
Begitulah masa bekerja memberikan takdir pada setiap orang. Baik maupun buruk sudah mempunyai porsinya masing-masing.
Masa lalu memang tinggallah cerita, tetapi memberikan memori yang tidak pernah bisa dihapus sampai kapan pun.
Kenangan masa itu akan tetap ada bahkan membekas dalam ingatan. Sekuat apa pun memudarkannya jika bayangan tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa dihapuskan, maka selamanya bisa bertahan.
Sama halnya yang kini sedang Rania alami. Kehilangan separuh ingatan membuat dirinya seolah hidup di masa lalu.
Masa di mana sosok Jim-in masih bersikap arogan dan memperlakukannya seenaknya. Pikiran untuk meninggalkan sang pasangan hidup pun sempat terlintas dalam bayang.
Namun, entah kenapa sisi lain dirinya mencegah hal itu.
Setelah tiga hari mendekam di rumah sakit, keadaan Rania pun berangsur-angsur pulih. Hanya saja ingatannya masih sama seperti kemarin.
Jim-in pun tidak pernah berhenti berikhtiar untuk memberikan yang terbaik bagi istrinya. Ia selalu ada di samping Rania tidak peduli jika sang terkasih masih bersikap dingin.
Karena bagi Jim-in sosok Rania saat ini bukanlah dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Seok Jin yang baru saja selesai melakukan operasi pun berjalan di lorong.
Ia bertemu Jim-in yang hendak ke ruangan Rania. Mereka saling sapa dan berhenti di tengah-tengah.
"Hyung, kebetulan sekali. Apa hari ini Hyung sibuk?" tanyanya.
Seok Jin yang mendapatkan pertanyaan itu pun menautkan kedua alis. "Ani, wae?" tanyanya balik.
"Bisakah aku minta tolong?" pintanya.
"Wae?"
"Hari ini di sekolah Akila sedang ada acara pertemuan orang tua. Mereka-"
"Mwo? Bagaimana bisa di hari penting seperti ini kamu tidak pergi? Ah, maaf aku lupa. Baiklah kalau begitu aku akan menggantikan mu pergi ke sana, sekarang cepat pergi ke ruangan Rania," cerocosnya membuat Jim-in mengangguk-anggukan kepala seraya melepaskan jas dokter.
"Kalau begitu terima kasih banyak, Hyung," balasnya seraya berjalan meninggalkan Seok Jin.
Di ruangan VVIP itu, Rania tengah berbicara dengan Zahra.
Wanita itu tidak menyangka mendengar kabar jika sahabatnya masuk ke ruang operasi.
Setelah mendengar kabar menggeparkan tersebut ia bergegas menuju tempat Rania di rawat. Di sana ia membicarakan banyak hal seputar kuliah dulu.
Rania senang, setidaknya sekarang ia mempunyai sahabat yang menyenangkan.
Di tengah asiknya mengobrol, tiba-tiba saja pintu ruang inap tersebut digeser seseorang. Kedua wanita itu menoleh ke arah sama mendapati Jim-in di sana.
"Ah, karena pangeran mu sudah datang, aku pergi dulu yah Rania. Cepat sembuh, nanti aku datang lagi." Zahra bangkit dari kursi tunggu mempersilakan Jim-in menempatinya.
Sang pengusaha pun mengucapkan terima kasih sudah mau menemani istrinya.
"Tidak usah sungkan, Tuan. Aku juga sahabat Rania," balasnya, Jim-in hanya mengulas senyum seraya mengangguk singkat.
Zahra pun kembali pamit pergi dan membiarkan kedua sejoli itu bersama.
...***...
Selepas menutup pintu, Zahra berjalan ke lantai satu untuk pulang ke rumah, bersiap melakukan magangnya nanti malam.
Tidak lama kemudian lift yang dinaikinya pun terbuka, Zahra berjalan keluar dan menyapa beberapa rekan kerja di sana.
Sampai ia pun tiba di depan gedung rumah sakit. Baru saja kakinya melangkah hendak mencegat taksi, dari arah belakang sebuah klakson mobil mengejutkan.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah." Zahra terperanjat, terkejut bukan main.
Ia kembali terkejut saat melihat dokter senior di rumah sakit keluar dari sana sembari mengembangkan senyum.
Zahra hampir tersedak ludahnya sendiri melihat ciptaan Allah satu ini.
