VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 67



Secercah cahaya memberikan harapan yang semula pupus. Hidup seperti roda berputar, kadang kala senyum ceria datang dan kadang kala isak tangis menerjang.


Kedua hal itu terus berganti sebagaimana waktu sudah mengkondisikan. Memang tidak mudah pada ketika berada di posisi menyedihkan, penuh luka, derai air mata, dan perih terus menghampiri.


Namun, setelahnya pasti kebahagiaan kesenangan, kegembiraan, serta senyum manis akan datang menggantikannya.


Bersabar, menjadi kunci utama untuk menjalani semua ujian datang menghadang. Karena laa tahzan innalloha ma'anaa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-Taubah: 40)


"Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong mu." (Q.S. Al-Baqarah: 45)


Apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan Allah. Mintalah pertolongan dari-Nya, maka semua akan baik-baik saja.


Karena kesedihan yang mendera tidak akan bertahan selamanya, sebab Allah juga senantiasa mendampingi dan tidak membiarkan hamba-Nya terus berlarut-larut di kondisi tersebut.


Itulah yang sudah Rania Varsha Humairah atau sekarang mempunyai nama baru mengikuti marga suaminya, Park Rania rasakan.


Di segala aspek kehidupan, baik itu di kala mendapatkan musibah maupun kesenangan ia tidak pernah meninggalkan sang pencipta.


Salat adalah kunci utama yang selalu dirinya jaga sepanjang hidup. Meskipun ia pun menyadari belum terlalu baik sebagai seorang manusia dan hamba, tetapi kewajiban itu tidak pernah ditinggalkan.


Karena baginya salat merupakan pegangan terkuat untuk bisa mencapai ridho Allah. Salat adalah tiangnya agama yang mengingatkannya terus kepada Allah semata.


Di tengah keheningan itu, ia bisa merasakan kembali salat bersama imam dalam hidup. Di ruang inap nyaman tersebut sepasang suami istri tengah melaksanakan salah dzuhur berjamaah.


Meskipun masih ada selang infus menempel di pergelangan tangan, Jim-in sama sekali tidak merasa terganggu.


Ia terlihat sangat khusyuk mengerjakan ibadahnya bersama sang istri. Gerakan demi gerakan yang mereka lakukan begitu syahdu.


Selepas mengerjakan empat rakaat salat keduanya duduk di atas sejadah masing-masing.


Jim-in menengadahkan kedua tangan di depan dada diikuti oleh Rania.


"Ya Allah, ya Rabbi, ya Tuhan hamba yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Terima kasih atas segala nikmat yang telah Kau berikan."


"Terima kasih untuk kesempatan kedua yang telah Kau hadirkan. Terima kasih sudah memberikan penyembuhan luar bisa, serta... terima kasih telah mengembalikan ingatan istri hamba... yang sekarang mengingat hamba kembali."


"Ya Allah lindungilah keluarga kami dari segala macam marabahaya. Entah itu dari ciptaan-Mu yang lain ataupun kecelakaan, lindungilah di manapun kami berada."


"Hamba sangat menyayangi Rania, maka berkahi lah pernikahan kami. Terima kasih sudah menghadirkan putra-putri yang sangat baik pada kami. Tuntun lan kami selalu di jalan-Mu, ya Rabb, aamiin ya Rabbal Alamin." Jim-in mengusap wajah menggunakan kedua tangan selepas doa-doa dipanjatkan.


Rania pun melakukan hal sama serta mengaamiinkan semua doa sang suami. Ia senang dan bersyukur diberi imam serta jodoh yang luar biasa.


Meskipun awalnya penuh dengan luka serta hujan air mata, tetapi seiring berjalannya waktu, Allah mengubah keadaan pelik tersebut menjadi lebih baik.


Jim-in menoleh ke belakang membuat Rania langsung menyalami tangannya lembut. Setelah itu sang suami memberikan kecupan di dahi lebarnya.


Sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Sebagai suami istri yang berlandaskan kepada Allah, apa pun yang dilakukan pasti mendatangkan kebahagiaan.


Itulah yang tengah Rania maupun Jim-in rasakan. Mereka bahagia bisa menjalankan ibadah terpanjang serta separuh penyempurna agama bersama orang tercinta.


...***...


Di tempat berbeda, selepas melaksanakan kewajibannya, Zahra makan sendirian di kantin. Orang-orang di sekitarnya ada yang makan berdua, bertiga, maupun bergerombol.


Ia tidak mempunyai teman selain, Rania. Meskipun hampir dua bulan ia bekerja di rumah sakit sebagai perawat magang, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa diajaknya berteman.


