
Semesta mempunyai cerita hidup berbeda. Kadang kala waktu menyuguhkan kejadian tak terduga.
Asam, pahit, manis, dilalui sebagai pelengkap kehidupan.
Seiring berjalannya waktu, masa akan berubah layaknya roda berputar.
Atas dan bawah mempunyai takdirnya sendiri untuk bergiliran.
Tidak usah menuntut seseorang untuk melakukan hal sama. Karena waktu, masa, serta takdir setiap orang berbeda-beda.
Karena bunga juga memiliki masanya untuk bermekaran.
Hari ini musim semi kesekian kali menemani setiap insan di ibu kota.
Kesibukan kembali melanda seperti biasa.
Rumah sakit adalah tempat di mana orang-orang bermasalah dengan kesehatan menepi di sana.
Semua orang yang berada dalam gedung tersebut hilir mudik, bergantian untuk berobat.
Kim Seok Jin, dokter yang sudah lama bertugas di sana pun lagi dan lagi menerima pasien berdatangan.
Hingga tibalah giliran seorang wanita yang beberapa hari lalu ditemuinya di sebuah restoran.
Seok Jin yang tengah fokus kepada layar komputer pun tidak menyadari keberadaannya.
Sampai suara lembut itu menyapa hangat.
"Annyeonghaseyo."
Seketika Seok Jin mendongak bersitatap langsung dengan pasien barunya.
Sepasang manik kecilnya membulat sempurna.
"Kita bertemu lagi," kata wanita itu duduk begitu saja di kursi sebelah sang dokter.
"Ailee?"
Seok Jin membetulkan letak kacamata bulat membingkai wajah tampannya.
Ia tidak percaya bisa melihat wanita yang tengah dijodohkan dengannya ada di sana.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Seok Jin, heran.
Ailee tertawa singkat dan memandangi dokter itu lagi.
"Kamu benar-benar lucu, tentu saja aku datang ke sini untuk berobat. Aku merasa tidak enak badan, bisakah kamu mengobati ku?"
"Tugas seorang dokter bukankah harus mengobati pasiennya secara profesional tanpa membeda-bedakan?" sindir Ailee membuat Seok Jin berdehem pelan.
"Baiklah, silakan akan saya periksa," kata Seok Jin memakai kembali stetoskopnya.
Setelah itu ia mengarahkan pada dada sebelah kiri sang pasien membuat Ailee merona.
Ia bisa merasakan aroma menyebar dalam tubuh kekar dokter tersebut.
Diam-diam ia mengulas senyum lembut kala Seok Jin memeriksanya secara berkala.
Tidak lama berselang pemeriksaan pun berakhir. Seok Jin mengetikan sesuatu dalam komputer.
Tanpa mengatakan apa pun ia menjelaskan penyakit apa yang tengah melanda Ailee.
"Anda demam, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, imbangi dengan buah-buahan bisa mengembalikan stamina yang hilang," kata Seok Jin masih sibuk dengan kegiatannya.
"Baiklah, terima kasih banyak Seonsengnim," ujar Ailee melebarkan senyum cerah.
Seok Jin hanya mengangguk seraya memberikan resep obat untuk pasiennya.
Ailee menerima dan setelah itu mereka bercakap-cakap sebentar seputar kesehatan.
Wanita itu sengaja berlama-lama di sana dan berkata jika dirinya sudah membayar selama satu jam penuh untuk berkonsultasi.
Meskipun Seok Jin enggan menanggapi, tetapi ia harus tetap profesional guna menjalankan tugas sebagai seorang dokter yang baik.
Ia tahu seperti apa tipu muslihat yang dilayangkan seorang wanita seperti Ailee.
Karena ia sudah berpengalaman mendapatkan seseorang yang hanya bermodalkan tampang.
Namun, Seok Jin kembali harus menjadi pria berwibawa, tidak memperlihatkan keegoisan.
Di tengah kesibukan mereka berbicara, tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka.
Seok Jin dan Ailee menoleh ke arah sama mendapati seorang perawat magang seraya memeluk beberapa map datang menghadap.
"Ah, saya minta maaf jika Seonsengnim sedang ada pasien. Saya hanya ingin menyampaikan ini," jelasnya memberikan barang bawaan.
Ailee yang terus memperhatikannya tahu seperti apa perasaan terdalam sang dokter.
Pertemuan singkat itu pun berakhir seketika. Zahra kembali keluar melanjutkan lagi pekerjaan.
