
Tidak ada manusia yang luput dari silap dan salah. Semua ada waktu untuk berubah serta memperbaiki diri dari kesalahan.
Tidak ada yang tahu di bumi mana kebahagiaan itu didapatkan. Jalani, syukuri, serta sabar adalah kunci untuk melewatinya tanpa pelik.
Selepas perseteruannya di kafe, Rania menenangkan diri di bangku taman. Ia teringat sebelum menyusul kedua wanita itu, dirinya di hadang oleh Hana.
Wanita itu memberikan sepasang earphone yang membuat dahi lebarnya mengerut dalam.
"Apa ini? Kenapa kamu memberikannya padaku?" tanya Rania penasaran.
"Pakai saja, nanti kamu akan tahu sendiri. Aku sudah mengikuti mereka dari kemarin-kemarin, dan... sepertinya kedua wanita itu akan memberimu pelajaran, cepat sana pergi," kata Hana menjelaskan dan buru-buru melangkahkan kaki dari hadapannya.
Mendengar penjelasan singkat itu pun membuat Rania sadar, jika tidak ada yang serba kebetulan.
Mi Kyong dan Ailee datang ke rumah sakit memang benar-benar ingin bertemu dengannya selepas melihat keadaan Jim-in.
Ia tidak tahu jika mereka masih memantau sang tuan muda, setelah kejadian tidak senonoh malam itu.
"Dasar wanita tidak tahu malu," gumam Rania pelan.
Disepanjang pembicaraan yang ketiganya lakukan, Rania diam-diam mendengarkan semua perkataan Hana.
Ia tercengang mendapatkan fakta mengejutkan mengenai keduanya. Ditengah-tengah menutup mata, Rania memikirkan cara untuk memberikan peringatan kepada kakak beradik sepupu Song.
Kejadian seperti tadi lah yang diberikan. Rania pun tidak menyangka bisa mendapatkan kelemahan mereka dalam sekejap mata.
Ia bisa bernapas lega setidaknya untuk sementara Mi Kyong tidak akan mengganggunya. Ia tidak tahu apa wanita itu akan datang lagi atau tidak, tetapi Rania yakin tadi sudah memberikan penjelasan telak.
"Aku harap wanita itu sadar untuk tidak mengganggu suami orang lagi," gumamnya menengadah ke langit cerah.
Di tempat berbeda, Zahra yang masih berada di dalam kafe pun menyaksikan semua itu dengan perasaan bangga.
Ia kembali melihat sisi lain Rania yang tidak pernah diperlihatkan pada siapa pun. Ia juga mendapati Mi Kyong dan Ailee keluar dengan perasaan emosi.
Ia berdecak kagum atas sikap Rania dalam menghadapi keduanya.
"Wah, dia benar-benar keren. Bagaimana bisa kamu mengetahuinya di sini?" tanya Zahra pada Hana yang tengah duduk berdampingan dengan pria tampan.
"Aku sudah membuntuti kedua wanita itu dan memberikan earphone pada Rania untuk memberitahu fakta mencengangkan dari Ailee dan Mi Kyong. Sebelum aku masuk ke kafe... aku bertemu dengan Seok Jin Seonsaengnim dan... melihatmu juga ada di sini," ungkap Hana membuat Zahra mengangguk mengerti.
"Eh, apa Seonsaengnim tahu Rania bertemu mereka?" tanyanya tersadar akan sesuatu.
Kim Seok Jin yang sedari tadi ada di kafe itu pun mengiyakan seraya membalas tatapannya.
"Iya aku melihatnya saat baru saja tiba dan tidak sengaja melihat Rania masuk ke sini. Sekelebat, aku juga melihat dua sosok yang tidak asing lagi. Karena penasaran aku mengikuti mereka dan bertemu Hana di pintu masuk lalu setelah itu bertemu denganmu," ungkap Seok Jin.
Zahra lagi dan lagi mengangguk mendengar penjelasan mereka.
"Kalau begitu kita harus segera bertemu Rania," ajaknya,
Keduanya pun setuju dan bergegas pergi dari sana.
...***...
Rania yang tengah menenangkan diri di bangku taman terkejut dengan kedatangan tiga orang bersamaan.
Kedua matanya terbelalak seolah akan diintrogasi. Tatapan mereka yang serius serta menatapnya lekat membuat Rania memandanginya bergantian.
"Wa-wae? Ada apa ini? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Rania gugup.
