
Tanpa disangka-sangka di balik tampilan tuanya, di dalam bangunan itu terlihat rapih, nyaman, serta terurus dengan baik.
Jauh berbeda dengan area luar yang nampak seperti bangunan berhantu. Siapa pun pasti enggan untuk masuk ke sana.
Di dalamnya juga banyak lukisan-lukisan bernuansa tanaman menghiasi sebuah ruangan. Aroma lemon menyapa kuat kedatangan mereka.
Jimin, Zahra, dan Seok Jin kembali dikejutkan dengan tindakan Rania bersama seseorang yang sedari tadi ada di sana.
Mereka saling berpelukan membuat Jim-in semakin bertanya-tanya, siapakah orang yang bersama Rania.
Ia diam di tempat masih memperhatikan dua orang tidak jauh dari keberadaannya yang saling bercengkrama.
"Jadi, kali ini apa lagi? Kamu mengajak mereka juga, pasti ada sesuatu yang besar terjadi, kan?" tanyanya melirik sekilas ketiga orang di belakang Rania membuatnya mengangguk.
"Iya, kamu benar. Memang seperti itu adanya. Kali ini aku ingin mereka sadar," jelas Rania kemudian.
Sebelum sang lawan bicara menjawab perkataannya, tuan muda tampan Park Jim-in lebih dulu menyahut.
"Dia siapa, Sayang?"
Pertanyaan itu menarik diri Rania serta penghuni di sana menoleh. Mereka mendapati rasa penasaran begitu besar sang pengusaha.
Keduanya pun saling pandang lalu tersenyum sekilas sebelum kembali melihat pada Jim-in.
Rania lalu mengulas senyum simpul dan berjalan menghampiri suaminya lagi.
Ia kemudian mengambil kedua tangan tegap pasangan hidupnya dan menggenggamnya erat.
Rania mendongak mencari sepasang manik cokelat susu tepat di hadapannya. Bibirnya melengkung hangat meyakinkan Jim-in untuk tidak berpikir macam-macam.
"Apa Oppa mau semuanya selesai? Tenang saja kita bisa melakukan satu cara untuk membuat mereka jera dan wanita ini... dia bisa membantu kita," jelas Rania.
Jim-in menautkan kedua alis dalam, masih tidak mengerti apa yang dimaksud sang istri.
"Maksudmu? Apa yang sedang kamu rencanakan? Dan... tempat apa ini?" Jim-in terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya tengah Rania rencanakan.
Rania melirik Zahra dan Seok Jin yang berdiri tidak jauh dari keberadaannya. Pasangan itu pun ikut penasaran apa yang sebenarnya ingin Rania lakukan.
"Ah, kalau begitu kita duduk dulu untuk membicarakannya lebih jauh," ajak Rania lagi dijawab anggukan yang lain.
Di sana, kelima orang itu duduk melingkar bersama. Rania terus tersenyum memandangi satu persatu orang terdekatnya.
Sampai perhatiannya jatuh sepenuhnya pada sang suami.
"Kenalkan dia, Hana. Hana adalah orang yang selama ini membantuku. Sekaligus sahabat yang dapat dipercaya," kata Rania memperkenalkan keberadaan Hana.
"Sepertinya kita pernah bertemu." Seok Jin menimpali sembari mengingat-ingat keberadaan wanita tepat di sebelah Rania.
"Ah, aku ingat sekarang. Kamu wanita yang malam itu membantu kita, kan?" tunjuknya tepat di depan wajah Hana.
Wanita berambut lurus sebahu itu mengiyakan sembari menyunggingkan senyum simpul.
"Jadi, apa tujuanmu membawa kita ke sini, Rania. Juga, tempat apa ini?" Kini giliran Zahra angkat bicara mengulang pertanyaan Jim-in tadi.
Ia juga sama sekali tidak tahu apa yang tengah Rania pikirkan.
Ia cukup terkejut kala mendapati Hana berada di dalam gedung tua ini. Ia masih belum mengenal sang sahabat sejauh itu. Kadang kala Rania memberikan kejutan demi kejutan tak terduga.
Rania kini beralih padanya. Dengan lengkungan bulan sabit terpendar di wajahnya, istri pengusaha ternama itu pun memberikan tatapan meyakinkan.
"Tempat ini biasa Hana gunakan untuk bertugas. Aku juga sering datang ke sini untuk meminta bantuannya. Juga-"
"Apa? Bantuan apa yang kamu maksud?" Jim-in memotong ucapan istrinya cepat.
