
Di saat Seok Jin mendorong sang ibu di kursi roda hendak mengantarnya pulang, di tengah perjalanan mereka bertemu pasangan harmonis di sana.
Mereka saling tatap dan menyapa satu sama lain seraya menanyakan apa yang terjadi.
Raina dan Jim-in yang baru saja keluar dari pintu lift terkejut melihat Seok Jin bersama ibunya dalam kondisi kurang menyenangkan.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi? Eomma kenapa bisa seperti ini?" Jim-in berjalan sedikit terburu-buru mendekatinya.
Ia bersimpuh di depan Arin seraya menggenggam tangan ibu dari sang kakak. Raina pun ikut mendekat ke belakang sang suami dan terkejut mendapati kondisi nyonya besar tersebut.
Mereka tidak menduga mendapatkan ibu dokter tampan di rumah sakit itu mengalami sebuah kemalangan.
Arin pun menjelaskan awal mula kejadian kurang beruntung secara berurut. Sampai pada akhirnya ia juga mengatakan sudah ditolong oleh salah satu perawat magang yang dengan tulus membantunya.
"Astaghfirullahaladzim, apa orang itu tidak melihat tanda di penyeberangan? Dasar, seenaknya saja melajukan motornya, dia pikir... itu jalan dia sendiri apa?" Jim-in mencak-mencak, emosi mendengar semua cerita Arin.
"Orang teledor dan seenaknya memang bisa merugikan orang lain," lanjut Rania.
"Kalian benar, tetapi syukurlah berkat bantuan perawat magang itu Eomma bisa langsung dibawa ke sini. Dia juga sudah meminta orang-orang untuk membawa pelaku ke kantor polisi," jelas Arin lagi.
"Syukurlah, nanti aku akan melihatnya langsung," kata Seok Jin diangguki yang lain.
"Sebenarnya, Rania juga menjadi perawat magang di sini. Kebetulan hari ini dia sedang libur, iya kan Sayang?" Jim-in menoleh ke belakang yang langsung dijawab anggukan oleh Rania.
"Itu benar, jadi siapa perawat magang yang Eomma katakan barusan? Siapa tahu akau mengenalnya," lanjut Rania.
Mendengar perkataan dari istri dari adiknya itu, Seok Jin tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ia malu jika sang ibu membuka siapa perawat yang sudah membantunya.
Namun, sebelum ia bisa memberikan kode pada Arin untuk jangan mengatakannya, nyonya besar itu lebih dulu menjawab rasa penasaran Rania dan Jim-in.
"Namanya Zahra, dia juga sama sepertimu Rania. Berhijab dan berasal dari Indonesia, apa jangan-jangan?"
"Ah, itu benar Eomma, Zahra Fazulna memang sahabatku sejak awal masuk kuliah. Dia bahkan sudah seperti saudariku sendiri," jelas Rania membuat Arin mendongakkan kepala memandangi putra semata wayangnya yang berada tepat di belakang.
Seok Jin berdehem pelan guna menetralisir kegugupan. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa malu sekaligus gelisah di waktu bersamaan. Ia juga tidak ingin membuat Zahra merasa terbebani atas apa yang terjadi.
Manik kecil sang dokter bergulir ke sembarang tempat menghindari dua pasang mata yang memindainya lekat.
"Benarkah? Wah, Eomma tidak menyangka ternyata kalian bersahabat? Rania, Jim-in bisakah kita bicara?" pinta Arin kemudian.
Pasangan suami istri itu saling pandang lalu setelahnya mengangguk bersamaan. Seketika perasaan Seok Jin semakin tak karuan. Ia tidak tahu apa yang hendak sang ibu sampaikan kepada dua orang terdekatnya.
Tidak lama kemudian mereka meninggalkan rumah sakit. Sore itu bersamaan dengan jadwal Park Jim-in sudah diperbolehkan pulang.
Pengobatan yang telah dilakukan berulang kali membuat kondisinya berangsur-angsur membaik. Seok Jin maupun dokter yang lain takjub atas perkembangan signifikan tuan muda Park.
Mereka membiarkannya pulang dan berobat jalan saja sampai benar-benar keadaannya pulih kembali. Mendapatkan berita menggembirakan tersebut membuat Jim-in sangat bahagia.
Ia bisa berkumpul bersama keluarga kecilnya lagi tanpa terhalang oleh alat-alat medis. Ia sudah sangat merindukan kedua buah hatinya ingin memeluk dan menghabiskan waktu seperti biasanya.
Beberapa menit berlalu, keempat orang itu pun meninggalkan rumah sakit bersama-sama dan menuju suatu tempat.
