
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
"Ah, ma-maaf."
Rania tergagap setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari sang suami. Ia pun bergegas membereskan semua kekacauan ditemani dengan derai air mata yang terus menetes.
Sangking terburu-buru nya, ia tidak sadar jika jarinya terluka akibat gesekan benda pecah itu. Tidak lama kemudian ia pun melarikan diri dari sana.
"Apa Oppa tidak keterlaluan? Istrimu menangis," ucap Yuuna berjalan ke hadapannya.
Jim-in membawa kedua tangan wanita itu lalu di genggamnya erat. Yunna menatap ke bawah melihat mata cokelat itu memberikan sorot hangat.
"Sama sekali tidak. Bukankah sudah aku katakan hanya kamu wanita yang kucintai? Aku harap kamu tidak meninggalkanku lagi," ucapnya dengan sangat.
Yuuna tersenyum lalu mengangguk perlahan.
Kembali ke Rania yang saat ini tengah membasuh kedua tangannya di wastafel. Ia terkejut saat mendapati luka menganga di tangannya. Senyum kecut hadir memberikan penjelasan betapa menyedihkannya ia.
"Cih, aku terlihat seperti pecundang. Tidak, tidak aku harus mengingat apa nasehat mamah dan ayah. Aku harus bisa mendapatkan hatinya. Bagaimana pun caranya." Tekad Rania yakin.
Setelah membuat makanan baru, ia pun kembali mendekati kedua insan yang tengah duduk di meja makan.
Rasa nyeri menghantamnya lagi saat melihat sang suami tengah bersama wanta lain. Bahkan selama menjadi istrinya belum pernah Rania duduk berdua di sana. Ia hanya menemani sang suami seperti pelayan kebanyakan.
"Saya minta maaf atas kekacauan tadi. Saya sudah membuat makanan baru semoga kalian suka," kata Rania seraya menghidangkan sarapan mewah buatannya sendiri. "Selamat menikmati." Diakhiri dengan senyuman ia pun undur diri.
Jim-in tercengang, Rania berubah dalam hitungan detik. Begitu pula dengan Yuuna, bola matanya bergulir menatap wanita itu yang masih memberikan senyum manis padanya dan ia pun membalasnya tanpa rasa bersalah.
Bak dunia milik mereka berdua, Jim-in dan Yuuna tidak tahu malu saling suap di hadapan para pelayan. Terlebih di sana ada Rania, istri sah dari seorang Park Jim-in.
Terang-terangan sang suami bersikap manis pada wanita lain, seperti tidak mempunyai perasaan dan rasa bersalah. Di hadapan istrinya Park Jim-in menyuapi Yuuna dengan hati-hati.
Rania tidak menyangka, Jim-in bisa setenang itu bersama Yuuna.
"Bahkan selama kami menikah dia tidak pernah bersikap manis padaku," benaknya menelan pil kekecewaan.
Kedua tangannya mengepal kuat menahan kepedihan. Beberapa pelayan yang menyaksikan hal tersebut pun ikut bersimpati melihatnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya membiarkan permainan aneh yang tengah tuan mudanya lakukan.
"Ah ternyata ada tamu, kamu sudah lama?" Suara anggun sang nyonya besar menginterupsi.
Rania melebarkan pandangan tat kala ibu mertuanya duduk begitu saja di samping Yuuna.
"Ah, Eommanim, saya baru saja tiba," Balas Yunna acuh tak acuh dengan pandangan Rania.
"Syukurlah. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Pasti orang tuamu bangga sekali punya anak cantik, pintar, anggun seperti ini." Pujinya disertai senyum tulus.
"Terima kasih. Tidak seperti itu Eommanim," Jawab Yuuna malu-malu.
"Eomma terlalu memujinya. Lihat Yuuna sampai memerah," balas Jim-in ikut dalam pembicaraan.
Gyeong pun beranjak dari kursi dan berjalan anggun di samping para pelayan. Hingga langkahnya terhenti tepat di depan Riana.
"Kamu tidak usah kecewa melihat keakraban mereka. Karena dari awal kamu dijadikan sebagai pelayan, bukan? Pernikahan itu adalah bonus. Semoga kamu bisa melayani anakku dengan baik," bisiknya tepat di samping telinga Rania. Bola matanya kembali melebar.
Senyum anggun yang ia lihat tadi menghilang berganti seringaian. Riana tidak percaya, sungguh dirinya tidak menduga akan seperti ini akhirnya.
Ia sudah tidak bisa menahan kesedihan. Air mata kembali lolos dan ia pun melarikan diri dari sana. Jim-in menyadari kepergiannya dan tidak peduli dengan keadaan sang istri.
