bila masanya telah tiba. Tidak mudah memang ketika masih berada di masa kepedihan, terkadang mengandung kesedihan tak berkesudahan.
Air mata menjadi teman setia kala tidak ada siapa pun mendampingi. Percuma, orang lain juga mempunyai urusannya masing-masing dan hanya bisa berharap serta pasrah pada Sang Pemilik kehidupan semata.
Rania, korban dari keegoisan pun harus bertahan sendirian melewati masa-masa sulit. Hingga pada akhirnya Allah mengantarkan ia kepada kebaikan.
Sudah satu bulan ia kembali menjadi seorang mahasiswi. Hari-hari sebagai pelajar dan juga ibu serta istri membuatnya terus bersemangat.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa melakukan keduanya dengan baik. Terlebih berkat adanya dukungan suami dan ibu mertua, Rania bisa melaluinya dengan mudah tanpa hambatan.
Meskipun memang melelahkan, tetapi ada mimpi yang ingin dicapai meluluhkan semuanya.
"Apa? Kenapa mendadak sekali?" Jim-in terkejut saat mendengar perkataan ibunya barusan.
"Apa Eomma tidak bisa membatalkannya saja?" tanya Rania ikut tidak percaya.
Gyeong yang tengah memangku Jauhar pun tersenyum lebar dan bergantian memandangi anak serta menantunya.
"Tentu saja tidak mendadak dan tidak bisa dibatalkan. Bagaimanapun juga Eomma masih memegang penuh atas aset di Negara I. Keperluan di sana masih membutuhkan kehadiran Eomma," jelas sang nyonya besar tersebut.
Jim-in sebagai putra satu-satunya menghela napas kasar. Punggung tegapnya bersandar di kepala sofa lembut yang tengah ia duduki sedari tadi.
"Kapan Eomma akan pensiun? Bukankah banyak orang-orang kepercayaan almarhum appa yang bisa menghandle pekerjaan di sana?" tanyanya kemudian.
Lagi-lagi Gyeong melengkungkan kedua sudut bibir dan sepenuhnya mengarah pada sang buah hati.
"Tidak bisa seperti itu, banyak hal yang harus dilakukan dulu. Eomma masih mampu menjalankan bisnis ini, tenang saja kalian tidak usah khawatir," jawabnya.
"Baiklah, aku mengerti," balas Jim-in kembali.
"Eomma harus menjaga diri baik-baik. Di sana tidak ada kami yang selalu mengawasi Eomma dan ... kami pasti merindukan Eomma," lanjut Rania.
"Em, Eomma pasti bisa menjaga diri. Kalian di sini harus tetap akur dan baik-baik saja sampai Eomma kembali."
Rania dan Jim-in mengangguk setuju. Mereka tidak bisa mencegah kepergian Gyeong, sebab keputusan yang dilakukannya sudah benar-benar bulat.
Sebagai istri dari mendiang tuan besar Park, Gyeong harus menjalankan bisnis yang ditinggalkan. Mau tidak mau nyonya besar itu pun harus merelakan hidup jauh bersama anak, menantu, serta kedua cucunya.
...***...
Seperti yang sudah direncanakan tempo hari, keberangkatan Gyeong ke Negara I membawa kesedihan.
Jim-in maupun Rania tidak kuasa membendung cairan bening. Mereka menangis melepas kepergian Gyeong guna menjalankan tugas.
Di bandara, mereka melepas keberadaan satu sama lain dengan linangan air mata. Tidak henti-hentinya, wanita baya itu menggenggam hangat tangan anak dan menantunya.
"Jangan menangis seperti Eomma mau pergi selamanya saja," candanya.
"Jangan bercanda Eomma," ucap Jim-in merengut.
Gyeong tertawa pelan, senang bisa mengerjai putra semata wayangnya.
"Kami pasti sangat merindukan Eomma," timpal Rania.
Gyeong beralih pada sang menantu dan langsung memeluknya begitu saja. Rania pun membalasnya tak kalah erat.
Mereka saling mendekap satu sama lain membuat Jim-in tersenyum hangat.
"Eomma, titip Jim-in dan kedua cucu padamu yah, Sayang," bisiknya lembut.
"Em, Eomma tidak usah khawatir insyaAllah aku bisa menjaga mereka. Eomma juga baik-baik di sana, jangan lupa hubungi kami setelah sampai nanti," ujar Rania.
Gyeong melepaskan pelukan, menatap lekat menantu satu-satunya ini.
"Pasti! Kalau begitu Eomma pergi dulu sebentar lagi pesawatnya take off."
