VARSHA

VARSHA
Bagian 16




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Jim-in masih setia berada dalam ruangan. Tanpa ada niatan untuk meninggalkannya ia betah menunggu Rania, istri yang tidak pernah dianggapnya sebagai pasangan hidup. Ruangan bercat putih itu membuatnya hampa. Kekosongan tersebut seperti sesuatu yang tidak pernah ia miliki menghilang.


Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir kemerahannya, hanya menatap langit-langit di atas sana dengan tatapan kosong. Ia sendirian duduk di kursi roda tanpa melakukan apapun. Satu yang ia rasakan. Gelisah.


Tidak lama kemudian suara pintu yang digeser berhasil membangunkannya ke alam nyata. Lamunan yang sedari tadi menyelimuti buyar, ia lalu menoleh ke samping kanan di mana sepasang netra indah tengah menatapnya dengan senyum manis setia bertengger di wajah ayu itu.


Rania pun dengan cepat mendekati sang suami.


"Mian sudah membuat Tuan menunggu lama. Tadi dokter Seok Jin mengajakku bicara," jelasnya. Jim-in mengangguk mengiyakan. "Kita pulang?" lagi-lagi hanya gestur tubuh sebagai jawaban.


Rania tersenyum kemudian mendorong kursi suaminya meninggalkan ruangan tersebut.


Lorong rumah sakit sore ini terlihat ramai. Para petugas medis hilir mudik menangani setiap pasien yang terus berdatangan. Di tengah lautan kebisingan Jim-in kembali tenggelam dalam lamunan. Seseorang yang berada di belakangnya saat ini begitu setia menemani. Lagi, kegundahaan menyapanya dalam diam.


Jim-in menatap kedua kakinya yang masih belum bisa berjalan normal. Ia tidak mungkin mendapatkan perkembangan siginifikan seperti sekarang jika bukan karena sang istri yang selalu membantunya.


"Aku terlalu kasar padanya. Apa yang kurasakan ini? Apa jangan-jangan," monolog Jim-in dalam benak.


Masih dengan senyum setia di wajahnya, Rania membantu Jim-in masuk ke dalam kendaraan roda empat tersebut. Sedari tadi iris kecoklataan Jim-in terus memperhatikan. Entah kenapa untuk sekarang ia enggan melihat ke arah lain.


"Hati-hati di jalan, Rania kamu harus selalu menjaga Jim-in."


Tiba-tiba dokter Seok Jin datang mengejutkan keduanya. Wanita berhijab hitam itu mengangguk singkat lalu berjalan menuju jok mengemudi.


"Kamu beruntung memiliki istri seperti Rania. Dia terlihat sangat mencintaimu." Bisik pria berusia 30 tahun tersebut mencondongkan badannya ke arah sang pasien.


Jim-in tercengang membuat iris kecilnya melebar. Ia tidak percaya mendengar penuturan mengejutkan dari dokter pribadinya.


Melihat ekspresinya SeokJin tertawa pelan, "jangan pasang wajah terkejut sepetri itu. Nanti kamu bisa merasakannya sendiri. Kalau begitu sampai jumpa minggu depan."


Seok Jin pun mempersilakan mereka pergi.


Lambaian tangan mengiringi pasangan pengantin tersebut. Senyum cerah setia bertengger di wajah tampannya. Dokter Seok Jin tahu seperti apa perasaan Rania terhadap suaminya.


"Meskipun kita baru saja bertemu, tapi aku yakin dia memiliki perasaan yang tulus. Semoga pernikahan mereka baik-baik saja," gumamnya penuh harap.


Jalanan terlihat lengang sore ini, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang berpapasan dengan mereka. Perkataan dokter Seok Jin tadi masih terngiang dalam pendengaran. Diam-diam Jim-in menoleh ke samping kiri di mana sang istri tengah mengemudikan mobil. Wajah ayu nan teduhnya terlihat menenangkan.


Jim-in terbuai hingga lupa jika dirinya sudah terlalu lama menatap Rania sampai suara merdu itu mengejutkannya.


"Tuan kenapa memandangiku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?"


Seketika Jim-in gelagapan dan langsung mentap ke samping kanan tidak sanggup berhadapan dengan sang istri. Rasa malu menyeruak dalam dada ketika dirinya dipergoki secara langsung.


"Ani."


Satu kata tegas sebagai pengelakan.


Rania hanya tersenyum tidak mengungkitnya lagi.


"Ada apa denganku sebenarnya? Kenapa dia terlihat tulus?" Jim-in masih bermain dengan pikirannya sendiri.


Beberapa saat kemudian mobil mewah itu tiba di mansion keluarga Park. Hari sudah malam dan langit pun menggelap. Rania membawa Jim-in masuk seperti biasa. Perlakuan hangat sang istri membuatnya tertegun.


Baru saja ia menginjakan kaki, Rania tidak menyangka wanita yang beberapa minggu lagi hendak bertunangan dengan sang suami tengah berdiri menyambut kepulangan mereka. Ia tahu senyum manis di wajah cantiknya itu untuk siapa. Rasa sakit kembali menjalar dalam dada. Terlebih saat wanita bernama Yuuna itu menggantikan dirinya untuk mendorong kursi roda Jim-in.


Yuuna membawa pasangan hidupnya menuju meja makan.


