VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 59



Malam ini bagaikan waktu terkejam yang pernah Rania dapatkan.


Di bawah rintikan air hujan ia melihat sang pujaan tidak sadarkan diri dengan kondisi mengenaskan.


Air mata terus menerus mengalir tanpa jeda melampiaskan pengap di dada.


Bagaikan mimpi di siang bolong kejadian yang tidak pernah diharapkan datang menerjang.


Orang-orang di sekitar terus berbisik betapa kasihan nya keadaan Park Jim-in.


Mereka yang mengetahui siapa korban tabrak itu pun juga tidak menduga jika tuan muda Park harus mendapatkan kejadian malang tersebut.


Rania tidak peduli apa kata mereka dan masih berusaha membangunkan sang suami.


Usahanya tidak mengkhianati hasil, kedua mata yang semua terkatup perlahan terbuka kembali.


Senyum lembut pun dilayangkan Jim-in kala di tengah kesadarannya mendengar Rania memanggilnya Oppa lagi.


"Jang-an mena-ngis, aku tidak ingin melihat-mu se-dih, Sayang," kata Jim-in parau.


"Kenapa? Kenapa?" Hanya itu yang bisa Rania katakan.


"Aku mohon bertahanlah. Aku minta maaf sudah mengabaikan mu, Oppa," kata Rania dengan bercucuran air mata.


"Sen-ang bi-sa mendengar-mu memanggil ku Oppa la-gi. Terima kasih, aku-" Jim-in mengangkat tangan berdarah nya menangkup pipi sebelah kanan Rania.


"Meski-pun ak-u su-dah tid-ak bersa-ma ka-lian, aku janji... aku akan selamanya di samping kalian. Aku-"


"Apa yang Oppa katakan? Jangan berkata seperti itu." Rania naik pitam memotong ucapan suaminya.


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, tetapi jika sampai semuanya berakhir. Yakinlah... selamanya aku bersama kalian. Saranghae, Yeobo."


Selesai mengucapkan kata-kata tersebut tangan yang bertengger di wajah Rania pun terjatuh.


Seketika ia diam seribu bahasa memandangi sang suami kembali menutup mata.


Tidak lama setelah itu Rania mendengar Kim Seok Jin dan beberapa rekan medis berdatangan.


Mereka langsung membawa Jim-in dari pangkuan Rania untuk segera ditangani.


Di tengah keriuhan tersebut tiba-tiba saja bagian belakang kepala Rania berdenyut hebat.


Seakan dipukul keras oleh benda tumpul yang mengenai inti terdalam.


Rania pun berusaha bangun hendak menyusul sang suami, tetapi baru saja ia beranjak rasa sakit itu semakin menghantam kuat.


Terlebih kata-kata yang Jim-in layangkan tadi terus berkeliaran.


Bak kaset kusut, ingatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya berdatangan.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, meskipun... aku sudah tidak ada."


"Berjanjilah untuk bertahan denganku."


"Aku akan mencoba bertahan sekuat tenaga untuk kalian. Saranghae."


Ingatan tentang hari itu satu persatu berdatangan. Sampai puncaknya kala ia berada di ruangan bersalin tengah melahirkan sang buah hati kedua.


Ia pendarahan hebat yang membuat Jim-in ketakutan setengah mati.


Perjuangan yang hampir merenggut nyawanya tersebut memberikan memori berharga, dan sekarang ingatan itu kembali datang.


"Apa ini? Kenangan apa ini? Kenapa banyak sekali berdatangan ke dalam pikiranku?" benak Rania memegang kepalanya dengan kedua tangan.


Sampai beberapa saat kemudian ia pun jatuh pingsan tidak kuasa menahan perputaran ingatan masa itu.


Seok Jin yang masih berada di sekitar lokasi pun terkejut mendengar jatuhnya sang adik ipar.


"Rania!" Panggilnya bergegas mendekat.


...***...


Sedari tadi kepala berhijab itu terus bergulir ke kanan ke kiri, tidak karuan, layaknya menghindari sesuatu.


Keringat dingin pun membanjiri wajah cantiknya seolah tengah bermimpi buruk.


Kedua tangan perlahan meremas selimut kuat berusaha melepaskan pengap.


Zahra yang menemaninya di sana mengerutkan dahi dalam.


Ia tidak tahu apa yang tengah sang sahabat impikan. Namun, yang jelas ia paham pasti banyak sekali hal mengganggu di dalam sana terlihat begitu nyata dari kondisi Rania sekarang.


"Rania-Rania-Rania." Panggil Zahra berulang kali menyadarkannya dan berusaha melepaskan ketakutan dalam diri sang sahabat.


