VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 27



Setelah menyusun rencana di kediaman sahabatnya, Song Mi Kyong, Jim-in pun bergegas pulang ke rumah.


Di tengah jalan ia melihat ponsel dan menemukan ada sekitar lima panggilan tak terjawab dari sang istri.


Jim-in mengembangkan senyum berpikir jika Rania tengah merindukannya.


"Apa dia sangat merindukanku? Aku harus mampir ke toko bunga dan kue dulu kalau seperti ini," racaunya mendapatkan ide.


Di tempat berbeda, Rania yang baru saja pulang dari pengintaian bergegas masuk ke dalam. Dengan langkah gontai ia mencapai pintu depan berada.


Baru saja pintu di buka, lengkingan seorang gadis kecil mengejutkan.


"Eomma~" Panggil Akila turun dari lantai dua begitu antusias mendapati ibunya pulang.


Kejadian itu terus menerus menghampiri layaknya de javu. Akila menerjang sang ibu erat menyambut kedatangannya.


"Eomma sudah pulang? Apa pekerjaan Eomma berjalan lancar? Apa Eomma lelah?"


Pertanyaan beruntun dari putrinya membuat Rania terpaku. Ia terus memandangi wajah fotocopy-annya itu lekat.


Desiran dalam hati berbisik lirih jika Akila benar-benar buah hatinya bersama Park Jim-in. Ia merasa bersalah pernah berpikir jika sang anak adalah buah hasil sang suami dengan wanita lain.


Tidak lama kemudian, Rania bersimpuh seraya menangkup kedua bahu gadis kecil itu kuat.


"Pekerjaan Eomma baik-baik saja. Namamu... Akila, kan?" tanya Rania.


Akila menautkan alis terkejut dan sadar jika sang ibu sedikit berbeda.


"Park Akila, itu namaku Eomma," balasnya tersenyum manis.


Rania mengangguk singkat dan mengusap pelipisnya penuh kasih sayang.


"Park Akila, nama yang bagus. Akila, bisa kita berbicara sebentar di ruang baca?" pinta Rania kemudian.


Akila hanya mengangguk dan pergi bergandengan tangan bersama sang ibu menuju ruang baca di ujung lorong samping kanan mereka.


Tidak lama berselang ibu dan anak itu tiba di sana. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang menghadap jendela besar dan di kedua sisinya ada rak besar berisi buku-buku.


Nuansa cokelat kayu dan aroma cenda melebur menemani kebersamaan.


Sedari tadi Akila terus memandangi wajah sang ibu yang tengah menghadap ke depan.


Detik demi detik berlalu, Akila dengan sabar menunggu apa yang hendak di sampaikan Rania kepadanya.


"Eomma... minta maaf jika tidak mengingatmu. Apa kamu mau memaafkan Eomma?" Rania menoleh mendapati putri pertamanya melebarkan pandangan.


Sedetik kemudian Akila pun mengangguk paham.


"Anak baik," kata Rania lagi mengusap puncak kepalanya sayang.


"Sebenarnya Eomma sempat mengalami kecelakaan, ingatan tentang kalian memudar dan hanya menyisakan... ingatan masa lalu. Eomma­-"


"Eomma." Panggil Akila memotong ucapan ibunya.


Ia terkejut dan tidak menduga mendapatkan kebenaran dari ibunya langsung. Akila menggenggam tangan Rania kuat membuat sang empunya menoleh dan merunduk memandangi sepasang manik mirip dengannya.


"Eomma, tidak usah khawatir. Selagi Eomma baik-baik saja, Akila tidak apa-apa. Kemarin... mungkin Akila hanya terkejut, karena tiba-tiba saja Eomma tidak mengingat kami. Akila senang Eomma tidak kenapa-napa," ucapnya menahan tangis.


Suaranya bergetar menyadarkan Rania jika sang gadis kecil memendam semuanya.


Ia menarik Akila pelan membawanya ke dalam pelukan dan mengusap punggung sempitnya berkali-kali.


"Eomma... benar-benar minta maaf. Bisakah, kamu membantu Eomma mendapatkan kembali ingatan?" pinta Rania lembut.


Akila melepaskan pelukan dan kembali mendongak mencari sepasang jelaga yang begitu dirindukan.


Perasaannya menghangat menyaksikan sorot mata seperti dulu hadir lagi. Dengan penuh semangat Akila mengangguk, bibir kemerahannya melengkung sempurna membuat Rania terpaku.


Naluri ibunya pun bangkit, Rania kembali memeluk putri pertamanya erat dan mengusap berkali-kali surai lembutnya.