Terdengar jelas suara lembut Yuuna untuk sang suami.


Rania menghela napas kasar melihat kepergian dua sejoli itu dan dengan langkah berat ia pun pergi menuju lantai dua untuk segera melaksanakan kewajibannya.


...🌦️🌦️🌦️...


Jim-in tidak percaya mantan kekasih yang menjadi calon tunangannya ini bisa memasak berbagai hidangan. Dalam meja persegi panjang itu sudah tersaji beberapa makanan kesukaannya. Ia tidak percaya melihat hal tersebut. Karena dulu Yuuna tidak pernah melayaninya seperti sekarang.


"Apa kamu belajar memasak?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja, tapi aku hanya memasak ini selebihnya pelayan yang melakukannya," adunya jujur. Jim-in mengangguk lalu mulai menikmati makanannya.


Baru satu suap ia tertegun, termangu menatap ke bawah dengan pikiran berkecambuk. Seketika bayangan wanita berhijab terlihat jelas dalam meja tersebut. Jim-in tidak mengerti dengan pikirannya sendiri.


"Wahh calon menantu eomma datang? Kamu yang memasak semua ini, Sayang?"


Suara tegas sang ibu menyadarkannya kembali. Jim-in mendongak melihat sang ibu duduk tepat di samping Yuuna seraya tersenyum lebar. Sungguh hubungan mereka terlihat sangat baik. Berbeda sekali dengan Rania.


Tidak lama berselang wanita yang sedari tadi menghantui pikirannya datang. Dengan cekatan ia pun melayani mereka seperti biasa. Di sana Rania seperti pelayan pribadi untuk keluarga Park. Wanita yang berstatus sebagi ibu mertuanya bahkan tidak sedikit pun menatapnya. Mereka tetap berada dalam dunianya sendiri tanpa mempedulikan kehadiran Rania.


"Rania bawakan teh hangat untuk Yuuna. Oh yah, jangan lupa setelah ini bantu Yuuna menyiapkan tempat tidur. Karena malam ini dia akan menginap."


"Baik Nyonya." Rania hanya bisa mengangguk patuh tanpa menolak.


Jim-in yang melihat interaksi ibu dan istrinya tadi merasakan sesuatu tidak enak dalam mengendap dalam dada. Seperti, ia tidak rela melihat Rania diperlakukan sebagai pelayan meskipun pada kenyataannya demikian. Ia bahkan terang-terangan memberikan surat perjanjian pernikahan.


"Kenapa dia mau saja diperlakukan seperti itu? Apa eomma tidak sadar Rania itu menantunya?" benak Jim-in terlihat berbeda.


Jam sudha menunjukan pukul setengah sepuluh. Selesai makan malam Jim-in langsung menuju kamarnya berada. Sedari tadi ia terus memandang ke arah pintu menunggu kedatangan seseorang. Namun, sudah hampir tiga jam lamanya Rania tak kunjung jua.


"Apa yang dia lakukan?" bisiknya.


Lima belas menit kemudian sosok yang sedari tadi diharapkannya muncul. Hal pertama yang ia lihat adalah senyuman yang menenangkan. Seberapa lelahnya wajah itu ia masih memberikan lengkungan bulan sabit untuknya. Jim-in tertegun dan mendorong kursi rodanya untuk mendekat.


Rania yang tengah duduk di sofa tempat pelepas penatnya pun terkejut melihat sang suami. Kini mereka saling berhadapan dengan kedua mata bertubrukan.


"Tu-tuan? A-ada apa?" tanyanya gugup sekaligus takut.


"Kamu sudah makan?"


Kini giliran Rania yang terkejut. Ini pertama kalinya Jim-in bertanya seperti itu dan ia ragu menjawabnya. Kesibukannya tadi yang mempersiapkan tempat tidur untuk Yuuna menyita sebagian besar waktunya.


"Jawab aku," lanjut Jim-in tahu jika Rania tidak akan memberikan balasan.


Hanya gelengan kepala yang diberikan sang istri.


Melihat itu Jim-in keluar kamar tanpa mengatakan apapun. Rania mengerutkan dahi lebar tidak mengerti. Ia pun bergegas membersihkan diri untuk beristirahat.


Baru saja ia selesai mandi, kedatangan Jim-in membuatnya tercengang. Terlebih saat netranya melihat nampan yang berada dalam pangkuannya.


"Makan dulu setelah itu tidur. Sini aku temani."


Jim-in menyuruh Rania duduk di hadapannya. Nampan yang berisi nasi dan lauk pauknya tersimpan di meja bundar itu. Rania yang masih terkejut pun hanya mengikuti perintahnya.


Keterkejutannya tidak sampai di sana saja. Setelah menghabiskan makan malam Jim-in menyuruh Rania untuk tidur di kingsize miliknya. Sungguh Rania tidak mengerti dengan perlakuan hangat suaminya malam ini.


Ia pun berbaring dengan perasaan gelisah.


"Ya Allah ada apa dengan suamiku? Apa tadi dia salah makan? Ya Allah apa mungkin ini awal dari pernikahan kami?"


Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya. Namun, jauh dari itu semua, Rania bersyukur setidaknya Jim-in mulai menerimanya sebagai seorang istri.


...🌦️ KEANEHAN🌦️...