
Begitulah jika takdir sudah berbicara, apa pun bisa terjadi dan terlaksana. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang mustahil menjadi nyata.
Kejutan yang tidak terduga menghampiri dua pasangan di sana mengantarkan pada kebahagiaan tiada tara.
Setelah memuntahkan isi perut, para suami membawa istri-istrinya ke rumah sakit. Pesta yang masih berjalan pun dititipkan sepenuhnya pada Park Gyeoung.
Kebetulan nenek dua cucu tersebut tidak mempunyai pekerjaan apa pun dan sudah kembali ke tanah air beberapa bulan lalu fokus kepada Akila serta Jauhar.
Ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama keluarga dengan damai.
Mendapati Rania dan Zahra muntah-muntah nyonya besar itu sangat khawatir, Gyeong pun memerintahkan kedua pria itu membawanya ke rumah sakit.
Di sinilah mereka berada, sebuah ruangan bernuansa putih lengkap dengan sedikit aroma disinfektan.
Rania dan Zahra duduk berdampingan serta Jim-in maupun Seok Jin berdiri di belakang masing-masing pasangan hidupnya.
Dokter yang tadi sudah memeriksa kedua wanita itu datang seraya mengembangkan senyum. Di tangannya tersemat dua buah surat memperlihatkan kondisi mereka.
Wanita bername tag Lee Yeoun itu pun duduk di kursi kebesarannya seraya memandangi keempat orang di hadapannya bergantian.
Mendapatkan tatapan seperti itu mereka cemas bukan main, terutama Rania dan Zahra. Keduanya takut sesuatu telah terjadi.
"Seok Jin Seonsaengnim, apa Anda belum pernah memeriksa wanita yang sedang mengandung?"
Pertanyaan dari rekan sesama dokter mengejutkan Kim Seok Jin. Dahi tegasnya mengerut dalam masih tidak mengerti apa yang hendak di sampaikan Lee Yeoun barusan.
Menyaksikan ketegangan dari rekan kerjanya membuat dokter kandungan itu terkekeh pelan. Seraya membuka kedua surat tadi ia beralih kepada dua wanita yang duduk berhadapan dengannya.
Senyum yang masih tersemat di wajah cantiknya membuat Rania dan Zahra ikut bertanya-tanya. Apa sesuatu telah terjadi? Pikir mereka semakin cemas.
Tidak lama berselang, Yeoun yang dalam tenang membaca hasil pemeriksaan dari mereka mengangkat kepala lagi. Iris beningnya berbinar-binar, ikut senang dengan apa yang menimpa kedua wanita itu.
"Selamat yah, kalian berdua positif hamil," ungkapnya kemudian.
Seketika itu juga mereka melebarkan pandangan, kompak. Rania dan Zahra menoleh ke belakang menatap sang suami yang juga tengah melihat ke arahnya.
Baik Jim-in maupun Seok Jin langsung memeluk pasangan hidupnya erat. Mereka tidak menduga mendengar kabar baik secara bersamaan.
Kejutan tak terduga itu datang memberikan kebahagiaan lagi dan lagi.
"Apa kalian janji-an mempunyai anak bersama? Bagaimana mungkin usia kandung istri-istri kalian juga sama? Perawat Rania dan Zahra tengah mengandung dan usia janin berada di tiga minggu," jelas Yeoun lagi seraya membalikan surat pemeriksaan tadi.
Di sana Rania, Jim-in, Zahra, maupun Seok Jin membaca dengan seksama apa yang tertuang di dalamnya.
Mereka juga tidak menduga jika kejadian mengejutkan itu bisa datang secara bersamaan. Keempatnya lalu tertawa kaku sekaligus senang atas apa yang menimpa.
Dokter kandungan tersebut hanya menggelengkan kepala dan kembali ikut senang melihat antusiasnya kedua pasangan di hadapannya.
...***...
Selesai pemeriksaan, Jim-in, Rania, Zahra, dan Seok Jin berada dalam perjalanan pulang. Tidak ada siapa pun yang berbicara, mereka masih terkesima dengan pemberitaan mengenai kehamilan.
Di waktu yang sama Jim-in dan Seok Jin mendapatkan berita membahagiakan. Tidak pernah Rania serta Zahra bayangkan akan hamil secara bersamaan.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Kita tidak janji-an apa pun, kan?" tanya Rania memulai pembicaraan.
Zahra dan Seok Jin yang berada di jok belakang memandanginya lekat.
"Inilah yang namanya keajaiban bukan? Allah memberikan kejutan luar biasa bagi hamba-Nya. **M**aa syaa Allah, bukankah sangat mengejutkan?" timpal Seok Jin dijawab anggukan ketiganya.
