VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 95



Hitam dan putih, warna monokrom menandakan betapa suramnya kehidupan. Varsha menjadi jalan cerita bagi seseorang yang melewati hidupnya penuh isak tangis.


Siap terluka dalam segala hal terutama perasaan, menjadikan seseorang lebih dewasa. Penyesalan menjadikan diri untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan.


Namun, di balik itu semua juga ada kebaikan yang tidak terelakan.


Hujan air mata tidak pernah luput dari waktu yang terkikis. Insan permata bak berlian, tersimpan di dasar laut paling dalam yang memiliki hati seluas samudera.


Itulah insan terbaik yang mampu memaafkan kesalahan orang lain sebanyak apa pun dia memberikan rasa sakit.


Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.


Semua orang pasti mempunyai masalahnya sendiri-sendiri. Kita tidak pernah tahu apa yang dirasakannya, dan mereka pun tidak akan pernah bisa merasakan apa yang kita rasakan.


Tiga hari berlalu begitu cepat setelah kejadian mendebarkan itu berlalu. Rania dan Zahra kembali disibukkan dengan persiapan sidang.


Ibu dari kedua anak itu pagi-pagi sekali sudah terjaga untuk menghadapi hari berat kali ini.


Selepas melaksanakan salat subuh berjamaah, ia langsung membuat sarapan dan makan bersama dengan keluarga kecilnya.


Setelah itu ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke kampus. Di tengah kesibukannya, pintu kamar dibuka seseorang.


Rania yang terlalu fokus pada dunianya sendiri sampai tidak menyadari kedatangan sang suami.


Sampai tidak lama berselang lengan kekar berotot melingkar di perut rampingnya.


Rania tersentak dan hampir menusukan jarum pentul ke lehernya sendiri. Ia langsung menoleh ke belakang seraya bibir ranumnya mengerucut pelan.


Jim-in yang menyaksikan istrinya merajuk pun dibuat gemas. Ia menahan dagu Rania dan secepat kilat menempelkan benda kenyal miliknya pada sang istri.


Sontak Rania pun terbelalak lebar, terkejut bukan main. Namun, suaminya tidak memberikan akses untuk kabur ataupun melepaskan.


Lama kelamaan Rania terlena dan mengikuti permainan. Penyatuan yang semula tenang berubah ganas seiring detik berjalan.


Beberapa saat berlalu, dirasa pasokan oksigen mulai berkurang, keduanya saling melepaskan. Napas mereka memburu dengan sorot mata sayu.


Sedetik kemudian, Jim-in membalikkan sang istri hingga mereka saling berhadapan. Ibu jari dan jari telunjuknya memegang erat dagu Rania seraya mendongakkan nya perlahan.


"Saranghae. Aku merindukanmu, Sayang. Beberapa minggu ini kita tidak pernah punya waktu berdua dan menikmati kesendirian. Aku senang, kamu bisa kembali lagi pada kami," tutur Jim-in, nada suaranya bergetar pelan.


Rania menyadari saat ini sang suami tengah menahan kesedihan yang begitu mendalam. Ia tahu selama ingatannya menghilang, tidak ada kasih sayang tulus yang dirinya berikan.


Wajar jika saat ini Jim-in mengatakan rindu dan senang Rania kembali pada mereka, yang mana perkataan tadi benar-benar berasal dari relung hatinya paling dalam.


Terlebih kecelakaan lain menimpa Park Jim-in membuat rumah tangga mereka sedikit berantakan, tetapi semakin mengeratkan. Kejadian itu membuat Rania bisa ingat kembali siapa ia sebenarnya.


Kedua tangan Rania pun terulur menangkup hangat kedua pipi pria tercintanya.


"Aku minta maaf, selama ini terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang datang silih berganti. Aku janji, setelah wisuda nanti... kita akan menikmati waktu sendiri. Aku juga senang Oppa sudah sembuh kembali," katanya dengan suara lembut.


Jim-in mengangguk lalu mencengkram pelan pergelangan tangan kiri Rania. Ia pun memberikan kecupan hangat di telapak tangannya dengan manik mengatup rapat.


Dalam diam Rania memperhatikan sikap lembut dilayangkan sang pasangan hidup. Jantungnya berdebar kencang, seperti pertama kali jatuh cinta.


Hangatnya napas Jim-in yang berhembus di telapak tangan serta lembutnya bibir menawan menempel di sana memberikan rona merah di kedua pipi.


Rania terhanyut dengan perlakuan hangat yang terus dilayangkan imam dalam keluarga.


