
Embun menetes di dedaunan, jejaknya masa lalu terasa mendorong diri untuk menetap di dalamnya.
Ujung sketsa tergambar jelas pada potongan-potongan masa lalu. Bekasnya bagaikan puzzle yang harus disatukan hingga membentuk kenangan utuh.
Di saat Jim-in membawanya masuk, Rania mematung di tempat. Nuansa, dekorasi, serta tata letak semua barang di sana masih sama, tetapi terlihat baru.
Bagaikan tersedot masuk ke hari-hari lalu, bayangan kehidupan di dalam rumah itu terekam jelas.
Bagaimana sang ibu setiap pagi selalu sibuk menyiapkan sarapan, membereskan rumah, serta bercanda dengannya, semua terlihat begitu jelas.
Tanpa terasa air mata keluar memandangi satu persatu barang yang masih terjaga di dalamnya.
"Ba-bagaimana ini mungkin?" racaunya tidak sanggup menahan berat badannya sendiri.
Ia hampir terjatuh jika tidak sang suami sigap menopangnya. Jim-in memapahnya ke kursi kuno yang pernah mereka gunakan bersama di sana.
Ia lalu bersimpuh di hadapan Rania seraya menggenggam tangannya erat.
"Seperti de javu, keadaan seperti ini pernah kita lalui bersama, Sayang. Apa kamu ingat?" tanya Jim-in mendongak memberikan sorot mata penuh damba.
Tentu saja, Rania menggeleng tidak mengingatnya sama sekali.
"Rumah ini adalah rumah kamu dan ibu mertua, benar?" Rania mengangguk sebagai jawaban.
"Beberapa tahun lalu, kita pernah menggunakannya bersama. Pada saat itu-"
"Mwo? Me-menggunakannya bersama? Wae?" tanya Rania sangking penasarannya memutuskan cerita sang suami.
"Aku akan menceritakan semuanya," lanjut Jim-in mencubit pelan pipi istrinya, gemas.
Rania hanya menatapnya sendu tidak beraksi apa pun.
"Apa kamu ingat eomma sering memperlakukanmu tidak baik?"
Rania kembali mengangguk dan menunggu ucapan selanjutnya.
"Pada saat itu aku tidak bisa terus membiarkan eomma memperlakukanmu dengan tidak baik. Bahkan beliau bekerja sama dengan Yuuna untuk menyakitimu."
"Aku tidak tahan melihat kelakuan mereka dan pada akhirnya membawamu pergi dari mansion dan kita menetap di sini."
"Ketika kita tinggal di sini pun, kamu membuka usaha kue. Apa kamu ingat? Pada saat itu kue buatan mu sangat laku, semua orang menyukainya, tetapi... eomma lagi-lagi menyuruh seseorang untuk membakar rumah ini."
"Meskipun... meskipun dulu rumah ini habis terbakar, tetapi diam-diam aku membangunnya kembali sama persis seperti waktu itu, sampai barang-barang yang ada di dalamnya. Karena aku tahu banyak sekali kenangan yang kamu dan ibu mertua hadirkan di sini, meskipun tidak sama lagi."
"Namun, aku tidak ingin sampai semuanya menghilang begitu saja."
Mendengar semua ucapan jujur Jim-in, Rania terdiam sejenak memutuskan pandangan dengan suaminya. Sampai suara lirih pun terdengar memilukan.
"Karena Tuan muda sengaja mengajakku ke sini untuk membiarkan nyonya membakarnya, kan?" tanyanya.
Jim-in terkejut dan menggelengkan kepala berkali-kali.
"Demi Allah, Rania. Aku tidak pernah punya niat seperti itu, bahkan... bahkan-" Jim-in menjeda kalimatnya mengundang atensi Rania untuk kembali menatap sang suami.
"Bahkan aku sempat tidak memaafkan eomma dan akan membalaskan rasa sakit mu padanya."
Mendengar kata selanjutnya membuat degup jantung Rania berdebar tak karuan. Ia tidak melihat kebohongan sedikitpun dalam sorot mata sang tuan muda.
Bagaimana mungkin seorang anak yang terlihat begitu menjunjung tinggi seorang ibu bisa berkata demikian? Pikir Ayana gamang.
Bersamaan dengan itu, kenangan demi kenangan yang barusan diceritakan hinggap bak film ditayangkan ulang.
Bagaimana ia terlukanya melihat jilatan si jago merah membakar rumah peninggalan sang ibu di negara orang, sampai kata-kata nyonya besar itu terdengar jelas.
Hingga kesungguhan sang suami untuk membalaskan semua rasa sakitnya, tetapi, berakhir pada kecelakaan yang merenggut kebebasan sang nyonya.
