
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Senja masih membentang luas memberikan keindahan. Hembusan angin sejuk mengatarkan takdir pada daun kering yang patah. Setiap episode kehidupan menyuguhkan memori yang berbeda. Allah menjadi penulis skenario terbaik di dalamnya.
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian kecelakaan menimpanya Park Jim-in belum juga membuka mata. Namun, detik ini kabar baik datang menerjang. Kelopak matanya terbuka menampilkan kembali iris kecoklataannya. Hal pertama yang ia lihat hanyalah langit-langit ruangan. Seketika ia meringis kala sekujur tubuhnya terasa ngilu.
Samar-samar ia teringat mengenai kejadian yang menimpanya. Dengan gemetar ia bangkit lalu melihat ke arah dua kakinya lalu mencoba untuk menggerakannya. Namun, sayang sedikit pun otot-otot itu tidak merespon apa yang otaknya perintahkan. Ia pun kembali berbaring menelan kepahitan.
Setetes air bening pun meluncur cepat dipipinya. Kini varsha berkali-kali datang menerjang. Ia menangis dalam diam. Sakit ia rasakan baik secara fisik maupun batin.
Hilang sudah semua harapan untuk kembali membangun keluarga harmonis bersama Rania. Angan setitik hujan pun tidak bisa menetes. Hanya kepiluan membelitnya erat.
Asa yang membayang tidak pernah mencuat ke permukaan. Do'a-do'a yang dipanjatkan masih menggantung dalam harapan.
"Aku sudah tidak bisa bersama Rania lagi. Aku juga sudah mengecewakaan eomma. Hancur semua mimpi yang ku punya. Hanya bisa pasrah menerima keadaan. Hamba percaya dengan ketentuan-Mu, ya Allah." Bisik Jim-in seraya masih menatap kakinya. Ia tidak mengharapkan apapun lagi. Karena dirinya pun tahu jika wanita itu sudah pergi jauh dari hidupnya.
Hening mendominasi menemani keputusasaan seorang Park Jim-in. Ia dilanda kekacauan dalam dirinya.
Cklekk!!
Pintu ruangan pun dibuka seseorang. Jim-in buru-buru menghapus jejak air matanya kasar. Ia menutup matanya berniat menyembunyikan kepedihan serta kekecewaan.
Langkah kaki berdengung dalam pendengaran hingga membuatnya semkain mendekat. Jim-in bisa merasakan kehadirannya di samping ranjang. Ia tidak punya kekuatan untuk sekedar melihat keadaan di sana.
"Mau sampai kapan kamu menutup mata? Apa kamu tidak penasaran dengan orang di sebelahmu, Jim?" perkataan dokter Kim seketika menyadarkannya.
Rasa penasaran timbul membuatnya pelan membuka matanya lagi. Netranya mengarah ke depan melihat Kim Seok Jin tersenyum lebar seraya melipat tangan di depan dada. Pria itu pun mengarahkan dagunya ke samping kanan Jim-in. Berharap sang pasien menoleh ke sana.
Melihat gestur tersebut Jim-in pun mengikutinya. Dan betapa terkejutnya ia saat menatap seorang wanita berhijab tengah memandanginya lekat. Jantungnya bertalu kencang tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Ra.....rania." Cicitnya.
"Assalamu'alaikum, oppa. Alhamdulillah, oppa sudah sadar. Eomma pasti senang mendengar berita ini." Suara lembut yang begitu ia rindukan pun kembali mampir dalam telinganya. Jim-in tidak kuasa membendung air mata.
Di tengah kekalutan yang dideritanya, Seok Jin pun angkat bicara. "Alhamdulillah akhirnya kamu sadar. Bagaimana perasaanmu? Seperti yang kamu ketahui. Seminggu yang lalu kamu mengalami kecelakaan dan mendapatkan beberapa luka. Dan yang lebih parah dua kakimu itu. Sama seperti beberapa tahun lalu, kakimu terjepit badan mobil dan mengharuskan dioperasi karena mengalami patah tulang. Untuk beberapa saat kamu tidak bisa berjalan normal." Penjelasannya mengundang air mata itu semakin lebar.
Jim-in tidak menyangka jika kejadian yang dialaminya sekarang lebih parah. Bahkan dibeberapa bagian tubuhnya ia merasakan sakit luar biasa. Ia pun melepaskan kontak matanya tidak bisa melihat wanita itu lagi.