Zahra dan Hana pun langsung mendudukkan diri di kedua sisi Rania, membiarkannya berada di tengah-tengah.
Kepala berhijab itu menoleh ke sisi kanan dan kiri bergantian menuntut penjelasan.
"Aku senang kamu bisa menghadapi mereka dengan baik, Rania. Kamu benar-benar wanita yang hebat," kata Zahra memeluknya erat.
"Kamu bisa mengatasinya dengan baik, syukurlah. Aku harap mereka tidak mengganggu kehidupanmu lagi," lanjut Hana.
Belum sempat Seok Jin menyelesaikan ucapan, tiba-tiba saja ponsel di saku celana kerjanya bergetar. Buru-buru sang empunya merogoh dan mengeluarkannya.
Terpampang dengan jelas nama salah satu perawat yang menangani Jim-in di sana. Ketiga wanita itu pun memperhatikannya dalam diam.
"Iya, ada apa?" tanyanya to the point.
".........."
"Mwo? Be-benarkah?"
"........."
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Panggilan singkat itu pun berakhir, Seok Jin langsung memandangi Rania lagi membuat wanita itu mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Ada apa?" tanya Rania menyaksikan raut wajah sang dokter tak karuan.
"Jim-in, Rania... Jim-in..."
"Suamiku kenapa? Ada apa dengan suamiku?" tanya Rania khawatir.
"Tadi aku mendapatkan kabar dari perawat dan dia mengatakan... dia mengatakan Jim-in-"
"Cepat katakan ada apa?" sambar Hana tidak sabaran.
"Dia sudah sadar!" pekik Seok Jin membuat Rania terkejut bukan main.
Ia bangkit dari duduk dengan kedua manik melebar sempurna. Jantungnya pun bertalu tak karuan, dan tanpa ba bi bu lagi, Rania langsung berlari menuju lantai enam tempat suaminya berada.
Zahra dan Hana yang juga mendengar itu pun turut senang. Mereka membiarkan Rania menikmati waktunya sendiri dengan Jim-in.
Sepanjang kedua kakinya melangkah, Rania tidak henti-hentinya mengucap syukur dan tidak sabar ingin bertemu sang suami.
Tidak lama berselang lift yang membawanya terbuka, buru-buru ia keluar dan kembali berlarian di lorong.
Beberapa saat kemudian ia tiba di depan pintu masuk ruang VVIP pasangan hidup. Dadanya naik turun dengan napas memburu hebat.
Rania diam beberapa saat di sana menenangkan diri sendiri dan mempersiapkan mental untuk kembali bertemu dengannya.
Sedetik kemudian tangan kanannya terangkat dengan gemetaran, ia menyentuh handle pintu dan menggesernya perlahan.
Pemandangan yang ada di dalam seketika menghentikan degup jantungnya sesaat. Manik karamelnya kembali memandangi sang suami yang benar-benar sudah membuka mata.
Park Jim-in duduk bersandar di kepala ranjang dan mendengar seseorang membuka pintu. Dengan gerakan pelan ia menoleh ke samping kanan mendapati wanita berhijab mengenakan baju perawat.
Tatapan suami istri itu pun kembali bertubrukan. Rasa rindu yang selama ini melingkupi hatinya tidak bisa ditahan lagi.
Kristal bening pun meluncur cepat menandakan betapa lega dan bersyukurnya hati seorang istri. Rania pun masuk dan kembali menggeser pintu menutup ruangan.
Hening menyambut, hanya tatapan mata mereka saja yang saling berbicara. Rania benar-benar bahagia bisa melihat suaminya bangun dari koma.
Perasaannya campur aduk, antara senang, bahagia, haru, lega, menjadi satu. Ia ingin segera memeluk hangat tubuh lemah sang suami.
Kedua kakinya pun melangkah sedikit demi sedikit mendekati sang pujaan, sedangkan Jim-in sedari tadi terus memperhatikan Rania tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sampai tidak lama kemudian, Rania sudah berdiri tepat di samping ranjang. Pandangan mereka masih saling mengunci satu sama lain menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Bibir ranum Rania melengkung sempurna. Tangan kanannya kembali terangkat hendak mengusap puncak kepala sang suami.
Namun, gerakkan itu berhenti seketika kala mendengar ucapan yang meluncur deras dari bibir pucat Park Jim-in.
"Kamu siapa?"
Rania terbelalak lebar dengan jantung berdegup kencang.