VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 58



Dengan lesu Rania kembali ke ruangan tempat suaminya di rawat.


Ia menggeser pintu dan masuk ke dalam, wajahnya tertekuk lesu memandang lantai marmer.


Aroma disinfektan yang menyebar tidak sekalipun mengganggunya, melainkan menjadi teman di kala kepelikkan menghadang.


Helaan napas terdengar berat dikeluarkan bibir ranumnya.


Kepala berhijab itu penuh oleh pikiran-pikiran yang terus hinggap.


Ia masih memikirkan kejadian yang baru menimpa. Ia tidak habis pikir kenapa sang sahabat kembali memberikan penolakan kepada pria sebaik itu.


Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, semua sudah menjadi keputusan Zahra seorang. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Ia juga masih memikirkan mengenai sang suami. Terlalu banyak hal-hal terjadi menimpa rumah tangganya yang terus mendatangkan ujian.


"Sayang? Kamu tidak apa-apa?"


Suara baritone nan serak menyapa indera pendengaran.


Rania terpekik, secepat kilat mendongak mendapati sang suami sadar.


Ia berjalan mendekat dan duduk tepat di samping ranjang.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?" tanya Jim-in terkejut mendapati dirinya berada di ruang inap dengan selang infus menancap di pergelangan tangan.


"Ada sesuatu terjadi? Sayang... Rania," kata Jim-in lagi tidak mendapati sang istri berbicara sedari tadi.


Ia pun sedikit bangkit dari berbaring seraya terus memandangi pujaan hatinya.


Tiba-tiba saja perasaannya berubah semakin tidak karuan, saat melihat ekspresi dingin Rania.


Degup jantung bertalu kencang, takut istrinya berpikir macam-macam.


"Apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi?"


Pertanyaan Rania seketika menegaskan jika sesuatu memang telah terjadi.


Jim-in meneguk saliva nya kasar dan kembali berbaring di atas brankar.


Sejauh yang dirinya ingat, tadi siang mengikuti pertemuan klub memanah dan setelah itu pergi makan malam bersama Mi Kyong dan bertemu Kim Seok Jin.


Setelah itu ia tidak ingat apa pun lagi. Namun, firasatnya mengatakan tidak hanya sampai sana saja ia mungkin tanpa sadar melakukan sesuatu yang telah membuat Rania bersikap dingin.


"Sayang, aku benar-benar tidak ingat apa-apa," kata Jim-in pembelaan.


Rania berdecih pelan menolehkan kepala ke samping singkat.


"Benar-benar tidak ingat apa pun yah?" tegasnya lagi.


Jim-in kembali mengangguk tanpa sadar.


"Lalu bagaimana dengan ini?"


Rania mengangkat benda pintarnya tepat di hadapan sepasang manik karamel sang suami.


Layar berbentuk segi panjang itu memperlihatkan apa yang terjadi di hotel sarang beberapa saat lalu.


Rekaman itu ia dapatkan dari Seok Jin yang sebelum pergi tadi membaginya pada Rania.


"A-apa yang sebenarnya terjadi? Sa-Sayang aku sama sekali tidak tahu apa pun. Bagaimana bisa aku ada di sana? Apa jangan-jangan-"


"Iya, sahabat masa kecilmu sekaligus wanita yang sangat mencintaimu sudah menjebak kalian untuk bercinta satu malam di sana... pada akhirnya mereka ingin meminta pertanggungjawaban mu atas apa yang terjadi."


"Apa kamu tahu? Sebelum kejadian ini terjadi, aku melihat kalian bersama-sama di acara klub memanah. Apa kamu tidak sadar jika aku berlatih berkuda tepat di samping tempat kalian bertemu?"


"Oh dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah... Song Mi Kyong, pernah menemui ku... dia mengatakan akan membuatmu jatuh cinta padanya. Oh~ bukankah itu perjuangan yang tidak mudah?" tutur Rania mengungkapkan semua yang terjadi menimpanya.


Berkali-kali Jim-in melebarkan pandangan tidak menduga dan tidak percaya jika Song Mi Kyong telah menemui Rania sebelumnya.


"Jujur, aku sama sekali tidak tahu jika dia menjebak ku. Aku sudah menolaknya, Rania. Aku tidak bisa menerima pernyataan cintanya. Aku-"


"Karena kamu sudah menikah denganku dan mempunyai dua orang anak? Sungguh miris, apa jika tidak bersamaku, kamu... akan menerimanya? Oh, aku hampir lupa kamu sudah mengiyakan pada semua orang di pesta yang dihadiri orang-orang penting itu bahwa... kamu adalah calon suami Song Mi Kyong."


