
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Guntur datang menerjang kehangatan sang surya. Saling bersahutan menandakan badai segera datang. Keadaan sunyi sepi menambah ketegangan. Beberapa pelayan yang tidak sengaja melihat adegan keduanya pun berusaha melahiran diri. Mereka tidak mau ikut campur atau berakhir terkena amukan pasangan suami istri itu.
Kini di dalam bangunan megah tersebut hanya ada mereka. Berdua bersama ketegangan tercipta dalam sorot mata.
"Apa bayi dalam perutmu anak KIM SEOK JIN?"
"JAWAB AKU RANIA." Suara lantangnya bergema di setiap ruangan. Kilatan emosi, perih, luka bercampur satu dalam kilatan iris kecilnya.
Kerutan demi kerutan dahi pun tercipta dalam dahi lebar Rania. Wanita itu tidak menyangka mendengar penuturan dan bentakan sang suami.
Dengan mengepalkan kedua tangannya, ia pun menjawab penuturan Jimin. "Apa yang membuat oppa berkata seperti itu? Anak ini anakmu. Anak kita." Jelas Rania menekan setiap perkataannya.
"BOHONG. Kenapa Seok Jin mengantarmu memeriksakan kandungan kemarin? Dan sekarang dia berani datang ke sini. Bahkan dulu saat aku masih duduk dikursi roda pria itu sekali pun tidak pernah datang. Jika tahu bayi ini anak pria lain, aku tidak akan memperhatikannya dari awal. Aku tidak menyangka ternyata kamu wanita seperti itu, Rania."
Degg!!
Manik hazelnutnya perlahan melebar. Mulut ranumnya terbuka dengan degup jantung bertalu kencang. Sakit rasanya mendengar setiap kata yang meluncur bebas dari mulut orang terpercayanya. Kata demi kata bagaikan menorehkan luka. Luka tak kasat mata yang seharusnya tertutup, kini terbuka secara paksa. Air mata meluncur tanpa bisa dicegah. Kekecewaan berkembang membentuk dimensi kepedihan.
Dengan gemetar kedua kelopak matanya menutup untuk beberapa detik. Tetes demi tetes keristal bening pun bercucuran. Tak lama kelopaknya kembali terbuka menampilkan kilatan rasa sakit. Kemarahan membentuk ketidakpercayaan. Harapan hanyalah tinggal harapan. Kebahagiaan semu berkembang menjadi angan yang tidak mungkin tercapai.
Hanya luka yang tersisa. Awan sembilu mengantarkan Varsha yang tak kunjung reda.
Plakk!!
Satu tamparan mendarat mulus dipipi putih sang suami. Kelima jarinya tercetak jelas di sana. Kilatan kemarahan terpancar dimata bulan itu. Rania kecewa. Ia benar-benar kecewa mendengar penuturan dari Park Jim-in.
"Aku sakit mengetahui hal ini Rania." Lanjutnya lagi.
"Lalu bagaimana denganku? Hari ini aku melihat suamiku pergi menemui wanita lain dengan wajah khawatirnya. Jika untuk mencintaimu sesakit ini, maka aku tidak akan melakukannya dari dulu." Satu kalimat telak menyudahi pertengkaran mereka. Rasa sakit yang diterimanya kali ini begitu parah. Tidak ada kata toleransi lagi dari setiap kata yang terucap. Sakit itulah yang dirasakan Rania saat ini.
Ia pun melengos membawa kepedihan. Air mata sedari tadi tak kunjung reda bahkan semakin mengalir deras. Satu persatu anak tangga yang dilaluinya bagaikan menginjak pecahan kaca.
Istri mana yang tidak terluka mendengar tuduhan suaminya seperti tadi.
Luka yang berusaha sembuh malah semakin bertambah besar. Menganga, basah, tidak sedikit pun menandakan kebaikan. Harsha yang dirasannya di hari kemarin menyuguhkan Varsha begitu kuat.
Kaca yang semula berusaha utuh, kembali hancur berkeping. Bahkan sekarang lebih hancur berantakan. Mungkin tidak ada harapan untuk bisa dirangkai lagi. Perlu banyak waktu dan usaha mengembalikannya. Meskipun tidak bisa utuh seperti sedia kala.
Jim-in terdiam mematung di tempatnya. Tatapannya mengarah ke bawah mengingat apa yang baru saja dikatakan. Detikan jam di dinding menemani kesendirian. Bibirnya terkunci rapat tidak ada niatan untuk mengatakan sepatah kata pun. Namun, kedua tangannya mengepal erat. Entahlah apa yang tengah dirasakannya, kini.
Seketika sekelebatan bayangan tentang hari kemarin menghinggapinya. Di mana ia pergi menemui wanita lain bahkan direngkuhnya secara suka rela. Rasa bersalah pun perlahan mulai menggerogoti hatinya.
...🌦️🌦️🌦️...
Pintu kamar dibanting cukup kuat. Tubuh kecilnya merosot ke bawah tidak sanggup menahan beban berat dalam dada. Isak tangis terdengar ngilu atas apa yang baru saja terjadi. Rania tidak menyangka tuduhan tidak mendasar keluar dari mulut sang suami.
