
Awan putih masih berarak mengikuti ke mana arah angin berhembus. Kebisingan ibu kota terus terjadi seperti hari-hari biasanya, tidak bisa diganggu gugat.
Kesibukan yang menerjang guna mencapai suatu tujuan berlangsung menjadi sebuah kebiasaan.
Terutama bagi para pejuang yang terus bekerja keras untuk memberikan kebahagiaan kepada keluarga.
Ada harapan serta mimpi yang ingin dicapai menjadikan semangat untuk terus berjuang.
Memang tidak ada yang abadi di dunia fana ini. Masa akan terus berganti sebagaimana waktu berputar.
Semua bisa saja berubah, maka syukuri selagi masih ada kebaikan dan bersabar di kala ditimpa musibah.
Karena dari dua hal tersebut sama-sama mendatangkan hikmah luar biasa, jika diterima dengan lapang dada.
Tugas sebagai insan di bumi hanyalah mengikuti alur ke mana hendak berlabuh.
Allah sebagai Pemilik Kehidupan terbaik sudah mengaturnya dengan sedemikian rupa.
Rania dan Zahra menjadi salah satu dari sekian banyaknya penerima nikmat yang telah Allah beri.
Mereka sangat-sangat bersyukur menerima segala ketentuan yang diberikan Allah.
"Jadi, bukankah kamu sudah memiliki perasaan pada Seok Jin oppa jauh... sebelum dia mengungkapkannya, kan?"
Pertanyaan Rania kali ini menarik kembali atensi Zahra untuk menatap ke depan.
Pandangannya berlabuh pada pepohonan yang bergoyang ke sana kemari seolah melambai padanya.
Hawa sejuk menyapa mengenyahkan kegelisahan dan berganti kesyahduan. Semua bergiliran sebagaimana waktu menentukan.
"Kamu tidak salah, tetapi tidak benar juga. Saat pertama kali aku bertemu dengannya di rumah sakit waktu itu... aku memang terkesima dengan wajah dokter bernama Kim Seok Jin yang rupawan."
"Namun, seiring berjalannya waktu hari-hari yang kita lewati membuatku sadar jika semua itu... hanyalah kagum semata."
Jeda sejenak, Zahra mengulas senyum teringat lagi masa-masa hari itu.
Waktu yang ia habiskan untuk magang di rumah sakit membuatnya bisa memperhatikan dokter tampan di sana.
Ingatannya pun berputar ke waktu itu. Di mana di hari kerjanya, Zahra sering melihat Seok Jin yang tengah melakukan tugasnya juga.
Ia terpaku kala menyaksikan dokter menawan itu sedang menangani pasien.
Sikap ramahnya, senyum yang kerap kali hadir, dan perlakuan hangat kepada para pasien membuat Zahra tidak bisa memalingkan pandangan.
Namun, sedetik kemudian ia sadar dan beristighfar dalam diam seraya menggelengkan kepala mengenyahkan segala pikiran.
Setelah itu ia pergi melanjutkan kembali tugasnya mengabaikan perasaan sendiri.
Semua kejadian demi kejadian serupa tersebut terus berulang. Zahra semakin tidak mengerti apa yang tengah dirasakannya.
Setiap kali pandangan mereka bertemu, jantungnya berdebar kencang. Rasa malu dan gugup datang silih berganti membuatnya gamang.
Ia tahu, sangat paham apa yang dirasakan dalam hati.
Bersamaan dengan itu keberadaan ibu kandung datang pada kehidupan tenangnya, meluluhlantakkan semua.
Rasa tidak percaya diri, merasa tidak seberuntung orang lain, serta tidak pantas untuk siapa pun diraskana begitu kuat oleh Zahra.
"Itu semua yang kamu rasakan? Aku bisa mengerti, sebab... aku juga sempat merasakan hal sama. Awal menikah dengan tuan muda Park itu bagaikan berjalan di atas kaca."
"Aku berasal dari dunia berbeda dengannya membuat diri tidak layak untuk bersama Park Jim-in. Namun, seiring berjalannya waktu semua itu berubah dan membuatku sadar jika... cinta tidak memandang siapa kamu, dari mana kamu berasal, tetapi... cinta bisa berlabuh pada siapa saja yang ingin bersama atas restu Allah," tutur Rania selepas mendengar semua perkataan Zahra.
Kedua wanita itu sama-sama merasakan hal serupa. Berasal dari dunia berbeda menjadikan Rania maupun Zahra insecure.