"Setelah eomma berubah menjadi baik, kita tinggal bersama lagi. Apa kamu tahu siapa orang yang sudah merubahnya?"
Rania hanya diam, Jim-in mengulas senyum lembut dan menangkup rahang kanan istrinya lalu memberikan elusan di pipi pelan.
Rania diam, menahan denyutan di dalam kepala. Jim-in sadar ada sesuatu terjadi pada istrinya, ia pun menangkup wajah cantik itu dan menyatukan kedua kening mereka.
"Jika sakit jangan memaksakan untuk mengingatnya. Karena semua itu adalah kenangan yang tidak bisa diulang kembali."
"Bertahanlah denganku, Sayang," ujar Jim-in lembut.
Rania menutup mata menghindari tatapan hangat suaminya. Perlahan ia mencoba menyambungkan benang merah yang begitu kusut dalam pikiran.
Secara bertahap, memori tentang kejadian tahun itu tersusun cepat. Rania tidak pernah menduga mendapatkan kebaikan yang dilayangkan sang suami terhadapnya.
Ia pun membuka kelopaknya lagi memandang wajah tampan tepat di depan mata kepalanya sendiri.
Jim-in yang juga tengah menutup mata pun tidak menyadari tatapan hangat dilayangkan istrinya.
Entah sadar atau tidak, Rania mengembangkan senyum merasakan hangat menjalar di relung hati.
...***...
Zahra mendapatkan hari libur dan memanfaatkannya untuk sekedar jalan-jalan melupakan pengap.
Setelah mengetahui ibunya menikah lagi, perasaan terpukul berkali-kali datang menerjang. Rasa sakit hadir bertubi-tubi di kala pertahannya tidak sekuat itu.
Hal tersebut menjadikan diri luluh pada luka yang begitu dalam.
Ia tidak menduga bisa dilupakan begitu saja oleh wanita yang sudah melahirkannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terlukanya ketiga adiknya di tanah air ketika mengetahui sang ibu melupakan mereka.
Di tengah jalan untuk membeli makan siang, langkahnya terhenti pada satu objek. Maniknya melebar melihat salah satu dari ketiga adiknya tengah menyeret koper seraya membawa secarik kertas dalam genggaman melihat-lihat gedung di sekitarnya.
Ia diam bak patung menyaksikannya begitu saja.
"La-Laluna? Sedang apa dia di sini? Tunggu... jadi dia benar-benar datang? Dasar anak ini-" ocehannya terhenti pada saat ia hendak melangkahkan kaki, tetapi lagi-lagi pergerakannya juga ikut dihentikan oleh teriakan adiknya.
"Mamah!"
Kepala berhijab itu menoleh ke samping kiri di mana Zulfa berjalan dari arah berlawanan seraya menggandeng Lee Young Mi.
Seketika itu juga degup jantung Zahra berdetak tak karuan. Apalagi pada saat menyaksikan Laluna berlarian menerjang ibunya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" Zulfa mendorong kuat putri keduanya hingga Laluna terpental seraya terkejut.
"Ma-Mamah?" Panggilnya gugup sekaligus tidak percaya atas apa yang dilakukan sang ibu.
"Mamah... apa Mamah tidak mengingatku? Ini aku, Laluna," jelas wanita berhijab abu itu.
Zulfa mendengus kasar dan membawa putri kecilnya ke belakang punggung. "Dengar yah Nona, sudah banyak orang yang mengaku sebagai putri saya. Asal kamu tahu-"
"Laluna," teriak Zahra menghentikan ucapan ibunya untuk tidak memberikan kata-kata kasar pada sang adik.
Mereka pun menoleh ke arah sama menyaksikan Zahra berlarian mendekat.
"Teteh!" kata Laluna senang.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Zahra seraya memberikan kode pada ibunya untuk pergi.
Seketika itu juga Zulfa meninggalkan mereka sambil menggendong Young Mi cepat.
Dalam diam Zahra benar-benar kesal pada kelakuan ibunya yang lagi-lagi tidak menganggap anak kandungnya sendiri.
Entah apa dan bagaimana perasaan ibu itu yang tega meninggalkan empat orang anak lalu menikah dengan pria asing bahkan melahirkan anak baru.
Perasaan Zahra benar-benar terluka, tetapi ia berusaha menutupinya dengan melebarkan senyum manis menyambut kedatangan Laluna.
"Ah, karena kamu sudah datang ke sini, lebih baik istirahat dulu di rumahku," ajaknya menyambar koper sang adik dan membawa Laluna ke tempat tinggalnya.
Dalam hati Zahra terus berdoa agar Laluna tidak mempertanyakan mengena ibu mereka.
Namun, ia sadar cepat atau lambat adiknya pasti menyadari hal itu.