VARSHA

VARSHA
Bagian 63




Hari-hari berat dilalui Rania dengan senyuman. Bagaimana pun juga sebagai seorang ibu yang tengah mengandung kebaikan sang jabang bayi menjadi proritas utama. Sepulang dari rumah sakit hari itu, kabar menggembirkan tersebut disambut begitu antusias oleh mertua dan juga anak pertamanya, Akila.


Gadis berusia 5 tahun itu sangat senang dengan berita kehamilan sang ibu. Akila yang akan menjadi seorang kakak pun ikut andil dalam memperhatikan calon adiknya. Begitu banyak kebahagiaan yang dirasakan Rania kali ini. Ia sangat bersyukur atas kelimpahan rahmat yang telah Allah berikan.


"Oppa, aku tidak selera makan." Rengek Rania saat mereka tengah menyantap sarapan bersama.


"Eomma harus makan biar nanti dedek bayinya sehat." Timpal Akila terlihat dewasa membuat lengkungan bulan sabit terbit diwajah ayu sang ibu.


"Tapi sayang, eomma benar-benar tidak bisa memakannya." Jawab Rania semakin manja. Akila hanya melebarkan senyuman.


Jim-in pun melakukan hal yang sama. Bibir tebalnya terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia beranjak mendekati istri dan buah hatinya yang tengah duduk berdampingan. "Eum, kalian memang kesayangan appa." Tuturnya seraya mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepala keduanya.


Akila tersenyum lalu kembali melanjutkan sarapannya. Sedangkan Rania masih mengaduk-aduk makanannya. Sedari tadi entah kenapa selera makannya hilang begitu saja. Kehamilan ditrimester pertama membuatnya kesulitan.


"Makannya sedikit-sedkit saja yah, sayang. Kasihan anak kita juga butuh asupan." Bukannya menjawab Rania malah melingkarkan kedua tangannya dipinggang sang suami. Kepala berhijabnya bertengger nyaman diperut rata itu. "Bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa memakannya. Setiap kali makanan yang masuk aku pasti memuntahkannya lagi." Jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Suaranya pun bergetar menahan tangis.


Tidak lama kemudian, Jim-in merasakan kemejanya basah. Ia yakin saat ini Rania tengah menangis dalam diam.


"Sa....sayang, hei. Kenapa kamu menangis?" Jim-in melepaskan tangan sang istri lalu bersimpuh di hadapannya. Kedua tangan kekar itu terulur menangkup pipi wanitanya. "A....aku sudah menyakiti anak kita." Cicit Rania seraya menundukan kepalanya dalam.


"Hei.... hei... hei sayang. Siapa bilang kamu menyakiti anak kita hmm? Ani, kamu ibu yang terbaik untuk anak-anak kita. Kamu hanya perlu bersabar dengan mood ini. Aku percaya kamu bisa melaluinya, buktinya Akila. Kamu sudah melahirkan putri kita dengan selamat. Maafkan aku, karena waktu itu tidak ada saat kamu berjuang. Tapi yang sekarang aku akan selalu ada untuk kalian." Suara lembut sang suami membuatnya kembali mendongak. Tatapan mereka bertemu mengunci satu sama lain.


Perlahan kedua ibu jarinya mengusap lembut keristal bening yang jatuh dipipi gemilnya. Senyum masih setia membingkai ketampanan Park Jim-in. Rania tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sang suami. Begitu banyak perubahan yang dirasakannya. sikap arogan, angkuh, obesei, posesifnya menghilang. Yang tersisa hanyalah perhatian.


"Saranghae, yeobo." Lirihnya dengan tulus. Rania tidak kuasa membenung air matanya. Liqud itu lagi-lagi mengalir tidak bisa dicegah. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia kembali memeluk suaminya erat.


"Terima kasih, aku juga sangat mencintaimu." Jawabnya halus.


"Akila sayang eomma dan appa." Lanjut gadis cantik tersebut. Ia pun masuk ke dalam pelukan hangat kedua orang tuanya.


...***...


Waktu berlalu begitu cepat. Kembali kala mengukir indah kenangan yang terukir dari perjalanan kehidupan. Perjuangan selalu membuahkan hasil yang menakjubkan. Berkat kesabaran, ketelatenan dan semangat sang istri Jim-in mampu melepaskan diri dari kursi roda yang hampir merenggut seumur hidupnya.