Sepeninggalan perawat tersebut, Ailee terus memperhatikan Seok Jin.
Mendapatkan tatapan lekat itu pun membuat sang dokter sedikit risih.
Seok Jin mengangkat kepala lagi seraya menautkan kedua alis tegasnya.
"Apa ada hal lain?" tanyanya kemudian.
"Kamu... menyukai wanita tadi, kan?" tanya Ailee to the point.
Kedua iris kecil Seok Jin melebar sempurna dan langsung memandang ke arah lain.
"Ani," jawabnya singkat.
Ailee tertawa pelan sambil melipat tangan di depan dada.
"Kamu tidak bisa membohongiku, Tuan Kim Seok Jin. Aku bisa melihat seseorang yang sedang jatuh cinta hanya dari matanya saja. Saat ini... kamu menyukai wanita itu kan?" ulangnya lagi.
"Ani, kamu sangat mencintainya," jelas Ailee semakin membuat degup jantung Seok Jin bertalu tak tertahankan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu mau melaporkannya?" tanya sang dokter menggebu.
Ailee sadar jika pria ini sedikit ketakutan saat perasaan terdalamnya diketahui orang lain.
Ailee pun semakin tertawa kencang.
"Ani... kita bukan anak kecil lagi. Juga, aku bukan tipe wanita yang suka mengadu, hanya-" Ailee sengaja menjeda perkataannya mengundang tanda tanya.
Dahi tegasnya semakin mengerut dalam.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Seok Jin tahu dari sorot mata Ailee ada sesuatu yang diinginkan wanita itu.
Bibir ranumnya melengkung penuh makna.
"Sederhana saja aku... hanya ingin makan malam bersamamu. Iyah, anggap saja sebagai tutup mulut agar aku tidak mengatakan apa pun," lanjutnya kemudian.
"Mwo? Makan malam?"
"Iya makan malam, apa itu suatu hal yang menyulitkan bagimu?" tanya Ailee lagi dan lagi.
Kepala bersurai lembut itu mengangguk pelan.
"Baiklah, kita bisa bicarakan nanti. Sekarang silakan kamu pergi banyak pasien yang harus saya periksa," usir Seok Jin begitu saja.
Ailee kembali tertawa penuh makna seraya beranjak dari duduk.
"Okay, nanti aku hubungi lagi. Sampai jumpa nanti malam." Ailee melangkahkan kaki meninggalkan ruangan.
Seok Jin menghela napas lelah, menyandarkan punggung lebarnya ke kepala kursi.
Ia memijit pangkal hidung berkali-kali merasakan pening teramat kuat.
"Entah apa yang akan terjadi nanti," gumamnya memiliki sebuah firasat.
...***...
Zahra yang sudah keluar ruangan sang dokter pun terus memikirkan kejadian singkat tadi.
Sepanjang jalan di lorong lantai tiga, ia tidak bisa mengenyahkan kenangan tersebut.
"Siapa wanita itu? Dia... cantik sekali seperti boneka hidup. Kenapa dia ada di ruangan Seok Jin seonsengnim? Apa dia pasien?" gumamnya terus menghujani diri sendiri dengan pertanyaan.
"Ah, apa yang aku pikirkan? Tidak ada hubungannya juga denganku," lanjutnya lagi.
"Tetapi-" Zahra menghentikan langkah, memandang lurus ke depan seraya melipat tangan di depan dada.
Ia memiringkan kepala berhijabnya pelan dan menerawang jauh ke langit-langit.
"Mereka terlihat sangat akrab, seperti seorang teman dan juga-" ucapannya kembali berhenti dengan pemikiran yang tiba-tiba saja muncul.
"Mereka seperti sepasang kekasih. Satu cantik, satu tampan... definisi pasangan sempurna. Bagaikan pangeran dan putri, keduanya memiliki aura luar biasa."
"Lalu, kenapa dia mengatakan jika-"
"Ah, ani ani... aku tidak boleh insecure seperi ini. Allah sudah menciptakan sesuatunya dengan sempurna. Aku tidak boleh memikirkan apa pun."
"Karena bagaimanapun juga Allah sudah memberikan yang terbaik untuk setiap hamba," kata Zahra masih meracau menyemangati diri sendiri di sana.
Setelah itu ia kembali melangkah menuju ke salah satu ruang rawat untuk memeriksa pasien lagi.