VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 54



Awan berarak mengikuti hembusan angin, cuaca cerah sangat bagus untuk dinikmati.


Namun, entah kenapa ada awan mendung di kedua jelaga Rania. Ia berpikir jika mungkin sebentar lagi varsha akan datang.


Sekuat tenaga ia menahan perasaan menggebu yang saling bersahutan. Kejadian demi kejadian menimpa rumah tangganya lagi akibat orang ketiga pun membuat Rania berpikir skeptis.


Ia tidak tahu mana yang benar dan salah. Dari pengamatannya tadi, ia menyimpulkan jika tidak ada kecanggungan apa pun dari suaminya untuk Mi Kyong.


Itu artinya, Park Jim-in menghargai perasaan wanita itu. Entah diterima atau tidak, Rania tidak tahu pasti.


"Wanita itu-"


"Dia sahabat masa kecilnya Park Jim-in. Mereka sudah bersama sejak di bangku sekolah dasar hingga sekarang. Kamu tahu, Zahra? Tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita, kan? Itulah yang menimpa mereka."


"Salah satunya telah jatuh cinta dan... dia berkata terus terang untuk membuat suamiku jatuh padanya," ujar Rania kemudian.


"Mwo? Wanita itu-" Zahra tidak kuasa melanjutkan ucapannya dan memberikan jeda beberapa detik. Sampai, "apa dia tidak punya malu? Bisa-bisanya berkata seperti itu padamu yang notabene adalah istri sah dari sahabatnya sendiri? Aku tidak habis pikir."


Zahra menggelengkan kepala berkali-kali tidak bisa membayangkan apa yang tengah Mi Kyong pikirkan.


Mencintai suami orang dari segi manapun tidak dibenarkan, Zahra pun ikut emosi, tidak karuan.


"Aku hajar wanita itu." Ia semakin naik pitam seraya beranjak dari duduk.


Dengan cepat Rania mencengkram pergelangan tangannya kuat. Sang empunya menunduk ke bawah melihat sorot mata tegas memancar di sana.


"Rania?" Panggilnya kemudian.


"Jangan bertindak gegabah. Kita tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan," kata Rania lagi.


Mendengar ucapan itu membuat dahi tegas Zahra mengerut dalam. Ia kembali duduk dan terus memandang penuh tanya pada sang sahabat.


"Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa yang akan kamu lakukan?"


Rania menoleh seraya melebarkan bibir ranumnya dan Zahra tahu ekspresi apa itu.


"Kamu sudah merencanakan sesuatu, kan?" tanyanya lagi.


Rania masih mempertahankan mimik muka yang sama, sampai perkataan selanjutnya mengejutkan sang sahabat.


"Jika dia ingin bermain... maka yang harus aku lakukan adalah... bermain bersamanya. Ini bukan berarti persaingan siapa yang menang bisa mendapatkan pria itu."


"Aku hanya ingin memperjuangkan pernikahan yang diharapkan bisa sekali seumur hidup," akunya yakin.


"Wah, aku tidak menyangka Rania Varsha Humairah, atau Park Rania ini memiliki keyakinan begitu kuat. Tentu saja, kamu harus bermain bersamanya. Jangan perlihatkan kelemahan mu, meskipun sekarang kamu masih hilang ingatan, tetapi tetap saja praha rumah tangga harus dipertahankan," bela Zahra menggebu-gebu.


Rania tertawa pelan dan tidak menyangka harus menghadapi musuh lain untuk bermain.


...***...


"Aku juga... ada sesuatu yang ingin disampaikan," ungkap Zahra setelah sekian lama mereka bungkam.


Rania yang tengah menghabiskan minuman isotonik nya pun menoleh kembali. Ia memandangi Zahra penuh minat dan penasaran teramat besar.


"Apa? Apa yang akan kamu katakan? Apa ini menyangkut Kim Seok Jin?" tanya Rania yang seketika itu juga membuat Zahra terbelalak lebar.


"Ke-kenapa kamu tahu?" tanyanya gugup.


Rania pun tertawa sedikit kencang melihat ekspresi terkejut sahabatnya. Ia tahu jika sedari awal Zahra sudah memberikan tempat di hatinya untuk sang dokter.


"Semua terlihat jelas dari matamu, Zahra. Apa kamu tidak tahu seperti apa sorot mata itu saat melihat Seok Jin oppa?"


Zahra menggeleng, tidak tahu.


