VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 105



Jim-in mematung di tempatnya berdiri, tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Tepat di depan kedua matanya sendiri, ia menyaksikan sang istri tengah bersenda gurau bersama salah satu pasien.


Ini pertama kali Jim-in mendapati istrinya berbincang-bincang hangat bersama pria lain. Ada gejolak tidak nyaman dalam dada membuatnya mengepalkan tangan.


Pria itu bukanlah orang asing lagi baginya, sosok menawan tersebut adalah seseorang yang selama ini menjadi penerima dana dari perusahaan Park untuk kebaikannya.


Ia tidak pernah menduga akan mendapatkan hari di mana istrinya bisa bercanda dan tertawa penuh riang gembira bersama pria selain Kim Seok Jin.


Ketidakpercayaannya itu pun tidak sampai di sana saja, bahkan Rania tanpa gentar menyuapi pasien pria tersebut dengan telaten.


Sontak hal tersebut benar-benar mengejutkannya. Ia tidak bisa melihat istrinya akrab bersama pria manapun selain dirinya, meskipun tugas Rania sebagai perawat.


"Oh, Tuan Park? Anda datang berkunjung?" tanya Jae Hwa menyadari ada orang lain di ambang pintu.


Jim-in terkesiap dan langsung berjalan mendekat. Rania pun berbalik melihat sang suami tengah melangkahkan kaki ke arahnya.


Ia juga mendapati ada pria lain lagi berjalan di belakang Jim-in. Pria berkacamata itu sudah tidak asing dalam pandangan.


Rania tahu sosok tempo hari yang dirinya temui di lorong adalah manager Jung Jae Hwa.


"Oppa! Sedang apa Oppa di sini?" Rania bangkit dari duduk menghadap suaminya, senang.


"Oppa?" tanya Jae Hwa tidak percaya mendengar Rania memanggil sponsornya seperti itu dengan riang gembira.


"Ah, Tuan Park Jim-in adalah suami sah dari Rania. Perawat yang sedang menangani Anda selama ini," jelas manager Kang Yohan.


"Mwo? Su-suami?" Jae Hwa tidak percaya, terkejut setengah mati mendengar penjelasan managernya.


Rania kembali berbalik menghadapnya dan mengembangkan senyum manis.


"Itu benar, Tuan. Park Jim-in adalah suami sah saya, kami sudah menikah selama hampir sepuluh tahun," ungkapnya lagi kembali berbicara formal.


Jae Hwa menjatuhkan rahangnya tidak menduga jika orang yang selama ini menyuntikan dana ke setiap pertandingan sudah menjadi seorang suami.


Ia hanya tahu pewaris keluarga Park adalah orang dermawan senang membantu siapa saja. Ia juga tidak tertarik dengan kehidupan pribadi Park Jim-in.


Namun, setelah keadaannya seperti ini, Jae Hwa benar-benar tidak menduga. Terlebih wanita yang sudah menarik perhatiannya merupakan istri dari tuan sponsor.


"Ah, jadi begitu? Maaf, aku tidak tahu," jawabnya singkat.


"Em, tidak apa-apa. Saya-"


"Ikut aku!"


Belum sempat Rania menyelesaikan ucapannya, Jim-in tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan meninggalkan ruangan.


Jae Hwa dan Yohan menatap kepergian mereka, bingung. Namun, satu hal yang dapat ditangkap mereka, yaitu Park Jim-in sedang cemburu.


...***...


Jim-in membawa Rania ke ruangan kosong dan mengunci diri di sana. Ia mendorong sang istri ke tembok dengan menekan kedua bahunya.


Sorot mata nyalang dengan napas memburu menyapu permukaan kulit sang kekasih hati. Rania mengerti apa yang tengah terjadi pada suaminya.


Ia tersenyum sekilas melihat aura kelam Jim-in yang memberikan tatapan nyalang.


"Mwo? Wae? Apa ada yang salah, Oppa?" tanya Rania mencoba bermain-main.


"Kenapa? Kenapa kamu menyuapi pria lain tepat di depan mataku, hah? Juga... kenapa kamu harus tersenyum manis padanya?"


"Apa kamu tahu dia-"


Sekarang giliran Rania menghentikan ucapan suaminya dengan langsung menyambar benda kenyal kemerahan yang terus berceloteh tanpa henti.


Jim-in melebarkan pandangan, terkejut bukan main merasakan sengatan bak listrik menjalar ke seluruh tubuh.


Ia menyaksikan wajah cantik Rania dari jarak yang sangat dekat, kedua maniknya menutup rapat masih memberikan permainan melenakan.