Sebelum ibunya melangkahkan kaki, Jim-in lebih dulu merengkuhnya hangat. Tanpa mengatakan sepatah kata hanya dengan gerakan impulsif, Gyeong tahu jika Jim-in tengah menahan berat merelakan kepergiannya.
"Apa aku saja yang pergi?" tanya Jim-in cepat.
Gyeong melepaskan pelukan seraya menangkup kedua lengan kokoh itu erat. Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali lalu melengkungkan bulan sabit sempurna.
"Jangan konyol, kamu adalah seorang ayah dan suami. Di samping menjadi kepala keluarga, kamu juga mempunyai tugas sebagai Presdir di perusahaan di sini. Jadi, tidak ada salahnya merelakan Eomma pergi melanjutkan pekerjaan di sana. Biasanya juga Eomma pergi kamu biasa-biasa saja," racau Gyeong diakhiri candaan lagi.
"Eomma!" Panggil Jim-in sedikit kencang.
Gyeong dan Rania saling pandang seraya tertawa pelan.
Beberapa saat kemudian, setelah melepas kerinduan terlebih dahulu bersama kedua cucunya, Gyeong menyeret koper meninggalkan mereka.
Jim-in dan Rania melepasnya dengan melambaikan tangan. Begitu berat rasanya bagi seorang anak melihat kepergian sang ibu.
Terlebih hubungan mereka yang sudah baik-baik saja, sangat sulit untuk dilakukan.
"Aku yakin eomma akan baik-baik saja, Oppa tidak usah khawatir," ucap Rania menatap sang suami sendu.
Sekilas Jim-in menoleh pada istrinya dan mengangguk singkat.
...***...
Satu minggu setelah kepergian Gyeong keluar negeri, suasana kediaman Jim-in terasa sedikit berbeda.
Tidak ada lagi orang yang mengingatkannya akan tugas dan tanggungjawab sebagai suami serta pemimpin perusahaan.
Namun, meskipun begitu kehidupan rumah tangga Jim-in dan Rania masih baik-baik saja.
"Eomma, Appa, sampai kapan halmonie pergi?" tanya Akila sembari menikmati sarapan.
"Mungkin dua bulan? Appa juga tidak bisa memastikan," balas Jim-in.
"Rasanya sedikit sepi saat tidak ada halmonie di sini," lanjut Akila merengut.
"Kamu pasti sangat menyayangi halmonie, kan Sayang?" tanya Rania membuat putri pertamanya mengangguk cepat.
"Kamu tenang saja, halmonie pasti akan segera pulang." Lagi dan lagi Akila hanya mengangguk.
Keluarga kecil itu pun kembali melanjutkan sarapan bersama hanya ada mereka berempat.
Sejak hubungan Jim-in, Rania, dan Gyeong membaik, sudah tidak ada lagi asisten rumah tangga yang berdiri di kedua sisi seperti hari-hari lalu.
Bagi mereka sudah cukup hanya dengan keluarga saja. Gyeong dan Jim-in menyadari lebih leluasa tidak ada orang lain.
"Oppa, bulan depan sepertinya aku mulai praktek, untuk itu apa tidak apa-apa jika aku pulang sedikit terlambat dari biasanya?" tanya Rania tiba-tiba.
Jim-in menoleh pada istrinya seraya berpikir beberapa saat.
"Tentu, kamu jangan cemas. Anak-anak ada babysitter dan aku juga bisa menjaga mereka," jelasnya.
Rania terharu, tidak menyangka jika sang suami begitu mengerti pada mimpi yang hendak dicapainya.
Ia kembali jatuh hati untuk kesekian kali pada tuan muda angkuh ini.
"Em, terima kasih Sayang," jawabnya haru.
Jim-in tersenyum lebar sembari mengangguk singkat. Baginya kebahagiaan sang istri itu jauh lebih dari segalanya.
Ia ingin menebus kesalahan masa lalu dengan mengizinkan Rania kembali bersekolah. Ia juga sangat menyayangkan kepintaran sang istri yang hanya dibatasi oleh pernikahan.
Ia menginginkan Rania melebarkan sayap dan menggapai mimpi setinggi-tingginya.
"Kalau begitu berjuanglah, jadilah perawat yang hebat," lanjut Jim-in mengejutkan.
Manik jelaga Rania melebar, jantungnya berdegup kencang tidak percaya mendengar perkataan suaminya lagi.
Kedua matanya berkaca-kaca menatap lembut pada pasangan hidup. Rania bersyukur mendapatkan kesempatan emas yang tidak akan dirinya sia-siakan.