VARSHA

VARSHA
Bagian 58




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Sejak hari itu Jim-in tidak menyerah untuk membawa kembali keluarga kecilnya. Ia yakin dengan tekad yang kuat dirinya bisa mendapatkan kesempatan kedua. Namun, sudah hampir 3 minggu berlalu. Sikap dan sifat Rania terhadapnya masihlah sama. Dingin. Tidak ada sedikit pun binar harapan yang terlihat di sana.


Hampir setiap hari Jim-in bolak-balik Seoul-Busan hanya untuk mendapatkan maaf dari sang istri. Tetapi, Rania masih keukeuh pada pendiriannya.


"Saya harap Tuan tidak terus datang ke mari. Jika memang ingin datang serahkan surat gugatan yang saya berikan beserta tanda tangan tuan." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar dari Rania sebelum kepulangannya kembali ke Seoul.


Jam menunjukan pukul 12 tepat. Malam semakin larut dan keadaan manison pun terasa hening tidak ada siapa pun yang terlihat. Para pelayan dan Nyonya Besar sudah terlelap dalam mimpi indah masing-masing.


Satu persatu anak tangga ditapakinya dengan luka. Langkah gontai menuntun Sang Tuan Muda menuju salah satu kamar. Lorong yang dilewatinya menampilkan gambaran kebersamaannya bersama sang istri. Tetes demi tetes air mata lolos dari mata kecilnya. Tidak lama berselang ia pun berhenti tepat di depan pintu bercat putih bersih itu.


Cklekk!!


Pintu pun perlahan terbuka. Aroma vanilla menguar dari dalam. Seketika tangisannya pun pecah. Harum yang menyebar masuk ke indera penciuman mengingatkannya pada sang istri. Ia pun masuk ke dalam lalu terjatuh begitu saja di atas karpet merah muda tersebut.


Netranya berseliweran menatap satu persatu benda mati yang terpajang di sana.


"Sayang, maafkan appa sudah berkata tidak baik. Kamu putri kecil appa. Appa sangat mencintai dan menyayangimu. Mianhae...... jeongmal mianhae. Bisakah kamu meyakinkan eomma untuk kembali bersama appa. Dan kamu bisa menempati kamar ini. Lihat appa sudah menyiapkan semuanya untukmu, putri kecil appa." Celoteh Jim-in dengan derai air mata.


Cinta yang menyakitkan hanya akan melahirkan luka. Kepedihan sebagai pengiring air mata tak berujung. Kala akan menyampaikan kapan derita itu akan berakhir. Apakah mendapatkan senyum kebahagiaan atau luka yang menganga? Hanya do'a yang bisa menentukan.


Malam itu dengan keheningan yang mendera Park Jim-in menangis sendirian dalam kamar sang anak. Kenangan demi kenangan yang pernah dilewatinya bersama istrinya pun terus berputar dalam kepalanya. Hanya ingatan yang dimilikinya untuk menebus kesalahan.


"Rania, maafkan aku." Lirihnya lagi.


...***...


Pagi-pagi sekali, setelah salat subuh Jim-in bersiap untuk kembali ke Busan. Cuaca sedikit mendung hari ini. Awan gelap berkumpul di langit sana. Sang raja siang pun sepertinya enggan menunjukan jati dirinya.


Nyonya besar yang tengah menyiapkan sarapan pun dikejutkan dengan kehadiran sang anak. Jim-in berjalan mendekatinya meminta restu.


"Eomma, aku minta do'anya. Hari ini aku akan kembali ke Busan untuk menjemput keluargaku." Jelasnya dengan suara berat.


"Lagi? Sudah 3 minggu kamu bolak-balik ke sana, ditambah pekerjaanmu di perusahaan. Itu bukan perjalanan yang dekat, nak. Apa kamu tidak merasa lelah? Lihat wajahmu pucat begini." Balas Gyeong seraya membolak-balikan wajah sang putra.


Jim-in tersenyum lemah lalu menggeleng pelan. "Ani eomma. Aku sama sekali tidak lelah. Ini tidak sebanding dengan pengorbanan Rania. Kalau begitu aku pergi." Ia pun mengecup ringan tangan sang ibu.


Gyeong tidak kuasa membendung kesedihan lalu segera menarik putranya ke dalam pelukan. "Eomma akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Semangatlah nak. Eomma yakin Rania masih mencintaimu." Semangatnya seraya mengusap punggung sang putra.


Jim-in mengangguk dibaliknya. Tidak lama kemudian pelukan mereka terlepas dan pria itu melenggang pergi. Tatapan Gyeong mengikutinya dengan penuh harap. "Semoga kamu bahagia, nak." Bisiknya.


...***...


Baru saja tangannya terangkat hendak menekan bel, pintu di depannya terbuka. Sontak keduanya terkejut dengan tatapan mengunci satu sama lain. Rania melebarkan matanya saat melihat Jim-in kembali ke sana.