"Aku... juga terinspirasi darimu, Rania untuk menerima Kim Seok Jin. Awalnya aku sempat tidak ingin bersama dengan dia, sebab... aku takut menjadi beban sekaligus aib bagi keluarganya. Namun, melihat keyakinan dan juga perjuangan mu selama ini aku ingin mencobanya juga, menjadi sedikit egois ternyata... tidak seburuk itu," kata Zahra lagi membuat Rania menepuk bahunya pelan.
"Egois untuk kebahagiaan diri sendiri tidaklah salah, kamu berhak mendapatkannya," jawab Rania hanya dijawab anggukan saja oleh sahabatnya.
...***...
Di tengah kesendirian menunggu kedatangan sang pujaan, kedua pria itu dikejutkan dengan keberadaan sosok tidak diundang.
Baik Jim-in maupun Seok Jin sama-sama menghela napas kasar dan langsung berpaling ke arah lain.
Mereka bangkit dari duduk tidak ada niatan untuk basa-basi dengan keduanya.
"Tidak kusangka kita bisa bertemu di sini. Apa kalian sedang menunggu para istri?" tanyanya kemudian.
"Ailee, Mi Kyong, sepertinya kita sudah tidak ada alasan untuk saling bertemu. Sampai jumpa semoga hari kalian baik-baik saja." Seok Jin langsung berbalik dan mengajak Jim-in untuk pergi.
Namun, sebelum mereka benar-benar melangkah jauh kedua wanita itu kembali mengejutkan.
"Apa kamu pikir setelah apa yang terjadi berakhir begitu saja? Kamu-" Ailee menjeda kalimatnya seraya mengepal tangan erat.
Seok Jin dan Jim-in kembali berbalik menyaksikan raut wajah emosi.
"Apa yang ingin kalian lakukan lagi? Seharusnya kalian beruntung kami... tidak menyebarkan perbuatan asusila kalian," geram Jim-in menatap lekat sahabat masa kecilnya.
Ia lalu berjalan mendekati Mi Kyong dan memberikan tatapan nyalang.
"Aku... benar-benar kecewa padamu, Mi Kyong. Aku pikir, kamu wanita baik-baik, nyatanya... semua praduga ku salah besar. Semoga kali ini kamu tidak menemui ku lagi. Aku-"
"Kamu salah, apa kalian pikir yang tadi diucapkan sebagai ancaman bagi kami? Jika memang seperti itu silakan saja kalian sebarkan, tetapi kamu dan kamu juga akan ikut terseret," kata Mi Kyong menunjuk kedua pria itu bergantian.
Jim-in maupun Seok Jin saling menautkan alis, heran. Keduanya tidak apa yang direncanakan wanita licik di depannya.
Cinta yang tak terbalas menjadi sebuah boomerang bagi mereka. Apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan pria idaman.
Namun, tanpa mereka sadari semua hal tidak bisa dipaksakan, terutama masalah perasaan.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Jim-in geram mengingat kejadian malam itu.
Selepas peristiwa tak terduga terjadi, Jim-in memutuskan kontak dengan Mi Kyong begitu saja.
Ia pun membatalkan kerja sama mereka tanpa memberikan kesempatan untuk beralasan.
Beberapa bulan kemudian, selepas Seok Jin menikah, dua sosok yang tidak diharapkan kedatangannya hadir lagi.
Entah apa yang saat ini mereka hendak lakukan, Jim-in dan Seok Jin tetap waspada.
"Jika kalian menyebarkan video itu, semua orang tetap akan menyangka kita melakukannya secara suka sama suka. Apa kamu lupa malam itu kita sudah menyatakan bersama kalau... kamu adalah calon suamiku? Tidak ada yang bisa kamu sangkal lagi. Karena semua orang, baik tamu undangan pada malam itu maupun orang lain sudah membaca artikel yang terkait."
"Kamu tidak bisa semudah itu lepas dariku," kata Mi Kyong terus memberikan ancaman kepada sahabat masa kecilnya.
Jim-in maupun Seok Jin yang mendengar hal tersebut seketika naik pitam.
Sebelah tangan pengusaha tampan itu pun terangkat hendak melayangkan tamparan.
Namun, pergerakannya terhenti, sadar akan satu hal.
"Ah, tanganku terlalu berharga untuk bersentuhan dengan kulit wanita licik seperti mu." Jim-in kembali menarik tangannya lagi seraya menyeringai lebar.
"Kalian pasti akan menerima balasannya. Perkataan kamu berdua suatu saat pasti akan menerima akibatnya," kata Seok Jin menimpali.
Mi Kyong dan Ailee menyeringai lebar seraya mengangguk beberapa kali. Seolah tengah merancang sesuatu dalam pikirannya.