"Beruntung, kamu memiliki istri luar biasa. Selama seminggu kamu koma, Rania yang selalu merawat dan menemanimu di sini." Lanjut Seok Jin membuat wanita itu menatap padanya.
Jim-in terdiam mencerna apa yang didengarnya barusan. Benarkah Rania melakukan itu? Pikirnya.
"Tugasku sudah selesai. Selebihnya kalian bereskan sendiri." Seok Jin pun memberikan waktu untuk pasangan tersebut.
Selepas kepergiannya kecanggungan tercipta dalam ruang inap itu. Rania mengulas senyum saat melihat suaminya masih menundukan kepala. Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang. Tangannya bergerak mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.
Sssrrrkkkk!!
Suara kertas yang dirobek mengalihkan perhatian Jim-in. Pria itu menoleh ke arah Rania di mana sang istri tengah menyobekan kertas yang tidak diketahuinya. Seketika bulan sabit mengembang kembali diwajah cantiknya kala pandangan mereka bertemu.
"Oppa ingin tahu ini apa?" Jim-in mengangguk singkat. "Ini surat gugatan cerai yang aku berikan. Sekarang aku menyobeknya. Karena aku tidak ingin berpisah darimu. Yah aku memberikan kesempatan kedua untukmu. Dan ini keputusanku." Perkataan Rania bagaikan air di musim gugur. Bagaikan oase dalam gurun sahara.
Iris kecoklataan pria itu melebar dengan mulut sedikit terbuka. "Be....benarkah? Aku tidak salah dengarkan, Rania?" wanita itu mengangguk membenarkan. "Ta...tapi kenapa? Bahkan sekarang keadaanku sudah seperti ini. Kenapa kamu berubah pikiran?" lanjutnya lagi.
"Karena aku masih mencintaimu. Akila juga membutuhkan appanya." Jawab Rania tulus.
Jim-in tidak kuasa membendung air matanya lagi. Liquid bening itu bercucuran membuatnya terlihat seperti pria cengeng. Ini pertama kalinya Rania melihat sang suami menangis. Senyum haru pun mengembang diwajah cantiknya.
"Boleh aku memelukmu, Rania?" pintanya malu-malu.
Tanpa aba-aba Rania pun beranjak dari duduknya lalu langsung menerjang tubuh sang suami. Jim-in kembali meringis dibuatnya. Namun, sakit itu tidak seberapa dengan perasaan lega yang didapatinya sekarang.
"Alhamdulillh, terima kasih ya Allah. Engkau sudah mengembalikan keluarga hamba. Terima kasih sayang atas kesempatan kedua ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku sangat sangat mencintaimu. Jadi nama anak kita, Akila?" tuturnya menggebu.
Rania pun melepaskan pelukannya lalu duduk di tepi ranjang. "Akila Asha Kananta. Artinya harapan kebahagiaan seperti indahnya bunga warna-warni yang bermekaran. Aku berharap dengan lahirnya Akila ke dunia, Vasrha menghilang berganti Asha, yaitu bunga yang mekar setelah terguyur hujan dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Itulah harapanku."
"MasyaAllah, nama yang sangat indah. Maafkan aku sempat meragukannya."
"Ssssyyyuuuuttt, yang lalu biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru."
Jim-in mengangguk mengiyakan. "Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Gomawo, yeobo." Balasnya seraya kembali merengkuh sang istri.
"Oh yah, kamu tidak jadi pulang ke Indonesia?" bisiknya di balik punggung Rania.
"Untuk apa aku pulang jika kebahagiaanku ada di sini." Perkataan hangat itu membuat Jim-in terharu.
Ia semakin mendekapnya erat mengalirkan kerinduan yang selama ini di pendamnya. "Ya Allah kuasa-Mu sungguh luar biasa. Di saat hamba berputus asa Engaku menghadirkan kebahagiaan itu. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang hamba dustakan. MasyaAllah, skenario-Mu sungguh sangat indah." Monolog Jim-in dalam diam.
Di balik kesedihan pasti ada kemudahan. Di balik derita pasti ada senyum kebahagiaan. Allah tidak pernah salah memberikan setiap cobaan pada hamba-Nya. Karena di balik itu Allah juga sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
Percayalah tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Maha Suci-Mu Ya Allah. Hamba bahagia bisa menjadi salah satu hamba-Mu. MasyaAllah.
...🌦️KEPUTUSAN🌦️...