"Hyung, benar. Maa syaa Allah, Sayang... kita akan mempunyai anak ketiga." Jim-in berteriak heboh, senang bisa menambah momongan.
Ia menggenggam tangan sang istri erat seraya menyetir dan Rania menoleh sekilas lalu mengembangkan senyum hangat.
"Benar, kita memang tidak pernah tahu apa yang Allah rencanakan. Kejadian ini adalah bukti bagaimana Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya," kata Rania lagi.
"Kita harus sama-sama menjaga kandungan ini dengan baik," jawab sahabatnya mendapatkan anggukan dari Zahra.
Mereka berempat senang bukan main menerima anugerah terindah, tak ternilai dari Allah.
Selepas kejadian-kejadian menimpa kemarin, baik Rania, Jim-in, Zahra, maupun Seok Jin mendapatkan balasan luar biasa.
Allah menghadirkan sang buah hati sebagai pelepas kepelikkan yang sempat meradang.
Malam menjelang, acara syukuran ulang tahun Jauhar telah selesai. Keluarga kecil Park tengah bercengkrama di ruang santai.
Mereka banyak membicarakan hal-hal seru yang mengundang gelak tawa. Sambil membuka kado-kado dari teman maupun para tamu undangan yang lain, Jauhar ikut menimpali kebersamaan ayah, ibu, serta kakaknya.
Di tengah kehangatan tercipta, Rania menggerakkan tangan ke saku mantel dan mengeluarkan surat hasil pemeriksaan tadi siang.
"Akila, Jauhar... Mamah punya sesuatu untuk kalian," ucapnya mengundang atensi.
Kedua buah hatinya pun menoleh pada sang ibu, kompak memperlihatkan sorot mata penuh tanya.
"Apa itu Mah?" tanya Akila mewakili.
Rania membuka surat tadi, layaknya memberikan pengampunan besar.
"Kalian akan mendapatkan adik... apa Akila dan Jauhar senang?" tanya Rania tersenyum lebar.
"Saat ini Mamah sedang mengandung," lanjut Jim-in mengusap puncak kepala mereka bergantian.
Akila dan Jauhar diam beberapa saat. Keduanya saling pandang masih dengan membungkam mulut rapat.
Menyaksikan respon buah hatinya seperti itu Rania mengerucutkan bibir. Ia berpikir mungkin Akila dan Jauhar tidak menginginkan seorang adik.
"Apa kalian tidak ingin adik baru? Apa-"
Rania terkejut bukan main saat kedua buah hatinya langsung melemparkan diri memeluknya erat. Bola mata bulannya melebar sempurna dengan jantung bertalu kencang.
"Sa-Sayang." Panggil Rania kemudian.
"Kami senang, sungguh aku senang bisa mendapatkan adik baru," kata Akila kemudian.
"Begitu pula denganku, Mah. Aku senang... sangat senang bisa mendapatkan kado terindah, terima kasih," lanjut Jauhar.
Rania terkesiap, diam beberapa saat sebelum menjawab pernyataan kedua malaikat kecilnya. Air mata pun berjatuhan tak tertahankan dan membalas pelukan mereka tak kalah erat.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak."
Hanya itu yang bisa Rania ucapkan, lega keberadaan calon buah hati ketiganya diterima dengan sangat baik oleh kedua kakaknya.
Melihat kebersamaan istri dan putra-putrinya, Jim-in pun mendekat lalu membawa mereka bertiga ke dalam pelukan.
Ia senang kehidupannya sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi isak tangis akibat luka tak kasat mata datang mengadang.
Keluarga harmonis yang dirinya maupun Rania idamkan kini terwujud sudah. Mereka mempunyai kehidupan sendiri dan membangun keluarga idaman bersama-sama.
"Appa menyayangi kalian," kata Jim-in tulus dari dasar hati paling dalam.
Mereka sama-sama saling memberikan kehangatan dari udara malam yang cukup dingin. Hanya bersama keluarga kebahagiaan tiada tara itu tercipta.
Kesusahan, kelelahan, maupun rasa sakit dalam bentuk apa pun seketika memudar berganti senyum. Lega sudah perasaan Rania maupun Jim-in kehidupannya sudah jauh lebih baik.
Mereka bisa mendapatkan balasan atas apa yang pernah terjadi. Kini hanya ada air mata kebahagiaan yang terus menghampiri.
Kilas balik hanya menjadi cikal bakal pelajaran berharga itu bisa didapatkan. Masa lalu memang tidak bisa dihapuskan begitu saja, tetapi masih ada esok hari untuk memperbaiki semuanya.
Jalani dan syukuri apa yang terjadi. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bersabar menjadi satu kunci paling kuat guna menghadapi setiap permasalahan.