VARSHA

VARSHA
Bagian 20




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Tidak pernah terpikirkan dalam benak Rania jika hari ini dirinya harus menampingi sang suami bertunangan dengan wanita lain. Sekuat apa pun, seikhlas bagaimana pun, tetap saja hatinya terluka dan terkoyak oleh belati tak kasat mata.


Tepat di jam sembilan pagi langkah-langkah kecilnya beriringan bersama langkah tegap sang suami. Satu persatu anak tangga di tapakinya perlahan. Bagaikan mesin waktu kenangan beberapa bulan lalu berputar dalam kepalanya.


Satu anak tangga yang ia turuni, maka satu memori hari itu kembali datang. Hari pernikahan yang tidak diinginkannya. Bertemu dengan calon suami yang ternyata memiliki kekurangan. Hari demi hari berlalu sejak saat itu kehidupan Rania berubah.


Namun, akan selalu ada hujan turun di pelupuk matanya. Kenangan yang ia miliki mengandung awan gelap hingga saat ini. Ia mencoba memberanikan diri menemani sang suami untuk berhadapan dengan wanita lain.


Sakit.


Satu kata sudah jelas mengawali perasaannya sekarang. Sangat berat ia melangkah mendekat ke ruangan yang menjadi saksi pernikahannya waktu itu dan tepat hari ini ruangan tersebut kembali digunakan untuk kejadian bersejarah bagi mereka.


"Baiklah karena kedua calon sudah bersama kita mulai acaranya."


Suara pria berkacamata hitam itu mengalun bak nyanyian pengiring kematian.


Bagaimana tidak acara sakral yang berlangsung meriah ini begitu menyakiti hatinya.


Rania duduk berdampingan bersama sang ibu mertua. Tidak pernah ia lihat nyonya besar itu tersenyum lebar seperti sekarang. Bahkan dihari pernikahan sang anak pun Park Gyoung tidak berekspresi apa-apa. Hanya satu yang terlihat, ia merasa lega mendapatkan perawat pribadi untuk anak semata wayangnya.


Sorot mata sayu menatap Jim-in dalam diam. Merasakan aura menyedihkan dan itimidasai dari Rania, Jim-in pun membalas tatapannya. Sesak menghampiri hatinya perlahan dan sedetik kemudian bola matanya bergulir pada wanita bergaun gold di samping sang suami.


Detik demi detik berlalu. Alunan musik lembut menyambut kedua insan yang mengikat hubungan dengan cincin berlian terpasang di jari manis masing-masing.


Kini di jari sang suami sudah tersemat dua cincin di sana. Untuk sang istri dan tunangannya, Yuuna. Suara tepuk tangan menggema dalam ruangan. Senyum merekah mengembang di wajah semua orang yang menyaksikan pertunangan mereka.


Bak bayang-bayang dalam senja kehadiran Rania tidak diindahkan sama sekali. Awan mendung datang perlahan. Semuanya menggelap siap mengucurkan air mata kepedihan. Lagi-lagi keristal bening itu harus meluncur di kedua pipi gemilnya.


Tanpa isakan Rania menangis dalam diam. Ia berusaha menahan tangisannya, tapi tetap saja dirinya tidak bisa. Terlalu sakit menyaksikan kebersamaan suaminya dengan wanita lain. Ia membekap mulutnya sendiri tidak kuasa melihat rona bahagia dari mereka.


Terlebih saat senyum tulus terpendar di wajah tampan Jim-in. Senyuman itu sama seperti pertama kali mereka bertemu . Rania sudah tidak bisa bertahan cukup lama.


"Ya Allah sakit sekali melihat suami yang kucintai bersanding dengan wanita lain. Apa aku bisa bertahan dari cobaan berat ini?" benaknya. Ia pun kemudian melarikan diri dari sana menyisakan kepiluan yang mendera.


Jim-in yang sempat melihat sang istri pergi hanya bisa menatapnya nanar. Entahlah apa yang tengah ia rasakan. Bahagia atau sebaliknya? Sudah banyak kenangan yang ia lewatkan bersama Rania. Bahkan detik ini ia bisa berdiri ada perjuangan sang istri di dalamnya. Ia tidak tahu apa yang tengah dirasakannya.


...🌦️🌦️🌦️...


