VARSHA

VARSHA
Bagian 17




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Jam sudah menunjukan pukul lima pagi. Aroma vanilla yang menguar membuat netra Jim-in terbuka. Ia menolah ke samping kanan dan tidak mendapati siapa pun. Ia bangun dan seketika itu juga dirinya terkejut melihat sang istri tengah duduk di atas sejadah.


Kedua mata yang tertutup serta bibir kemerahannya terus berdzikir membuat Jim-in terpaku. Ia terdiam beberapa saat memperhatikan Rania. Bayangan beberapa hari ke belakang berputar dalam kepalanya. Jim-in tersadar jika selama ini orang yang sudah membantunya adalah wanita yang tidak pernah dianggapnya sebagai pendamping hidup.


"Ra-nia," panggilnya pelan. Rania yang mendengarnya membuka kelopak mata perlahan.


Kini pandangan mereka saling bertubrukan. Lengkungan bulan sabit hadir menambah kecantikan alami sang wanita. Jim-in tercengang dan mengalihkan perhatian ke arah lain.


Rania pun beranjak dan mendekati sang suaminya.


"Apa Tuan butuh sesuatu?"


Suara halus mengalun menendang indera pendengaran. Jim-in lagi-lagi membalas tatapan teduh Rania. Tidak ada kata yang terucap, bibirnya mengatup rapat hanya menyelami keindahan netra bulat waniat itu.


"Kenapa kamu sangat baik? Bahkan rela menyiapkan tempat tidur untuk Yuuna. Padahal kamu tahu wanita itu akan menjadi tunangan suamimu," ungkap Jim-in menggebu.


Hal tersebut membuat Rania tersenyum. Entah ada makna apa di balik itu semua. Hanya saja Jim-in tidak percaya. Wanita yang berkali-kali ia sakiti masih setia memberikan keceriaan. Jim-in tidak habis pikir, hati Rania terbuat dari apa?


"Tuan ingin tahu?"


Dengan polos Jim-in mengangguk singkat.


"Sejak kecil, ibuku selalu mengajarkan untuk berbuat baik pada siapa pun. Aku sebenarnya sering memikirkan hal itu. Apa aku harus berbuat baik pada orang yang sudah menyakitiku? Berkali-kali pertanyaan itu berputar dalam benak. Sampai, aku pun menemukan jawabannya. Sejahat apapun manusia Allah masih akan memaafkan. Bukankah Allah sangat baik? Jadi aku pikir Allah saja masih berbuat baik pada hamba-Nya yang bersalah, lantas siapa aku berbuat jahat pada orang yang sudah menyakitiku? Aku hanya hamba-Nya yang lemah. Dan aku juga menemukan jawaban lain, yaitu dalam surah Al- Isra ayat 7 yang artinya "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri." Bukankah sangat indah?" balas Rania panjang lebar. Jim-in terdiam meresapi kata-kata yang dilontarkan sang istri. Ia seperti tertampar dengan perkataan Rania barusan.


Berkali-kali dirinya mempermainkan bahkan menyakiti perasaan Rania. Namun, wanita itu masih mau memaafkan dan bersabar atas keangkuhannya.


Beruntung Jim-in dipertemukan dengan wanita seperti Rania. Berlapang dada, menerima kekuarangan dia apa adanya dan yang lebih penting Rania begitu sabar menghadapi sikapnya yang kadang keterlaluan. Tidak hanya darinya saja, bahkan dari sang ibu yang statusnya sudah menjadi mertua bagi Rania.


...Mang jaaa'a bil-hasanati fa lahuu'asyru amsaalihaa, wa mang jaaa'a bis-sayyi ati fa laa yujzaaa illaa mislahaa wa hum laa yuzhlamuun....


...Artinya : Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi). (Q.S Al-An'Am ayat 160)...


Rania percaya jika berbuat baik maka akan ada kebaikan yang tengah menunggunya di sana. Yang harus ia lakukan sekarang hanyalah bersabar dan menerima semua takdir dari Sang Penulis Kehidupan. Ia percaya tidak mungkin Allah memberikan cobaan dibatas kemampuannya. Ia yakin Allah bersamanya untuk melalui itu semua.


Melihat Jim-in terdiam dan menundukan kepala, Rania memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Kehangatan dan kelembutan tangan sang istri menjalar sampai kehati Tuan Muda tersebut. Ia pun kembali mendongak menatap dalam netra indahnya. Sorot mata hangat membuatnya terpaku. Lagi-lagi Rania memberikan pesona yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Aku melakukan semua ini.............karena aku istrimu."


