VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 39



Masa akan terus berganti sebagaimana takdir telah menentukan. Iringan derai air mata yang kerap kali datang akan menghadirkan senyuman.


Apa pun yang terjadi, entah kesenangan ataupun kesedihan, keduanya telah menjadi jalan kehidupan.


Tidak ada yang perlu disesali, sebab darinya kadang kala mendatangkan pelajaran berharga.


Jangan mengucapkan selamat tinggal, jika masih ada perasaan tertinggal. Perbaiki semuanya dan temukan titik terang untuk mendapatkan jawaban terbaik.


Di tengah sepinya dini hari, suara lirih tangisan Park Jim-in mengalun di ruang inap sang istri. Rania memandang dalam diam menyaksikan betapa terpukulnya tuan muda Park.


Hati berbisik lirih jika perasaan terdalam ikut terpukul serta terluka menyaksikannya seperti itu. Namun, ego masih mengatakan untuk tidak terlalu percaya.


Ini pertama kali Rania melihat sang suami menangis tepat di depan matanya. Karena sejauh yang ia ingat tuan muda arogan itu selalu melayangkan kata-kata melukai hati.


"Kenapa? Kenapa Tuan menangis?"


Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi disimpan keluar jua. Jim-in buru-buru mengusap wajah berair nya lalu mendongak memandangi istri tercintanya lagi.


"Aku... menangisi diri sendiri yang sangat bodoh. Dulu, mungkin saat ini kamu tidak ingat... jika aku pernah menjanjikan harsha dan asha padamu, tetapi... tetapi, aku malah mengkhianatinya."


"Kebahagiaan serta harapan itu harus tertutup lagi... karena aku malah kembali memberikan varsha padaku. Hujan air mata kembali membayangi kita. Aku benar-benar suami yang gagal, Sayang," racaunya penuh penyesalan.


Ia menunduk lagi menyembunyikan rasa bersalah yang kian menghampiri. Rasanya malu harus berhadapan dengan seseorang yang ia beri harapan, tetapi nyatanya hanya mimpi semu semata.


Jim-in merunduk memberikan isak tangis terdengar lirih kedua kalinya. Ruangan bernuansa putih itu hanya dipenuhi dengan tangisan seorang suami.


Sedari tadi Rania terus memperhatikan sang pasangan hidup. Gelenyar dalam dada membentumkan degup jantung kian kencang.


Entah kebetulan atau tidak, sekelebat bayangan asing hinggap memenuhi ingatan. Rania menutup kedua mata rapat menahan sakit di belakang kepala.


Ia mencengkram selimut kuat berusaha meredamnya. Namun, memori demi memori asing itu semakin berdatangan tak karuan.


Jim-in yang menyadari ada sesuatu tidak beres pun mendongak dan terkejut menyaksikan keadaan istrinya sudah dipenuhi peluh.


"Sayang? Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Jim-in berulang kali.


Ia menangkup bahu Rania pelan seraya terus bertanya mengenai kondisinya sambil menggoyang-goyangkan nya pelan.


Sampai beberapa saat kemudian, rasa sakit itu berangsur-angsur mereda membuat Rania terdiam.


Tatapannya jatuh ke bawah memandangi siluet sang suami dan merasakan kedua tangan yang berada di tubuhnya sedikit bergetar.


Perlahan kepala berhijabnya menengadah hingga pandangan mereka kembali bertemu.


Jim-in terbelalak melihat betapa pucat wajah Rania. Ia langsung memeluknya erat dan menumpahkan air matanya lagi.


"Alhamdulillah, Sayang... kamu tidak kenapa-napa. Aku takut... aku tadi sangat takut. Apa sekarang kamu tidak merasa sakit lagi?" tanyanya menggebu-gebu.


Mendengar setiap rentetan kata yang dilayangkan suaminya, Rania terkesiap dan menikmati sentuhan lembut dilayangkannya.


Ia merasa benar-benar dijaga dan begitu berharga. Jauh berbeda pada dibandingkan hari-hari lalu.


"Bagaimana... bagaimana Tuan tahu jika saya kesakitan?" tanya balik Rania lemah.


"Tentu saja aku tahu." Jim-in melepaskan pelukan dan menangkup lengannya lagi. "Karena aku memahami keadaanmu, Sayang."


"Aku bisa merasakan setiap hal yang terjadi padamu. Meskipun aku tahu... aku terlalu bodoh untuk-"


Secepat kilat Rania menghentikan ucapannya dengan meletakkan jari telunjuk di mulut menawan Jim-in.


Sang empunya terkejut bukan main, manik kecilnya lagi-lagi melebar sempurna.


"Bukankah Tuan pernah menawarkan pada saya untuk membantu mengembalikan ingatan? Apakah tawaran itu masih berlaku?" tanya Rania kemudian.