...🌦️🌦️🌦️...
Sungguh sakit luka baru yang ditorehkan suami dan juga ibu mertuanya hari ini. Di taman belakang rumah megah itu Rania kembali menangis seorang diri.
Ia mencengkram hijabnya kuat mengenyahkan kepedihan. Namun, tetap saja rasa sakit itu enggan pergi.
Dengan bermandikan cahaya matahari ia menangis sejadi-jadinya. Langit cerah hari ini memberikan kesakitan yang teramat dalam.
Lama ia menangis merasakan kehampaan yang menyapanya begitu erat. Masa depan yang ia impikan sirna sudah dan berganti kegelapan. Bukan seperti ini pernikahan yang ia idamkan.
Dirinya seperti berada dalam dongeng dengan akhir menyedihkan. Sang pangeran bukan melindungi ataupun menyelamatkannya, tetapi memberikan air mata.
Kisah sang putri yang berada dalam kehidupan nyatanya berakhir tragis. Tidak seperti dongeng-dongeng yang pernah ia baca di waktu kecil.
"Sudah, tidak usah kamu tangisi lagi. Ini takdirmu yang harus di jalani. Kamu cukup bertugas seperti biasanya dan jangan berharap lebih."
Suara baritone menginterupsi. Rania menoleh ke belakang mendapati suaminya tengah di dorong oleh Song Oh datang ke arahnya.
Setelah berada di sampingnya sang pelayan baruh baya itu pun meninggalkan mereka berdua. Rania berusaha menahan tangisan seraya terus menunduk melihat rumput hijau di bawahnya.
"Yuuna?"
"Dia sudah pulang, katanya ada urusan pekerjaan. Begitulah kehidupan wanita idamanku."
Sungguh perkataannya kembali menghujani perasaan terdalam.
Hening melanda hanya terdengar suara angin yang terus berhembus. Bunga yang tumbuh subur di sana bergerak ke sana ke mari mengikuti irama. Namun, keindahannya tidak membuat Rania tertarik malah semakin membuatnya terpuruk.
"Jika aku menginginkan sesuatu mudah didapatkan. Jika aku tidak menyukainya tinggal dibuang saja. Bukankah itu mudah sekali? Kamu pun harus menuruti apa kataku. Karena aku suamimu." Tegas dan jelas ucapan Park Jim-in kembali menusuk tepat mengenai ulu hati.
"Tapi tidak semua dapat dibeli dengan uang. Saya tahu tuan melakukan ini untuk memuaskan perasaan saja. Saya tahu ada kekosongan dalam hati Tuan. Saya siap terluka jika harus merubah Tuan menjadi lebih baik. Saya percaya Allah selalu punya cara memberikan hidayah pada setiap hamba-Nya," balas Rania tanpa sedikit pun menoleh padanya.
Jim-in tercengang, irisnya melebar tidak percaya. Kata-kata yang ingin ia lontarkan tercekat di tenggorokan. Ia merasa tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Hingga Rania pun bangkit dan berdiri tepat di hadapannya.
"Tuan muda, saya akan menjadi istri yang terbaik. Saya akan menjalani tugas ini dengan baik. Tuan tahu? Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Janji suci di hadapan Allah dan meraih ridho-Nya itulah yang saya harapkan. Juga, saya berharap kita bisa berpegangan tangan menuju jannah-Nya. Tidak apa jika Tuan memperlakukan saya seperti ini ... karena saya ingin Tuan bahagia dan memperlihatkan senyuman itu lagi. Senyum yang saya lihat saat pertama kali kita bertemu," ungkap Rania disertai lengkungan bulan sabit di bibir ranumnya.
Jim-in kembali terkejut melihat wajah pucat itu tengah tersenyum tulus padanya. Ia sadar sudah melukai perasaan sang istri terlalu dalam. Namun, apa hendak dikata perbuatannya tidak bisa ditarik kembali. Setelah mengatakan itu Rania pun pergi dari hadapannya menyisakan kehampaan.
"Sekarang giliranku. Aku mengambil langkah pertama. Aku harap tuan bisa memikirkan ku walaupun hanya sebentar. Aku ingin menjadi istri sesungguhnya untukmu. Bukan seorang pelayan, tetapi wanita yang kamu cintai," benak Rania sembari melengkungkan kedua sudut bibir.
Bersama dengan angin berhembus keyakinan dalam dada menguap dan mengudara membentuk sebuah harapan baru.
...🌦️LANGKAH PERTAMA🌦️...