VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 4



Selepas sarapan berlangsung, Rania membantu sang suami menyiapkan segala keperluan.


Saat ini mereka berada di kamar pribadi lagi, saling berhadapan satu sama lain.


Rania tengah memasangkan dasi di kerah kemeja Jim-in membuat pria itu memandangi wajah rupawan sang terkasih dengan hangat.


Kedua tangannya kembali melingkar di pinggang ramping sang pujaan.


"Terima kasih untuk kesempatan yang Oppa berikan," ucap Rania selepas memasangkan dasi lalu mengusap lembut bahu lebar Jim-in.


Ia mendongak hingga mereka bertatapan satu sama lain.


"Terima kasih," lanjutnya lagi dan tanpa terasa air mata meluncur begitu cepat.


Sudut bibir menawan tuan muda itu pun melengkung sempurna, tangan kanannya terangkat mengusap cairan bening di pipi Rania.


"Tidak usah berterima kasih, Sayang. Karena bagiku kebahagiaanmu lebih dari segalanya. Maaf, aku sempat menjadi penghalang mimpimu. Aku-"


Belum sempat Jim-in menyelesaikan ucapannya, tindakan agresif Rania membuat netra kecilnya melebar.


Sang istri membungkam mulutnya cepat memberikan penyatuan tak terelakan. Jim-in terlena, tangan yang berada di pinggangnya semakin mendekatkan tubuh Rania kuat.


Beberapa saat kemudian, permainan pun berakhir. Pasangan suami istri itu kembali saling pandang menyelami keistimewaan bola mata masing-masing.


Ada sorot mata penuh cinta dan mendamba di dalamnya. Perasaan Rania maupun Jim-in kini tak lekang oleh waktu.


"Bertemu denganmu adalah anugerah tidak ternilai. Kamu mampu mengarahkan ku pada kebaikan, berkatmu juga ... aku bisa berjalan lagi, gomawo yeobo. Aku sangat mencintaimu," ungkap Jim-in menangkup wajah cantik Rania lalu membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi lebarnya.


Sang empunya menggenggam erat pergelangan tangan Jim-in sembari menutup mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan.


Perjodohan yang terjadi enam tahun lalu mengantarkan pada muara kebahagiaan. Meksipun diawali dengan linangan air mata, tetapi di tengah perjalanan mendatangkan kebaikan.


Karena mudah bagi Allah membolak-balikkan hati setiap hamba. Apa pun yang terjadi, sebab hanya dirimu lah yang mampu menghadapinya.


Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.


Yakin dan percaya, jika di balik rasa sakit akan ada senyum kegembiraan. Karena pelangi pun tidak akan muncul sebelum datangnya badai.


"Aku sangat mencintaimu," kata Rania langsung melemparkan diri memeluk tubuh atletis sang suami.


Jim-in terkejut dan sedetik kemudian membalasnya tak kalah erat.


...***...


Hari demi hari berlalu begitu cepat, jam terus berputar memenuhi tugas sebagai pengingat waktu.


Di samping melaksanakan tugas sebagai seorang ibu dan istri, Rania menyiapkan segala sesuatunya untuk kembali sebagai seorang mahasiswa.


Karena setelah bertahun-tahun vakum dari kegiatannya, ia harus masuk menjadi mahasiswa baru lagi. Ia mengikuti serangkaian prosedur guna menginjakkan kaki lagi di kampus impiannya dulu.


Berkat kepintaran dan rajinnya belajar, Rania berhasil masuk ke jurusan keperawatan lagi. Rasa syukur tidak bisa dibendung membuatnya menangis seharian.


Didukung oleh suami dan keluarga, Rania benar-benar bahagia bisa melanjutkan mimpi yang sempat terputus.


"Besok kamu sudah mulai ke kampus lagi, kan?" tanya Jim-in yang tengah selonjoran kaki di atas tempat tidur dengan tablet di tangannya.


Rania yang duduk di meja rias memandangi keberadaan sang suami lewat pantulan cermin.


"Em, aku tidak percaya bisa kembali kuliah," balasnya semangat.


Melihat kekasih hatinya gembira Jim-in pun ikut senang, tetapi setelahnya dahi tegas itu mengerut dalam.


Jim-in menyaksikan Rania menundukkan kepala dengan air muka muram. Ia beranjak dari sana lalu berjalan mendekat.


"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganggumu, hm?" Jim-in mengusap bahu sempit Rania pelan seraya memandanginya dalam cermin.