"Sudah mengambil keputusan? Mana surat yang aku kasih? Sudah kamu tandatangan, kan?" pintanya seraya menjulurkan tangan.


Jim-in terkesiap. Ketidakpercayaan kembali menghantamnya keras. Sebegitu inginnyakah Rania berpisah? Pikirnya sembilu.


"Aku tidak akan menandatangani surat itu. Aku datang ke sini untuk menjemput kalian." Jelasnya untuk kesekian kali.


"Ani. Aku tidak akan kembali padamu. Hari ini juga aku akan pulang ke Indonesia. Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik." Perkataannya bagaikan melesatkan anak panah tepat sasaran. Runtuh sudah harapan setinggi langit. Jim-in tidak bisa berkata apa-apa selain melihat kepergiannya.


Sosoknya menghilang dalam pandangan. Air mata pun kembali datang bercucuran, membasahi hatinya yang gersang. Kini Varsha mendatanginya. Sakit. Satu kata mengawali perasaannya yang berantakan. Harsha yang ditawarkan tidak disambut dengan baik. Hanya mendapatkan hujan air mata dalam dirinya.


"Sudah tidak adakah kesempatan kedua untukku, Rania?" lirihnya.


Dengan kembali mengecap kepedihan Jim-in melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu. Ia duduk termenung dijok mobil menatap bangunan sederhana tersebut. Sorot mata sayu menggambarkan ketidakberdayaan. Tidak lama beselang mobil mewahnya melenggang pergi.


Mendung masih setia menempati langit hari ini. Angin cukup ribut memberitahu keberadaannya. Semilir sembilu pun menyambut hatinya yang patah.


Lagi-lagi liquid bening lolos tak tertahankan. Dengan riak air menggenang dimatanya, Jim-in kembali membawa kekosongan.


Sedetik kemudian hujan pun turun dengan derasnya mengiringi kepedihan dalam dada. Tanpa niatan untuk menghentikan kendaraannya, Jim-in menerjang cuaca buruk itu dengan putus asa.


"Bahkan appa tidak sempat menggendongmu, sayang. Apa kamu tidak ingin melihat appa dan eomma bersama? Ya Allah kenapa jadi seperti ini? Hamba sangat mencintainya. Sudah tidak adakah waktu untuk kami kembali seperti dulu? Ya Allah apa hatinya sudah tertutup untukku?" oceh Jim-in sepanjang perjalanan.


Udara dingin, keadaan gelap, petir saling bersahutan mengiringi isak tangis yang mendera. Episode demi episode saat bersama wanita itu berputar kembali. Kenangan paling berharga teringat jelas. Mulai dari pertama mereka bertemu sampai ia pun jatuh cinta pada pelayannya sendiri.


Ia ingat bagaimana sabarnya Rania saat membantunya terapi. Wanita itu terus berada di sampingnya dan menyemangatinya. Ia terus bersabar meskipun Jim-in memperlakukannya tidak baik. Namun, sekarang keadaannya begitu berbeda. Atas kesalahan yang sangat besar mengantarkan Rania pergi dari hidupnya.


"Aku yakin kamu masih mencintaiku, Rania. Sakit saat melihatmu pergi seperti tadi." Ocehnya lagi.


Seketika dadanya terasa sesak. Jim-in mencengkramnya erat mencoba mengurangi pengap. Napasnya memburu hebat kala air mata pun tak kunjung reda. Entah kenapa bayangan beberapa tahun silam datang menerjang membuatnya ketakutan. Kepala bersurai hitam legam itu menggeleng beberapa kali mengenyahkan kenangan buruk tersebut.


Tangannya pun memutar stir mobil tidak karuan membuat mobilnya bergerak abstrak. Ditambah air hujan membuat jalanan berasapal itu licin. Kendaraan roda empatnya bergerak kencang tanpa tahu keadaan. Hingga tanpa ia duga, dari arah depan sebuah mobil sedan melaju cepat.


Jim-in terkesiap. Kedua netranya melebar dengan mulut menganga sempurna. Kejadian hari itu pun menetap dalam pikirannya. Ia takut, sungguh dirinya takut jika peristiwa mengerikan terjadi lagi.


Ckittt!!!!


Ia pun langsung membanting stir dan menghentikan laju mobilnya. "Hah~ hah~ hah~ Astagfirullah haladzim hampir saja. Ya Allah." Ucapnya seraya mengusap dada.


Brakkkk!!!


Namun, saat ia hendak menjalankannya lagi tiba-tiba saja dari arah belakang sebuah mobil besar melaju begitu cepat. Kecelakaan pun tidak bisa terhindari. Kendaraannya dihantam dari belakang membuatnya terpental dan terguling beberapa kali.


Kepulan asap menguar dari kuda besinya. Cairan kental berwarna merah mengalir membasahi jalanan aspal tersebut. Bersama hujan, tragedi paling menakutkan itu terulang kembali. Kedua matanya tertutup menghentikan tangisan.


...🌦️TRAGEDI🌦️...