VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 62



Dengan langkah gontai Rania memasuki pekarangan rumah, baru saja pintu dibuka keberadaan dua buah hatinya tertangkap pandangan.


Ia termenung dengan bibir sedikit terbuka menyaksikan dua malaikat kecilnya tengah memandang lekat.


Akila dan Jauhar sedari tadi menunggu kepulangan sang ibu pun terkejut melihat penampilannya. Buru-buru mereka berlarian dan menerjangnya begitu saja.


Rania bersimpuh di hadapan mereka dan membalas pelukan itu. Ibu dan putra-putrinya pun menangis bersama-sama merasakan hal yang sama.


Mereka sangat terpukul atas apa yang tengah terjadi pada Jim-in. Akila dan Jauhar tidak kuasa melihat keadaan sang ayah yang masih terbujur lemas di ruang inap rumah sakit.


"Jangan menangis, Eomma," kata Akila, suaranya lirih dan gemetar berusaha menahan diri sendiri.


"Itu benar, Eomma jangan menangis. Di sini masih ada aku dan Eonni," lanjut Jauhar yang lebih tegar dari ibu serta kakaknya.


Rania mengangguk-anggukan kepala lalu melepaskan pelukan mereka. Ia memandangi kedua buah hatinya bergantian seraya mengusap pipinya.


Akila yang saat ini sudah sembilan tahun serta Jauhar empat tahun menjadi obat mujarab di kala kepedihan menghadang.


"Terima kasih, sayang-sayangnya Eomma. Kalian... seperti sebuah senter yang menerangi kegelapan. Eomma sangat menyayangi kalian," lirih Rania dan kembali memeluk keduanya.


"Appa... Eomma sangat merindukan appa." Rania terlihat lebih seperti anak kecil dibandingkan kedua buah hatinya.


Akila dan Jauhar yang merasakan hal sama pun semakin mengeratkan pelukan. Mereka saling menguatkan satu sama lain atas apa yang terjadi kepada kepala keluarga tersebut.


Para asisten rumah tangga yang menyaksikan hal itu turut merasa iba. Mereka juga berharap tuan besarnya cepat sadar dan kembali kepada keluarga.


Tidak lama setelah itu, Akila dan Jauhar kembali ke kamar masing-masing. Rania pun sudah berada di ruangan pribadinya.


Ia memandangi satu persatu momen kebersamaan mereka. Banyak sekali foto kenangan yang pernah mereka abadikan pada saat itu.


"Aku benar-benar merindukanmu, Oppa," kata Rania lagi mengusap wajah mulus sang suami di balik foto.


"Cepat sadar, sayang," lanjutnya.


Malam itu ia pun tidur seraya memeluk foto pernikahannya erat.


...***...


Pagi menjemput dengan sangat cepat, aktivitas yang semula tertunda harus kembali dilanjutkan.


Selepas mengantarkan kedua buah hatinya sekolah, Rania bergegas ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya sebagai perawat dan melihat kondisi sang suami.


Baru saja kedua kakinya menapak di sana, ia di hadang oleh kedua wanita cantik bak pahatan boneka tengah melipat tangan di depan dada.


Rania memandangi mereka bergantian seraya mengerutkan kedua alis, heran.


"Sedang apa kalian berdua di sini?" tanya Rania dingin.


"Tentu saja untuk bertemu denganmu," balas salah satunya.


"Aku? Wae? Apa kalian tidak punya malu, Mi Kyong, Ailee? Kalian hampir berbuat tidak senonoh pada suami orang dan juga dokter," kata Rania menggebu-gebu kembali memandangi keduanya.


Ailee berdecih kasar dan Mi Kyong mendengus sebal.


"Apa kamu merasa... kamu paling suci?"


"Ani... aku tidak pernah bilang jika... aku paling suci, tetapi... aku tahu mana yang baik dan-" Rania melangkahkan kaki ke depan tepat berhadapan langsung dengan Mi Kyong. "Buruk," lanjutnya.


Satu kata itu tepat dicetuskan di depan wajah Mi Kyong membuatnya naik pitam seraya menggenggam kedua tangan kuat.


"Kita perlu bicara," ajaknya melangkahkan kaki dari hadapan Rania dan menyenggol bahu sebelah kanannya, disusul Ailee yang juga melakukan hal sama.


Kepergiannya pun terlihat oleh Zahra yang kebetulan pada saat itu keluar dari pintu lift. Ia mengerutkan dahinya dalam, heran menyaksikan Rania kembali keluar.


"Ke mana dia pergi? Apa Rania tidak akan bekerja dan melihat perkembagan suaminya? Padahal kata Seok Jin seonsaengnim ada kabar menggembirakan untuknya," racau Zahra masih memperhatikan sang sahabat.


