VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 86



Ketegangan masih tercipta di antara empat anak adam di taman kampus ibu kota.


Mereka terus saling pandang tidak peduli di mana berada.


Siang semakin beranjak, banyak orang hilir mudik terus berdatangan silih berganti.


Dari sekian banyak orang, sebagian besar dari mereka menyaksikan persitegangan tersebut. Ada yang penasaran, ada juga yang tidak peduli sama sekali.


Kedua wanita, Song Mi Kyong dan Song Ailee menyeringai tajam pada para pria di hadapannya. Mereka seolah sudah memenangkan permainan tersebut dengan diamnya Park Jim-in dan Kim Seok Jin.


Mereka juga masih melihat satu sama lain tidak ingin mengalah dan tetap fokus pada keegoisan masing-masing.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Hingga suara seseorang mengejutkan mereka yang langsung menoleh ke arah sama.


Di sana Rania dan Zahra tengah berdiri memandangi suami serta wanita itu bergantian.


Kedua istri tersebut tidak menyangka bisa melihat Mi Kyong dan Ailee mengganggu suami-suami mereka lagi.


Sebagai seorang istri yang pernah mendapatkan kejahilan kedua ular di sana, Rania dan Zahra saling pandang seolah merasakan sebuah firasat.


Ada sesuatu yang tidak beres, pikirnya.


"Sa-Sayang?" Panggil Jim-in takut Rania salah paham menangkap raut muka asam di wajah ayu itu.


Seok Jin dan Zahra pun saling pandang satu sama lain, membuat dokter tampan tersebut menggelengkan kepala pelan.


Gerakan impulsif itu mengatakan jika semua ini tidak seperti yang terlihat.


"Aku tanya, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rania lagi berjalan mendekat diikuti Zahra.


"Oh akhirnya istri-istri tercinta kalian sudah datang. Bagaimana bisa ini menjadi sangat menyenangkan? Terlebih ada pasangan pengantin baru kita," sindir Mi Kyong melipat tangan di depan dada memandangi mereka bergantian.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Rania terus menatap nyalang pada wanita licik itu.


Mi Kyong tertawa kencang lalu menyeringai lebar.


"Apa kamu pikir permainan ini sudah berakhir? Tentu tidak, Rania. Semua ini baru saja dimulai," kata Mi Kyong sembari terus berjalan mendekat.


Sampai kedua wanita itu saling pandang dengan jarak yang sangat dekat.


Sorot mata mereka terus saling pandang seolah memercikan api tidak ingin mengalah satu sama lain.


Sebelah sudut bibir Mi Kyong masih terangkat menantang Rania.


"Katamu permainan baru saja dimulai? Tapi bagi kami tidak ada yang namanya permainan, semua sudah berakhir. Apa kamu yakin ingin melanjutkan semua ini?" Tantang Rania balik ikut menyeringai tajam.


Mi Kyong memalingkan wajah sekilas dan kembali pada Rania tanpa gentar sedikitpun.


Ia benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih jika melibatkan pria yang dicintainya.


"Apa kamu pikir ancaman itu bisa mempengaruhi ku? Tentu saja tidak, silakan jika kalian mau melakukan apa pun itu, yang jelas... kalian pasti akan terseret juga," jelas Mi Kyong sangat yakin.


"Kalian juga pasti akan ikut terlibat. Jadi, jangan pernah menakut-nakuti kita. Karena semua itu percuma," lanjut Ailee menimpali.


Bola karamel Rania bergulir padanya. "Oh tentu, itu pasti akan lebih menyenangkan, bukan? Jika sudah seperti ini, maka mari kita bermain." Bibir ranum ibu dua anak itu kembali menyeringai lebar.


Kepala berhijabnya mengangguk beberapa kali seraya melanjutkan perkataannya.


"Kita lihat saja, siapa yang berada sampai finish." Setelah itu Rania melangkahkan kaki memberikan tatapan nyalang untuk terakhir kali.


Melihat kepergian sang istri, Jim-in terus khawatir. Ia kembali pada Mi Kyong dengan geram.


"Awas saja! Kalau sampai kamu menyakiti Rania lagi, aku... tidak akan segan-segan untuk membalas mu." Ia menunjuk tepat di wajah cantik sang sahabat lalu menyusul istrinya.


Seok Jin dan Zahra pun ikut pergi dari sana mengekori pasangan di depan.


Mi Kyong hanya mendengus sebal masih dengan melipat tangan di depan dada. Ailee berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.