"Astaghfirullah, Seok Jin seonsengnim, Anda membuat saya terkejut," jelas Zahra menghela napas pelan.
"Ah, aku minta maaf. Kebetulan kita bertemu di sini, tadinya aku tidak tahu harus mengajak siapa, tetapi... setelah melihat kamu keluar dari rumah sakit aku langsung terpikir untuk mengajakmu," ungkap Seok Jin membuat Zahra semakin tidak mengerti.
"Huh, maksud Anda?"
Seok Jin pun menjelaskan jika dirinya harus ke sekolah Akila. Karena Jim-in perlu mengurusi Raina, maka orang tua itu tidak bisa pergi ke sekolah anaknya.
Seok Jin juga mengatakan jika kedua anak mereka tidak tahu mengenai kondisi sang ibu. Selama ini Jim-in mengatakan kalau Rania sedang tugas di rumah sakit untuk waktu yang lama.
Akila maupun Jauhar pun mengerti dan tidak lagi menanyakan keberadaan sang ibu.
Mendengar penuturan itu, Zahra termenung beberapa saat. Ia ikut iba mengetahui keadaan kedua buah hati sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu saya akan ikut." Finalnya lalu berjalan menuju kursi penumpang.
Tidak lama kemudian mereka pun bergegas menuju sekolah Akila berada.
Di sekolah dasar, Akila sedari tadi terus memandang ke arah pintu belakang. Ia cemas sekaligus takut jika orang tuanya tidak datang berkunjung.
Pasalnya ini pertemuan orang tua pertama di tahun kedua ia bersekolah dasar. Ia ingin membuat ayah dan ibunya terkesan.
Namun, sampai detik ini pun batang hidung orang tuanya tak kunjung datang, sedangkan satu persatu ayah dan ibu dari teman-temannya terus berdatangan.
"Apa eomma dan appa tidak akan datang? Semalam aku sudah memberitahu appa untuk ke sekolah," racaunya celingak-celinguk ke sekitaran.
Sampai tidak lama berselang, sosok pria jangkung mengenakan mantel hitam dan seorang wanita berhijab senada dengan gamis cokelat susunya pun memasuki kelas.
Akila menautkan alis, heran melihatnya ada di sana.
"Kenapa Paman Seok Jin dan Tante Zahra datang ke kelas? Apa mereka punya anak?" gumamnya bimbang.
Seok Jin dan Zahra pun melambai pada Akila seraya berkata tanpa suara mereka menggantikan sang ayah.
Mengetahui hal itu Akila pun berbalik menghadap ke depan dengan wajah penuh kekecewaan.
Belum sempat Akila bertanya kenapa, seorang guru wanita memasuki kelas. Ia menyambut kedatangan para orang tua dan dibalas antusias oleh mereka.
"Saya tahu Akila pasti kecewa. Karena bukan orang tuanya yang datang," bisik Zahra pada pria di sebelah.
"Aku juga tahu, tapi mau bagaimana lagi keadaan ibunya sedang tidak baik-baik saja, dan hal itu... bisa memperburuk keadaan," balas Seok Jin lirih.
Zahra mengangguk setuju dan ikut merasa kasihan pada Akila.
Hari itu pun mereka bertugas sebagai orang tua pengganti bagi buah hati Rania dan Jim-in. Keduanya nampak senang bisa bercengkrama bersama Akila.
Anak berusia delapan tahun tersebut pun menyembunyikan kesedihan dalam diam. Ia melihat ke sekitar di mana teman sekelas yang lain didampingi orang tua kandungnya masing-masing.
Namun, hanya ia saja yang mendapatkan pendamping orang lain. Ia menyembunyikan kesedihan lewat senyum ceria yang kerap kali diberikan.
Ia berusaha terlihat baik-baik saja dan mengikuti kegiatan sekolah dengan baik. Ia mengubur kesedihan itu dengan melakukan tugas dari sang guru.
Ia tidak ingin memperlihatkan jika dirinya sedang sedih pada teman-teman. Ia tidak mau menjadi bahan ejekan dari mereka yang tempo hari pernah dirinya dapatkan. Karena berbeda dengan teman-teman sekelasnya.
Namun, hal itu tidak mengganggunya, sebab Akila berpegang teguh pada keyakinan yang ia anut, tetapi sekarang permasalahannya berbeda.