Kafe daisy yang terletak tidak jauh dari rumah sakit menjadi tujuan ketiga wanita tersebut. Mereka duduk di pojok ruangan yang lumayan jauh dari jangkauan pengunjung lain.


Mi Kyong dan Ailee sengaja membawa Rania ke sana untuk membicarakan sesuatu. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan sorot mata tegas saling menyambar.


"Katakan... apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" kata Rania to the point.


Kembali, Mi Kyong melebarkan sudut bibir dan melipat tangan serta kaki anggun.


"Wah, kamu benar-benar wanita yang tidak tahu malu yah Rania," kata Ailee memulai.


"Terserah kamu mau bilang apa. Karena dari awal aku tidak pernah punya urusan denganmu, dan... sebenarnya kamu tidak berhak bicara apa pun tentangku. Kamu hanyalah orang asing," balas Rania membuat Ailee tidak terima dan naik pitam.


Ia mendengus sebal menggelengkan kepala berkali-kali tidak percaya mendengar perkataan Rania barusan.


Di saat ia hendak membalas ucapannya lagi, pergerakan itu pun dihentikan oleh Mi Kyong. Ailee berdecak seraya menyandarkan punggung kasar di kepala kursi.


"Kamu memang luar biasa, Rania, tetapi... kamu wanita yang tidak tahu diri," lanjut Mi Kyong, membuat Rania menyeringai lebar.


"Tidak tahu diri? Apa maksud perkataan mu?" tanya Rania heran.


"Kamu... apa kamu tidak malu terus berkeliaran di sekitar Jim-in? Meskipun sekarang dia tidak sadarkan diri dan tidak tahu kamu terus berkeliaran, seharusnya kamu yang tahu diri. Karena kecerobohan mu Jim-in bisa masuk rumah sakit. Apa kamu tidak punya rasa bersalah sedikit saja?"


"Aku tahu pada saat kejadian Jim-in sedang mengejar mu, kan? Dan betapa egoisnya kamu tidak mengindahkan panggilannya sedikit pun. Kamu benar-benar wanita yang egois, Rania."


Mendengar perkataan demi perkataan yang terus memojokkannya membuat Rania bungkam.


Semua ucapan yang dikatakan Mi Kyong memang benar adanya dan sampai ke hati terdalam. Rania tercengang dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Lidahnya terasa kelu dan semua kata-kata tercekat di tenggorokan. Manik jelaganya melebar dengan degup jantung bertalu kencang.


Diam-diam Rania juga mengiyakan perkataan Mi Kyong atas apa yang menimpa Jim-in. Karena ulahnya, keegoisannya, sang suami kembali mendapatkan kecelakaan.


Semua memang salahku, pikir Rania setuju dengan perkataan wanita yang hampir merebut suaminya.


Melihat diamnya Rania, Ailee ikut melebarkan senyum. Ia kembali menarik diri lagi dan meletakkan kedua tangan di atas dada seraya mencondongkan tubuh ke depan.


"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu merasa seperti itu? Seharusnya kamu sadar diri dan tidak usah menampakkan diri lagi di hadapan Jim-in oppa."


"Kamu tahu? Sebelum kedatangan mu ke kehidupannya, Jim-in oppa sudah digadang-gadang sebagai pendamping Mi Kyong. Mereka seharusnya sudah menikah sekarang. Kamu... hanya pengganggu di sini." Ailee semakin memprovokasi.


Ia menambahkan garam di atas luka menganga yang semakin membuat Rania bungkam.


Mi Kyong pun senang melihat lawan bicaranya tidak berkutik sama sekali.


"Kenapa? Kamu terkejut ada orang yang memberitahumu? Jika kelakuanmu lebih parah dari kami, Rania? Sebaiknya kamu pergi dari kehidupan Jim-in agar dia tidak terus menerus terluka oleh wanita... sepertimu," lanjut Mi Kyong kembali.


Rania masih diam menerima semua kata-kata yang kedua wanita di hadapannya berikan. Perlahan tangan yang berada di atas pangkuan melipat. Ia meremasnya kuat melampiaskan gelenyar emosi dalam dada.


Ia menutup kedua mata menghalangi pandangan dari senyuman wanita-wanita di depannya. Ia bisa menerima semua perkataan yang mereka layangkan.


"Menyerah lah dan pergi sejauh-jauhnya. Kamu... tidak pantas untuk Jim-in," kata Mi Kyong lagi dan lagi.


Ia tertawa bersama Ailee melihat gelagat Rania yang keduanya pikir sudah menyerah akibat perkataan tadi.