VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 94



Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Keenam orang itu pun memutuskan kembali dari kediaman Song.


Selepas mendapatkan wejangan dari Rania, kedua wanita itu saling memaafkan dan keadaan jauh lebih baik.


Tidak ada lagi amarah, emosi, maupun dendam, semuanya diselesaikan secara kekeluargaan. Keputusan bulat pun sudah didapatkan, Mi Kyong serta Ailee mengaku terjebak di dunia malam dan menyesali perbuatannya.


Rania, Jim-in, Seok Jin, maupun Zahra berharap tidak ada lagi orang ketiga dalam rumah tangga mereka ke depannya.


Meskipun begitu mereka sadar jika bagaimanapun situasinya, ujian serta cobaan tidak bisa dihindari dan luput begitu saja.


"Baiklah, Eomma, Appa, kalau begitu kami permisi pulang," kata Jim-in mewakili yang lain di teras depan.


"Apa tidak sebaiknya kalian menginap saja? Ini sudah sangat larut," balas Yeri khawatir.


Jim-in menoleh pada yang lain dan mendapati anggukan dari mereka, sebagai jawaban.


"Ani Eomma, terima kasih banyak, tetapi sepertinya kami benar-benar harus pulang. Ada keluarga yang menunggu di rumah," jawab Jim-in kembali memutuskan keinginan mereka.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan. Juga... terima kasih banyak." Kedua manik Yeri berkaca-kaca.


Sebagai seorang ibu yang mendapati kebenaran mengenai kelakuan buah hatinya, ia tidak bisa membendung kesedihan.


Ia merasa gagal menjadi orang tua dalam memberikan yang terbaik bagi putri semata wayangnya. Tanpa terasa air mata berjatuhan mengejutkan mereka, Yeri pun menunduk dalam mencoba menyembunyikan.


Rania yang menyaksikan semua itu pun berjalan mendekat, ia menggenggam tangan Yeri hangat dan memberikan senyum tulus.


Sang empunya tersentak, mendongak bertatapan langsung dengan wanita yang hampir dihancurkan oleh anak kandungnya sendiri.


"Jangan menangis, Nyonya. Apa pun yang terjadi, ini sebagai pelajaran bagi kita... untuk lebih awas dalam memperhatikan buah hati."


"Saya juga seorang ibu yang mempunyai seorang putri beranjak remaja, jadi... saya tahu apa yang Anda rasakan," kata Rania hangat.


Yeri terkesiap dan diam beberapa saat sebelum menjawab perkataan Rania.


"Terima kasih banyak, sudah mau memaafkan semua kesalahan Mi Kyong. Saya benar-benar malu." Yeri kembali menunduk dalam, tidak sanggup harus melihat wajah damai wanita muda di hadapannya.


Tanpa diduga, Rania memeluknya erat dan memberikan elusan lembut di punggung Yeri berkali-kali. Melihat seorang ibu menangis seperti ini membuat ia teringat akan mendiang orang tuanya.


"Sama-sama, Nyonya. Terima kasih juga sudah bertahan," lirihnya. "Aku harap setelah ini kita semua bisa menjadi lebih baik lagi."


Yeri hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


Mereka yang melihat pemandangan itu pun ikut terhanyut. Kedua wanita hebat dalam menghadapi permasalahan saling memaafkan dan menguatkan mengalirkan perasaan haru.


Dari dalam rumah, Mi Kyong juga ikut menyaksikan bagaimana Rania memperlakukan ibunya dengan sangat hangat.


Tidak ada gurat marah ataupun benci di wajah damainya yang menyadarkan Mi Kyong, terus merasa menyesal.


Ia membungkam mulut menganganya seraya terus menangis dengan perasaan bergejolak.


Beberapa saat kemudian, mereka pun berada dalam perjalanan pulang. Sepanjang jalan hanya ada keheningan yang melanda.


Tidak begitu banyak kendaraan berlalu lalang menjadikan keadaan terasa lebih sepi nan senyap. Sebagian besar penduduk sudah berada di kediamannya masing-masing terlelap dalam buaian mimpi indah.


"Aku tidak menyangka kamu juga masih berteman baik dengan Mi Kyong, Kim Won Shik," kata Jim-in memecah keheningan.


Won Shik yang berada di jok belakang melirik singkat ke depan dan kembali menatap jendela di samping.


"Iya, wanita itu memang terobsesi padamu. Sampai-sampai melakukan berbagai cara untuk mencari tahu tentangmu."


"Namun... kamu beruntung mempunyai istri luar biasa seperti Rania. Dulu... kami sempat meremehkannya, tetapi sekarang-"


"Ani, jangan menyanjungku seperti itu. Semua tidak ada apa-apanya," potong Rania cepat.