Di tempat berbeda, Zahra yang kembali melakukan tugasnya dikejutkan dengan kedatangan sang adik.
Di sana mereka duduk di sebuah bangku yang setiap kali ia gunakan untuk makan siang bersama sang sahabat.
Di tempat itu juga banyak sekali hal-hal menakjubkan terjadi. Mulai dari bercerita dengan Rania mengenai permasalahan keluarganya, mendengar ungkapan perasaan Kim Seok Jin, sampai perseteruannya dengan sang ayah, dan kali ini ia membawa adiknya untuk berbicara empat mata di sana juga.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zahra langsung.
Laluna terkesiap, melirik sekilas pada sang kakak lalu meremas kedua tangan mencoba menenangkan diri.
Ia teringat saat melihat isak tangis Zahra beberapa saat lalu. Ia ingin memeluk dan mengatakan jika kakaknya tidaklah sendirian.
Rasa sakit yang ditanggung Zahra, sepenuhnya bisa dirasakan oleh Laluna. Karena bagaimanapun juga ia menjadi saksi seperti apa perjuangan kakak pertamanya untuk membahagiakan dirinya, Zaitun, dan Adam.
"Ayah... dia datang ke sini untuk menemui, Teteh? Apa yang dikatakan-"
"Laluna, apa kamu mau tinggal bersama salah satu dari mereka?" potong Zahra cepat.
Laluna terbelalak melihat pada Zahra yang tengah menatap lurus ke depan. Wajah ayunya yang setiap kali memperlihatkan keceriaan kini nampak sendu.
Jejak air mata yang tadi mengalir di kedua pipi mengering, tetapi sepasang jelaganya tidak bisa membohongi jika ada isak tangis pernah terjadi.
"Aku tidak mau, Teh. Aku sudah cukup hidup seperti ini tanpa mereka. Ayah dan mamah... mereka sudah punya kehidupannya masing-masing, aku... aku tidak mau mengganggu kebahagiaannya. Juga, pasti sangat canggung berada di sekitar mereka," tutur Laluna membuat Zahra menatap padanya.
Bibir ranum itu melengkung penuh makna, serta ada guratan luka tersayat di baliknya.
Tangan Zahra terulur menggenggam jari jemari lentik adik perempuannya tersebut.
"Kamu benar, kita sudah terbiasa hidup tanpa mereka. Berada di sekitar ayah ataupun mamah sekarang, pasti hanya ada kecanggungan. Kita cukup bahagia bukan tanpa kehadiran mereka selama tujuh belas tahun?"
Laluna menganggukkan kepala beberapa kali. Seketika Zahra langsung memeluk tubuh ringkih nya erat dan mengusap punggungnya berkali-kali.
"Kamu jangan khawatir, yah. Teteh, akan berusaha keras untuk memberikan kehidupan yang layak bagi kalian. Kita tidak usah mengandalkan mereka, karena... ayah dan mamah sudah bahagia bersama keluarga barunya. Kita sudah sangat terbiasa hidup tanpa mereka," ujarnya menahan pengap dalam dada.
Laluna pun membalas pelukannya tak kalah erat sembari terisak pelan.
"Teteh, benar. Aku juga akan membantu agar Zaitun dan Adam tidak kehilangan kasih sayang. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi, dan... mereka tidak boleh tahu. Biarkan aku dan Teteh saja yang terluka."
"Aku tidak ingin melihat Zaitun dan Adam ikutan terluka juga. Mereka hanya boleh tahu jika ayah dan mamah bekerja di luar negeri saja," ujarnya membuat Zahra mengiyakan berkali-kali.
Ia tidak pernah tahu jika selama ini Laluna pun ikut menanggung beban yang sama. Sebagai kakak kedua bagi Zaitun dan Adam, ia memiliki peran hampir sama layaknya Zahra.
Ia tidak bisa membiarkan sang kakak berjuang seorang diri untuk memberikan kehidupan layak bagi mereka.
Diam-diam Laluna pun bekerja guna menstabilkan keuangan mereka. Ia juga meminta pada bibi Sabil merahasiakannya dari Zahra jika dirinya ikut memberikan dana untuk biaya mereka di sana.
Sabil yang hanya memikirkan harta dan harta hanya mengiyakan tanpa mempedulikan betapa keras kehidupan sang keponakan.
Sampai Laluna pun mendapatkan cukup uang untuk menyusul Zahra dan mendapatkan semua rahasia yang selama ini membuatnya penasaran.
"Teteh tenang saja, aku... tidak akan membiarkan Teteh kesusahan. Sudah waktunya Teteh bahagia," benaknya mengeratkan pelukan mereka.