
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Jim-in melepaskan pelukan mereka, kembali mencengkram pelan bahu sang istri. Rania mendongak beradu pandang lagi dengan sepasang onyx di hadapannya.
Ada kekhawatiran sekaligus takut di sana. Rania paham apa yang tengah dirasakan sang suami, tetapi bagaimanapun juga ia harus melakukan itu.
Ia sudah terlanjur tahu dan tidak bisa berhenti di tengah jalan begitu saja.
"Aku akan mencari lebih dalam apa yang terjadi selama ini, juga... aku sudah berbicara dengan Jung Jae Hwa dan kami... akan bekerja sama," ungkapnya.
Kedua manik tuan muda itu terbelalak lebar mulut kemerahannya perlahan terbuka, tercengang mendengar penjelasan Rania.
"Mwo? Be-bekerja sama dengan Jung Jae Hwa? Apa aku tidak salah dengar? Dia, kan masih-"
"Dia kecelakaan? Dan masih harus berobat? Benar... pembalap itu mengalami kecelakaan pas sesi latihan berlangsung. Apa Oppa tidak curiga sedikitpun?"
"Bukankah aneh sesi latihan yang seharusnya berjalan lancar malah terjadi tragedi mengerikan seperti itu? Memang sih, tidak ada yang tidak mungkin, tetapi... seharusnya jika kecelakaan parah hanya terjadi waktu balapan bukan? Kemungkinan besarnya akan seperti itu, benar?" racau Rania mengutarakan pendapat.
Untuk beberapa saat Jim-in terdiam, mengiyakan perkataan istrinya. Ia juga sempat memikirkan hal sama, ada kejanggalan terjadi pada kecelakaan sang pembalap.
Sepanjang jalan ke rumah sakit ia terus memikirkan hal tersebut. Kurang lebih tiga tahun menjadi sponsor tetap bagi Jung Jae Hwa, Jim-in tidak pernah menemukan kesalahan apa pun darinya.
Bahkan pria itu selalu berhati-hati dan tidak pernah melakukan cacat sedikitpun dalam berkendara. Tidak mungkin Jae Hwa mengalami kesalahan fatal sampai harus dioperasi seperti ini.
Peristiwa mengerikan yang terjadi padanya pun banyak menarik perhatian. Terutama para penggemar yang tahu seperti apa Jung Jae Hwa saat berada di lapangan.
"Iya kamu benar, Sayang. Apa yang kamu katakan barusan sempat aku pikirkan juga. Karena selama ini Jung Jae Hwa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, baik dalam sesi latihan maupun perlombaan."
"Dia selalu memenangkan setiap kompetisi dengan jujur dan baik. Bahkan sebelum perlombaan di mulai semua tim sering memeriksa kendaraannya dan semua aman-aman saja."
"Ini pasti... dilakukan oleh orang dalam," tutur Jim-in mengungkap kecurigaannya juga.
Rania meletakkan jari telunjuk dan ibu jari di dagu lancipnya seraya menatap ke atas. Kaki rampingnya berjalan ke sana kemari memikirkan kemungkinan-kemungkinan besar bisa terjadi.
"Iya, Oppa benar, juga... pasti banyak orang yang menduga seperti kita. Apa ini dilakukan oleh orang terdekat Jung Jae Hwa?"
Rania memandangi suaminya lagi membuat manik kecil itu melebar kembali.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang. Sepertinya memang orang terdekat Jung Jae Hwa."
"Kalau begitu kita harus segera bertindak."
Selepas membicarakan kecurigaan mengenai kecelakaan sang pembalap, Rania kembali melanjutkan tugasnya merawat pasien lain guna menghilangkan kecurigaan, sedangkan Jim-in berbicara empat mata dengan Jae Hwa.
...***...
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa sampai berakhir di sini?" tanya Jim-in langsung seraya melipat tangan di depan dada.
Jae Hwa yang tengah duduk dengan bersandar di kepala ranjang melirik singkat. Bibir pucatnya melengkung sekilas dan kembali memudar.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu menunduk dalam lalu sedetik kemudian menatap jendela besar di sampingnya.
Pemandangan ibu kota yang terhampar luas memberikan sedikit ketenangan. Tidak ada yang bisa menandingi seperti apa sibuknya hari-hari di sana.
Hingar-bingar yang tidak asing lagi itu pun kembali tertangkap pendengaran. Silaunya mentari memberikan cahaya terang bagi semua orang.
Ia pun menghela napas kasar dan tersenyum sendu kala teringat sebelum kecelakaan terjadi. Ia sangat panik saat mengetahui rem mobilnya tidak bisa dikendalikan.