Lagi dan lagi Jim-in terkejut, ia diam beberapa saat tidak langsung menjawab pertanyaannya.


Sampai tidak lama berselang Jim-in mengangguk antusias seraya melepaskan jari telunjuk Rania dan menggenggamnya erat.


"Em, dari mana kita memulainya yah?" ucapnya lirih, bola mata itu bergulir ke sana kemari mencari sesuatu.


"Bagaimana kalau kita memulainya dari awal?" tanya Rania lagi.


Jim-in menarik kesadarannya dan memandang lekat pada sang istri.


"Em, kamu benar. Kita harus memulainya dari awal," kata Jim-in setuju.


Ia memeluk istrinya balik meletakkan dagu di atas puncak kepalanya. Hal itu membuat sebelah telinga Rania tepat berada di dada bidang pasangan hidupnya.


Ia mendengar dengan seksama bagaimana halusnya degup jantung sang suami yang sangat dirinya rindukan.


Ia benar-benar sadar jika selama bersikap dingin kerinduan itu kian mendorongnya untuk menyentuh sang suami. Namun, ia takut Jim-in memberikan ucapan menyakitkan lagi.


"Rasanya... tidak asing. Aku merindukan suara ini, ya Allah, nyaman sekali," gumamnya dalam benak dan tanpa sadar kedua mata tertutup rapat.


Jim-in sedikit menoleh pada Rania dan mendapati istrinya sudah tertidur, tenang. Bibir menawannya melengkung lalu memberikan kecupan hangat nan dalam di sana.


Ia senang setidaknya Rania masih menerimanya sebagai suami. Ia tidak tahu jika sampai ditolak lagi, mungkin Jim-in akan terus menyalahkan diri sendiri.


...***...


Seperti yang sudah disepakati dini hari tadi, setelah pagi menjelang dan matahari telah duduk di singgasananya dua insan pun pergi dari rumah sakit.


Seok Jin yang mengetahui itu awalnya menolak, mengatakan jika kondisi Rania belum stabil. Namun, di saat Jim-in menjelaskan alasannya sang dokter pun mengizinkan.


Seok Jin berharap dengan Jim-in membawa Rania ke tempat-tempat yang pernah mereka singgahi, ingatan itu bisa kembali.


Sepanjang jalan Rania terus memandangi jalanan asing, tetapi seolah pernah di datangi.


Jim-in yang melihat diamnya sang istri pun mengulas senyum. Ia bisa merasakan gundah gulana perasaan Rania, memang tidak mudah membangun kembali ingatan di saat kenangan masa lalu hilang begitu saja.


Namun, Jim-in sudah bertekad dan berjanji untuk tetap membawa Rania ke semua tempat guna membangkitkan ingatan itu.


Tidak lama berselang, mobil mewah sang tuan muda menepi di bangunan sederhana yang letaknya jauh dari pusat kota.


Melihat rumah tepat di depannya, manik jelaga Rania melebar sempurna. Ia menoleh ke samping perlahan-lahan menuntut penjelasan sang suami.


"Kamu mau masuk?" tanyanya kemudian.


"Ke-kenapa Tuan membawa saya ke sini?" tanya Rania tidak percaya.


Jim-in menggenggam kedua tangan sang istri dan mengecup punggungnya pelan. Ia menatap sepasang jelaga di sampingnya penuh kasih sayang.


"Karena banyak kenangan yang terjadi di sini. Kamu mau masuk?" tanyanya sekali lagi.


Tanpa mengatakan apa pun Rania mengangguk mengiyakan, Jim-in keluar dari mobil lalu mengitarinya dan membuka pintu samping sang istri.


Ia membawa Rania keluar dan memapahnya masuk ke dalam rumah depan mereka.


Diperlakukan sangat hangat nan lembut oleh pria yang telah memperlakukannya dengan kasar membuat Rania tidak percaya.


Ia menahan rasa terkejut itu dalam diam dan terus mengikuti ke mana Jim-in membawanya pergi.


Sedari tadi banyak sekali pertanyaan yang berseliweran dalam benak, tetapi Rania lebih memendamnya terlebih dahulu.


Ia pun berkali-kali memandang ke sisi kanan di mana Jim-in tengah merangkulnya hangat. Aroma maskulin yang dulu begitu ia sukai kembali merebak ke indera penciuman.


"Aku tidak pernah tahu jika Tuan muda arogan ini bisa bersikap manis juga. Apa dulu dia memang sudah memperlakukanku dengan sangat baik? Kenapa tidak ada satu kenangan saja yang aku ingat?" benaknya terus meracau.


Ingatan tentang sikap baik sang suami menghilang menyisakan masa lalu, di mana sifat arogannya masih diperlihatkan.


Rania bagaikan tersesat dalam pikirannya sendiri.