Zahra tahu mungkin perbedaan merekalah yang membuat para pekerja di sana tidak mau mendekatinya.


Namun, Zahra sama sekali tidak mengindahkan hal itu dan terus mencapai apa yang saat ini menjadi tujuan.


"Jangan makan sendirian terus, apa kamu tidak merasa kesepian?"


Zahra terbatuk beberapa kali, tersedak makanan di dalam mulut.


"Ini, cepat minum air," kata sang lawan bicara menyodorkan segelas air putih.


Zahra langsung menerima dan meminumnya singkat.


"Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Seok Jin Seonsaengnim?" tanya Zahra tidak mengerti.


"Tentu saja, makan siang. Apa lagi?" tanya balik Seok Jin seraya memasukan se-sumpit nasi ke dalam mulut.


Zahra cengo dan menarik kesadarannya lagi. Ia mengabaikan dokter tampan itu dan kembali melanjutkan makan siangnya.


"Kenapa kamu terus makan sendirian?" tanya Seok Jin lagi mencoba mencairkan suasana.


"Aku tidak punya teman, selain Rania," timpal Zahra sama sekali tidak menoleh padanya.


Seok Jin terpekik dan menghentikan gerakannya sesaat. "M-mwo? Bukankah kamu pandai bergaul? Kepribadianmu juga hangat dan menyenangkan, bagaimana-"


"Saya rasa itu bukan urusan Anda, Tuan. Lebih baik Seonsaengnim makan di meja lain saja, Anda tahu-" Zahra menjeda kalimatnya melihat keadaan sekitar. "Mereka sedari tadi terus melihat ke sini. Inilah yang membedakan kita, Anda mengerti?" lanjutnya lagi.


Mendengar itu Seok Jin tersenyum, paham. Ia meletakkan sumpit dan sepenuhnya menatap pada Zahra.


"Aku sama sekali tidak peduli. Mau dengan siapa aku bergaul, orang lain tidak berhak menentukannya. Derajat kita sama, yang menilai kita berbeda hanyalah Allah. Siapa kita berhak menilai seseorang?" ujar Seok Jin membuat Zahra termenung.


Ia tidak menyangka mendengar semua perkataan bijak dari pria di hadapannya. Seketika itu juga jantungnya berdegup tak karuan.


Zahra mengalihkan pandang ke arah lain seraya mendengus pelan.


"Jadi, ini alasan kamu menolak ku? Karena status kita yang berbeda?" tanya Seok Jin lagi.


Zahra kembali menoleh melihat sorot mata tegas nan nyalang kepadanya. Ia terkejut dan membeku tidak bisa berbuat apa pun.


Pertanyaan Seok Jin barusan benar-benar tepat sasaran. Zahra terus diam membuat dokter itu tahu kebenarannya.


"Astaghfirullahaladzim, pikiranmu dangkal sekali, Zahra. Kenapa kamu tidak bisa sekali saja egois untuk kebahagiaanmu sendiri? Kamu juga berhak mendapatkan kebahagiaan itu," cerocos Seok Jin lagi.


Entah sadar atau tidak air mata menetes tak tertahankan. Baik Zahra sendiri maupun Seok Jin terkejut mendapati hal itu.


Buru-buru Zahra menghapusnya kasar sebelum berubah menjadi isakkan. Entah kenapa dadanya terasa sesak bagaikan ada ribuan batu menghantamnya kuat.


"Jangan terus memikirkan orang lain, kamu... juga berhak bahagia," kata Seok Jin lagi membuat Zahra menunduk menyembunyikan tangis.


Tidak lama setelah itu keheningan menyapa keduanya. Zahra sibuk menghapus air mata dan Seok Jin terus memperhatikannya, sampai...


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


Suara seseorang yang tiba-tiba saja datang mengejutkan. Zahra mendongak dan seketika matanya terbelalak lebar, sedangkan Seok Jin mengerutkan dahi dalam melihat reaksi wanita itu.


"A-apa yang sedang-"


"Tidak sengaja aku melihat seseorang yang terasa familiar dan ternyata benar... kamu Zahra, bukan?" tunjuknya pada wanita berhijab itu.


Seketika Zahra beranjak dari duduk masih dengan membulatkan mata. Ia tidak menyangka dan percaya melihat sosok yang sudah lama tidak diketahuinya kini kembali hadir.


"A-Ayah?" Panggilnya gugup.


Seok Jin hanya memandanginya bergantian seraya menautkan kedua alis, heran.