
Harapan hanyalah tinggal harapan. Mimpi hanyalah tinggal mimpi, jika terus dibayangkan tanpa direalisasikan.
Simpan dan berikan harapan serta mimpi itu pada Sang Khalik. Yakin dan percaya jika Allah tidak akan pernah salah memberikan yang terbaik pada setiap hamba.
Allah selalu punya cara mengabulkan doa bagi hamba-hamba-Nya. Jika tidak seperti yang diinginkan maka akan diberikan jauh lebih baik.
Allah tidak mungkin memberikan sesuatu yang sebaliknya. Karena Allah tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya dan Allah tahu apa yang terbaik.
Husnuzan pada Allah sebab Sang Pencipta tahu masa depan yang tidak pernah kita ketahui.
Ujian datang semata-mata untuk memberikan jeda terlebih dahulu sebelum datangnya kebaikan.
Ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah, apa hamba tersebut bisa melewati rintangannya untuk diberikan sesuatu yang lebih besar atau tidak.
Yakini dan percaya itulah kunci keberhasilan jika Allah pasti memberikan kebaikan di waktu yang sangat tepat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Manik yang semula tertutup perlahan terbuka memperlihatkan kembali iris bulan di dalamnya.
Hal pertama tertangkap pandangan adalah langit-langit kamar yang sudah tidak asing lagi. Bola mata karamel itu bergulir perlahan ke samping kanan dan melihat seorang pria tertidur di sebelahnya.
Seketika ia terkejut dan beranjak dari berbaring. Kepalanya bergulir ke sana kemari memperhatikan sekitar.
"Ba-bagaimana bisa aku ti-tidur seranjang dengannya?" gumam Rania gugup.
Perlahan-lahan ia turun dari tempat tidur dan berdiri begitu saja masih memindai keadaan di dalam kamar, hingga tatapannya pun terfokus pada satu titik.
"Sejak kapan pigura foto itu terpampang di sana?" lirihnya lagi melihat pigura pernikahan yang berukuran cukup besar terpajang tepat di depan ranjang.
Ia kembali melihat Jim-in yang masih tertidur pulas tanpa tahu sang istri tersadar. Rania menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju sofa panjang terletak di sudut ruangan. Ia duduk di sana memandangi kamar tersebut.
"Tempat ini masih sama, tetapi kenapa nuansanya berbeda? Apa yang sebenarnya terjadi? A-apa yang Tuan muda itu lakukan?" gumamnya lagi melihat Jim-in.
Setelah berkutat dengan pikirannya kurang lebih setengah jam, Rania kembali tertidur di sofa. Ia berusaha untuk tidak ambil pusing dan mencoba menguraikannya nanti pagi.
...***...
Sejak saat itu Rania menjadi benar-benar berbeda. Ia bahkan lupa pada hal-hal kecil seperti menyimpan handuk di rak, melipat baju, dan lain sebagainnya.
Namun, kejanggalan itu masih belum terhendus oleh Jim-in. Pria itu berpikir jika sang istri hanya sedang kelelahan dan memakluminya saja.
Sudah satu minggu berlalu keadaan Rania berangsur-angsur berubah. Ia tidak sehangat biasanya dan terkesan cuek.
Bahkan ia tidak mengenali kedua buah hatinya yang terus menerus memanggilnya Eomma. Rania berpikir jika Akila dan Jauhar adalah anak dari wanita lain, mengingat dulu Jim-in sempat mengkhianatinya bersama Yuuna dan sangat mencintainya.
"Sayang, sudah berapa kali aku bilang hari ini kamu yang menjemput Akila dan Jauhar. Kenapa kamu sampai lupa? Sekarang sudah jam berapa? Jam setengah lima sore, Rania. Apa kamu tidak kasihan pada mereka yang sudah menunggumu dari tadi?" celoteh Jim-in pada istrinya yang tengah berdiri di depan cermin.
Rencananya sore ini Rania hendak pergi ke suatu tempat dan sekarang tengah bersiap-siap.
Ia dikejutkan dengan kedatangan Jim-in yang langsung memberikan kata-kata tidak dirinya mengerti.
Rania berbalik melihat pria itu tengah mengatur napas yang memburu. Sudut bibir ranumnya sedikit menyeringai sekilas lalu berjalan melewati sang suami menuju tempat tidur.
