VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 91



Selepas Seok Jin memperlihatkan satu video di dalam ponsel, kedua wanita itu kembali diam.


Baik Mi Kyong maupun Ailee, sama-sama buntu tidak tahu harus berbuat apa. Kedua pria di hadapannya benar-benar sudah memegang kartu kelemahan mereka.


Mendapati sang sahabat kembali diam, Jim-in buka suara lagi.


"Aku pikir setelah hari itu kamu meminta maaf... maka semua akan berubah menjadi lebih baik. Bahkan, aku sempat melupakan kejadian di mana kamu menjebak kami... tetapi, nyatanya kamu tidak berubah sama sekali. Bahkan... lebih parah."


"Apa yang merubah mu seperti ini Song Mi Kyong?" tutur Jim-in memandangi sang sahabat yang tengah dilingkupi amarah, sekaligus tidak percaya.


"Kamu wanita baik, ceria, dan menyenangkan, bagaimana bisa?" heran Jim-in lagi.


Mi Kyong yang sedari tadi menunduk dalam mengepal kedua tangan kuat mendengar semua perkataan Jim-in. Sedetik kemudian, secara mengejutkan ia tertawa lantang mengejutkan mereka.


Kepala bersurai cokelat terangnya terangkat, mendongak masih dengan tergelak. Jim-in dan Seok Jin terus memperhatikannya, ada sesuatu yang salah, pikirnya.


"Kalian tidak bisa mengancam ku dengan apa pun. Kalian tidak bisa!" gertak Mi Kyong dengan mata melotot marah.


Ailee yang juga menyaksikan kakak sepupunya seperti itu mundur beberapa langkah ke belakang. Ia seolah menyaksikan sosok lain menempati raga Song Mi Kyong.


"Sadar Mi Kyong! Sadar kamu-"


"Aku tidak gila! Aku sama sekali tidak gila!" Ia menoleh pada Seok Jin yang langsung membuatnya terkesiap.


Ia tercengang mendapati mimik menakutkan wanita itu. Sepanjang yang ia tahu siapa itu Song Mi Kyong, baru kali ini melihat sisi lainnya.


Begitu pula dengan Jim-in yang amat sangat terkejut dengan perubahan sahabat masa kecilnya.


Tanpa diduga, Mi Kyong keluar kabur dari kamar. Baik, Jim-in, Seok Jin, maupun Ailee, sama-sama terkejut sekaligus khawatir.


Mereka berusaha menyusulnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Kurang lebih satu setengah jam keduanya, mereka berhasil menyeret Mi Kyong untuk pulang ke rumah dengan berbagai cara.


Tidak lama berselang, keempatnya tiba di kediaman Song dan sama-sama melangkah masuk. Seketika itu juga, Mi Kyong dan Ailee kembali dikejutkan dengan keberadaan empat orang tidak diundang berada di sana.


Mi Kyong yang masih dilingkupi emosi serta amarah semakin memuncak. Api itu membesar menyaksikan senyum menawan dari salah satu wanita berhijab itu.


Tanpa ancang-ancang ia berlari cepat ke arahnya dan langsung mencengkram abaya bagian lehernya erat.


"Gara-gara kamu, Rania. Gara-gara kamu hidupku jadi seperti ini. Mati kamu! Mati!" Ia langsung mencekik leher jenjang Rania membuat sang empunya hanya bisa terdiam sembari tersenyum begitu saja.


Orang-orang yang ada di sana, terutama Jim-in berusaha melepaskan cengkraman Mi Kyong dari istrinya. Ia menghempaskan sahabatnya ke lantai dengan napas memburu.


"Sudah cukup kamu menyakiti istriku, dan sekarang... kamu ingin membunuhnya tepat di depan mata kepalaku dan juga orang tuamu?" tanya Jim-in dengan suara memburu.


"Kamu benar-benar keterlaluan Mi Kyong! Eomma dan Appa sudah mendengarnya dari mereka, kalau selama ini kamu hidup seperti ******," kata ibunya sarkas.


Ingatan Song Yeri berputar ke beberapa saat lalu. Di mana ia baru saja pulang dari menghadiri makan malam sesama rekan bisnis bersama sang suami. Keduanya dikejutkan dengan kedatangan empat orang yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Di antara keempat orang itu, Yeri hanya mengenali satu-satunya pria dalam rombongan. Dahi tegas wanita paruh baya itu mengerut dalam tidak mengerti akan keberadaan yang lain.


"Kim... Won Shik? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Juga... siapa mereka?" tanya Yeri langsung.


"Kami datang ke sini, sebab ada sesuatu yang ingin di sampaikan. Ini mengenai Song Mi Kyong dan Song Ailee."


Mendengar nama buah hati serta keponakannya disebutkan oleh Won Shik, kedua orang tua itu saling pandang. Lalu mereka pun mempersilakannya masuk ke dalam.