"Kenapa tidak awal saja kamu melakukan ini? Di balik menyenangkan, bukankah sangat menantang?" lanjut Ailee mengikuti arah pandang kakak sepupunya.


"Iya, kamu benar. Kenapa bukan dari dulu saja? Aku memang sudah sangat ingin menghancurkan kebahagiaan mereka."


Matanya menajam menangkap bayangan dua orang yang menjadi tujuannya. Ailee hanya tersenyum lebar, senang melihat kakak sepupunya seperti ini.


...***...


Di perjalanan hanya ada keheningan melanda. Dua pasangan yang terlibat dalam sebuah permasalahan sama tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sedari tadi, Jim-in terus melirik pada sang istri memastikan Rania baik-baik saja lewat kaca spion di atasnya.


Sejak mereka masuk ke dalam mobil, Rania sama sekali tidak mengatakan apa pun.


Bibir ranumnya mengatup rapat tanpa ada niatan untuk mengatakan sepatah kata.


Hal itu membuat Zahra pun ikut cemas. Ia mengerti sebagai sesama istri, dirinya tahu kekhawatiran Rania.


"Rania." Panggil Zahra di jok sebelah memecahkan keheningan di antara mereka.


Sontak panggilan tersebut pun membuat Seok Jin yang tengah menyetir melirik sekilas ke kaca spion.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Rania membalas sekaligus menegaskan pada sang suami untuk tidak terlalu cemas.


"Oppa." Kini giliran Rania yang memanggil suaminya.


Jim-in yang sedang duduk diam di samping Seok Jin tersentak pelan dan berusaha terlihat baik-baik saja. Ia lalu berbalik ke belakang menatap sang istri.


"A-ah, iya Sayang. Ada apa?" tanya Jim-in gugup.


"Bisakah kita pergi ke sebelah timur ibu kota? Kita harus mendiskusikan sesuatu, menyangkut... kejadian hari ini," jelas Rania tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari kaca samping.


"Ta-tapi yeobo, bukankah kamu harus bersiap untuk sidang dan wisuda? Jangan sampai masalah tadi mengganggu mu. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Kamu jangan banyak pikiran, yah," ungkap Jim-in berusaha meyakinkan Rania.


Namun, sang istri menggeleng pelan. Sedetik kemudian membalas tatapan suaminya tegas.


"Ani, aku tidak bisa diam saja sebelum memastikan sendiri mereka... kapok dengan perbuatannya," jelas Rania yang membuat Jim-in tercengang.


Zahra dan Seok Jin pun ikut terkesiap.


"Baiklah aku akan membawa mu ke sebelah timur ibu kota," balas Seok Jin yang membuat Jim-in di sampingnya tidak percaya.


Manik kecil pengusaha tampan itu melebar. Bibirnya terbuka pelan dengan sorot mata seolah mengatakan, apa yang Hyung lakukan?


Namun, Seok Jin hanya melirik sekilas dan tersenyum pelan penuh makna.


Ia sama sekali tidak mengindahkan Jim-in yang sedang dilingkupi kebimbangan.


Tidak lama berselang mereka tiba di sebuah tempat asing. Jim-in, Seok Jin, serta Zahra saling pandang melihat bangunan tua tak terawat di depannya.


Mereka semakin bertambah bingung saat Rania berjalan masuk ke sana.


Merasakan tidak ada siapa pun yang mengikuti, kepalanya berputar ke belakang melihat tiga orang di sana terdiam.


"Kenapa kalian diam saja? Ayo masuk," ajaknya seraya melakukan gesture mereka untuk ikut.


"Te-tempat apa ini, Sayang?" tanya Jim-in tercengang melihat bangunan tua yang sama sekali tidak terawat.


Di sekitar gedung itu dipenuhi lumut, serta akar-akar tumbuhan menghiasi sekitarnya.


"Nanti juga kalian tahu, ayo," kata Rania lagi semakin berjalan masuk.


Seketika Seok Jin menggenggam tangan Zahra untuk melindunginya. Sang istri pun menoleh melihat ketegasan di wajah tampannya.


"Sebaiknya kita ikuti ke mana istrimu pergi. Kita memang tidak tahu apa yang hendak dilakukannya, tetapi aku yakin Rania... pasti sudah merencanakan sesuatu," jelas Seok Jin.


Zahra dan Jim-in pun mengangguk singkat lalu mengikuti ke mana Rania pergi.