Beberapa detik berlalu, Jim-in kembali membuka mata dan memberikan tatapan serius. Ia melepaskan kedua tangan Rania di wajahnya dan kini giliran Jim-in menangkup rahang kecil sang istri.


Perlahan, tapi pasti wajah tampan nan mulus itu mendekat. Rania tahu apa yang diinginkan suaminya pun langsung menutup mata.


Sedetik kemudian kedua benda kenyal mereka kembali saling bertemu. Bersamaan dengan itu cahaya dari sang surya menelisik dari jendela kamar menyembur keduanya.


Tangan Rania mengalung nyaman di leher jenjang prianya. Begitu pula dengan Jim-in yang memeluk pinggang ramping wanita terkasihnya posesif.


Keduanya saling menekan satu sama lain tidak ingin melepaskan. Seolah dunia hanya milik mereka yang sedang terlena pada sebuah perasaan.


...***...


Zahra melipat tangan di depan dada menyaksikan pasangan harmonis di depannya. Bola mata bulannya memandangi mereka satu persatu yang tengah menundukkan kepala.


Berkali-kali helaan napas kasar terdengar, Zahra seperti seorang ibu mertua yang mendapati anak serta menantunya bangun kesiangan.


"Jadi, bisa kalian jelaskan kenapa telat sekali datangnya?" tanyanya langsung, suaranya berat dan meredam.


"Maaf, kami-"


"Em, aku tahu... memang sudah banyak waktu terlewati dan membuat kalian tidak bisa menghabiskannya bersama, tapi-" Zahra kembali menghela napas lalu berkacak pinggang seraya berjalan selangkah ke depan.


Matanya memperhatikan dua insan itu bergantian lalu menggelengkan kepala singkat.


"Setidaknya hapus dulu jejak lipstik di sudut bibir kalian."


"Kalian tahu- oh~ kepalaku." Zahra mencengkram kuat kepalanya sambil menutup mata erat.


Mendengar itu Rania dan Jim-in pun mendongak melihat apa yang sedang Zahra lakukan.


Sampai tidak lama berselang, seorang pria berkemeja hitam datang merangkul pinggang istrinya begitu saja.


"Sudahlah, Sayang. Kamu seperti ibu mertua yang memarahi anak dan menantunya."


Suara berat itu menyadarkan Zahra yang langsung menoleh ke samping kanan mendapati sang suami.


"Owh, Seok Jin Oppa?" Panggilnya terkejut lalu berusaha tenang dengan melihat ke arah sahabatnya lagi.


"Oppa lihat saja sendiri! Dari tadi aku menunggu mereka di sini dan... mereka malah enak-enakan? Lihat saja itu." Zahra kembali menunjuk ke arah bibir pasangan di hadapannya.


"Memangnya kenapa? Bekas lipstik itu pertanda jika mereka memang sudah berciuman tadi." Seok Jin semakin menegaskan membuat Rania maupun Jim-in malu setengah mati.


Wajah keduanya pun langsung merah bak kepiting rebus.


"Jangan terlalu dijelaskan juga Oppa! Oppa tahu bagaimana aku berusaha menahan malu dari tadi?" gertak Rania membuka suara.


Seok Jin dan Zahra saling pandang lalu tertawa kencang, senang bisa menggoda mereka seperti itu.


"Berhenti menggoda kami, memangnya kalian tidak melakukannya juga?" Kini giliran Jim-in pun buka suara.


"Hm?" Seok Jin meletakkan jari telunjuk dan ibu jari di dagu, berpikir keras mengingat apa yang terjadi pagi tadi.


"Sshh, setidaknya kami masih ingat waktu, seharusnya-"


"Hentikan! Kita sudah keluar jalur, lebih baik sekarang kita bersiap sidang, Rania." Zahra langsung menarik pergelangan tangan sahabatnya menjauhi kedua pria itu.


Jika diteruskan entah sampai mana pembicaraan melantur tersebut terjadi. Namun, yang jelas Zahra senang keadaan mereka sudah baik-baik saja.


"Jadi, jelaskan apa yang tejadi tadi pagi dengan kalian?" Rania berbisik, gilirannya untuk menggoda sang sahabat.


"Ti-tidak ada yang terjadi." Zahra gugup menghindari pertanyaan itu.


"Benarkah? Ayolah, aku ingin mendengar cerita tentang kalian." Rania semakin gencar menggodanya membuat Zahra langsung melarikan diri.


Aksi kejar-kejaran itu pun berlangsung beberapa saat dengan diiringi gelak tawa keduanya membuat Jim-in maupun Seok Jin saling pandang dan tersenyum senang.


Langit pun ikut tersenyum memperlihatkan kecerahannya siang ini.