Rania pun menjelaskan dari awal bertemu Hana sampai meminta bantuannya membuntuti Jim-in hari itu.
Semua diceritakan tidak ada yang tersisa sedikitpun. Jim-in maupun Seok Jin berkali-kali tercengang, tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Rania.
"Sayang." Sorot mata Jim-in kosong dengan pikirannya buntu seketika.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, hanya saja ini satu-satunya cara agar aku bisa mencari tahu... soal kalian." Rania tersenyum penuh makna pada sang suami juga orang-orang di sana.
"Aku tidak menyangka... istriku, Rania cerdik juga. Aku tidak bisa meremehkannya, juga dia... sudah jauh berbeda. Istriku... dia sangat luar biasa," monolog Jim-in dalam diam.
"Wah, kamu benar-benar penuh kejutan. Kalau seperti ini kamu tidak bisa berbuat apa-apa, Jim." Sindir Seok Jin menyenggol pelan lengan sang adik.
Jim-in hanya tersenyum canggung tidak berani melihat Rania.
"Sudah-sudah lupakan saja kejadian itu, sekarang kita fokus pada tujuan utama kita datang ke sini," kata Rania mengalihkan pembicaraan.
Setelah itu mereka pun berdiskusi bersama mengenai permasalahan baru yang kembali menimpa.
Suara halus Rania mengalun mendominasi membuat keempat orang itu fokus padanya.
Ditambah dengan beberapa ide dari sang suami, serta ketiga orang terdekatnya semakin menguatkan rencana demi rencana yang terus tercetus.
...***...
Malam menjelang, Rania dan Jim-in tengah berada di dalam perjalanan pulang.
Selepas seharian berada di tempat Hana, keduanya pun berpisah dengan Seok Jin dan Zahra untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sepanjang perjalanan, Jim-in tidak henti-hentinya memandangi wajah cantik nan damai sang istri.
Rania yang tengah menyetir pun menyadari hal itu. Ia tersenyum lebar lalu melirik singkat sang pasangan hidup.
"Kalau Oppa melihatku seperti itu, nanti jatuh cinta terus," ucapnya mengejutkan.
Namun, Jim-in sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Ia malah semakin menatap lekat sang kekasih hati.
Ia sangat kagum atas apa yang dilakukan Rania.
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu bisa melakukan semua ini? Kenapa-"
"Karena sebagai seorang istri dan ibu, aku tidak bisa membiarkan siapa pun mengusik keluarga kita. Meskipun pada saat itu ingatanku hilang, tetapi aku ingin melindungi keluarga kami," ungkap Rania memotong perkataan suaminya.
Jim-in cengo, tidak percaya. "Kamu penuh kejutan, Sayang. Dari awal kita menikah sampai sekarang kamu tidak bisa ditebak, tetapi... aku bangga bisa memilikimu."
"Terima kasih," balas Rania singkat.
"Bisa kamu tepi kan mobilnya?" pinta Jim-in kemudian.
Rania pun menurut dan segera menepikan kendaraan roda empat di samping jalan.
Pasangan menikah itu saling berhadapan dan menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Jim-in memberikan tatapan hangat nan lembut. Ia menggenggam kedua tangannya erat dengan penuh rasa sayang.
"Aku sudah melanggar janji kita. Aku pikir... tidak akan pernah menyakitimu lagi, nyatanya... aku gagal. Aku tidak bisa-"
"Jangan berkata seperti itu, janji hanyalah tinggal janji. Apa pun yang diucapkan memang terkadang tidak sesuai harapan, tetapi yakinlah di balik itu semua ada hikmah yang bisa diambil. Oppa tahu, dengan adanya kejadian ini... aku bisa mengeksplor kemampuanku sendiri. Aku bisa bertemu orang baru, mengasah insting ku sendiri, dan melakukan hal baru... adalah hal menyenangkan."
Jim-in tidak kuasa membendung kebahagiaan dan langsung menarik istrinya ke dalam pelukan.
Ia membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepalanya dan mengusap punggung ramping itu pelan.
"Seharusnya aku yang melindungi mu, Sayang. Bukannya-"
"Tidak masalah siapa yang melindungi siapa, kita sudah menikah... jadi, jangan melakukannya sendirian. Kita berada dalam perahu yang sama, sudah seharusnya aku melakukan ini," jelas Rania membuat Jim-in terpaku.
Ia semakin mengeratkan pelukan dan berkali-kali lagi memberikan ciuman di sana, Rania pun membalasnya tak kalah kuat.
Jim-in dilingkupi keharuan yang kian marak dalam dada.