
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Bersama dengan angin musim dingin yang berhembus, kedua pria itu tengah duduk berdampingan di taman rumah sakit. Orang-orang hilir mudik menjadi backround pertemuan mereka. Sudah lama rasanya Jim-in tidak bersinggungan dengan dokter ini. Terlebih saat pemikiran negatif hinggap dalam kepalanya. Ia sudah tidak mempercayainya lagi.
Ia diam menunggu apa yang hendak disampaikan sang dokter. Namun, sampai detik ini pun Kim Seok Jin belum juga bersuara. Sampai,
"Rania sangat mencintaimu. Diawal kehamilannya dia begitu bahagia dan sangat antusias untuk memberitahumu. Aku melihat ketulusan dalam matanya. Sedalam itu dia mencintaimu. Bahkan dari sejak pertama kali bertemu dengannya aku sudah melihat hal itu. Kamu tidak menyadarinya? Hahaha aku sempat ingin tertawa saat kamu mengatakan Rania menuyuruh mengurus pria lain. Dan itu dituduhkan padaku? Aku sempat berpikir, 'dari mana datangnya Park Jim-in yang bodoh ini.'" Jeda sejenak Seok Jin mengangguk-anggukan kepalanya. "Sampai aku sadar jika ternyata kamu juga sangat mencintainya. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Yang jelas hubungan pernikahan ini layak untuk di pertahankan."
Perkataan panjang Kim Seok Jin tepat mengenai ulu hatinya. Jim-in tersadarkan atas perbuatannya yang tidak mendasar. Tuduhan yang dilayangkan pada sang istri pun kembali berputar. Ternyata Rania begitu mencintainya. Tidak ada sedikit pun niatan wanita itu untuk berpaling darinya. Rania wanita setia, jujur, ramah, baik dan juga sabar.
Apa yang sudah ia berikan? Hanya luka dan luka. Varsha tidak pernah berhenti mengalir dikedua pipinya.
Hening melingkupi. Jim-in menundukan kepala dalam memikirkan kebodohannya sendiri. Seok Jin menoleh melihat betapa terpuruknya pria itu. Ia pun menepuk pundaknya pelan mencoba menyalurkan kekuatan.
"Aku bodoh sudah menuduhnya yang tidak-tidak. Bahkan aku tidak mengakui darah dagingku sendiri." Ciictnya menahan isak tangis. Seok Jin tersentak kaget dengan apa yang didengarnya barusan. "Rania sudah pergi satu bulan lalu. Selama itu aku mencarinya dan tidak mendapatkan petunjuk apapun. " Lanjutnya lagi.
Seok Jin mendapatkan jawaban dari mana asalnya kekecauan sang CEO ini. Ternyata kelakuannya sudah terlampau jauh. "Sudahlah yang lalu biarkan berlalu. Jika memang waktunya tiba kalian pasti bisa bertemu kembali dan memperbaiki semuanya."
Jim-in mengangguk lemah dan keheningan kembali melanda. Seok Jin membiarkannya larut dalam lamunan. Semilir angin dingin berhembus serasa menampar pipi. Satu persatu benda putih dari langit berjatuhan membekukan dirinya.
"Apa hyung tahu di mana Rania berada?" tanyanya putus asa.
Seok Jin menolehkan kepalanya menatap depan. Ekspresi diwajahnya tidak terbaca dengan bibir terkatup rapat. Ia diam tidak ada maksud untuk menjawabnya membuat pertanyaan itu mengambang dalam bayang.
...🌦️🌦️🌦️...
Sudah satu minggu berlalu sejak pertemuannya dengan mantan dokter pribadinya di rumah sakit, kini Park Jim-in memulai kembali pencarian. Bahkan sang ibu pun ikut andil di dalamnya. Nyonya Besar itu tidak ingin kehilangan menantu sebaik Rania yang kini tengah mengandung penerus keluarga Park.
Di tengah kepanikan dan kekalutan mereka, dokter Kim Seok Jin saat ini bersama kuda besinya pergi menuju satu tempat. Ia meninggalkan ibu kota melintas cakrawala hendak mengunjungi seseorang. Butuh berjam-jam baginya menempuh perjalanan darat. Berbagai persiapan sudah dilakukannya. Ia pun berangkat pagi sekali menghindari kemacetan.
Diam-diam Raja Siang menampakan diri di balik awan mendung. Jalanan sedikit licin karena semalam salju kembali turun. Seok Jin pun perlu berhati-hati membawa kendaraannya melaju.
Saat jam menunjukan pukul 10 tepat, mobilnya pun menepi di salah satu rumah sederhana yang terletak di sudut kota Busan. Banyak sekali jenis bunga tumbuh subur di pekarangan. Bangunan bercat biru muda itu terlihat estetis di antara gemuruhnya ombak laut.
Tidak lama berselang seorang wanita berhijab yang tengah berbadan dua pun keluar. Senyum mengembang tat kala netranya beradu tatap dengan iris kecoklatan milik Kim Seok Jin.
