
"Oh, kalian di sini?" tanya Rania memandangi keempat pria yang menghampiri.
Mereka kompak mengembangkan senyum menawan seraya terus mendekat.
Yohan mendorong kursi roda yang diduduki Jung Jae Hwa tepat di hadapan Rania dengan sorot mata hangat dan bersahabat.
Jim-in kemudian mendudukkan diri di samping sang istri, begitu pula dengan Kim Seok Jin.
Mereka saling berdampingan membiarkan orang berlalu lalang menjadi background kebersamaan.
Semilir angin sore menerbangkan segala kegelisahan yang perlahan memudar.
Segala permasalahan yang hadir menjadi sebuah pertanda untuk senantiasa bersabar dalam segala hal.
Tidak ada yang lepas dari kesilapan dan salah, semua orang mempunyai ujiannya sendiri.
Begitu rumit dan terjal, tetapi itulah takdir yang harus di jalani. Memang tidak mudah dan penuh tantangan, tetapi di balik itu semua ada hikmah yang bisa didapatkan.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Rania membalas tatapan sang pembalap.
Jung Jae Hwa mendengus pelan seraya mengembangkan senyum.
"Jangan terlalu formal, Rania. Kita bukan orang asing lagi, seharusnya aku yang seperti itu, mengingat kamu dan suamimu sudah membantuku. Aku sangat berterima kasih pada kalian," ujar Jae Hwa, senang seraya menganggukkan kepala beberapa detik.
Rania dan Jim-in saling pandang terkejut mendapatkan perlakuan Jae Hwa.
Keduanya kembali menatap sang lawan bicara, senang pada akhirnya permasalahan yang menimpa pria menawan itu hampir selesai.
"Baiklah, tidak usah sungkan juga. Kami senang pada akhirnya keberadaan Jung Jae Hwa bisa diakui oleh semua orang," kata Rania lagi.
"Syukurlah tidak ada yang terlalu dikhawatirkan, memang tidak terlepas dari pro dan kontra, tetapi... banyak yang memberikan dukungan sebagai modal bagi kita untuk tetap semangat," lanjut Seok Jin ikut menimpali, tahu apa yang menimpa.
Ia sebagai dokter yang ikut menangani Jung Jae Hwa, senang melihat kebaikan bagi sang pasien. Ia juga tidak menyangka pembalap itu mempunyai jalan kehidupan yang dipenuhi lika liku terjal.
"Itu benar, banyak dari mereka yang mendukung sepenuhnya. Bahkan tidak sedikit yang kontra terhadap Ketua Jung," kata Jim-in kemudian.
"Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Nyonya Rania dan rekan-rekan sekalian sudah membantu kami dalam mengungkapkan kebenaran," timpal Yohan disusul anggukan Jae Hwa.
Bola mata cokelat beningnya bergulir memandangi mereka satu persatu.
Senyumnya begitu lebar, lega atas apa yang terjadi dalam hidupnya sekarang ini. Perubahan itu sebenarnya sudah ia idam-idamkan sebelum kecelakaan.
Ia ingin mengungkap siapa sebenarnya sang ayah. Ia tahu jika orang yang mencelakainya adalah kakaknya sendiri, Jung Jae Sun.
Dari sejak ia datang ke kediaman utama Jae Hwa langsung tidak diterima oleh Jae Sun.
Mereka tidak pernah akur sekalipun dan sering beradu argumen.
Terkadang Jae Hwa selalu mengalah jika sudah berhubungan dengan sang kakak.
Setelah beberapa tahun berselang di saat usianya menginjak lima belas tahun, ia menerima kenyataan pahit.
Jika ternyata hubungan Jae Won dan ibunya Binna adalah kesalahan pahaman. Mereka yang mengira jika ibu dan ayahnya terlibat hubungan gelap nyatanya tidak seperti itu. Bahkan banyak yang bilang jika Binna lah yang menggoda ayahnya lebih dulu.
Namun, sang ibu adalah korban keegoisan Ketua Jung. Binna yang berprofesi sebagai perawat di salah satu rumah sakit di pedesaan tidak sengaja bertemu dengan Jung Jae Won.
Pada saat itu ia tengah bertugas dan jatuh sakit dan beberapa hari Jae Won dirawat oleh Binna.
Dari sana ketertarikan sang ketua menjadi-jadi. Sampai satu waktu di saat dirinya tidak lagi bisa menahan hasrat, Jae Won melakukan aksi bejadnya kepada Binna.
Karena ia tidak terima ditolak begitu saja oleh Binna yang mengetahui jika dirinya adalah pria berkeluarga.
Jae Won naik pitam dan langsung melakukan hal tidak senonoh. Tidak sekali, tetapi berkali-kali hingga membuat wanita polos, baik hati itu hamil.