Won Shik terkesiap dan berdehem pelan melancarkan tenggorokan. Ia tahu seharusnya tidak membahas hal itu. Karena beberapa saat lalu Rania mengatakan untuk menyembunyikan rahasia dari suaminya.


Ingatan pria itu pun melalang buana ke beberapa jam lalu, saat mereka masih berada di taman dekat klub malam.


"Aku dengar Lee Ba Ram mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah musik, apa kamu?"


"Itu benar, Rania yang memberikan hak penuh pada adikmu untuk bisa sekolah musik lagi dan membiayai semuanya," jelas Hana mengejutkan Won Shik.


"Kenapa? Bukankah dari dulu aku sudah meremehkan mu dan juga membantu wanita lain memberikan informasi mengenai suamimu?" Won Shik terkejut sekaligus tidak percaya mendengar penjelasan dari wanita berambut sebahu itu.


Rania berjalan mendekat, sampai mereka berdiri saling berhadap-hadapan seolah tidak membiarkan celah menghalangi.


Seraya kedua tangan berada di saku mantel, Rania mendongak menatap tegas sepasang manik kecil di depannya.


"Karena bagiku... inilah cara terbaik untuk membalas kalian. Jika aku mau... aku bisa menghancurkan mu, tetapi... buat apa? Tidak ada untungnya juga bagiku. Adikmu... mempunyai bakat luar biasa yang tidak bisa dihancurkan oleh keadaan begitu saja."


"Kami tahu keuangan keluargamu sedang tidak baik-baik saja, jadi... inilah yang bisa kami lakukan," kata Rania tulus.


"Kenapa-"


"Ah, aku harap kamu bisa merahasiakan ini dari Park Jim-in?" Rania meletakkan jari telunjuk di bibir ranumnya sendiri seraya memperlihatkan senyum menawan.


Kim Won Shik membeku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Rania menyadarkannya, jika ada orang yang menjahati kamu jangan pernah membalas dengan cara yang sama, tetapi berikanlah kebaikan agar orang itu bisa sadar.


Won Shik, sekarang sadar apa pun yang sudah dilakukannya mempengaruhi kehidupan, termasuk kebaikan sang adik.


Beruntung Rania mencari tahu tentang masa lalunya dan hal itu memberikan kebaikan kepada Lee Ba Ram.


Bola mata kelamnya bergulir pada wanita berhijab di depan. Won Shik menatap Rania lekat seraya berbatin "Terima kasih, jasamu tidak akan pernah aku lupakan."


...***...


Tidak lama berselang, selepas mengantarkan keempat sahabatnya, Rania dan Jim-in tiba di mansion. Setelah memarkirkan mobil, suami istri itu pun bergegas masuk ke dalam.


Hening, sepi, senyap, menyambut kedatangan mereka. Keduanya langsung berjalan menuju lantai dua untuk segera beristirahat.


Sesampainya di sana Rania menepuk pelan pundak Jim-in.


"Aku mau menemui anak-anak dulu," katanya yang diangguki sang suami.


Ia lalu berjalan ke arah berlawanan dan membuka pintu bercat putih itu pelan. Keadaan di dalam terasa sunyi, kamar yang hanya diterangi lampu meja memperlihatkan wajah damai kedua buah hatinya.


Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik Rania. Ia mengendap-endap mendekat hingga sampai di tepi tempat tidur.


Ia duduk di sana dan mengusap wajah cantik serta tampan malaikat-malaikat kecilnya.


"Sayang, putra-putrinya Mamah. Terima kasih sudah bertahan, Mamah menyayangi kalian." Ia merunduk memberikan kecupan mendalam di dahi mereka bergantian.


Ia menarik diri lagi masih dengan memperhatikan Akila dan Jauhar yang tengah terlelap bersama di satu ranjang.


"Terima kasih, Sayang. Selama Mamah hilang ingatan, kalian tidak pernah marah ataupun kecewa. Kalian... mengerti keadaan kami yang mana hal itu membuat Mamah bangga. Sekali lagi terima kasih sudah bersabar dalam situasi apa pun. Mamah sangat menyayangi kalian," bisik Rania yang kini memberikan kecupan lain di punggung tangan mereka.


Diam-diam Jim-in memperhatikannya dari luar ruangan. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Rania.


Sebagai seorang suami yang mendapati istrinya hilang ingatan, keadaan tersebut memang tidak mudah untuk dilalui. Namun, seiring berjalannya waktu serta kejadian demi kejadian menimpa, kini keadaan sudah jauh lebih baik.


Ia bersyukur atas karunia yang Allah berikan. Senyum haru pun mengembang menyaksikan ketiga orang berharga dalam hidupnya di sana.