
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Hancur. Semua sudah tidak terbentuk lagi. Kaca yang semula terpampang kokoh kini berhambur, berantakan. Begitulah kiasan mengenai kehidupan keluarga Park. Jim-in masih menyunggingkan seringain tajam kala melihat ibu dan istrinya. Kedua wanita itu masih saling mendekap satu sama lain seraya mengatakan kata maaf.
Munafik. Mungkin itulah kata yang tersirat dalam sorot mata Park Jim-in. Ia tidak percaya melihat dan mendengar sendiri kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari mulut mereka.
"Sudah basa-basinya? Ayo pulang Rania, kita sudah tidak punya urusan apapun lagi di sini." Jim-in segera membawa Rania pergi dari sana. Tangannya menarik paksa sang istri hingga membuat rengkuhan mereka terlepas.
Gyeong menatap getir sikap Jim-in terhadap istrinya sendiri. Ternyata tanpa disadari tindakan yang dilakukannya telah membuat sang putra berlaku kasar.
"Kalian bisa tinggal kembali di sini. Eomma mohon jangan bawa Rania. Eomma janji jika kamu tinggal di mansion lagi, eomma akan pergi."
Seketika saat mendengar penuturan tersebut Jim-in menghentikan langkannya. Ia memutar tubuhnya kembali dengan seringaian tajam.
"Benarkah? Dengan senang hati saya akan kembali. Itu pun saat mansion ini sudah kosong. Kalau begitu saya permisi dulu." Lanjut Jim-in seraya membawa Rania pergi tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara.
Tergambar jelas dalam sorot matanya jika wanita itu merasa sedih dengan keadaan mertuanya kali ini. Gyeong menyunggingkan senyum di tengah kepedihannya. Memberikan kekuatan dan jawaban jika dirinya baik-baik saja. Ia juga menyadari dengan semua perbuatan yang selama ini dilakukan.
'Gomawo, Rania. Karenamu eomma sadar atas apa yang sudah diperbuat, dan mungkin inilah balasannya....' benaknya.
...🌦️🌦️🌦️...
Sekembalinya mereka ke apartemen, Rania langsung mengutarakan apa yang tengah dipendamnya sedari tadi. Ia tidak menyangka sang suami bisa berlaku tidak baik terhadap ibu kandungnya sendiri. Jika itu memang diakibatkan karena keberadaannya, Rania harus bertanggung jawab. Bagaimana pun juga ia tidak mau melihat hubungan anak dan ibu hancur begitu saja.
"Oppa. Apa maksud oppa tadi? Kenapa oppa berlaku tidak sopan kepada eomma? Ingat. Beliau ibu kandungmu. Meskipun kita sudah menikah, tapi tetap saja surga suami masih ada pada ibunya." Gertak Rania berkata sedikit lantang seraya menatap punggung tegap itu.
Jim-in mematung ditempatnya berdiri. Baru saja ia memasuki tempat tinggalnya, perkataan yang membrondong dari sang istri seketika menghentikan gerakannya. Seulas senyum yang entah apa artinya mengembang begitu saja.
Jim-in pun berbalik menatap kedua manik Rania yang tengah memandanginya nyalang. "Oh, jadi kamu sudah berani menasehati suamimu sendiri? Ahh, dari dulu kamu memang sudah seperti itu. Dan sekarang semakin menjadi. Ingat yah, Rania aku bersikap seperti ini untuk siapa HAH? Untuk kebaikan kamu juga. Kebaikan KITA..." teriaknya seketika mengejutkan Rania.
Bibir ranumnya bergetar menahan kepiluan yang kembali tergores dalam hatinya. Kedua tangan terkepal kuat saat melihat Jim-in berjalan mendekatinya. Lagi dan lagi kejadian yang sama terulang kembali. Entah harus berbuat apa untuk menyadarkan suaminya ini.
"Aku mohon jangan bersikap seperti ini, oppa. Aku takut. Sungguh, aku sudah tidak apa-apa. Kembalilah menjadi Park Jim-in yang dulu. Park Jim-in yang memberikan senyum hangat untukku." Rintih Rania. Tanpa sadar air mata mengalir menambah kesan memohon dengan sangat.
"Tidak usah menangis. Apapun yang kamu katakan tidak akan berpengaruh padaku. Kamu sudah menjadi milikku sekarang. Siapa pun yang menyakitimu aku tidak akan membiarkannya. Sekali pun itu ibu kandungku sendiri." Jawabnya seraya menangkup pipi gemil Rania lalu menghapus linangan cairan bening itu.