Kini hanya ada isak tangis menggema di sana. Rak-rak buku berjejer rapih menghasilkan debu yang bersarang. Aroma kayu yang sudah tua begitu menyengat dalam penciuman. Sinar matahari masuk melalui sirkulasi udara di atas sana menambah kesan klasik.


Tempat itu terlihat seperti gudang yang tidak terpakai. Entah sadar atau tidak Rania terdampar di sana. Sudah sepuluh bulan sejak ia datang ke mansion keluarga Park, baru kali ini dirinya mendatangi tempat itu. Sebuah ruangan yang mungkin tidak terlalu terjamaah oleh banyak orang.


"A-aku di mana?" cicitnya tersadar. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.


Tidak ada yang istimewa. Hanya terlihat beberapa barang yang sudah usang.


Kaki kecilnya melangkah mendekati salah satu rak buku yang ada di sana. Tangannya terulur menggapai sebuah album foto yang sudah termakan usia. Tulisan hangeul yang tertuang sedikit terhapus oleh debu.


Rania mengusapnya perlahan dan terlihat bacaan, "Album Foto Keluarga" di sana. Ia pun membukanya dan melihat banyak sekali foto kenangan yang masih terlihat bersih dan jelas.


Senyum pun menguar di wajah ayunya yang sedikit pucat. Rania tahu jika anak kecil yang berada dalam gendongan pria dewasa itu suaminya, Park Jim-in.


"Dia terlihat manis tersenyum seperti ini. Memang benar tuan muda memiliki senyum yang terbaik," gumamnya.


Ia terus membuka lembar demi lembar album foto yang ada di sana. Ada 5 album yang berhasil ia temukan. Salah satunya begitu menarik perhatian. Album terakhir dengan bacaan "My Life" membuatnya mengerutkan dahi.


Ia merasakan firasat tidak enak saat hendak membukanya. Tangan putihnya pun sedikit gemetaran. Baru halaman pertama kedua mata bulatnya melebar.


Di sana ia melihat Jim-in tengah merangkul wanita yang kini menjadi tunangannya, Yuuna. Namun, dari sana ia bisa menyaksikan seperti apa perjuangan seorang Park Jim-in, sampai kehilangan senyum menawannya.


"Ternyata tuan sangat menyukai memanah. Aku tidak tahu jika beliau seorang atlet memanah. Apa yang terjadi sampai tuan meninggalkan profesinya?" Gumam Rania sambil terus membuka album tersebut.


Di dalam sana terdapat foto-foto kenangan Jim-in beberapa tahun ke belakang. Entah itu sendirian atau pun dengan teman-temannya ia melihat Jim-in menampilkan senyum tulusnya lagi. Bersama piala kemenangan membuatnya tersenyum lebar. Rania pun menyunggingkan kebahagiaan di wajahnya.


"Tuan pasti atlet yang terbaik," lanjutnya lagi.


Netranya terfokus pada satu foto yang menampilkan Jim-in seorang diri tengah mengacungkan piala dan medali emas. Rasa penasaran semakin menyeruak tat kala foto itu yang terakhir ia lihat. Rania pun membuka plastik pembungkus, membawanya lalu meneliti ekspresi yang ditampilkan.


"Memang benar tuan muda mempunyai senyum yang sangat indah. Kenapa sekarang sirna?"


Ia kemudian membalikan foto tersebut. Irisnya melebar saat membaca tulisan yang tertuang di sana. Kata-kata yang ingin ia lontarkan tercekat di tenggorokan.


Air mata meluncur begitu deras. Bukan kesakitan yang ditimbulkan melainkan penyesalan. Kesedihan menguasai, Rania tidak bisa mengkhianati dirinya sendiri jika saat ini ia benar-benar mencintai suaminya.


Ia berharap bisa mengembalikan senyuman itu ke wajah suaminya, lagi. Park Jim-in harus kembali bangkit apapun yang terjadi. Rania sadar apa yang tengah dirasakannya sekarang tidak sebanding dengan kepalsuan yang disimpan oleh sang suami. Sudah hampir satu tahun lamanya ia bersama pria itu, tapi baru sekarang dirinya memahami posisi tuan muda tersebut.


Tidak lama berselang terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang membuatnya tersadar. Ia bangkit dari duduk melihat orang lain di sana.


...🌦️MASA LALU🌦️...