VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 28



Tiga hari kemudian, Rania pun mendapatkan libur sebagai perawat magang. Ia menghabiskan waktu seharian bersama buah hatinya guna membangun ingatan yang terkubur.


Selama itu pula Rania selalu memantau sang suami dalam diam. Ia menyuruh seseorang untuk mengikuti setiap gerak-geriknya.


Orang yang ia sewa setiap waktu selalu memberikan informasi di mana, serta dengan siapa suaminya bertemu dan berada.


Fakta mencengangkan pun diberikan Hana, seorang wanita yang Rania pekerjakan guna mengikuti suaminya.


Ia memberikan sebuah foto yang kembali memperlihatkan Jim-in dengan sahabatnya, Mi Kyong. Mereka kedapatan tengah makan siang bersama di salah satu restoran mewah.


Tidak hanya itu saja, Hana pun memberitahukan jika Jim-in dan Mi Kyong nanti malam akan pergi bersama ke sebuah pesta.


Pegangan pada ponsel pun menguat seiring berita demi berita masuk ke dalam benda pintarnya.


"Mma, Eomma, Eomma!" Panggil AKila.


Rania tersentak dan sadar dari lamunan memandangi kedua buah hatinya bergantian.


Akila dan Jauhar yang sedang bermain bersama Rania di ruang keluarga pun sedari tadi menatapnya penuh tanya.


Menyadari jika gelagatnya mengundang rasa penasaran, Rania melebarkan senyum menutupi gundah gulana hatinya.


"Iya ada apa, Sayang?" tanya Rania sembari mengusap puncak kepala putra-putrinya.


"Eomma wae?" tanya Jauhar dengan suara imutnya.


Rania pun gemas dan langsung mencubit pelan pipi berisinya.


"Eomma gwenchana. Wae?" tanya Rania balik.


"Dari tadi Eomma melamun, ada apa?" Kini giliran Akila yang bertanya.


Raina menggulirkan bola mata ke arah putri sulungnya. Ia sadar Akila seorang anak yang sangat peka terhadap sesuatu, terutama menyangkut dirinya.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Eomma hanya lelah," balasnya dusta.


"Kalau begitu Eomma istirahat saja, biar aku menjaga Jauhar. Lagi pula banyak ahjumma di sini," lanjut Akila penuh perhatian seraya memandang sekitar di mana para pelayan berseliweran sedari tadi.


Mendengar itu Rania mengulas senyum lebar dan kembali mengusap puncak kepalanya.


"Sungguh, Eomma baik-baik saja. Eomma ingin menemani kalian bermain. Karena selama ini Eomma sibuk dengan magang dan sekolah, jadi... izinkan di hari libur Eomma menghabiskan waktu bersama kalian," ujarnya membuat kedua manik buah hatinya melebar.


"Jinjja?" tanya Jauhar antusias.


Rania mengangguk-anggukan kepala seraya memperlihatkan kembali bulan sabit sempurnanya.


"YYeeee, akhirnya kita bisa bermain bersama Eomma." Teriak Akila bangkit dari duduk dan berjingkrak-jingkrak heboh.


Melihat kakaknya seperti itu, Jauhar pun melakukan hal sama. Rania tertawa ringan menyaksikan kelakuan kedua buah hatinya.


Perasaan gamang pun seketika menguap berganti kelegaan. Setidaknya bersama mereka, luka di hatinya terasa terobati.


...***...


Jam setengah enam sore Jim-in pulang ke rumah. Sebelumnya, ia meminta pada Rania untuk menyiapkan pakaian dari desainer terkenal.


Rania yang masih mengingat desainer mana langganan keluarga Park pun langsung tertuju pada sebuah kemeja hitam dengan celana senada tergantung di dalam lemari.


Ruangan khusus pakaian itu memperlihatkan deretan baju sang suami dari yang formal sampai yang santai berjejer rapih di sana.


Rania terkejut kala mendapati tata letaknya sedikit berubah. Ia berdiri di tengah-tengah lemari di kedua sisi dengan kepala berhijabnya mendongak ke sana sini.


"Wah, apa aku yang mengerjakannya? Kapan? Aku tidak ingat sama sekali, tunggu... bukankah dari dulu aku juga sudah melakukan pekerjaan ini?" Rania menghela napas kasar dan memandangi dirinya lewat pantulan kaca lemari besar tersebut.