Ia menegang saat merasakan sentuhan dari suaminya sendiri. Tubuhnya bereaksi ingin menolak hal tersebut. Namun, Rania sadar jika dirinya sudah sah menjadi milik pria itu seutuhnya.
Angan ternyata tidak turun dalam bayang. Masih menggantung enggan untuk memberikan harapan yang menjulang. Memori indah saat kebersamaan hari-hari itu berputar bak film kusut yang tidak berhenti tayang dalam pikiran.
Keduanya saling merasakan kehadiran satu sama lain. Namun, terhalang oleh obsesi yang membelenggung dalam diri seorang Park Jim-in.
"Kembalilah, aku mohon." Pinta Rania lagi dengan suara lirih.
"Kembali ke mana? Aku sudah ada di sini bersamamu, sayang. Malam ini aku menginginkanmu. Jadilah milikku seutuhnya." Tanpa peringatan Jim-in pun menarik pergelangan tangan sang istri erat membawanya pergi dari ruang depan.
Malam yang tercipta menjadi saksi bisu seperti apa perasaan Rania saat ini. Sebagai seorang istri ia sudah tidak mengenali suaminya lagi.
...🌦️🌦️🌦️...
Hari demi hari terus berganti bak kilasan film menayangkan kejadian yang sama. Waktu terus berlalu seiring perubahan detikannya. Embun yang menitik didedaunan membahasi tanah gersang. Begitulah ketetapan yang sudah Allah berikan. Tepat hari ini pun Nyonya Besar, Park Gyeong akan meninggalkan kediamannya. Sudah bertahun-tahun ia tinggal di sana bersama keluarga kecilnya. Hingga maut merenggut keberadaan sang suami. Dan sekarang kala kembali merampas anak semata wayangnya.
Memang benar setiap perbuatan pasti mendapatkan ganjarannya. Seperti apa yang kita tanam itu yang akan dituai.
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri." (Q.S Al-Isra ayat 7).
Seperti ayat di atas apapun yang kita lakukan pasti berdampak juga pada kehidupan. Entah itu kebaikan atau pun sebaliknya. Apa yang kita inginkan dalam hidup sesuai dengan apa yang dilakukan.
Allah tidak pernah salah memberikan kebaikan atau pun balasan kepada setiap hamba-Nya. Namun, Allah tidak pernah melalaikan hamba-Nya barang sedikit pun. Maha Suci Allah dalam setiap firman-Nya.
"Nyonya, yakin akan pergi dari Korea dan menentap di Inggris?" tanya Sang Oh saat membantu Nyonya Besarnya bersiap.
Gyeong yang tengah duduk disofa tunggal mewah itu menengok sekilas lalu kembali pada kesibukannya memasukan barang-barang ke dalam koper.
"Aku yakin. Ini untuk kebaikan putraku juga. Aku sadar jika selama ini sudah menjadi ibu yang tidak baik untuknya. Dan juga mertua yang jahat bagi Rania. Hah~ bahkan gara-gara keegoisanku dia mendapatkan getahnya. Jim-in berubah tanpa dirinya sadari. Kepergian ini menjadi tujuanku untuk merenungkan diri. Semoga aku bisa berubah di sana." Seulas senyum terpatri diwajah cantik yang tidak muda lagi itu.
Sang Oh termangu melihatnya. Sudah lama sejak sang Tuan Besar meninggal nyonyanya tidak memperlihatkan ekspresi seperti tadi.
"Saya harap ada kebaikan yang menunggu nyonya di sana."
"Aamiin."
Selepas itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hanya terdengar para pelayan yang sedari tadi sibuk hilir mudik mempersiapkan keberangkatan Gyeong. Hingga, Sang Oh gatal ingin membicarakan hal yang seharusnya tidak diutarakan.
"Apa nyonya tidak sadar? Jika semuanya bukan salah nyonya sendiri? Tap_"
"Sang Oh." Panggilan itu seketika memotong ucapannya, "tidak baik menyalahkan orang lain. Aku sadar setiap perbuatan dan tindakan pasti ada balasannya. Yah, mungkin ini balasan yang harus aku jalani. Aku rela dan ikhlas, asalkan Rania dan Jim-in bisa kembali berbahagia."
Sang Oh pun terpaku dan tidak kembali melanjutkan ucapannya. Pria berusia hampir 70 tahun itu mengangguk yakin dengan tekad nyonyanya. Kepala pelayan tersebut pun berharap tuan dan nona mudanya bisa kembali hidup harmonis.
'Selepas dari satu masalah lagi....' benak Sang Oh.
...🌦️KEMELUT🌦️...