"Sudah berkali-kali aku katakan, Anda tidak perlu kemari Kim Seok Jin-ssi." Celotehnya seraya membantu membawa barang-barang pria itu.
"Eyy, dari mana datangnya sikap formal itu. Sudah ku katakan berkali-kali juga bersikap biasalah. Kamu sudah ku anggap seperti adik sendiri. Meskipun adik tidak tahu diriku itu sangat tidak tahu diuntung." Cerocosnya sambil berjalan memasuki kediaman tersebut.
Dengan keheningan tercipta masakan demi masakan pun dibuat. Hingga beberapa jam kemudian meja makan pun tidak lagi kosong. Kedua insan berbeda gender itu duduk bersebrangan menikmati makanannya.
"Aku harus sering datang kemari untuk melihat perkembanganmu." Ucap Seok Jin memecah keheningan.
"Tidak perlu, aku sudah banyak merepotkanmu oppa."
"Bagaimana jika kamu melahirkan tidak ada orang lain di sini? Usia kandunganmu sudah memasuki 9 bulan, bukan? Hah~ aku tidak menyangka kamu nekad pergi dimasa kehamilan ini." Lanjutnya lagi mengingatkan hari di mana ia pergi.
Wanita berusia hampir memasuki 24 tahun itu pun terdiam. Ia ingat saat taksi yang membawanya pergi hampir bertabrakan dengan kendaraan lain. Adu mulut pun tercipta di jalan bebas hambatan tersebut. Beruntung Kim Seok Jin melintas di sana dan menemukan kejadian tersebut. Hingga akhirnya ia pun menetap di kota Busan meninggalkan ibu kota berkat bantuan dokter tampan itu.
"Aku banyak berhutang budi padamu, oppa. Sungguh, aku tidak apa-apa. Dan lagi tidak baik jika oppa sering datang ke sini. Apa kata orang-orang di sini nanti? Dan lagi kasihan So Young. Tunangan oppa tidak boleh ditinggalkan." Jawabnya kemudian.
Senyum pun mengembang diwajah tampan Seok Jin. Setiap kali ia datang wanita itu selalu saja mengingatkannya mengenai Lee So Young tunangannya satu bulan lalu.
"Tenang saja dia tahu. Tadinya juga aku ke sini bersama dia, tapi So Young ada keperluan mendadak." Sang lawan bicara pun hanya mengangguk-anggukan kepala.
Hening melanda, hanya terdengar deru ombak saling bersahutan di depan rumah. Diam-diam Seok Jin memperhatikan sosok di hadapannya ini. Masih ada gurat kesedihan yang tertinggal diwajah ayunya. Ia tahu apa yang sudah terjadi dalam kehidupannya. Seok Jin tidak mau ikut campur terlalu dalam.
Namun, jika didiamkan seperti ini terus apa akan baik bagi keduanya? Pikrinya berkecambuk. Ia pun mencoba kembali buka suara. Dan saat perkataannya meluncur ekspresi wanita itu berubah dingin. Tidak ada senyum membayangi dirinya. Datar. Seakan ada dua jiwa menempati satu raga.
"Apa kamu masih mencintai Jim-in, Rania?" pertanyaan kelewat serius itu membekukan Rania.
Wanita yang tengah berbadan dua itu menghentikan santapannya dan terus menatap ke bawah. Seperti pertanyaan Seok Jin mengandung racun mematikan.
Hanya dentingan jam yang terus berputar menemani keduanya. Sampai, Seok Jin pun memutuskan untuk kembali. Dan pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban apapun.
Rania menatap kepergian mobil mewah itu di pekarangan rumah. Sorot matanya menyilatkan ketegasan. "Bisakah dia mengembalikan senyumanku?" batinnya.
Saat ia hendak berbalik masuk ke dalam tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. "Aw, Ya Allah sakit sekali." Bisiknya. Seketika itu juga netranya melebar kala melihat cairan mengalir di kedua kakinya.
Kim Seok Jin yang baru beberapa meter menjalankan kendaraannya tersadar saat benda pintarnya tidak ada dalam saku celana. Ia pun menepikan mobil lalu mencarinya. Namun, tidak ada satu pun tempat yang terselip ponselnya tersebut.
"Apa mungkin tertinggal di sana? Aiishhh, cerobohnya." Dumelnya. Ia pun kembali membanting stir ke tempat semula.
Beberapa saat kemudian ia pun tiba. Netranya terbelalak saat melihat Rania tengah meringis kesakitan di depan pintu masuk.
"Rania." Panggilnya panik.
"Oppa. Se....sepertinya aku akan melahirkan." Jelasnya kemudian.
"Mwo. Tunggu sebentar aku akan panggil bantuan." Jawab Seok Jin lalu mencari warga sekitar. Beruntung ia segera menemukan dua ibu yang tengah berjalan-jalan di trotoar.
Mereka pun bergegas membawa Rania ke rumah sakit terdekat.
...🌦️KEBENARAN🌦️...