VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 112



Pada akhirnya kisah akan menemukan titik tertentu. Selepas kemelut datang melanda memberikan berjuta kenangan berharga, nyatanya senyum kebahagiaan bisa didapatkan.


Tidak ada yang kekal abadi selagi masa terus berganti. Apa pun bisa datang dan pergi sebagaimana kala menentukan.


Hidup akan terus berjalan sebagaimana Allah masih memberikan napas. Selagi masih ada waktu berubah lah menjadi lebih baik, bukan untuk orang lain melainkan diri sendiri.


Bersikap lebih egois lah untuk mendapatkan kebahagiaan. Jangan pernah dengarkan apa kata orang, sebab mereka hanya bisa berkomentar tanpa merasakan. Karena perlu merasakan lebih dulu, baru bisa memahami.


Sudah hampir setengah tahun Rania bertugas sebagai perawat di rumah sakit besar ibu kota. Selama itu pula banyak pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.


Terlalu berharga dan tidak ternilai sebuah perjalanan yang telah dilalui. Darinya memberikan pelajaran berarti untuk lebih mengucap syukur atas kelimpahan nikmat yang Allah beri.


"Jadi, besok adalah ulang tahun putra kalian? Jauhar berusia lima tahun?" tanya Zahra berjalan di lorong berdampingan dengan sang sahabat.


Rania yang tengah memeluk map mengangguk singkat. Mereka baru saja selesai memeriksa pasien di lantai dua dan hendak menuju ruangannya berada.


"Itu benar, kami rencananya ingin mengadakan syukuran. Jangan lupa datang, yah bareng Seok Jin oppa juga," balasnya hangat.


"Baiklah, insyaAllah, aku akan datang dengan Seok Jin oppa," jawab Zahira lagi.


Rania melirik singkat dan mengembangkan senyum manis. Setelah itu keduanya di hadapkan pada sebuah peristiwa menggemparkan.


Banyak tenaga medis berlarian keluar gedung dan membawa masuk para pasien. Keadaan genting tersebut membuat Rania dan Zahra diam mematung.


Tidak lama berselang Nara datang dan menjelaskan situasi tersebut.


Ia mengatakan telah terjadi kecelakaan lalu lintas di mana para korban berdatangan ke rumah sakit selepas dijemput oleh ambulans.


Beberapa tenaga medis mendorong satu persatu berankar sang korban yang tergeletak penuh luka.


Rania dan Zahra yang melihat keadaan itu pun bergegas membantu. Ia meletakkan map di atas meja kasir lalu ikut mendorong ranjang beroda tadi ke ruang tindakan.


Di sana mereka bekerja sama dalam menangani pasien-pasien tersebut. Rania terus berjalan ke sana kemari membantu dokter yang mengerahkan tenaga terbaiknya.


Di tengah kebisingan terjadi di rumah sakit, ingatan Rania berputar ke beberapa tahun lalu. Di mana profesi perawat telah diidam-idamkannya sejak lama.


Ia ingin menjadi perawat agar bisa merawat ibu dan ayahnya ketika sakit serta, bisa membantu orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berobat.


Ia ingin berguna bagi siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Ia dengan ikhlas akan mengulurkan tangan dan sekuat tenaga membantu mereka.


Itulah cita-cita mulia seorang Rania Varsha Humaira. Namun, semua itu harus terhenti saat ia dijodohkan dengan pria arogan putra tunggal keluarga Park.


Tuan muda tak berperasaan memperlakukannya sebagai perawat pribadi dan semena-mena, tanpa memikirkan perasaannya.


Namun, tanpa ia tahu skenario Allah berjalan dengan sangat indah. Meskipun di dalamnya dilingkupi luka tak kasat mata, tetapi akan ada balasan dari setiap permasalahan.


Setelah tahun berganti ia akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita sebagai perawat, dan tidak hanya itu Rania pun mempunyai keluarga harmonis serta dicintai sebegitu dalam oleh pasangan hidupnya.


Di tengah aktivitas yang masih berjalan di ruangan, Rania mengucap rasa syukur yang tidak bisa dibendung.


Sebagai seorang hamba biasa yang tidak luput dari silap dan salah, Rania berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan dengan sebaik-baiknya.


Ia mendapatkan nikmat berupa kebahagiaan, buah dari kesabarannya selama ini.


"Ya Allah, terima kasih atas segala kenikmatan yang telah Engkau berikan. Alhamdulillah, hamba sangat bersyukur Kau sudah memberikan kebahagiaan kepada kami. Jagalah selalu di manapun kami berada, serta... jadikan hamba perawat yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain."