Ia kembali berbalik membalas tatapan sengit pria di hadapannya.
"Apa masalahnya kali ini? Apa sekarang aku sudah merangkap untuk mengurusi anakmu?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya seketika membuat Jim-in menautkan alis. Ia sama sekali tidak mengerti, bagaimana bisa Rania bertanya seperti itu? Pikirnya.
"Anakmu? Dia anak-anakmu juga Rania. Apa yang terjadi? Kenapa satu minggu ini kamu berubah?" tanya Jim-in kali ini mengutarakan kebimbangan.
"Aku? Berubah? Bukankah pertanyaan itu bisa kamu jawab sendiri? Selama ini kamu sudah memperlakukanku bagaimana? Aku kembalikan semuanya padamu."
Setelah mengatakan hal tersebut Rania menyambar tas selempang dan berjalan keluar kamar. Ia sedikit membanting pintu kasar menyadarkan Jim-in dari kebimbangan.
"A-apa yang sebenarnya terjadi? Ra-Rania... kenapa dengan istriku?" cicit Jim-in tidak mengerti.
Kurang lebih satu jam lamanya berkendara di jalanan ibu kota, akhirnya Rania tiba di tempat asing jarang terjamah orang lain.
Di sana ia memarkirkan kendaraan roda empat milik sang suami lalu turun dan berjalan menuju salah satu gundukan tanah.
Sesampainya di sana ia bersimpuh di samping makam dengan nama nisan Basimah. Ia menaburkan bunga dan memanjatkan doa terbaik.
"Mamah." Panggil Rania, "ini aku Rania. Putrimu yang tidak pernah ada di saat-saat terakhir mamah menghembuskan napas."
"Rania minta maaf, mah. Tidak sempat hadir di pemakaman waktu itu dan baru bisa datang sekarang. dia- tidak, tuan muda itu tidak pernah memberitahu di mana mamah di makamkan. Aku tahu dari teman mamah sesama asisten di rumah besar miliknya."
"Mah, sampai kapan Rania harus bersamanya? Dia masih saja arogan bahkan sekarang ada di sana ada dua orang anak."
"Kenapa mereka memanggilku Eomma? Bukankah tuan muda tidak pernah mencintaiku? Mah, apakah anak itu anaknya dari wanita lain?"
"Rasanya sakit sekali, mah. Aku ingin mengakhiri semuanya, tetapi... aku teringat kata-kata mamah untuk tidak menodai pernikahan. Mah, apa aku bisa bertahan?" racau Rania seraya air mata menganak bagaikan sungai.
Perlahan satu persatu benda putih turun dari langit. Untuk pertama kalinya di tahun ini salju turun sedikit deras.
Hawa dingin seketika memeluk kesendirian Rania. Varsha kembali datang mengundang kesedihan lain dalam hidup.
Kisah memberikan misteri tidak terduga yang kedatangannya tidak disangka-sangka. Saat ini sosok Rania bukanlah dirinya sendiri.
Ada hal yang membuat ia menjadi sosok Rania di masa lalu. Ia lupa bagaimana Jim-in mencintainya, ia tidak ingat sudah mempunyai dua orang anak, dan lain sebagainya.
Rania hanya mengingat masa-masa kelam dan rasa sakit yang pernah diberikan tuan muda padanya.
Pernikahan yang terjadi akibat perjodohan tersebut mengantarkan pada linangan air mata serta luka tak kasat mata, itulah yang saat ini tengah Rania ingat.
Ia kehilangan semua kenangan manis yang sudah mengubah rasa sakit itu menjadi kebahagiaan.
Di samping makam sang ibu Rania menangis sejadi-jadinya mengutarakan rasa sakit tak bersua. Lagi-lagi Varsha datang dalam bentuk lain.
Nama yang ada dalam dirinya hadir memberikan ujian lagi dan lagi dan hal itu membuat Jim-in pun kelimpungan.
Sang tuan muda Park tidak tahu jika sudah terjadi sesuatu pada istrinya. Ia hanya menganggap Rania sudah tidak peduli lagi pada keluarganya.
Salju di tahun ini mengantarkan kepedihan pada dua insan yang sedang jatuh cinta, tetapi terhalang cobaan menghadang.