Di ruang tamu, Rania, Zahra, Hana, serta ketiga orang itu duduk berhadap-hadapan.


Rania mengetahui raut penuh tanya dari tuan dan nyonya Song mengarah tepat padanya. Yeri dan Hwan samar-samar mengingat menantu dari nyonya besar Park.


"Sebelumnya, kami minta maaf sudah mengejutkan Tuan dan Nyonya atas kedatangan kami. Namun, ada hal yang ingin kami sampaikan mengenai putri dan keponakan kalian," kata Rania menjelaskan, menarik perhatian dua orang di sana.


Setelah itu ia pun menjelaskan seperti apa kelakuan Mi Kyong serta Ailee di luar sana. Termasuk, mengganggu hubungan pernikahan mereka. Pernyataannya semakin dikuatkan dengan perkataan Kim Won Shik sebagai informan.


Pria itu diminta oleh Rania sebagi saksi bagaimana kehidupan malam kedua wanita keturunan Song di luar sana. Ditambah dengan penemuan Hana serta perkataan Zahra, terus mengejutkan Yeri dan Hwan berkali-kali.


Sebagai orang tua yang selama ini membesarkan buah hatinya dengan gemilangnya harta, mereka tidak percaya mendengar semua itu.


"Song Mi Kyong, sering menghabiskan waktunya di klub malam. Terkadang, dia juga mengadakan pesta alkohol tanpa alasan jelas. Kehidupan malam benar-benar tidak bisa lepas darinya," jelas Won Shik lagi menjadi saksi hidup seperti apa Mi Kyong di luaran sana.


"Dia juga sering melakukan itu dengan Ailee akhir-akhir ini. Mereka menghambur-hamburkan uang bersama hanya untuk mendapatkan kesenangan sementara," katanya lagi.


"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?" Yeri terus meracau masih tidak menyangka jika putri semata wayangnya terjebak di kehidupan kelam itu.


"Jika Nyonya tidak percaya, silakan telepon suami saya. Saat ini mereka sedang mendapatkan buktinya." Rania menjulurkan benda pintar miliknya, tetapi tidak diindahkan oleh Yeri.


Nyonya besar itu langsung menghubungi Park Jim-in dan mengatakan langsung mengenai keberadaan sang putri. Sebelum menjalankan aksinya, tuan muda itu menerima panggilan dari ibu sang sahabat dan menjelaskan kembali mengenai rencana mereka.


Dari sana Yeri dan Hwan mengetahui keberadaan Mi Kyong dan Ailee. Keduanya sama-sama terkejut jika apa yang dikatakan Won Shik, Rania, Zahra, dan Hana benar adanya.


...***...


Ingatan itu pun memudar, Yeri menyaksikan putri satu-satunya duduk di lantai. Kepercayaan seorang ibu terasa dikhianati tepat di depan mata.


Tidak lama kemudian, Mi Kyong berdiri memandangi ayah dan ibunya bergantian.


"Apa Eomma dan Appa pernah mendengarkan sekali saja permintaanku? Tidak, kan? Kalian selalu sibuk dengan kerja-kerja dan kerja. Apa aku pernah diperhatikan? Kalian terus menuntut ku untuk menjadi wanita sempurna, tapi... adakah sekali saja kalian menuruti permintaanku?" tanyanya dengan air mata mengalir tak tertahankan.


Mendengar penuturan itu Rania memahami satu hal, "jadi, dia seperti ini... karena kurangnya kasih sayang dan perhatian? Memang tidak mudah... meskipun hidup dengan banyaknya harta, tetapi kasih sayang orang tua tidak bisa digantikan oleh apa pun. Baik Mi Kyong maupun Ailee, mereka sama-sama korban dari kesibukan orang tuanya."


"Namun, bukankah mereka melakukan itu juga untuk kebaikannya? Entahlah, apa yang sudah keduanya lewati sampai-sampai, Mi Kyong dan Ailee memilih jalan ini untuk melampiaskannya. Mereka... hanya mencari kasih sayang di luaran sana," monolog Rania dalam diam.


Ia terus memperhatikan seperti apa Mi Kyong mengungkapkan isi hati terdalam kepada orang tuanya. Yeri dan Hwan diam menerima serta mendengarkan celotehan buah hati mereka.


Jim-in pun dalam diam memperhatikan, selama belasan tahun mereka bersahabat baru kali ini ia mengetahui perasaan terdalam Song Mi Kyong.


Wanita yang selalu ceria, gembira, dan ramah kepada semua orang berubah seratus delapan puluh derajat akibat kehilangan kasih sayang.


"Iya, aku bisa merasakan apa yang saat ini kamu rasakan, Mi Kyong, tetapi... kamu salah dalam hal melampiaskannya," gumam Jim-in sendu.


Mereka sama-sama tidak ada yang bersuara dan membiarkan Mi Kyong meluapkan beban dalam diri.