Ia berharap Akila bisa memahami situasi serta kondisi yang tengah mereka hadapi.


"Apa... selama ini appa-" Rania tidak melanjutkan perkataannya membuat Akila penasaran.


"Appa kenapa Eomma?" tanyanya kemudian.


"Ani, Eomma hanya asal bicara saja," balas Rania sadar.


"Seharusnya aku tidak melibatkan mereka dalam masalah ini. Biarkanlah semuanya aku yang menanggung, mereka tidak boleh ikut terluka," benaknya gamang.


Di tengah keheningan malam, Akila nampak nyaman berada dalam pelukan sang ibu. Rasanya begitu hangat, bagaikan kesakitan yang pernah ia terima dari ibunya menguap begitu saja.


Kedua matanya mengatup rapat merasakan degup jantung Rania yang berdegup tenang. Bagaikan musik klasik alunannya begitu menenangkan.


"Eomma... saranghae. Aku, Jauhar, dan appa sangat mencintai Eomma," gumam Akila diambang batas kesadaran.


Hingga tidak lama berselang gadis kecil itu jatuh terlelap. Rania yang mendengar perkataan terakhirnya terpaku, sampai bayangan tadi sore hinggap membuatnya mendengus pelan.


...***...


Selepas menidurkan Akila, Rania pun keluar kamar sang putri dan bersamaan dengan itu Jim-in sampai ke lantai dua.


Pandangan mereka bertemu satu sama lain, sang pengusaha melebarkan senyum mendapati istrinya.


"Sayang, apa kamu baru saja menidurkan Akila?" tanyanya riang.


Ia bersyukur setidaknya Rania mau berinteraksi lagi dengan buah hatinya. Meskipun ia juga sadar jika sang istri masih belum mengingat mereka.


Rania hanya menganggukkan kepala lalu melangkahkan kaki tanpa mengatakan sepatah kata.


Ia masuk ke dalam kamar pribadinya dan duduk di meja rias membersihkan wajah dari sisa-sisa makeup ringan yang selalu memperindah mukanya.


"Kamu baru pulang?" tanya Jim-in lagi sedari tadi mengikutinya.


Lagi dan lagi Rania hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia lalu menyapukan cairan pembersih ke wajahnya tanpa sedikit pun mengindahkan keberadaan sang suami.


"Kamu masih memakai baju perawat, apa tidak gerah?" Kembali pria itu mengutarakan pertanyaan lain kala mendapati istrinya masih menggunakan pakaian dinas.


"Ani." Hanya satu kata yang Rania berikan.


Seketika itu juga Jim-in menyadari sang istri kembali bersikap dingin. Sedetik kemudian ia kembali keluar dan tidak lama berselang masuk lagi ke kamar seraya membawa dua barang yang dibelinya di perjalanan.


Ia pun melangkahkan kaki pelan mendekati Rania yang masih sibuk dengan urusan pribadinya. Kemudian ia menjulurkan buket bunga dan juga sekotak kue padanya.


"Aku minta maaf pulangnya sedikit telat. Aku membeli bunga dan kue sebagai permintaan maaf. Apa kamu mau memaafkan ku, Sayang?" Jim-in bersimpuh di samping pujaan hatinya.


Rania menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sisi sebelah kiri. Senyum yang mengembang di wajah tampan Jim-in memberikan luka tak kasat mata berkali-kali.


Ingatan tentang kejadian tak terduga itu pun datang menerjang kembali. Rania mendengus kasar membuat kedua alis Jim-in saling bertautan.


"Jika bunga dan kue melambangkan sebuah penyesalan, bukankah itu sangat ironi? Seharusnya bunga dan kue diberikan di waktu membahagiakan."


Rania pun bangkit dari sana tanpa menerima kedua benda itu. Jim-in terpaku dan seketika menyadari kesalahannya yang sudah membeli bunga dan kue sebagai lambang penyesalan.


"Benar, seharusnya aku tidak membelinya. Bunga dan kue... seharusnya ada di waktu bahagia bukan bentuk permintaan maaf," gumamnya membawa dua benda itu keluar.


Di dalam kamar mandi, tepatnya di balik pintu Rania mendengar dengan seksama pergerakan sang suami.


Ia menyadari jika Jim-in sudah tidak ada di ruangan, mendadak kedua kakinya lemas dan Rania jatuh terduduk di atas lantai marmer dingin itu.


Air mata mengalir tak tertahankan saat bayangan wajah berseri sang suami bersama wanita lain terekam jelas.