Kurang lebih lima menit kemudian, pasangan suami istri itu pun saling menjauhkan wajah masing-masing. Jejak saliva di bibir keduanya tersimpan apik dengan napas memburu.


Rania mengangkat kedua lengannya mengukung kepala bundar sang suami.


"Apa Oppa cemburu? Cemburu pada pasien kecelakaan itu atau... Jung Jae Hwa, seorang pembalap yang selama ini Oppa sponsori?" Rania mengembangkan senyum tepat di depan wajah menawan sang suami.


Jim-in melebarkan manik kecilnya, sadar jika Rania sudah tahu apa yang dilakukannya di belakang sana.


"Apa... apa kamu-"


"Iya aku sudah mencari tahu siapa itu Jung Jae Hwa. Ah~ penemuanku tentang pembalap profesional tersebut merembet ke mana-mana. Sampai, siapa saja orang yang sudah mensponsorinya dan... salah satunya kamu Oppa," potong Rania cepat.


Jim-in membeku, lidahnya kelu, kata-kata yang ingin dicetuskan tercekat di tenggorokan. Seolah ada sesuatu yang menghalanginya di sana, membuat ia gagu.


"A-aku... aku tidak-"


Kembali Rania melayangkan ciuman singkat di bibirnya. Kedua sudut mulut itu melebar sempurna memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Jangan mengatakan apa pun, aku tahu selama ini Oppa sudah menjadi donatur, sponsor, dan sebagai pemberi dana ke beberapa tempat. Aku bangga padamu, Yeobo," ungkap Rania senang, lalu menggesek-gesekkan hidung keduanya.


Jim-in terkesiap, sang istri sudah tahu semuanya tentang rahasia yang selama ini disembunyikan.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Hanya saja... biarkanlah semuanya seperti ini," racau nya.


Rania mengangguk mengerti, lalu mengusap pelipis pasangan hidupnya lembut. Ia menggenggam kepala sang suami erat dan menundukkan nya lalu memberikan kecupan di sana.


"Aku bangga padamu... aku sangat bahagia mendapatkan suami dermawan sepertimu, Sayang."


"Untuk itu, bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Rania membuat Jim-in mengerutkan kening.


"Apa? Apa yang kamu inginkan?" tanyanya balik.


"Izinkan aku untuk... membuka topeng siapa Jung Jae Won sebenarnya!"


"MWO?" Jim-in melepaskan rangkulan di pinggang ramping Rania begitu saja.


Ia mengusap wajah kasar dan membuang muka ke sisi lain tidak ingin bertatapan dengan istrinya lagi.


"Hei, Sayang... lihat aku." Rania menggenggam kedua tangan suaminya erat.


Sang empunya pun kembali padanya, menyaksikan lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik itu.


"Apa Oppa percaya padaku? Ani, jangan percaya padaku!"


"Baiklah, begini! Apa Oppa tahu berapa banyak keluarga yang kelaparan di negara ini? Oppa bekerja keras untuk memberikan bantuan dana pada mereka, tetapi... itu belum tentu cukup menutupi kebutuhan mereka setiap hari."


"Banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan, bahkan... tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali. Apa Oppa tahu kenapa itu bisa terjadi?"


Jim-in hanya menggeleng singkat.


"Karena ada pemimpin serakah di negara ini yang bekerja sama dengan beberapa politikus untuk memakan uang rakyat. Apa Oppa mau membiarkannya begitu saja? Ini bukan demi kepentinganku sendiri, tetapi... bagi menyelamatkan banyak keluarga di luaran sana," tegas Rania, yakin penuh dengan tekad.


Jim-in tercengang, dirinya tidak pernah tahu jika banyak orang di luaran sana merasakan kelaparan dan sulit mengais rezeki.


Selama ini ia hanya memberikan sumbangan dan sumbangan tanpa tahu ke mana sang penyalur memberikannya. Ia terkejut saat sang istri lebih tahu apa kebutuhan mereka ketimbang dirinya yang setiap saat menerima laporan.


Secepat kilat ia kembali memeluk Rania erat, terharu atas penemuan baru istrinya.


"Baiklah... aku izinkan kamu melakukan itu, tetapi... libatkan aku juga di dalamnya. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, Sayang. Karena masalah ini melibatkan banyak pihak berwenang," tuturnya.


Mendapatkan jawaban yang menggembirakan, Rania pun membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia mengucapkan terima kasih dan setuju pada pernyataan sang suami.


Mulai hari ini keduanya akan melakukan sebuah misi guna mensejahterakan semua orang.