
Selepas bertemu Seok Jin, Jim-in keluar ruangan. Ia menutup pintu bercat putih itu rapat seraya memandang lurus ke bawah.
Ia diam beberapa saat di sana mencoba menyetujui perkataan sang kakak.
Saat ini ia merasakan perasaannya campur aduk, kata-kata sang dokter tadi terus terngiang dalam pendengaran.
Sedetik kemudian ia melangkah lunglai di lorong lantai enam masih dengan memikirkan apa yang barusan didengar.
"Benarkah Rania mengalami amnesia dan kehilangan separuh ingatan? Bagaimana bisa? Bagaimana ini terjadi? Bagaimana-"
"Tuan Park Jim-in?"
Panggilan seseorang menghentikan celotehannya dalam benak. Jim-in menarik kesadaran memandang lurus ke depan.
Beberapa meter dari tempatnya berdiri, seorang wanita berhijab putih mengembangkan senyum sambil memeluk berkas.
Ia lalu berjalan mendekat di rasa nama yang disebutkannya tadi benar adanya.
"Benar, Anda Tuan Park Jim-in." Tunjuknya tepat di depan wajah tampan sang pengusaha.
Jim-in hanya mengangguk dan tersenyum menimpali ucapan wanita itu.
"Sedang apa Anda di sini? Apa Anda sedang sakit? Atau Anda mau menemui Rania? Oh sungguh pasangan yang menggemaskan," celotehnya riang.
Jim-in terus memperhatikannya lalu berkata. "Zahra," panggilnya mengingat wanita ini.
Zahra terdiam beberapa saat dan sadar dari lamunan. "Ne, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya penasaran.
"Bisa kita bicara?" pinta Jim-in kemudian.
Zahra cengo dan dengan kaku mengangguk mengiyakan.
Di atap rumah sakit, Rania tengah memandangi pemandangan ibu kota dari ketinggian.
Pikirannya berkecamuk mengenai keadaannya saat ini. Ia mengabaikan rasa sakit yang berkali-kali datang menusuk.
Ia pun kembali memikirkan apa yang Jim-in katakan tadi malam. Kedua anak itu yang sekarang menjadi fokus utamanya.
Semakin berusaha mengingat, rasa sakit di kepala pun terus menerus menusuk kuat.
Ia meremas besi pembatas kuat menyalurkan kesakitan dan kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku sudah melewati satu hal? Kenapa pria arogan itu bersikap berbeda? Bukankah dia membenciku? Tetapi membutuhkanku? Aku tidak mengerti," racaunya.
"Hanya saja, aku tidak ingin diperlakukan seenaknya lagi. Aku kembali sekolah, bukankah ini karena mamah?"
"Mamah sudah berjanji padaku, jika... aku bisa memenuhi keinginannya untuk menikahi pria itu maka aku bisa sekolah lagi."
"Iya mana mungkin pia arogan itu mau menyekolahkan ku sampai saat ini, kan? Dan mengenai kedua anak itu-" celotehnya menggantungkan kalimat di akhir.
"Saat ini aku harus bertahan sampai aku bisa pergi dari kehidupannya," lanjutnya lagi.
Keyakinan serta ketegasan tercetus dalam sorot mata cokelat susu itu. Rania tidak ingin dimanfaatkan kembali dan berharap bisa mengepakan sayap menggapai cita-cita.
Ia lalu mengaduh lagi saat rasa sakit itu datang menerjang tanpa bisa ditahan.
...***...
Di taman rumah sakit, Jim-in dan Zahra duduk berhadapan di salah satu bangku di sana.
Banyak pengunjung maupun perawat hilir mudik sebagai backround kebersamaan.
Sedari tadi Zahra terus menunggu apa yang hendak disampaikan Jim-in. Namun, sejak kedatangannya ke tempat itu sang pengusaha tak kunjung membuka suara.
"Jadi, apa yang ingin Anda katakan?" tanya Zahra sudah tidak tahan lagi.
"Apa sudah terjadi sesuatu pada Ayana?"
Akhirnya pertanyaan pun tercetus jua, Zahra mengerutkan kening dalam tidak mengerti.
"Apa maksud Anda? Bukankah Anda suaminya? Seharusnya Anda lebih tahu daripada saya," timpal Zahra tidak mengerti.
"Iya, itu memang seharusnya, tetapi pada kenyataannya... aku sama sekali tidak tahu apa-apa." Suara Jim-in semakin pelan nan lirih.
"Apa sudah terjadi sesuatu pada Rania? Seperti kecelakaan, misalnya?" tanya Jim-in lagi yang kali ini benar-benar membaut Zahra terkejut bukan main.
"M-mwo? Ke-kecelakaan? Tidak ada yang menimpa apa pun pada Rania, Tuan bisa memastikannya sendiri."