Sakit. Memang telalu sakit ia mencintai suaminya. Sudah banyak yang ia korbankan. Namun, tidak sedikit pun pengorbanannya membuahkan hasil yang manis. Sekali pun itu ada, maka kepahiatan akan menggantikannya lebih dalam.
Varsha.... varsha.... dan varshaaa.....
Kata itu terus membayangi dalam dirinya. Satu nama yang tersemat dalam diri menyuguhkan kepedihan, kepiluan dan kesakitan tanpa henti. Sudah berapa banyak air mata keluar dari perjalanan kisah pernikahannya? Bak lautan, sedalam samudera. Mungkin seperti itulah kedaaan yang menggambarkannya.
"Maafkan, mamah sayang. Mamah tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan perkataan ayahmu. Mamah janji, akan membahagiakanmu." Bisiknya lirih seraya mengusap perut buncitnya.
Tendangan dari si kecil terasa kuat. Ia pun terus menyalurkan kehangatan pada sang malaikat. Hanya jabang bayi yang ia miliki sekarang.
"Ya Allah, apa hamba terlalu serakah? Karena begitu menikmati kebahagiaan dihari-hari kemarin? Jika tahu akhirnya sesakit ini, biarkanlah berjalan seadanya saja. Hamba tidak kuat menanggung luka terlalu dalam ini, ya Rabb. Begitu sakit sampai hamba tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hamba minta kuatkanlah hati ini." Bisiknya lirih.
Varsha kali ini datang begitu kejam. Mengundang kepedihan yang menetap. Berbekas, dan sepertinya sulit untuk dilupakan. Cinta menyakitkan membuahkan hasil kepedihan. Hanya air mata sebagai pengiring kesetiaan.
"Jika mencintaimu sesakit ini, dari awal aku tidak akan menerimanya. Aku tidak siap terluka jika berakhir ketidakpercayaan. Maafkan, mamah sayang. Mamah harap kamu tidak mendengar apa yang dikatakan ayah. Biarkanlah dia dengan pemikirannya sendiri. Asalkan nanti kita bahagia bersama............. meskipun tanpa ayah." Lanjutnya lagi masih disertai dengan derai air mata.
Tidak berapa lama hujan turun begitu deras. Langit pun sepertinya meraskaan kesakitan itu. Awan hitam terus berkumpul di langit sana. Begitu pula di kedua matanya. Setelah sekian lama menangis sendirian, Rania pun beranjak lalu melakukan apa yang diinginkannya.
Niatnya kuat. Tekadnya sudah bulat, ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan sang buah hati. Wajah ayu yang biasanya menampilkan ketenangan dan keceriaan, perlahan berubah. Datar, sedikit pun tidak ada niatan mengumbar senyuman.
...🌦️🌦️🌦️...
Sedangkan di lantai bawah Jim-in masih mematung dalam diam. Netranya menetap pada satu titik objek. Gemuruh dada berdentum cepat, emosi memuncak mencapai ubun-ubun. Entah apa yang tengah dirasakannya sekarang. Semua campur aduk tidak bisa dideskripsikan.
Perlahan tubuh tegapnya merosot jatuh, duduk bersimpuh dalam dinginnya lantai marmer. Keheningan menyapanya kuat. Suara petir saling menyamabr di luar sana. Sepertinya hujan menangisi kejadian yang tengah menimpa pernikahan mereka.
Tidak ada siapa pun di sisinya. Hanya ia seorang diri bersama kehampaan.
"Aaarrrgggghhhhh...." ia menjambak rambutnya kasar lalu mengusap wajahnya gusar.
Pertengkaran singkat tadi seketika mengubah pendiriannya. Jim-in sadar jika dirinya sudah menyakiti sang istri. Obsesi, posesif merubah dirinya menjadi sosok dingin. Bukan kasih sayang atau pun cinta yang diberikannya, melainkan luka.
Angin berhembus kencang, suara air yang turun dari langit saling bersahutan. Gemuruh petir masih berlomba menghantam kepedihan. Dalam diam Jim-in memikirkan banyak hal atas apa yang sudah diperbuatnya.
"Apa yang sudah ku lakukan?" lirihnya.
Dan mulai detik itu juga kehidupannya tidak lagi sama. Masih banyak misteri yang akan terjadi besok pagi. Entah itu matahari bersinar terang atau hujan badai yang akan menyambutnya. Apapun itu, semua adalah buah dari hasil apa yang sudah ditanamnya.
Nikmatilah proses yang terjadi. Tidak ada kejadian tanpa ada sebab akibat. Bersiaplah untuk diri apa yang akan terjadi nantinya. Baik, buruk sudah menjadi resikonya. Air mata menjadi bagian terpenting di dalamnya. Entah itu pertanda Harsha atau Varsha.
Tunggu saja sampai waktu yang akan menjawabnya. Semua butuh proses dan progres untuk menyadarkan diri dari kesalahan. Apa yang dilakukan terdapat balasan di dalamnya. Dan Allah tidak pernah salah memberikan cobaan pada setiap hamba-Nya.
Inna ma'al usri yusroo
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S Al-insyirah ayat 6)
...🌦️LUKA LARA🌦️...