"Aku ... apa aku sudah membuat keputusan yang bijak? Bagaimana dengan anak-anak? Apa mereka tidak akan kekurangan kasih sayang? Apa aku batalkan saja belajarnya? Apa-"


"Sayang." Jim-in menghentikan celotehan Rania yang begitu cepat.


Ia membalikan tubuh sang istri lalu bersimpuh di hadapannya. Tangan tegas itu menggenggam hangat jari jemari wanita halalnya sembari memberikan tatapan tegas.


"Anak-anak kita tidak mungkin kehilangan kasih sayang. Justru mereka pasti akan bangga melihat ibunya berjuang menjadi seorang perawat yang hebat. Kelak, jika nanti kamu sudah menjadi perawat maka kami pun akan bahagia. Kamu juga berhak menggapai mimpi, Sayang."


"Tidak ada kata terlambat untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Kamu adalah ibu dan istri yang terbaik, juga ... pergilah, kejar cita-citamu setinggi angkasa. Karena kami di sini akan selalu mendoakan yang terbaik."


Perkataan hangat nan lembut penuh dengan makna kasih sayang sampai ke relung hati. Rania terkesima menyaksikan perubahan dalam diri suaminya.


Ia sangat bahagia sekaligus terharu mendengar kata-kata motivasi keluar dari mulut menawan imam dalam keluarga barunya.


"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Rania katakan.


Ia memeluk suaminya lagi dengan linangan air mata.


Pagi menjelang, selepas sarapan bersama Rania bergegas menggendong Jauhar dan menggandeng Akila keluar rumah.


Hari ini adalah hari pertama Rania sebagai mahasiswa baru jurusan keperawatan di universitas ternama di ibu kota.


Gyeong dan juga Jim-in pun begitu semangat hendak mengantarnya sampai ke kampus. Rania tidak bisa memaksa mereka untuk tidak ikut, sebab baginya keberadaan mereka adalah semangat utama.


Di perjalanan menuju kampus, celotehan demi celotehan tidak berhenti berdengung. Akila senang mengetahui ibunya lulus menjadi mahasiswa keperawatan.


"Akila bangga sekali Eomma bisa mencapai cita-cita," katanya mendongak pada sang ibu.


Rania yang berada di sebelahnya pun memberikan kecupan lembut di puncak kepalanya.


"Terima kasih, Sayang. Eomma akan berjuang untuk kalian," balasnya.


Gyeong yang tengah duduk di jok samping pun ikut mengembangkan senyum bangga.


"Kami akan selalu mendukung apa pun yang terbaik untukmu, Rania. Berjuanglah gapai mimpi setinggi langit," katanya. Rania beralih pada ibu mertuanya lalu mengangguk penuh haru.


Jim-in yang sedari tadi memperhatikan lewat kaca kecil di atasnya pun ikut lega. Setidaknya inilah yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan di masa lalu.


Tidak lama berselang mereka tiba di tempat tujuan. Keluarga Park keluar dari mobil hendak melepas Rania belajar.


Jim-in menggendong Akila dan Gyeong menggendong Jauhar pun menatap Rania seraya tersenyum lebar.


Manik jelaga wanita berhijab itu berkaca-kaca memandangi keluarganya satu persatu. Ia lalu memberikan kecupan di dahi kedua buah hatinya kemudian menyalami sang ibu mertua dan suaminya.


Setelah itu ia berdiri di hadapan mereka seraya mengembangkan senyum.


"Kalau begitu ... terima kasih banyak," ucap Rania kembali menitikkan air mata.


"Jangan menangis, Sayang. Semangat belajarnya," kata Jim-in sembari mengusap cairan bening menggunakan jas kerjanya.


Rania mengangguk-anggukan kepala dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Aku pergi, Assalamu'alaikum." Rania berbalik melangkahkan kaki masuk ke ares kampus.


"Wa'alaikumsalam," balas Gyeong, Jim-in, Akila bersamaan seraya mengikuti ke mana wanita itu pergi.


Tercatat dalam sejarah perjalanan hidup Rania jika saat ini ia berhasil membawa dirinya kembali menggapai mimpi.


Di tengah angin musim semi yang berhembus, ia begitu percaya diri menempuh pendidikan di sekolah yang sama lagi.


Ia akan membuat keluarganya bangga dan bisa membuktikan pada semua orang jika dirinya layak bersanding dengan tuan muda Park Jim-in.