Satu kalimat yang membuat Jim-in kembali merasa ditampar oleh tangan tak kasat mata. Sudah hampir delapan bulan perjalanan rumah tangganya bersama Rania, tapi baru hari ini ia sadar akan kedudukannya, sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga.


"Mian."


Satu kata maaf terucap dari bibir keriting Jim-in membuat Rania tersenyum.


Hari demi hari terlewat begitu cepat. Rasa penasaran menyeruak dalam dada begitu lekat. Rania tidak pernah menyangka suami yang selama ini tidak pernah memperhatikannya ataupun menganggapnya mulai berubah. Ada saja kejadian manis yang membuat senyum terbit di bibir ranum, Rania. Hal langka tersebut membuat perasaannya berkali-kali menghangat.


Jim-in terkadang memperlakukannya sangat lembut. Kata-kata pedas yang sering dilayangkannya hilang bak asap terbawa angin.


Jam sudah menunjukan pukul delapan tepat. Sudah waktunya bagi Tuan Muda itu untuk menikmati sarapan. Rania yang setiap saat menyiapkannya pun bergegas membawa makanan itu ke hadapannya.


Setelah meletakan kebutuhannya, pergerakan tangan Rania dicekal oleh sang suami. Sontak hal itu membuatnya menoleh dengan bola mata membesar.


"Tu-tuan."


"Temani aku makan di sini!" tegasnya. Terdengar nada perintah tidak ingin ditolak. Dengan ragu Rania pun mendudukan dirinya di kursi samping sang suami.


Kecanggungan terasa kentara, Rania hanya bisa tertunduk kaku. Tanpa ia ketahui saat ini Jim-in tengah mengalas makanan. Tidak lama sepiring nasi beserta lauk pauknya itu pun disodorkan ke hadapan Rania. Lagi-lagi wanita itu dibuat terkejut oleh suaminya sendiri.


"Makanlah, kita sarapan bersama."


Suara hangat mengalun mengantarkannya pada hari pernikahan mereka. Bayangan waktu itu berputar cepat.


Pertemuan pertama membuat Rania tertegun. Benarkah ia menikah dengan pria berkursi roda itu? Sesaat ia sempat kecewa melihat keadaan sang calon imam. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan tidak diharapkan itu pun datang. Hingga membuatnya memutuskan untuk menenatap dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk sang suami, Park Jim-in.


Hampir satu tahun usia pernikahan mereka, kata cinta maupun perhatian kasih sayang tidak pernah ditunjukan di sana. Entah ada angin apa saat ini kedua kata tabu tersebut dirasakan Rania datang dari sang suami.


Ingin sekali ia menangis mengucap syukur dengan perubahan sikap Jim-in terhadapnya.


"Ka-kamsahamnida."


Hanya itu yang bisa ia katakan. Senyum pun kembali bertengger di wajah tampan Jim-in dan hal tersebut tentu saja tidak baik untuk kebaikan jantung Rania.


Dalam diam mereka menikmati sarapannya bersama. Beberapa pelayan yang melihat mereka menyunggingkan senyum. Setidaknya Rania yang kini menyandang status sebagai nyonya muda di sana mulai diterima.


Sang Oh, pria kurus berumur itu pun terharu, senang tuan yang dari kecil sudah menjadi tanggungjawabnya menemukan sebuah harapan.


"Semoga Tuan Muda Jim-in bisa menyadari ketulusan Nona Muda."'Benaknya seraya memperhatikan mereka.


Dentingan jam terus berputar mengikuti poros. Aroma cendana menguar dalam ruang makan tersebut. Kehangatan sang surya menembus melewati jendela besar di sana. Semilir angin berbisik lirih mengenai kebahagiaan yang mengendap dalam jiwa.


Kesenangan semu memudar tat kala sepasang kaki jenjang menghentakan suara sepatu heelsnya di lantai marmer. Bibir merah merona merekah diperlihatkan pada setiap orang yang memandanginya. Rambut kecoklatan panjangnya berkibar mengikuti gerak tubuhnya.


Iris bening itu pun menatap pada pasangan suami istri di hadapannya. Seketika senyuman pun pudar. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Dia kembali memperlihatkan wajah cerianya.


"Selamat pagi semua." Sapanya cepat.


Rania yang masih menikmati sarapan pun tertegun kala mendengar sapaan itu. Kepalanya menoleh ke samping kiri melihat wanita cantik bernama Yuuna yang menjadi calon tunangan suaminya.


"Ya Allah ternyata kebahagiaan ini hanya semu semata."


Ia pun harus menelan pil pahit lagi.


...🌦️KETULUSAN🌦️...