"Pada akhirnya aku berada di sini juga. Apa Tuan Park Jim-in tahu, jika-"
"Kamu bukan orang lain lagi bagiku. Kamu... adalah temanku yang luar biasa, dan bagaimana bisa mengatakan pada akhirnya di sini juga?" potong Jim-in cepat masih dengan melipat tangan di depan dada, berdecih singkat melepaskan pandangan darinya.
Napas tuan muda itu pun bergemuruh menahan emosi yang tiba-tiba saja memuncak. Jae Hwa melirik padanya lagi dengan melebarkan kedua mata, ia lalu terkekeh pelan melihat ekspresi sang tuan sponsor.
"Baiklah-baiklah, Park Jim-in? Em, senang rasanya mendengar seseorang berkata jika aku... bukan orang lain dan menganggap ku sebagai teman," celotehnya.
Suaranya lirih nan pelan, Jim-in terkesiap sadar jika ada sesuatu yang sudah lama disembunyikan pembalap profesional tersebut.
Meskipun di luaran sana banyak orang mengelu-elukan namanya serta menyanjung-nyanjung seorang Jung Jae Hwa, tetapi di dalam dirinya begitu rapuh. Hening, hampa tanpa seorang pun.
Senyum yang setiap kali diperlihatkan kepada para penggemar kini memudar, yang ada hanyalah kekosongan semata.
"Baiklah, teruskan apa yang ingin kamu katakan," lanjut Jim-in lagi.
"Iya, baiklah. Selama aku hidup tidak ada satupun orang yang tulus menganggap ku sebagai teman, orang terdekatnya ataupun keluarga."
"Bahkan keluarga sendiri menganggap ku sebagai... anak haram. Seorang anak yang lahir dari hubungan gelap tanpa adanya ikatan pernikahan membuatku seperti aib dan noda."
"Itulah kenapa Ketua Jung, tidak pernah menganggap ku secara resmi sebagai anaknya. Kemewahan yang selama ini aku dapatkan hanya untuk tutup mulut saja."
"Ketua Jung, tidak ingin aku membicarakan dari mana... asal usul ku berada. Beliau juga memberikan setengah saham dari kekayaannya atas namaku. Bukankah itu sangat aneh? Maksudku... bukankah seharusnya Ketua Jung memberikannya pada Jung Jae Sun?"
"Seorang hyung yang aku hormati sejak kecil. Dia lebih tua enam tahun dariku, tetapi... dari dulu hyung tidak pernah berubah. Sikap dewasa dan wibawanya membuatku kagum, walaupun-"
"Walaupun kamu tidak dihargai oleh kakak mu sendiri?" potong Jim-in lagi menghentikan celotehannya.
Jae Hwa tercengang dan memandang sepasang manik cokelat terang di sebelahnya. Jim-in begitu serius memberikan sorot mata tegas.
Pembalap mobil itu kembali terkekeh pelan. Ia tidak tahu orang lain bisa melihatnya seperti itu juga, tetapi tidak bisa dipungkiri jika selama ini tidak pernah ada interaksi antara dirinya maupun Jung Jae Sun.
Sudah dipastikan jika keberadaannya hanyalah sebatas batu di pinggir jalan. Bagi keluarga Jung, ia tidak ada artinya.
"Apa aku benar?" tanya sang tuan muda.
Tanpa gentar Jae Hwa menganggukkan kepala. "Em, kamu benar. Aku tidak pernah dianggap oleh hyung... bahkan hanya hyung saja, tetapi oleh semua keluarga besar."
"Meskipun aku sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, tetap saja... membahas keluarga adalah hal yang paling menyakitkan," tutur Jae Hwa jujur.
Wajah putihnya mendongak memandangi langit-langit ruangan. Kedua sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah kurva sempurna.
Jim-in terkejut, ini pertama kali melihat Jung Jae Hwa yang terkenal dengan keramahtamahannya memperlihatkan sisi gelap.
Ia tidak tahu seberapa parah kehidupan yang dijalaninya selama ini, tetapi melihat keadaannya sekarang, Jim-in mendapatkan kesimpulan.
Jika jalan hidup yang dimilikinya tidaklah mudah.
"Kamu jangan menyerah... meskipun lahir dari hubungan gelap, kamu tidak salah apa-apa. Karena... seorang anak lahir dengan membawa takdirnya masing-masing. Untuk itu, kamu bisa menciptakan duniamu sendiri."
"Maksudku... kamu masih mempunyai kesempatan untuk merubah kehidupan keras ini menjadi seperti apa yang kamu inginkan."
"Apa kamu yakin akan terus selamanya seperti ini?"
Pertanyaan Jim-in berdengung dan terus berkeliaran dalam pendengaran. Ia membeku, lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata.
Hatinya yang lembut tiba-tiba saja mengalirkan air mata. Ia tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu selama ini.
Mereka hanya mengetahui jika ia hidup dalam kemewahan serta kenikmatan semata.