"Banyak artikel yang memuat tentang kalian. Betapa serasinya pasangan ini, pasangan yang lahir dari keluarga terbaik, pasangan dari surga-"Rania kembali berdecak seraya menyeringai.


Setelah mengutarakan apa yang dirasakannya, Rania bangkit dari duduk sambil memandang lekat sang suami.


"Aku rasa kita butuh jeda," katanya lagi lalu melangkahkan kaki meninggalkan sejuta kebimbangan dalam diri Jim-in.


"Padahal hubungan kita sudah baik-baik saja. Kenapa jadi seperti ini lagi? Sayang!" Jim-in menyibak selimut dan melepaskan infusan di pergelangan tangan.


Ia berusaha menyusul Rania yang berjalan sangat cepat.


Ia tahu pasti banyak hal dipikirkan sang istri. Terlebih ia melihat ada kekecewaan bersembunyi apik dalam sorot matanya.


Ia bisa membayangkan jika saat ini Rania bisa menyimpulkan dirinya masih sama seperti masa lalu.


Jim-in tidak ingin kehilangan pujaan hatinya, sebab kesalahpahaman yang telah jelas kebenarannya.


Ia terus memanggil-manggil Rania yang sama sekali tidak digubris oleh sang empunya.


Rania berjalan memasuki lift dan turun ke lantai bawah.


Jim-in pun menyusulnya menggunakan lift sebelah yang kebetulan terbuka menandakan seseorang keluar.


Ia langsung masuk dan menuju lantai bawah.


Sesampainya di sana ia kembali mengejar Rania yang berjalan ke pintu masuk.


Sampai mereka pun berada di luar yang mana kegelapan melingkupi.


Hawa dingin pun begitu menusuk menyadarkan jika awan kelabu datang di atas sana.


Rania terus melangkah tanpa mempedulikan panggilan dari Jim-in.


Entah kenapa suasana hatinya berubah sendu, tidak baik-baik saja. Perasaannya berkecamuk itu semakin menguasai diri.


Rania hanya ingin memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk mendinginkan kepala.


"Rania! Aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu. Rania... Sayang!" Jim-in berkali-kali memanggil pasangan hidupnya berharap Rania bisa berhenti.


Namun, setelah Rania berhasil menyebrang, tiba-tiba saja dari arah sebelah kiri sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Berkali-kali sang pengemudi menekan klakson agar pengguna jalan lain bisa menghindar, tetapi naas nasib baik meninggalkan Park Jim-in begitu cepat.


Ia yang fokus kepada Rania tidak memperhatikan keadaan sekitar. Sampai kecelakaan pun tidak bisa dihindari.


Ia tertabrak dan tubuhnya terpental beberapa meter.


Mendengar suara bentuman keras tersebut seketika menarik atensi Rania untuk berbalik.


Ia melihat orang-orang berlarian menuju korban tabrak tersebut. Seakan memiliki firasat buruk Rania berjalan tertatih mendekat.


Ia menyadari jika sang suami sudah tidak mengejarnya lagi. Hal itu semakin meyakinkan praduga nya terhadap korban.


"Ja-jangan bilang-" Rania berlari sekuat tenaga menembus orang-orang yang sudah berkerumun di sana.


Sampai tidak lama berselang ia bisa melihat dengan jelas siapa korban yang tergeletak bersimbah darah di sana.


Seketika air mata tidak bisa dibendung, jatuh begitu saja, menganak bagaikan sungai.


Kedua kakinya terasa lemas tidak bisa menahan berat badannya sendiri.


Rania terjatuh menyaksikan keadaan suaminya sendiri.


Ia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.


Orang-orang yang berada di sekitarnya pun berusaha menyadarkan ia untuk berdiri.


Namun, Rania menghempaskan tangan-tangan mereka dan merangkak mendekati sang suami.


Darah yang mengalir dari tubuhnya pun membekukan diri. Rania terpukul sangat keras atas kejadian sekejap mata menimpa Park Jim-in.


"Kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi? O-Oppa bangun... Oppa!" Rania berteriak memanggil-manggil sang pujaan yang tak kunjung bangun.


Ia meletakkan kepala berdarah itu di atas pangkuannya dan menggoyang-goyangkan bahu Jim-in pelan berusaha menyadarkan.


Namun, tetap saja sang suami masih menutup mata dengan darah mengalir di sekujur tubuhnya.