VARSHA

VARSHA
Bagian 28




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Bau obat-obatan begitu mengusik indera penciuman. Berkali-kali hidung mancung itu kembang kempis mengenyahkan segala aroma tidak mengenakan. Ia benci dengan tempat bernama rumah sakit. Karenanya ia kehilangan segala harapan. Asa yang membentang sepanjang harap, kandas kala jua tak kunjung datang.


Harapan hanyalah tinggal harapan. Masa depan yang ingin dicapai harus pupus sebelum bermekar. Tinggal sedikit lagi ia bisa membuktikan pada dunia, jika Park Jim-in bisa menjadi satu-satunya atlet memanah Korea Selatan terbaik. Sayang, kehendak tidak mempercayai takdir. Semua mimpi pupus saat kejadian mengerikan terjadi merenggut semua keinginan terbesarnya.


Beberapa tahun ke belakang menjadi waktu mengerikan bagi seorang Jim-in, hari di mana ia harus dilarikan ke rumah sakit karena mendapatkan kemalangan. Kedua kakinya terjepit badan mobil yang berguling berkali-kali. Sepatutnya Jim-in bersyukur Tuhan masih menyayanginya dan memberi kesempatan kedua untuknya menjalani hidup lebih baik. Hingga ia bertemu dengan wanita bernama Rania. Wanita itu setidaknya bisa mengubah sikap dingin sang Tuan Muda mencair.


Seperti harap takan goyah pada angan. Begitulah ia melihat sosok sang istri sekarang. Hari di mana ia tahu jika kedua kakinya tidak bisa bergerak untuk sementara waktu detik itu juga dunianya seakan runtuh. Raungan tangisan yang menggema dalam ruang inap mengunci ia pada kegelapan.


Jim-in membenci hujan. Baginya air yang turun dari langit telah mengalirkan semua mimpinya. Begitulah ia bertemu dengan Varsha memberikan cairan bening itu pada sosok wanita yang diinginkannya.


"Aku benci ada di sini," ucapnya setengah berbisik.


Suara monitor pendeteksi jantung terdengar nyaring. Yuuna yang tengah duduk di sampingnya sedari tadi menoleh mendengar keluhan itu. Ia tahu seperti apa masa lalu yang dialami sang tunangan. Namun, ia tega membiarkan sang kekasih berada di sana. Yunna hanya ingin bersama Jim-in saat ini. Setidaknya keberadaan seseorang bisa mengikis kepedihan.


"Mianhae, aku tahu Oppa tidak suka ada di rumah sakit. Tapi, bisakah untuk kali ini saja temani aku? Aku takut appa tidak membuka matanya lagi."


Tersirat kesedihan membentuk pengungkapan permohonan dari wanita itu.


Sekilas Jim-in menoleh dan bisa merasakan ketakutan serta kehawatiran yang terpancar. Ia tahu rasanya kehilangan. Ia mengerti bagaimana sakitnya. Karena ia kehilangan sang ayah saat masih remaja. Kini pria paruh baya yang menyandang sebagai ayah kandung dari tunangannya itu tengah berjuang dalam hidupnya.


"Baiklah aku akan ada di sini menemanimu," balasnya tanpa melihat Yuuna sedikit pun.


"Gomawo, mianhae."


"Bersama gelap aku temukan arti kedewasaan. Bersama sepi kehilangan memuncak menjadikanku menginginkan kehadiran seseorang. Tahun berganti tahun, kejadian itu seperti terjadi kemarin sore. Kini kehidupanku berubah. Kegelapan yang dulu menguasai perlahan menghilang disispi dengan cahaya kecil dari seorang wanita. Dia istriku. Namun..... apa akan selamanya pernikahan ini dihinggapi orang ketiga? Jujur, aku tidak mampu memutuskan hubungan dengan Yuuna. Anggaplah aku seorang pengecut. Iya, memang seperti itu kenyataannya. Aku tidak punya kekuasaan untuk mengatakan "tidak" pada keputusan ibuku," monolog Jim-in dalam diam.


Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah Yuuna mengatakan maaf dan terima kasih.


Sekarang ia diambang kebimbangan. Bola sepak tengah mendatanginya. Namun, ia tidak punya kuasa untuk menendangnya mencetak gol bagi kehidupannya sendiri. Ia diliputi ketakutan yang mendera. Bagaimanapun juga hanya sang ibu yang ia miliki. Ia tidak ingin kehilangan orang tua untuk kedua kalinya, lagi.


...🌦️🌦️🌦️...


Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Keadaan di mansion keluarga Park pun mulai menyepi. Para pelayan telah selesai dengan tugasnya dan bergegas mengistirahatkan tubuh letih mereka. Berbeda dengan Rania, sedari tadi wanita berusia dua puluh tiga tahun itu terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Berkali-kali kepala berhijabnya menoleh ke jam dinding melihat waktu yang seolah berjalan lambat.


Sudah hampir tiga jam lamanya, ia menunggu kedatangan pria yang dicintainya. Namun, sampai detik ini pun batang hidung sang suami belum juga terihat. Rania khawatir, sungguh dirinya tidak bisa tenang saat tahu ke mana dan dengan siapa prianya pergi.


"Apa jangan-jangan Oppa menginap di rumah sakit menemani Yuuna? Ani.... ani.... ani. Itu tidak boleh terjadi. Aku yakin Oppa tahu batasannya," gumamnya sendu.


Hingga tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan menampilkan suaminya menyembul dari sana. Senyum pun mengembang di wajah cantik Rania. Buru-buru ia pun mendekat kepadanya.


"Oppa, baik-baik saja? Kenapa pucat sekali."


Tangan Rania terulur mengusap pelan pipi putihnya.


"Oppa."


Panggilnya lagi ketika Jim-in tidak merespon, Rania pun mencengkram lembut kedua lengan berototnya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang meng-"


Lagi-lagi ucapannya terhenti kala Jim-in tiba-tiba saja menerjang tubuh mungilnya. Ia memeluk Rania erat seraya menenggelamkan wajah tampannya di bahu kecil sang istri. Rania yang masih menetralkan degup jantung dari keterkejutan pun merasakan tubuh suaminya sedikit bergetar.


Tangan mungilnya membalas pelukan itu seraya mengusap punggung tegapnya menyalurkan ketenangan.


"Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi? Sudah tidak apa-apa semua akan baik-baik saja."


Suara lembut yang mengalun masuk ke dalam indera pendengaran dan seketika membuat Jim-in semakin bersalah.


Ia pun mengeratkan pelukannya berharap bisa mengikis keresahan dalam dada.


"Mianhae. Aku meninggalkanmu terlalu lama. Mianhae, aku bersama wanita lain yang bukan mahram. Mianhae, karena tidak bisa menolak permintaan eomma. Mianhae," kata maaf terus terlontar di balik bibir menawannya.


Jim-in bersalah sudah meninggalkan sang istri dihari libur. Seharusnya mereka bisa menikmati kebersamaan dengan jalan-jalan ataupun di rumah, walaupun sekedar menonton film. Jim-in ingin melakukan itu, tapi nyatanya waktu tidak mengizinkan.


Menghabiskan seharian di rumah sakit ada ketakutan dalam dirinya, Rania pun merasakan hal itu. Ia pun tersenyum saat mendengar kata maaf darinya.


"Sudah tidak apa-apa. Aku mengerti. Tidak mudah bagi kita berada dalam situasi seperti ini. Oppa jangan membantah apa kata eommanim. Karena tidak baik membantah perkataan orang tua. Jadilah anak yang baik. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku akan tetap di sini menunggumu pulang."


Kata-kata tulus itu menyadarkan Jim-in betapa besar hati seorang Rania. Wanita itu pun turut memberikan semnagat dengan mengusap pelan surai lembutnya. Bak seorang anak yang tengah ditenangkan oleh sang ibu, perasaan tersebut menenangkan dirinya.


Ia beruntung bisa memiliki wanita seperti Rania. Sabar dan kuat dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang.


"Saranghae. Aku benar-benar mencintaimu. Gomawo."


Kata cinta terlontar bersamaan dengan cairan bening mengalir di pipi bulat Rania. Ia bersyukur setidaknya sang suami masih mencintainya. Ia takut kebersamaannya dengan Yuuna bisa melupakan sang suami tentang pernikahan mereka. Namun, ia salah, Jim-in merasakan rasa bersalah dan tetap mencintainya.


Kehangatan menjalar dalam diri, Rania tidak bisa membendung keharuan dalam matanya.


"Terima kasih, karena sudah mencintaiku. Aku akan selalu bersamamu," bisiknya lembut membuat Jim-in enggan melepaskan pelukan mereka.


Dalam diam keduanya merasakan perasaan masing-masing. Cinta keduanya telah berlabuh, tapi badai datang mencoba mengusik ketenangan mereka.


...🌦️PERASAAN🌦️...