Ia diancam oleh Jae Won jika sampai Binna melapor maka ibunya yang saat itu tengah sakit-sakitan akan dihabisi.
Setelah umurnya menginjak delapan tahun Binna meninggal dunia akibat suatu penyakit. Mau tidak mau Jae Won membawa Jae Hwa ke kediaman utama.
Mulai dari sana kehidupan bak di neraka dialami oleh sang pembalap.
Jae Hwa mulai mencari kesenangannya di dunia luar hingga kecintaannya kepada dunia balap mobil membuat ia berkecimpung di sana.
Kenyataan tersebut hanya ia saja yang tahu. Karena selama ini tidak ada seseorang yang bisa dibagi cerita.
Fakta menyakitkan itu selalu menghantui hingga membuat Jae Hwa ingin sang ayah sadar akan kesalahan. Namun, sampai bertahun-tahun lamanya kebusukan Jae Won tidak pernah terendus oleh siapa pun.
Semua itu hanya menjadi rahasia antara Jung Jae Won dan neneknya saja.
"Hwa... Jae Hwa.... Jung Jae Hwa!" Yohan menepuk pundaknya pelan menyadarkan sang pembalap sekaligus sepupunya.
Ia terkesiap dan menoleh ke belakang mendapati senyum singkat Kang Yohan.
"Aku tidak menyangka jika ternyata kita adalah sepupu? Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun selama ini?" tanya Jae Hwa mengulas senyum singkat.
Yohan berjalan ke hadapannya lalu duduk begitu saja. Kedua iris kecil itu jatuh pada pemandangan menentramkan jiwa.
Setelah berbicara dengan orang-orang yang membantunya, kini tinggallah mereka berdua di taman itu.
Sebuah keluarga harmonis tengah bercanda gurau, suara tawanya berdengung hingga terdengar memilukan dalam telinga. Yohan hanya mengulas senyum dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Karena... aku tidak mau mengganggu kehidupan tenang mu selama ini. Aku juga tahu apa yang terjadi pada tante Binna. Pria tua itu... sangat kejam dan tidak berperasaan."
"Karena itulah diam-diam aku mencari tahu kebusukannya, melakukan tes DNA sebagai bukti jika kalian adalah anak dan ayah kandung. Meskipun aku sadar entah kapan semua kebenaran itu bisa terungkap."
"Namun, Tuhan mempertemukan kita dengan Rania. Wanita itu menjadi jalan bagi kita untuk mengungkap kebenaran ini. Semoga mendiang ibu mu bisa tenang di alam sana," racau Yohan dijawab anggukan setuju dari sang pembalap.
Jae Hwa jadi teringat saat pertama kali bertemu dengan Yohan. Ia terkejut mendapati pria itu memiliki aura seperti sang ibu.
Ia berpikir mereka mungkin hanya mirip saja dan mengabaikannya tidak terlalu diambil pusing.
Namun, siapa sangka Kang Yohan adalah sepupunya sendiri.
Kebenaran tersebut memberikan kelegaan sekaligus tidak menyangka orang yang selama ini membantunya dalam segala hal adalah keluarganya sendiri.
"Jadi, maksud mu... kamu sengaja mendekatiku?" tanya Jae Hwa kemudian.
Tanpa mengelak Yohan mengangguk mengiyakan.
"Itu benar. Sebelum bertemu denganmu, aku memang sudah mencari tahu. Serta... aku juga menginginkan keadilan bagi kalian," balas Yohan tulus.
Jae Hwa tidak kuasa menahan senyum yang seketika mengembangkan kedua sudut bibirnya lebar. Ia senang dipertemukan dengan orang-orang hebat dalam membantu mengupas tuntas kebejatan sang ayah.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Jae Hwa katakan.
Ia sadar jika di dalam kehidupan masih banyak misteri yang belum terpecahkan.
Kejadian demi kejadian yang datang memberikan sebuah pembelajaran berharga. Tidak baik jika terus berjalan di tempat dan merugikan diri sendiri. Berubah lah ke arah yang lebih baik agar hidup menjadi tenang.
Jung Jae Hwa tidak menyesali apa yang sudah dirinya lakukan. Ia bisa bernapas lega setelah kejahatan ayahnya terungkap.
Begitu pula dengan kakaknya, Jung Jae Sun. Pria itu juga sudah berada di kantor kepolisian guna ditindak lebih lanjut mengenai kecelakaan sang adik.
Berita tentangnya pun bermunculan seiring makin maraknya informasi-informasi terbaru seputar Jung Jae Won.
Banyak pihak yang kecewa dan membatalkan kerja sama mereka. Serta mencuatnya kebenaran itu ke publik membuat kehidupan mereka yang terkena imbas dari kelakuan ketua Jung mulai kembali stabil.
Jung Jae Hwa bersyukur kejadian ini menimbulkan hikmah luar biasa.