"Itu ekspresi... nan joahae (aku menyukaimu)." Ia senang menggoda Zahra sampai-sampai rona merah merembet di kedua pipi putihnya.


"Ya-yak! Mana ada seperti itu. Kamu hanya mengarangnya saja," ucap Zahra membela diri sendiri.


Rania masih tertawa sampai perutnya terasa ngilu.


"Rasakan," timpal Zahra memutar bola mata mendapati sahabatnya terus menertawakan.


"Maaf-maaf, aku tidak akan menggoda mu lagi. Jadi?" tanya Rania kembali ke mode serius.


Zahra menghela napas kasar dan menautkan jari jemarinya kuat. Kepala berhijab itu mendongak ke atas memandangi langit biru sepanjang mata memandang.


"Tadi, sebelum datang ke sini... aku melihatnya bersama wanita lain. Dia sangat cantik, bak barbie hidup, kulitnya putih seperti porselin, rambutnya panjang sedikit bergelombang, kedua iris matanya keabuan, layaknya putri kerajaan."


"Owh~ sungguh definisi wanita sempurna layak disandingkan dengannya. Saat aku melihat mereka bersama di ruangannya... aku sempat berpikir, ah pasangan yang sangat sempurna. Apa ada yang salah dengan pikiranku?" Zahra meracau memikirkan apa yang dirinya lihat di rumah sakit.


Rania mengembangkan senyum lembut. Ia bisa melihat apa yang tengah Zahra rasakan, dirinya senang setidaknya sang dokter tidak memiliki perasaan bertepuk sebelah tangan.


"Kamu... cemburu, Zahra."


"MWO?"


Teriakkan itu menggelegar membuat pelatih yang ada di bawah langsung memperingatinya.


"Diam Zahra!"


Wanita itu pun meminta maaf dan kembali memandangi sahabatnya yang sudah tertawa lagi.


Ia pun memukulnya pelan membuat Rania sadar.


"Maaf-maaf, aku tidak bermaksud menertawakan mu lagi. Hanya saja lucu sekali," ucapnya disela-sela tawa.


Zahra pun mendengus kasar dan melipat tangan di depan dada. Setelahnya ia menjatuhkan pandangan ke bawah memikirkan perkataan Rania barusan.


"Cemburu? Wae?" tanyanya lirih.


Rania sadar dan kembali ke dirinya lagi.


"Tentu saja. Karena kamu menyukainya, kenapa kamu tidak membalas ungkapan Seok Jin oppa waktu itu?" tanya Rania penasaran.


Zahra termenung sebentar dan tersenyum masam.


"Jadi, dia sudah menceritakannya padamu?" Rania mengangguk, walaupun Zahra tidak melihatnya.


Ia pun kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku merasa... tidak pantas untuk bersanding dengannya. Kami... berasal dari dunia berbeda, keluargaku hancur berantakan. Apa yang bisa dibanggakan? Aku hanya bisa menjadi aibnya saja. Aku tidak ingin siapa pun kesusahan, sudah cukup waktu paling berat... yang pernah aku rasakan."


"Aku tidak mau membaginya pada siapa pun," keluh Zahra, sendu.


Ada air mata yang berusaha keluar, tetapi ia menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan sahabatnya.


Ia tidak ingin siapa pun melihat kelemahannya, meskipun Zahra sadar Rania sudah mengetahui semuanya.


"Tentu tidak seperti itu, Zahra. Allah tidak pernah melihat apa pun dari siapa pun. Jika takdir-Nya berbicara, kita bisa apa?"


"Itu artinya Allah memberikan yang terbaik, jalani, syukuri dan serahkan semuanya pada Allah saja. Karena-" Rania menggenggam kedua tangannya erat.


Zahra mendongak, bertatapan lagi dengan sang sahabat.


"Karena kamu juga berhak bahagia, Zahra," lanjutnya lagi.


Zahra tercengang, tanpa sadar air mata meluncur begitu saja membuat Rania terpaku. Ia bisa melihat rasa putus asa di balik matanya.


Rania menyadari dan mengetahui bagaimana rasanya menyukai seseorang yang berbeda dengan kita. Karena dulu ia pun mengalaminya.


Perbedaan antara langit dan bumi, pernah Rania rasakan dari Jim-in. Tuan muda disandingkan dengan seseorang sederhana sepertinya membuat perasaan itu tidak karuan.


Namun, seiring berjalannya waktu dan takdir Allah bekerja apa pun bisa bersatu. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.


Zahra termenung memikirkan perkataan demi perkataan yang Rania lontarkan.