VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 73



Mengukir cerita di atas luka menganga hanya mendatangkan air mata. Kisah akan terus berlanjut sebagaimana skenario Allah berjalan.


Tidak ada yang serba kebetulan, semua telah menjadi takdir Allah. Apa pun yang terjadi, sekuat bagaimanapun ujian menimpa, sebab Allah percaya hamba itu mampu menjalaninya.


Suara mesin kendaraan kembali berlalu lalang menemani setiap langkah pejalan kaki. Salah satunya Zahra yang hendak datang lagi ke rumah sakit.


Ia berpikir lebih baik terus bekerja daripada harus pulang ke apartemen yang hanya menambah ingatan menyakitkan itu saja.


Kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki dari kafe, Zahra tiba di gedung kesehatan tersebut. Kepala berhijabnya mendongak ke atas melihat langit cerah sore ini.


Senja hadir, tetapi kecantikannya sama sekali tidak memberikan kebahagiaan apa pun. Ia hanya bisa tersenyum getir atas apa yang terjadi.


Baru saja kakinya hendak melangkah, tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar bentuman keras. Zahra terkejut lalu menoleh ke arah sumber bunyi dan terkejut melihat seseorang terduduk di atas apal.


Zahra lalu bergegas mendekati wanita paruh baya itu yang sedang memberikan peringatan kepada pengguna jalan lain.


"Apa kamu tidak melihat tanda di atas? Itu menunjukkan bagi pejalan kaki menyeberang jalan, bagaimana bisa kamu seenaknya menerobos peringatan itu? Dasar, apa kamu-"


"Nyonya apa Anda baik-baik saja?" Zahra datang dan memotong ucapan wanita bersanggul rapih itu cepat.


Wanita yang menjadi korban serempetan motor pun mendongak memandangi wajah cantik Zahra di sampingnya.


"Sepertinya kaki saya terkilir, bisakah kamu membawa saya ke rumah sakit?" pintanya menoleh sekilas ke belakang punggung Zahra.


Wanita itu pun langsung mengangguk dan meminta orang-orang di sekitar untuk membantu.


"Ah, tunggu sebentar! Bisakah ada orang yang membawa pria ini ke kantor polisi? Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Zahra pada beberapa pria yang langsung diangguki oleh mereka.


Tidak lama setelah itu Zahra membawa nyonya tadi ke dalam rumah sakit.


Sesampainya di sana, para petugas medis pun terkejut kala melihat Zahra kembali datang.


Namun, pemikiran itu segera ditepis saat Zahra meminta bantuan, mereka pun langsung memindahkannya ke atas berankar dan membawa sang nyonya ke tempat penanganan.


Zahra yang tahu kejadian sebenarnya juga ikut menangani wanita paruh baya tersebut. Ia terlihat begitu cekatan dalam membalut luka-luka ringan di kedua kaki dan juga tangannya.


"Apa kamu perawat di rumah sakit ini?" tanya korban kecelakaan tersebut.


Di sana tinggallah Zahra dan ia seorang membuatnya leluasa bertanya banyak hal.


Zahra yang masih memberikan kasa di salah satu kakinya pun mendongak sekilas.


"Iya Nyonya, saya perawat magang di sini," jelas Zahra jujur sembari mengulas senyum lembut.


"Benarkah? Apa kamu anak magang baru? Em, sepertinya saya pernah melihatmu sebelumnya," racaunya lagi dan lagi, memandang ke atas langit-langit memikirkan banyak hal.


Zahra hanya mengulas senyum lagi lalu bangkit dari duduk dan membereskan peralatan medis.


"Ah, benar! Kamu wanita muda yang pernah saya tabrak di pintu masuk beberapa hari lalu, kan?" tunjuknya menarik atensi Zahra yang langsung menatap padanya.


"Benar! Kamu wanita muda itu, terima kasih sudah menolong saya," ucapnya antusias.


"Sama-sama, Nyonya. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu," balas Zahra ramah.


"Saya kebetulan ingin bertemu anak saya yang bekerja di sini, tetapi kamu lihat tadi? Jalanan macet sekali kalau sore hari, makanya saya langsung turun di tengah jalan dan menyebrang, siapa yang menyangka kejadian seperti ini terjadi?" racaunya kembali.


"Owh, saya tidak tahu nasib sial terjadi hari ini," lanjutnya.


"Anda harus lebih berhati-hati, Nyonya. Meskipun sedang macet dan kendaraan tidak bergerak sama sekali, tetapi yang namanya di jalan raya... pasti ada saja penggunanya yang tidak memperhatikan sekitar," ujar Zahra lagi sepenuhnya memandangi sang pasien.