Ia pun menepuk-nepuk pundak Rania pelan memberitahu jika dirinya ada di sana.


"Rania-Rania-Rani-"


Dadanya naik turun berusaha menenangkan diri dari segala kemelut yang terus membayangi.


Napasnya memburu seperti habis berlari kilometer jauhnya.


"Ada apa? Kamu tidak apa-apa?" tanya Zahra khawatir.


Rania menoleh ke arahnya dengan mata terbelalak.


Zahra yang ditatap seperti itu pun sedikit bergidik ngeri.


"Ra-Rania?" Panggilnya lagi takut-takut.


"Aku tahu semuanya. AKU TAHU SEMUANYA!" teriak Rania lagi.


Ia mencengkram kuat dua bahu sang sahabat membuat punggung Zahra semakin menempel di kepala kursi.


"A-apa? Kamu tahu semuanya apa?" tanyanya penasaran.


"Aku harus segera menemui oppa," kata Rania tanpa mengindahkan rasa terkejut sang sahabat.


Ia menyibakkan selimut kasar dan bergegas turun dari ranjang meninggalkan Zahra sendirian di sana.


"Yak! Kamu mau ke mana Rania? Hei, jawab dulu pertanyaan ku." Zahra pun menyusul sahabatnya keluar dari ruangan.


Rania terus berlarian ke sana ke mari mencari di mana keberadaan Park Jim-in.


Napasnya terus menerus memburu mencapai lantai demi lantai rumah sakit. Namun, ke manapun ia melangkah sosok itu tidak terlihat di manapun.


"Oppa, aku minta maaf sempat meragukan mu. Aku benar-benar minta maaf. Karena kesalahanku, kamu jadi kecelakaan seperti ini," gumamnya seraya terus berlari dan melihat-lihat ruangan di sekitar.


"Rania. Hei, Rania."


Di belakangnya Zahra mencoba menyusul sang sahabat. Ia ikut berlarian mencapai wanita itu.


Rania tidak mempedulikan hal itu dan terus melajukan kedua kakinya cepat.


Orang-orang yang hilir mudik di sana pun ikut memandang heran kedua wanita tersebut.


Sampai tidak lama kemudian, Zahra berhasil mencapai Rania dan mencengkram pergelangan tangannya kuat.


Sang empunya pun menoleh dengan wajah pucat.


Zahra mengatur napasnya yang memburu seraya memperhatikan keadaan Rania.


"Jelaskan apa yang sudah kamu alami," titahnya kemudian.


Rania memandang sendu dengan bibir melengkung perlahan.


"Aku sudah ingat semuanya, Zahra. Ingatan ku kembali setelah kecelakaan menimpa pria yang aku cintai. Aku sangat menyesal telah mengabaikannya tadi dan berakhir seperti ini. Aku benar-benar istri yang buruk. Aku-"


Secepat kilat Zahra memeluk sahabatnya erat. Ia mengusap punggungnya beberapa kali.


"Jangan berkata seperti itu, semua yang terjadi hanya kecelakaan. Kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Apa pun yang terjadi sudah kehendak Allah," kata Zahra menenangkan.


"Tapi tetap saja, berkat keegoisan ku semuanya jadi seperti ini. Bagaimana kalau... dia benar-benar pergi?" Rania menangis histeris mengenyahkan keheningan di lorong tersebut.


Zahra terkesiap dan diam beberapa saat hingga kembali menguasai diri.


"Jangan berkata seperti itu. Kita tidak pernah tahu apa yang tengah Allah rencanakan."


"Buktinya ingatan kamu sudah kembali bersamaan dengan kejadian tak terduga ini. Jangan menyalahkan diri sendiri atau siapa pun atas apa yang terjadi sekarang."


"Karena di balik ini semua aku yakin Allah telah mengatur yang terbaik untuk kita."


"Mungkin dengan cara seperti ini ingatanmu kembali dan bisa mengembalikan keadaan menjadi lebih baik."


"Jangan pesimis Rania, kamu bukan wanita seperti itu," tutur Zahra panjang lebar membuat Rania terpaku.


Ia menjatuhkan pandangan ke bawah menyaksikan lantai marmer.


Kata-kata Zahra tadi mengalun, menelisik ke indera pendengaran.


Bersamaan dengan air mata kembali menitik, ia mengangguk perlahan.


"Terima kasih," katanya singkat.


Zahra pun hanya mengiyakan tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


Ia memberikan kesempatan pada Rania untuk berpikir jernih.


Karena apa pun yang terjadi ia juga meyakini jika semuanya tidak lepas dari takdir Allah.


Karena di balik itu semua ada kebaikan yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.