"Kalau pun memang ada itu pasti sudah tercatat di rumah sakit, selama ini tidak ada kecelakaan apa-apa pada Rania," jelas Zahra sejauh yang dirinya tahu.
Jim-in hanya mengangguk-anggukan kepala. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi hingga membuat sang istri seperti sosoknya di masa lalu.
Apa dulu ia terlalu keras? Pikirnya gamang.
"Tuan, apa Anda tidak apa-apa? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Zahra beruntun melihat diamnya sang pengusaha.
"Ani, gwenchana. Semua baik-baik saja," balas Jim-in, "kalau begitu terima kasih untuk waktunya. Aku harus segera pergi ke kantor, kalau ada apa-apa bisa kamu memberitahuku?" pintanya kemudian.
Zahra hanya mengangguk setuju dan setelah itu Jim-in pergi dari hadapannya.
Riana membuka mata dan melihat ruangan serba putih di sekitar. Ia lalu bangkit dari berbaring dan merasakan denyutan nyeri di pergelangan tangan.
Irisnya beralih melihat ada infusan menancap di sana. Tangan kirinya mengelus pelan mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Kamu sudah sadar?" Suara seseorang mengejutkan.
Rania menoleh ke samping kanan melihat seorang pria tampan berjas putih berjalan mendekat. Sosok itu pun duduk di sebelah ranjang sembari terus memandang ke arahnya.
"Tadi, kamu ditemukan pingsan di atap. Apa yang akan terjadi jika tidak ada petugas kebersihan datang ke sana? Pasti sampai besok pun kamu tetap berada di atap," jelasnya kemudian.
"Aku? Pingsan? Wae?" tanya Rania bingung.
"Apa kamu lupa tiga minggu lalu mengalami kecelakaan?" tanya Kim Seok Jin tegas.
Rania mengalihkan pandangan menatap selimut yang menutupi setengah badan. Pikirannya berusaha berputar ke waktu yang tadi disebutkan.
Samar-samar ia bisa mengingat apa yang sudah terjadi pada saat itu.
Tiga minggu yang lalu, Rania baru saja menyelesaikan tugas dan membereskan barang-barang hendak bergegas pulang menemui keluarga tercinta.
Namun, sayang seribu sayang baru saja keluar dari gedung rumah sakit dari arah berlawanan terdapat mobil melaju kencang mendekatinya.
Rania yang tidak menyadari itu hanya mendengar suara teriakan orang-orang di sekitar dan hal tersebut membuatnya terkejut.
Rania menoleh ke samping dan melihat mobil tadi sudah berada dalam jarak beberapa meter darinya dan seketika kendaraan itu pun menabrak tubuhnya, membuat ia terpental.
Kepala Rania terbentur aspal cukup kuat membuat beberapa pejalan kaki bergegas mendekat membantunya.
Ia pun langsung dibawa kembali ke dalam dan ditangani oleh pihak medis di rumah sakit tempatnya magang.
Bersamaan dengan kegaduhan itu, Seok Jin yang masih bekerja dan kebetulan berjalan di sekitar pintu masuk pun melihat Rania dibopong beberapa orang.
Ia langsung meminta mereka membaringkannya di brankar dan bergegas mengobatinya.
Seok Jin yang mendengar jika Rania menjadi korban tabrak lari pun terkejut bukan main. Ia berusaha fokus untuk mengobatinya terlebih dahulu.
Namun, ia kembali terkejut saat tidak mendapati luka robek apa pun di kepalanya. Tadi ia juga mendengar jika Rania mengalami benturan cukup kuat.
Ia yang khawatir meminta perawat menyiapkan ruang rontgen untuk melihat lebih jauh lagi luka dalam di kepalanya.
Sebelum hal itu dilakukan, Rania lebih dulu sadar dan menarik bagian belakang jas Seok Jin yang baru saja hendak pergi.
Sang empunya menoleh kembali ke belakang seraya terbelalak lebar.
"Rania, kamu sudah sadar? Apa yang sakit? Bagain mana yang terluka?" tanya Seok Jin beruntun.
"Aku baik-baik saja, Oppa tidak usah khawatir," balasnya berusaha bangun dari berbaring.
Ia melihat ada beberapa plester di kedua kaki dan tangannya menutupi lecet.
"Aku baik-baik saja, Alhamdulillah benturan itu tidak keras dan hanya mengenai ku sedikit saja. Oppa, aku punya permintaan, bisakah Oppa mengabulkannya?" tanya Rania serius.
Seok Jin yang melihat itu pun hanya mengangguk mengiyakan. Ia tidak pernah mengerti jalan pikiran Rania setelah mendengar permintaannya barusan.