"Jika ada sedikit saja tinggi hati dalam benak hamba, maka ingatkan lah ya Allah. Rendah hatikan lah hamba dalam setiap keadaan apa pun," monolog Rania masih dengan melakukan tugasnya.


Ia terus merawat pasien demi pasien kecelakaan tanpa gentar. Ia juga berusaha melakukan yang terbaik agar mereka bisa sabar dalam menghadapi musibah.


...***...


Jauhar Sabrang Adnan kini memasuki usia ke lima tahun. Putra kedua dari pasangan Rania dan Jim-in tumbuh menjadi seorang anak luar biasa.


Ia sangat mandiri, penyayang, protektif terhadap ibunya, serta bersikap agak dingin. Wajahnya begitu tampan mirip sekali dengan sang ayah, bak pinang dibelah dua.


Satu persatu sanak saudara maupun tetangga sekitar berdatangan. Tidak lupa teman sebaya Jauhar pun turut di undang meramaikan syukuran tersebut.


Ia yang sudah masuk ke sekolah, senang bisa mendapatkan pengalaman luar biasa. Meskipun ia berbeda dari teman-temannya, Jauhar bangga dan senang jika hal itu tidak mengganggu dan mereka bisa berteman dengan baik.


Setelah semua orang hadir acara demi acara pun dilaksanakan, mulai dari pembacaan ayat sui Al Qur'an sampai doa-doa diberikan oleh tokoh agama setempat juga orang tuanya.


Tidak lama setelah itu acara dilanjutkan dengan makan-makan. Mereka semua berbaur satu sama lain menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah.


"Anak Mamah, putra kesayangan Mamah, jagoannya Mamah... barakallah fii umrik, Sayang. Mamah sangat menyayangimu," ucap Rania seraya menjulurkan hadiah padanya.


Jauhar berkaca-kaca menerima hadiah dari sang ibu lalu melemparkan diri, memeluknya erat. Rania terkesiap dan membalas pelukan putranya tak kalah kuat.


"Sudah besar, tapi masih cengeng. Apa kamu tidak malu?"


Suara lembut sang kakak mengejutkan, Jauhar melepaskan pelukan lalu menoleh ke belakang mendapati sang kakak tengah menikmati kue ulang tahunnya dengan lahap.


"Apa kamu bilang? Siapa yang kamu sebut-"


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar. Sayang... kakak, ini ulang tahun adikmu. Jangan seperti itu yah," potong Rania cepat.


Akila terkekeh pelan dan menjulurkan lidahnya singkat pada Jauhar.


"Aku hanya bercanda, selamat ulang tahun adikku yang tampan," balasnya lagi dan kembali menikmati kue bolu.


Jauhar terkesiap dan memeluk ibunya lagi. Ia sangat terharu mendapatkan hari besar yang dilewati bersama ayah, ibu, nenek, keluarga, serta teman-teman dekat.


Di balik punggung Rania, Jauhar tersenyum lebar.


"Sayang, sudah lepaskan Mamah." Jim-in datang berusaha melepaskan putra bungsunya dari pelukan sang istri.


"Tidak mau! Aku mau sama Mamah," kata Jauhar malah semakin melingkarkan kedua tangan di leher jenjang Rania.


"Sudahlah, hari ini biarkan dia bermanja padaku." Rania pun mengangkat Jauhar ke dalam gendongan dan membawanya menuju rekan-rekannya berada.


Jim-in menggeleng singkat seraya mengulas senyum kemudian menoleh ke belakang di mana putri pertamanya masih sibuk menikmati makanan.


"Jangan terlalu banyak makan makanan manis, Sayang." Ingatnya.


"Baik-baik, Appa tenang saja. Sana, awasi Mamah dan Jauhar," jawabnya acuh tak acuh.


Jim-in mengusap puncak kepala Akila sayang dan langsung melangkahkan kaki menyusul Rania.


Perawat itu tengah berbincang-bincang dengan Zahra dan Seok Jin. Mereka banyak membicarakan mengenai pesta ulang tahun juga keseharian.


Jim-in datang bergabung bersama mereka semakin menambah kemeriahan.


Di tengah kesenangan melingkupi, Rania dan Zahra yang hendak menikmati sepotong pun tiba-tiba saja merasa mual.


Keduanya membekap mulut masing-masing dan meletakkan garpu di atas piring kecil di meja. Jim-in dan Seok Jin saling pandang tidak tahu apa yang tengah terjadi.


Buru-buru mereka membawa istrinya ke kamar mandi dan sesampainya di sana kedua wanita itu memuntahkan cairan bening.


Seok Jin dan Jim-in kembali menatap satu sama lain berusaha berbicara lewat sorot mata masing-masing.