Dengan kesabaran dan bekerja keras akhirnya hasil baik pun ia peroleh. Park Jim-in kembali berjalan seperti sedia kala.


"Yeobo, kemari." Ucap Jim-in saat Rania masuk ke dalam kamar. Wanita itu mengerutkan kening kala tangan sang suami menepuk pangkuannya pelan.


Senyum pun terpendar menambah ketampanannya. Dengan ragu Rania berjalan mendekat lalu tepat berdiri di hadapannya. "Oppa kan baru sembuh. Aku tid_" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jim-in menarik pergelangan tangan sang istri hingga tubuhnya pun mendarat tepat di pangkuannya.


"Sayang, apa aku tidak berat? Aku sedang mengandung 9 bulan." Jelasnya seraya memandangi manik sang suami lalu mengelus perut buncitnya.


Bulan sabit masih setia mendampingi bilah kesenangan Park Jim-in. Seraya menggeleng pelan ia membawa kedua tangan sang istri untuk digenggamnya hangat.


"Kamu sama sekali tidak berat, sayang. Aku ingin seperti ini sebentar saja." Lirihnya menahan tangis yang tiba-tiba saja menyeruak dalam dada. "Terima kasih sudah bersedia kembali padaku. Terima kasih karena setia menampingiku. Sampai aku bisa kembali berjalan. Terima kasih untuk tidak menyerah dengan pernikahan kita. Berkat kamu yang selalu ada di sampingku, merengkuhku disela-sela terapi membuat keadaan menjadi lebih baik. Maaf, aku pernah menyakitimu." Jelas Jim-in dengan nada yang bergetar.


Rania tersenyum lebar mendengarnya. Ia pun melepaskan pautan tangan itu lalu beralih menangkup kedua pipi prianya. "Aku melakukannya, karena kamu adalah surgaku. Surga yang pernah menawarkan kepedihan, tapi pada akhirnya memberikan kebahagiaan. Saranghae, aku mencintaimu karena Allah."


Jim-in tidak kuasa membendung air mata. Keristal bening itu satu persatu berjatuhan. Rania mengusapnya pelan. Ia pun mendekatkan wajahnya hingga dahi dan hidung mereka saling bersentuhan. Tidak ada yang berbicara. Hanya saling menikmati keindahan iris masing-masing.


Keheningan tercipta mengiringi setiap detak jantung yang bertalu seirama. Varsha yang kini kembali datang mendampingi Harsha. Asha pun turut mengiringi menambah kebahagiaan.


"Se....sepertinya aku akan melahirkan." Tanpa banyak bicara Jim-in langsung menggendong Rania membawanya ke rumah sakit.


Detik-detik menegangkan itu membuatnya terasa sesak. Dalam ruangan berbentuk kotak tersebut Rania kembali berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Namun, sekarang tidak seperti hari itu. Kini di sampingnya ada sang suami mendampingi.


Kecupan demi kecupan hangat terus mendarat di dahinya. Momen paling mendebarkan sekaligus membahagiakan itu tidak akan pernah Rania lupakan. Ia ingat saat melahirkan Akila. Dirinya harus berjuang sendirian tanpa sang suami mendampingi. Kilatan kenangan itu berputar dalam ingatan. Hingga tidak terasa cairan bening meluncur begitu saja.


Tidak lama kemudian suara tangis bayi menggelegar. Tubuh mungil itu mendarat tepat di dadanya. Kebahagiaan tidak bisa dibendung, Jim-in pun ikut menangis haru melihat putranya telah selamat lahir ke dunia. Kecupan kembali ia layangkan. Kali ini sangat lama sampai Rania merasakan cairan hangat menyentuh permukaan kulitnya.


"Oppa."


"Mianhae, gomawo, saranghae." Hanya itu yang bisa dikatakannya. Tanpa mengatakan sepatah kata, Rania tahu apa yang berada dalam pikiran suaminya.


Beberapa menit berlalu, bayi mungil itu pun dibawa hendak dibersihkan. Begitu pula dengan Rania yang bersiap pindah ruangan.


Kini dalam kamar bernuansa putih lembut itu keluarga kecil Park berkumpul. Akila nampak berbinar kala menunggu kedatangan adik laki-lakinya. Ia yang tengah duduk di samping sang ibu menatap haru melihat wajah letih bekas perjuangannya.