"Iya kamu benar juga, saya tidak berhati-hati. Oh iya, siapa namamu? Apa kamu bukan dari negara ini? Bahasa Korea mu bagus sekali," pujinya.


"Saya Zahra Fazulna dari Indonesia, saya datang ke sini untuk belajar," jelasnya mendapati anggukan dari wanita di hadapannya.


"Saya Kim Arin. Saya-"


"Eomma."


Belum sempat Arin menyelesaikan ucapannya, dari arah depan panggilan keras sekaligus khawatir menghentikannya.


Kedua wanita terpaut usia cukup jauh itu pun menoleh ke arah yang sama. Di sana mereka mendapati dokter tampan yang tengah mengenakan pakaian santainya datang.


Zahra terbelalak melihat Kim Seok Jin memanggil wanita yang menjadi pasiennya hari ini dengan sebutan eomma.


"Eomma? Apa beliau ini ibu Kim Seok Jin? Benar, marganya sama... dan juga wajahnya sangat mirip," benak Zahra memperhatikan kedua orang di hadapannya.


"Pantas saja waktu itu aku berpikir nyonya ini tidak asing, ternyata-" lanjutnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Eomma sampai masuk ke rumah sakit? Aku mendapatkan panggilan dari salah satu rekan kerja, kalau-" Seok Jin menghentikan perkataannya secepat kilat kala menyadari ada orang lain di sana.


Ia menoleh ke samping kiri mendapati Zahra tengah menenteng nampan stainless berisi alat-alat medis bekas pengobatan Kim Arin juga sedang memandanginya.


"Zahra?" Panggil Seok Jin menautkan kedua alis.


"Ah, kalau begitu saya permisi. Semoga lekas sembuh, Nyonya." Zahra melarikan diri dari sana selepas menganggukkan kepala sekilas pada Arin.


Sedari tadi, wanita berumur hampir kepala enam itu memandangi tatapan buah hatinya. Ia melipat tangan di depan dada memperhatikan Seok Jin yang masih enggan berpaling dari satu sosok terus menjauh.


Sampai deheman sang ibu kembali membuatnya sadar.


"Zahra... kamu kenal wanita itu?" tanya Arin membuat bola mata anak semata wayangnya bergulir ke berbagai arah.


"Jika kamu sudah bersikap seperti ini, itu berarti... ada sesuatu yang disembunyikan, benar?" tanya Arin tegas.


"Ani, dari mana datangnya pemikiran itu?" dusta Kim Seok Jin.


"Lihat Eomma dan katakan lagi jika benar tidak ada yang kamu sembunyikan," kata Arin lagi membuat dokter tampan itu mau tidak mau mengikuti suruhannya.


Sedetik kemudian bibir ranum Arin melebar sempurna. Lipatan tangannya meregang lalu terulur menggenggam hangat jari jemari sang buah hati.


"Eomma, tahu apa yang sedang kamu rasakan. Kamu pikir siapa yang sedang kamu bohongi ini? Aku ibumu, wanita yang sudah mengandung mu sembilan bulan, melahirkan mu, menyusui mu selama dua tahun, dan membesarkan mu sampai sekarang."


"Kamu tahu? Ikatan ibu dan anak saling tersambung satu sama lain. Jadi, Seok Jin, kamu adalah putra satu-satunya Eomma yang sangat... Eomma sayangi."


"Eomma ingin melihatmu bahagia, akhirnya kamu bisa melupakan Bo Mi, kan? Wanita itu sudah mengkhianatimu. Zahra, dia adalah wanita yang bisa menggantikannya, bukan?" kata Arin terus menerus membuat Seok Jin terpaku.


Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sang ibu. Karena itulah ia tidak bisa menolak ataupun membantah keinginan Arin, termasuk perjodohannya dengan Song Ailee.


Ia juga masih belum bisa mengatakan sebenarnya siapa wanita itu. Ia takut mengecewakan sang ibu dan membuatnya terluka.


Selama ini hanya sang ibu yang memahami dan memberikan semangat di saat dirinya terpuruk akan cinta. Sekarang di kala ia hendak membuka hati lagi, Arin lebih dulu mengetahuinya.


"Aku benar-benar minta maaf, Eomma," kata Seok Jin lirih.


"Bodoh, siapa yang menyuruhmu minta maaf. Sini." Arin menarik kedua tangan putra satu-satunya dan memeluk Seok Jin erat.


"Eomma, tidak peduli siapa pun itu jika dia benar-benar wanita tepat yang membuat hatimu berlabuh padanya, siapa pun tidak masalah. Asalkan kamu bisa bahagia bersamanya," ucap Arin mengusap punggung tegap sang buah hati.


Seok Jin hanya mengangguk seraya menahan haru dan bersyukur mendapatkan seorang ibu pengertian seperti Kim Arin.