"Aku masih sama saja, istri yang tidak diinginkan," gumamnya tersenyum getir.


Rania pun langsung membawa pakaian tadi dan menyambar mantel berwarna army keluar dari lemari.


"Assalamu'alaikum, aku pulang," sapanya.


"Wa'alaikumsalam," balas Rania yang menyibukkan diri membereskan barang-barang di sekitar kamar.


"Waw, pilihan yang bagus. Kamu memiliki selera yang sangat bagus, Sayang," celoteh Jim-in membuka satu persatu kancing kemeja kerjanya.


Rania yang menyadari pergerakan itu pun terpaku saat kulit dada pasangan hidupnya mulai terekspos.


Tubuh atletisnya membuat rona merah merambat di pipi Rania. Ia membalikkan badan berusaha menghindari pemandangan tersebut.


Jim-in menyadari perubahan sang istri tersenyum lebar. Ia langsung melepaskan kemeja itu cepat dan berjalan menuju kekasih hatinya lalu memeluknya dari belakang.


Seketika raksi yang menyebar dalam tubuh Jim-in menyapa indera penciuman. Degup jantung Rania semakin berdetak kencang tak karuan.


Jim-in lagi-lagi menyadari perubahan sang istri melengkungkan sudut bibirnya, jahil.


"Sayang, apa kamu malu?" tanyanya to the point.


"A-apa yang kamu katakan?" tanya balik Rania gugup.


Jim-in terkekeh pelan semakin mengeratkan pelukan dan memberikan kecupan berkali-kali di puncak kepalanya seraya menutup mata menikmati aroma menenangkan sang istri.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar minta maaf," lanjut Jim-in.


Rania terpaku menyadari satu hal mendengar kata maaf keluar dari mulut suaminya.


"Maaf? Untuk apa?" tanyanya kembali.


Jim-in membuka mata lagi memandang lurus ke depan lalu menunduk menyaksikan kepala berhijab di bawahnya.


"Maaf... karena malam ini aku harus menghadiri pesta dan pulangnya mungkin sedikit malam," ungkapnya kemudian.


"Em, pergilah," kata Rania seraya melepaskan kedua lengan kekar melilit di perut ratanya.


Ia pun melangkahkan kaki menuju nakas memasukan barang-barang yang sudah dibereskan.


Jim-in bergumam em sebagai jawaban dan berjalan ke kamar mandi.


Mendengar pintu tertutup, Rania menghela napas kasar dan duduk bersandar pada ranjang. Ia mendongak memandangi langit-langit kamar yang menjadi saksi bagaimana perjalanan rumah tangganya selama ini.


"Maaf untuk bersama wanita lain... lagi?" lirihnya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Jim-in pun telah kembali pergi sejak beberapa menit lalu.


Rania yang masih terjaga mendapatkan informasi lain dari Hana jika suaminya menghadiri pesta bersama wanita itu di sebuah hotel mewah pusat kota.


"Jika kamu mau datang, aku bisa menemanimu. Datanglah ke alamat ini," itulah pesan yang terakhir Hana berikan.


Tanpa pikir panjang Rania langsung menyambar mantel dan tas selempang nya keluar kamar.


Selepas menitipkan kedua buah hatinya kepada para pelayan, Rania bergegas pergi membawa salah satu mobil sang suami.


Sepanjang jalan dadanya bergemuruh menahan segala perasaan menerpa. Sekuat tenaga ia mencengkram kuat stir mobil menyalurkan kekesalan.


Rania tahu seharusnya ia tidak boleh pergi ke tempat itu yang hanya menyuguhkan kepiluan, tetapi dirinya harus datang untuk memastikan satu hal.


Kata cinta yang kerap kali suaminya dengungkan terus berkeliaran. Rasa percaya yang hanya ada lima belas persen pun perlahan terkikis.


Di jalanan ibu kota, Rania terus melajukan kendaraannya membelah angin malam. Perasaannya semakin tak karuan saat mendapati pesan dari Hana jika sang suami nampak serasi dengan wanita asing itu.


Seketika ia menghentikan laju mobilnya ke samping jalan membuka foto yang dikirimkan Hana.


"Lihat, bukankah mereka serasi sekali?" kata Hana di bawah foto sang suami yang tengah berdiri berdampingan dengan Mi Kyong.


Rania semakin tertawa getir melihat potret demi potret dalam ponselnya.