"Akila, menyayangi eomma." Lirihnya.


Mendengar itu Rania kembali menitikan air mata. Ia pun mendekapnya dan menghadiahkan kecupan hangat dipuncak kepala putrinya.


"Mianhae, appa tidak ada saat eomma melahirkanmu." Timpal Jim-in langsung merengkuh keduanya.


"Sudahlah oppa, lupakan yang telah lalu sekarang kita jalani masa ini. Bairkanlah hari itu menjadi pembelajaran paling berharga untuk kita." Jim-in mengangguk haru merasakan betapa besar pintu maaf yang dimiliki Rania.


Di tengah keharmonisan mereka, seorang suster datang seraya menggendong bayi mungil dalam buayainnya. Jim-in pun melepaskan rengkuhannya menyambut kedatangan sang putra.


"Azani dia." Titah Rania. Jim-in pun mengangguk lalu mengambil alih buah hatinya.


"Allahu akbar~ Allahu akbar~" suara azan menggema menentramkan setiap orang yang mendengarnya. Rania tersenyum seraya menahan air mata kebahagiaan. Seraya merangkul putrinya ia menatap binar pemandangan di depannya.


"Omo, eomma punya cucu laki-laki. Kemarikan-kemarikan." Heboh nenek yang satu ini. Kedatangan Gyeong bersamaan dengan Jim-in menyelesaikan tugasnya. Dengan hati-hati Jim-in pun menyerahkan putranya pada sang ibu.


"Halmeoni, Akila juga mau melihat dedek bayi." Akila turun dari ranjang lalu berjalan mendekati nenenknya. Seok Jin yang datang bersama pun langsung menggendong gadis kecil tersebut.


Jim-in beralih kembali pada sang istri. Ia duduk di tepi tempat tidur kemudian merangkul istrinya. Berkali-kali ia memberikan ciuman kasih sayang dipuncak kepala berhijabnya. "Terima kasih, aku menyayangi kalian. Saranghae." Kata cinta terus terlontar dari bibir menawannya.


Rania tersenyum seraya merapatkan pelukannya. "Terima kasih ya Allah atas kelimpahan rahmat yang telah Engkau berikan pada hamba. Mamah, ayah kalian melihatku di sana, kan? Alhamdulillah berikat nama yang ayah berikan aku bisa mengecap manisnya kebahagiaan ini. Varsha, akan selalu ada dalam setiap langkah perjalanan hidupku. Entah itu bermakna kesedihan atau kesenangan."


"Aku akan memberi nama putra kita Jauhar Sabrang Adnan, yaitu batu mulia yang memancarkan pelangi membuat hati tenang. Sabrang dari bahasa Sansekerta memiliki arti pelangi. Sama dengan Akila yang disertai Asha sebagai harapan. Sama seperti namamu Varsha yang bermakna hujan. Jadi, hujan yang memiliki harapan dengan kedatangan pelangi." Tutur Jim-in membuat Rania mendongak melihat wajah putihnya mengkilap.


"Dan oppa menawarkan Harsha sebagai kebahagiaan. Terima kasih, aku mencintaimu." Jim-in tersenyum lebar menimpalinya.


Mereka pun kembali memandang ke arah yang sama di mana Gyeong, Seok Jin dan kedua buah hatinya tengah bersama. Lega sudah perasaan Rania, beban dalam pundaknya hilang seketika.


Cinta terlukis karena sebuah perasaan bernama kenyamanan. Datang tidak diundang dan Tuhan menitipkannya pada setiap insan. Kala menjadi saksi bagaimana perasaan tulus itu menetap pada hati seseorang. Varsha berkali-kali datang menerjang, tapi akan ada selalu Harsha setelahnya. Karena Asha mengimbangi penantian. Air mata kerindungan mengikis kegundahan. Guntur yang saling bersahutan menghilangkan keindahan cakrawala. Endapan embun yang bersarang didedaunan menjadi kilauan sebuah ketulusan. Kebahagiaan bisa datang pada siapa saja yang bersabar.


Semburan warna jingga di atas cakrawala pun terlihat dari balik pilar-pilar awan putih. Keindahannya mengimbangi rasa syukur yang tidak pernah lelah untuk terus di panjatkan. Allah selalu punya cara mengembalikan keadaan setiap hamba. Dan Allah sebaik-baik penulis skenario kehidupan.


...🌦️THE END🌦️...